Short Stories, Writing Project

Sebatang Kara

sebatang kara

DULU di sebelah rumah ini tinggal seorang pria dengan sebatang Kara yang dijaganya. Dia pemilik rumah terbesar di pinggir kota ini. Lahan di belakang rumahnya berhektar-hektar, dikelilingi pagar besi dengan kawat listrik melingkar kusut di atasnya. Banyak yang berkata ia menyimpan narapidana di dalamnya. Ada pula yang mengira ia adalah anggota sekte sesat yang suka mengambil bayi dan gadis-gadis, kemudian minum darahnya di sana. Sebagian tidak ambil pusing dan berkata mungkin dia pengusaha tambang kaya yang sedang menandai teritori baru untuk mengeruk lagi perut bumi kita.

Namun aku tahu yang cerita yang sebenarnya. Ia hanyalah seorang ilmuwan yang gemar mengoleksi seratus pohon di sana.

Setiap pagi pria itu membuka jendela saat sinar matahari tepat tiga puluh derajat masuk dari ventilasi kamarnya. Burung-burung masih pandai memainkan sandi morse dan ular hijau kadang-kadang menggantung basah terkena embun. Sebelum ia membenarkan letak kacamata di atas hidungnya, ia bahkan suka melihat tupai bersayap terbang dari dahan ke dahan.

Setelah minum kopi dan menggosok gigi pria itu akan berjalan menyusuri pohon demi pohon, dahan demi dahan, ranting demi ranting, dan daun demi daun. Mengabsen satu per satu,

Agatis, Dyera, Terminalia, Pterygota, Pinus, Peronema canescens….

Dari seratus nama latin yang berbeda dari semua pohon ini, dia menamakannya satu per satu seperti anak yang dilahirkannya sendiri.

Gia. Detta. Rambo. Xena. Semuanya sesuka dia. Meski di mataku semua pohon terlihat sama saja, dia akan marah kalau kau mengatakan itu padanya. Bukankah kau tidak pernah mengatakan setiap manusia terlihat sama meskipun mereka memang sama-sama punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut? Begitu katanya.

Lama aku berpikir sambil tetap mengamatinya dari kejauhan. Seiring rintik-rintik hujan yang mengaburkan kacamatanya, ia berbicara kepada pepohonan. Perkara apakah ia sendirian, entahlah. Sepertinya banyak kebenaran yang tersembunyi dalam keanehan.

PAGI itu ada paket kiriman bibit pohon yang dipesannya. Aku kira ada mati dari seratus pohonnya sehingga harus diganti, namun ternyata ia hanya merasa seratus masih terlalu sepi. Digenapkannya lagi ganda menjadi seratus lagi dengan masing-masing spesies yang sama, ia ingin setiap anak pohonnya berpasangan.

Aku melihatnya hari itu menghitung satu-satu bibit pohon yang baru datang pagi itu, dan menyaksikan keningnya berkerut ketika sampai ke hitungan terakhir.

“Seratus satu? Tapi aku hanya membutuhkan seratus saja!”

Sambil geleng-geleng kepala, bibit tambahan yang tersisa itu disingkirkan dari hutan kecilnya. Lalu ditanam depan jendela kamarnya.  Ia beri nama Kara.

Di bawah bayangan kanopi rumah yang teduh siang hari dan lampu taman kekuningan yang berjajar di setapak menuju hutan kecilnya, sebatang Kara itu tampak begitu tenteram sendiri. Tidak ada yang mengusiknya. Tidak ulat-ulat gemuk yang sering datang untuk menggerogoti daun-daun bunga matahari dan wijayakusuma yang ia tanam silang, tidak pula kawanan lebah yang sering kawin di sela bunga mawar yang ia pangkas sendiri. Semua menjauh dari Kara. Membiarkannya tetap tenteram dalam keteguhan yang sama dengan pria di balik kaca jendela itu. Aku tidak pernah mendengarkan tawa lagi dalam hari-hari pria itu. Semua suara diredamnya dalam diam yang disimpannya di dalam tanah. Aku pun tidak mengerti bagaimana bisa sebatang Kara bisa mengubah seorang pria yang dulu ku kenal banyak canda. Mungkin benar kata orang, pria sejati tidak akan bicara kecuali ia rasa benar-benar perlu. Dan ku rasa, dia tidak akan bicara sebelum bisa bercerita tentang kenapa, di antara padatnya dunia, sebatang Kara tiba-tiba menemukannya.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Semua pohon sudah bercabang, berakar panjang, dan berdaun rindang.

Tapi Kara tetap sama seperti hari ketika ia menanamnya. Kara hanya sebatang yang mencuat ke atas Tanpa cabang, tanpa akar panjang, tanpa daun rindang. Kara hanya sebatang.

Ini aneh. Tumbuhan harusnya tumbuh, bukan? Karena itu ia disebut tumbuhan. Keanehan ini membungkam pria itu lebih dalam lagi. Jadi yang pertama dilihatnya setiap matahari sedang tiga puluh derajat sinarnya. Jadi yang pertama disaksikannya setelah tegukan kopi dan sebelum gosokkan gigi. Kara tetap seperti itu, sebatang saja.

Di laboratoriumnya, pria itu telah melakukan berbagai tes untuk menjelaskan kepadanya kenapa Kara hanya sebatang saja?

Namun percobaan ilmiah di bawah mikroskop elektron pun mengkhianatinya. Tidak ada yang tidak normal pada Kara. Seperti dua ratus tumbuhan dikotil miliknya yang lain, Kara sama-sama memiliki semua struktur jaringan batang. Kara normal, kecuali fakta bahwa dia tidak tumbuh namun tidak mati.

Dia cek tanahnya, semua zat hara yang dikandung pun sama dengan tanah belakang rumahnya. Dia pindahkan di tempat agar arah sinar matahari yang mengenainya berpindah. Kara tak bergeming. Tetap sama seperti semula.

Dia suntikkan hormon untuk mempercepat pertumbuhannya. Sampai diracuninya agar sakit. Nihil. Kara tetap sebatang tanpa bertumbuh atau runtuh satu milimeter pun.

Hampir frustasi, pria itu menulis surat kepada semua laboratorium canggih yang ia tahu untuk meneliti spesies baru ini. Seorang profesor sitologi dari laboratorium di Zurich membalasnya. Seketika itu dia terbang ke sana dan mewanti-wanti kepada awak penerbangan agar berhati-hati dengan sebatang Kara yang berada di ruang karantina.

Namun setelah tiga bulan penuh uji coba, tetap tidak ada yang berubah. Kara istimewa, itu saja kata mereka.

Pria itu pulang lagi dan bertemu dengan seorang politisi.

“Kabarnya kau punya sebatang Kara?”

“Ya. Dia istimewa.”

“Bagaimana jika kita kenalkan dia kepada dunia?”

“Baiklah.”

Lalu tersiarlah cerita tentang Kara sampai seantero negeri. Kara difoto, dicetak di buku-buku pelajaran dan ensiklopedi. Pria itu diundang ke berbagai acara televisi dan radio, diminta berbicara tentang bagaimana cerita hidupnya dan sebatang Kara yang ia punya. Pria itu senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, banyak yang mendengarkannya.  Sang politisi selalu setia menemani, di penghujung acara ia selalu menambahkan di pidato panjangnya, Kara adalah keajaiban dunia, begitu pula dengan dirinya.

Lalu di bulan berikutnya, politisi itu jadi walikota dan tidak pernah lagi duduk membahas Kara.

Namun sejak saat itu, orang-orang mulai berbondong-bondong datang kepada Kara. Ada yang bersemedi, menaruh sesaji, dan minum dari air siraman Kara. Jika Tuhan satu-satunya di dunia, bukankah Kara juga? Begitu kata mereka.

Rumah pria itu semakin penuh sesak, namun entah mengapa ia merasa semakin sepi.

SUATU hari Kara dicuri. Orang-orang kalut mencari kesana kemari. Anak-anak menangis kehilangan dongeng yang selalu diceritakan ibu-ibu mereka. Ayah-ayah bergantian jaga setiap malam di sekitar rumah pria itu untuk menemukan jejak pencurinya. Bahkan walikota yang sudah tidak pernah datang lagi kini turun tangan, bersama kamera-kamera televisi yang besar-besar dan karavan-karavan yang berisi tentara. Katanya, hari itu dijadikan hari siaga Kara. Semua sekolah libur. Kantor-kantor berhenti bekerja. Toko-toko tutup. Pencuri Kara harus menyerahkan diri dalam waktu 1×24 jam jika tidak ingin ditembak mati.

Di sore hari seseorang muncul dengan gemetar memeluk sebatang Kara yang tetap mencuat dengan jumawa.

Pencurinya mengaku ia punya terlalu banyak beban dalam hidupnya. Istrinya dua, anaknya lima, perempuan semua dan saat ini mengandung semua. Saat itu, Ia hanya ingin merasakan hidup dengan sebatang Kara.

Walikota dapat pujian lagi. Kata warga ia berhasil menegakkan keadilan dan keamanan di kota mereka. Namun sejak saat itu, ketakutan berpendar seperti cahaya obor yang semakin besar. Mereka bilang sebatang Kara berbahaya.

Demi namanya, walikota itu pun memerintahkan pria itu untuk membawa Kara pergi jauh. Sangat jauh hingga anjing-anjing polisi pun tidak mampu lagi mengendus jejaknya. Namun pria itu tidak mau. Sebatang Kara telah menjadi separuh hidupnya. Ia memilih menjaganya sendiri. Memulangkan Kara ke tanah tempat awal ia menanamnya. Mungkin jika tadi kau ingin bertanya untuk apa pagar listrik di sekitar rumahnya itu, sekarang kau sudah dapat jawabannya.

PRIA itu punya kesukaan baru. Duduk lama-lama di depan Kara dan memandanginya dengan terpesona. Ia bahkan membangun kursi kayu dengan sandarannya tepat di depan Kara. Kadang-kadang ia membawa bantal dan selimutnya serta sehingga ketika malam tiba ia tidak perlu beranjak pergi, dan Kara jadi yang pertama dilihatnya ketika bangun membuka mata, tanpa perlu bersusah-susah pergi lagi.

Demi sebatang Kara pria itu kehilangan semua hartanya. Lalu waktunya. Berikut tenaganya.

Lama-lama burung-burung pergi, ular-ular meninggalkan kulitnya, dan tupai terbang tidak pernah terlihat lagi. Seratus pohon yang  dulunya tinggi dan lebat pun mulai meranggas mati. Lama-lama ia tidak pernah berkunjung ke hutan kecilnya lagi.

Lama-lama tahun berganti, uban-uban mulai merambat di rambutnya yang lebat, keriput mulai membekas di wajahnya yang pucat. Kehilangan mulai menggerogoti rongga matanya dari dekat.  Lama-lama ia sudah tidak pernah keluar rumah lagi.

Lama-lama orang tidak peduli lagi apakah di dalam sana ada narapidana, darah bayi dan gadis, ataukah mesin pengeruk berlian. Lama-lama orang pun lupa bahwa rumah itu ada. Lupa bahwa pria itu ada.

Tapi ketika menulis ini aku sebenarnya hanya ingin kalian tetap ingat. Dia adalah seorang pria dengan sebatang Kara yang ia jaga sampai akhir hayatnya.

*Dimuat di Jakartabeat, 16 Juni 2013

https://www.jakartabeat.net/prosa/konten/sebatang-kara?lang=id

Standard
Short Stories

Matahari yang Setia Menunggu Rembulan

Kamu cuma tau, ada yang salah. Bukan berarti kamu harus selalu melawan sampai titik darah penghabisan. Itu hanya berlaku pada peperangan. Kali ini bukan. Cuma tentang cinta yang jauh, lalu runtuh. Kadang, takdir menempatkan kita pada pilihan tunggal, menunggu.

Di kota ini aku biasa duduk menunggui senja. Di kotamu, kamu biasa terjaga menanti pagi. Kita sudah lama begini. Mengabsorbsikan pagi dan senja dalam intensitas yang sama. Menakar rindu di garis cahaya. Di tempatmu siang, di tempatku malam. Kita bertemu di tengah, sebelum kamu tidur dan setelah aku bangun. Mengembara ke setengah belahan dunia yang berbeda.

“Kuncup Bunga Matahari itu selalu menghadap ke arah matahari. Pagi-pagi dia nungguin ke arah timur. Kalau matahari di langit sudah muncul, bergerak ke arah barat, kuncup bunganya juga ikutan gerak mengarah ke barat. Dia setia nungguin dan ngikutin. Indah kan?” Jelasmu dulu.

“Memangnya akan selalu begitu?” tanyaku.

“Nggak juga sih. Kalau sudah sempurna mekarnya biasanya mereka sudah kehilangan kemampuan untuk mengikuti arah matahari. Sudah nggak setia lagi. Haha. Bedanya sama kamu, makin dewasa kamu makin setia.” Candamu sambil menepuk kepalaku.

Aku cuma tertawa.

Bagimu, Bunga Matahari berarti pekerjaanmu. Penelitianmu. Mimpimu.

Bagiku, Bunga Matahari berarti tiga hal. Pertama, namaku. Kedua, sepetak tanah di depan rumah yang kamu tanami dengan gerombolan bunga matahari. Ketiga, lambang Kansas, negara bagian Amerika Serikat dimana kamu melakukan penelitian untuk Museum Ilmu Pengetahuan Smithsonian. Territori yang telah merampas kamu dari aku sejak 5 tahun yang lalu.

“Mentari, besok aku akan ke Buenos Aires! Ada professor yang menginginkan aku dalam timnya. Penelitian tentang fosil purba kluster Asteraceae ini akan jadi puncak karirku. Bunga matahari, Mentari, Bunga Matahari!” rentetmu histeris setengah tahun yang lalu.

“Di Argentina kamu akan tinggal berapa lama?” susah payah ku telan firasat tidak enakku.

“Belum tahu. Aku akan mentap di daearah utara Patagonia, wilayahnya di tengah hutan. Fosil yang akan kami cari nanti diprediksi akan berada di sepanjang sungai… sungai apa ya, aku lupa namanya! Nanti aku kabari lagi. Sekarang professorku menelfon.” Kemudian Skype kita diputus.

Sungai Picheleufu. Tidak perlu kau beri tahu, aku akhirnya tahu sendiri. Dan aku tidak akan pernah lupa namanya. Nama sungai yang sudah seminggu ini diberitakan karena ada salah seorang tim peneliti yang terpeleset saat mengambil sampel batuan tempat fosil bunga matahari purba dideteksi, lalu terseret arus dan belum ditemukan sampai sekarang.

Sekali lagi, matahari merebutmu dariku.

Chandra. Namamu berarti bulan. Kita seharusnya tahu dari awal, Selama masih hidup di bumi, mentari dan bulan tidak akan pernah bisa bersatu. Yang bisa kita lakukan hanya memandangi cakrawala, menitip rindu. Kadang ia terselip di perpaduan gelap dan terang di ufuk pagi dan senja.

Di sepetak tanah tempat Bunga Matahari yang kau tanam itu berada, sebelahnya kini ku tanami dengan Bunga Wijayakusuma. Bunga yang hanya mekar di waktu malam. Bunga yang jadi simbol kehidupan. Bunga yang jadi nama belakangmu. Chandra Wijayakusuma.

Dalam legenda perwayangan, Bunga Wijayakusuma digunakan untuk membangkitkan orang mati. Ah, aku tak yakin apa yang ingin aku bangkitkan bahkan ketika kamu mati atau tidak pun aku tak tahu. Mungkin kenangan tentangmu. Ada legenda lama yang bercerita bahwa matahari dan bulan saling jatuh cinta. Kita hanya dua orang yang bertentangga sejak kecil, yang kebetulan dinamai seperti benda langit. Yang menyatukan kita hanya kecintaan pada bunga.

Aku cuma ingin bunga mataharimu punya teman. Biar mereka bergantian menjaga satu sama lain saat siang dan malam. Setidaknya kalau kita tidak pernah bersisian, biarlah bunga kita yang mekar bergantian.

Tim SAR bergerak gencar. Hutan Patagonia jadi sorotan berita internasional. Dunia penelitian sedang dirundung duka. Keluargamu berangkat kesana. Ingin rasanya aku ikut. Hanya saja seorang gadis yang duduk di kursi roda sejak lahir ini mungkin malah ikut tersesat di hutan belantara, terperosok di sungai yang penuh piranha. Semakin menyulitkan lagi. Biarlah ku titipkan doa. Juga bunga Wijayakusuma.

Siapalah aku. Hanya Matahari yang setia menunggu kabarmu.

PS: Cerpen ini ditulis sambil mendengarkan lagu “Surya Kembara”-nya @TheEverydayBand disini http://www.reverbnation.com/theeverydayband. Terimakasih atas karya yang melahirkan inspirasi untuk karya lainnya! 🙂

Standard
Inner Thought, Short Stories

Cerpen: Ninggar

Di teras rumah, Ninggar memandangi jalan aspal yang mulai basah kena gerimis. Papa Huat sudah pergi lima menit yang lalu. Naik ojek dari Tanjung Balai Karimun, lanjut naik ferry ke Singapura lewat HarbourFront. Ninggar sudah tiga kali kesana, ke tempat Papa Huat kerja. Setahun sekali, setiap hari ulang tahunnya. Tempat kerja Papa Huat terletak di bagian utara Singapura, dekat sekali dengan perbatasan ke Johor, Malaysia. Setiap malam ulang tahunnya Ninggar dibawa kesana, melihat pinggiran kota dari Woodland Waterfront. Berdiri di jembatan tua, memandangi lampu-lampu kecil di ujung pantai yang berkerlip jingga. Kota ini kuemu, lampu-lampu disana lilinmu, kata Ibu Lia. Maka Ninggar meniupnya dengan sekuat tenaga sampai pipinya bersemu. Lalu mencuri pandang ke Papa barunya malu-malu.

Ninggar dan Ibu pindah ke Karimun tiga tahun yang lalu. Tahun 2006, usia Ninggar 10 tahun.

“Mbak, sekarang kita bisa tinggal sama-sama. Di Kepulauan Riau. Bulan depan kita pindah dari Jawa.” Begitu isi surat yang sampai ke mbah puteri. Lia selalu memanggil Ninggar dengan sebutan ‘mbak’ walau dia adalah anak tunggal. Melatih tanggung jawab biar ngayomi yang lebih muda, katanya. Ibunya sudah nikah lagi sama Cina-Melayu dari Singapura. Begitu kata tetangga.

Ketika berumur 2 tahun, teman-temannya belajar memanggil bunda, Ninggar mendengar tetangga mereka memanggil Lia janda. Ayah yang hanya diingatnya lewat foto di pigura meninggal waktu krisis orde baru. Mei 1998. Toko-toko dibakar, semua orang diPHK, termasuk ayah yang cuma jadi buruh kasar. Luka bakar karena terkena serpihan api dari amukan massa membuat kondisi ayahnya memburuk, hingga akhirnya pergi selamanya di sebuah sore hening saat Ninggar melihat Lia menangis sampai meraung-raung, untuk alasan yang saat itu dia tidak tahu mengapa.

Bukan main susahnya Lia, waktu itu. Bayinya butuh dihidupi, tulang punggung yang jadi sandaran finansial sudah tiada. Ninggar segera disapihnya, lalu dengan hati remuk redam Lia bergabung bersama ratusan wanita lain yang dikirim ke Singapura untuk bekerja menjadi pekerja domestik.  Setelah itu Ninggar dititipkan di rumah mbah puteri di Ambarawa.

5 tahun selanjutnya hanya surat-surat dan omongan tetangga. Dulu mereka memanggil ibunya janda, sekarang tuna susila. Begitu yang Ninggar dengar. Entah apa artinya. Waktu itu dia baru mau masuk madrasah. Di pelajaran pertama Bahasa Indonesia Ninggar menanyakan kosakata yang berbulan-bulan mengisi kepalanya itu. Ustadzah hanya balik bertanya, dimana ia mendengar kata itu. Ninggar tidak menjawab. Di akhir kelas Ustadzah mendekatinya sendirian, berusaha menjelaskan sesuatu yang bisa dipahami oleh seorang anak yang berusia 7 tahun. Satu hal yang Ninggar tangkap dari cerita panjang itu: wanita nakal yang akan masuk neraka. Ninggar tau ia tidak sepantasnya menangis di hari pertama sekolah. Tapi hari itu, ia meraung-raung, persis Lia di sore hari yang diingatnya itu.

Sekarang Ninggar sudah 13 tahun. Sudah mengerti lah ia cerita lengkapnya.

Lia dulu bekerja jadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Cina di Singapura. Sadis benar perlakuan yang diterimanya, terlambat 5 menit pun bisa hilang seluruh waktu istirahatnya. Waktu sholat tidak diberikan. Lia disuruh masak babi, dan itu adalah menu satu hari. Alhasil sering kali dia cuma bisa makan nasi putih lauk garam.

Tidak tahan, Lia mengakhiri kontraknya dengan agen tenaga kerja. Masalahnya ia jadi harus membayar denda dan semua gajinya ditahan untuk membayar denda tersebut. Ia pun masih tetap harus membayar hutang. Ada yang bilang jangan pernah mengambil keputusan di tengah keputusasaan. Tidak berlaku untuk Lia. Keputusannya untuk bekerja di rumah bordil di Batam dengan cepat memberikannya kemampuan untuk melunasi hutang.

Namun masalah baru timbul. Tidak semudah itu masuk lalu keluar dari lingkaran rumah bordil. Ia punya Mami, jahat sekali. Perempuan itu tahu bahwa pekerjanya tidak punya skill lain yang bisa dijual selain badan. Tapi ia kurang memperhitungkan keberanian Lia, naluri seorang ibu yang terseok-seok demi mempertahankan agar anaknya bisa hidup.

“Saya memang ndak berpendidikan. Tapi saya ngerti prostitusi itu ilegal! Laporkan sana saya ke polisi, saya ndak peduli! Sak karepmu! Biar sekalian kamu ditangkap, setan!” jerit Lia sambil membanting pintu setelah Mami menjambak rambutnya dan mengancam mau melaporkannya ke polisi kalau dia kabur. Mami menjerit, dua jarinya terjepit sampai kukunya lepas. Lia berhasil kabur. Dalam keremangan semua penghuni rumah bordil mengidolakan Lia dan berharap suatu saat mereka bisa melakukan hal yang sama. Meretas jari-jari setan perempuan bertitel Mami itu sampai lepas satu-satu, menggunduli rambutnya, dan menyudut kemaluannya dengan putung rokok. Biar dia tahu rasanya dipaksa melayani belasan bahkan sampai puluhan klien dalam sehari.

Singkat cerita Lia memanfaatkan jaringan klien yang dikumpulkannya selama bekerja dengan Mami. Ia memilih siapa saja yang disukainya. Ditelusurinya satu-satu, dihubunginya dengan penawaran yang menarik, paket delivery service. Ia dapat ide dari McDonnald. Lia memilih klien yang berbasis di Singapura atau Malaysia, kemudian mendatangi mereka ke negaranya. Biaya perjalanan dan upah ditanggung oleh klien tanpa mengganggu waktu mereka untuk pergi ke Batam dulu, terombang ambing di atas ferry, dan menempuh jalan panjang. Sementara Lia dapat bayaran yang lebih tinggi yang dikumpulkannya demi Ninggar.

Namun bekerja tanpa perlindungan dari Mami ternyata beresiko tinggi. Lia pernah ditangkap polisi. Bisa berharap apa tentang dokumen lengkap dari seseorang yang pekerjaannya tidak dilindungi negara. Waktu kecil Lia bercita-cita jadi bidan. Sekarang dia anggap cita-cita hanyalah cerita manis untuk didengar orang. Begitu pula dengan cinta. Ketika mantan kliennya, Ah Huat menginginkan orang yang bisa dibayarnya untuk mengurusi dia di hari tua, Lia setuju. Mereka menikah. 57 usia suaminya pada saat itu.

Mbah puteri tidak pernah tahu ayah angkat cucunya sekarang lebih cocok untuk jadi kakeknya. Yang dia tahu, Lia sudah dijaga orang. Sama Ninggar juga. Cukup itu dulu.

“Jika dikembalikan ke 11 tahun yang lalu dengan kondisi yang sama, antara meninggalkan kehormatan ibu di mata tetangga atau melihatmu mati pelan-pelan dengan menderita, ibu akan tetap pilih yang pertama. Kamu tahu ibu punya alasan untuk tidak menyesal.” Tutur Lia di satu malam.

Mengertilah Ninggar. Ibunya bukannya tidak punya pilihan, ia hanya sedang melawan ketidakberdayaan.

Pagi itu, sebelum Ah Huat pergi lagi ke negaranya setelah berakhir pekan 3 hari di Tanjung Balai, Ninggar menyeduh kopi O instan untuknya.

“Mendung. Ninggar mau ikut ke pelabuhan. Mau mandi hujan disana.” Gadis itu menunjuk langit sambil loncat-loncat. Nampan stainlessnya berdenting terkena tepi jendela.

No lah. Mandi hujan di pelabuhan. Seperti orang gila. Apa kata tetangga?” Ah Huat menepis tangannya ke udara, mengusir ide liar yang terasa asing itu. Selama dibesarkan, tidak pernah ia lihat anak kecil hujan-hujanan di pelabuhan sendirian. Kecuali gelandangan yang tidak punya rumah. Dia tidak mau orang anggap dia tidak mampu kasih tempat berteduh untuk anak angkatnya.

Ojek datang. Lelaki paruh baya itu pergi. Meninggalkan Ninggar yang di teras, berdiri mematung. Mengucap tipis di bibir kecilnya.

“That’s okay, Papa Huat.  Ninggar tak peduli kata tetangga.”

Lalu sedikit-sedikit hujan turun.

**Singapore 1 Desember 2012.

Tribute to Michele Ford and Lenore Lyons for such an inspiring research. I shoud’ve been studied for scientific exam but I can’t resist from writing fiction. 😛

Standard
Short Stories

Grey

A silent week. In a season peak. A giant volcano eruption came to the land. Some stared at the TV screen. Some prayed at the temporary migration station. That was a shocking year end for everybody.

A young man stepped on the remote territories. There was nothing but the flakes of volcanic dust. And the dead body founded near his knees.

He gazed at the white, white landscape. Spotted a woman moves from the red area. Making her way with the foot dragged.

Grey is the rescue team jacket he wore. Grey is the ash she shed above her nose. Grey is the conversation they torn.

“Why do you come? I have rejected you.” He stood on the bridge with the leftover emotion.

“I reject your rejection.” She wrapped the mask, as her step getting closer.

At that moment he had just realized. Grey, is the color of her eyes.

Standard
31 Hari Menulis

Hari #31: Menyambut Juni

Juni adalah bulan tengah. Juni adalah anak tengah. Mungkin Juni adalah takdir bagi para penengah.

Ada sebuah cerita. Angin dari utara pernah berkata, dua orang yang akan selalu diingat adalah orang yang paling baik dan orang yang paling jahat. Lalu datanglah angin dari selatan bertanya. Bagaimana dengan orang yang ada di antara keduanya? Angin utara berhembus ragu. Dijawabnya bahwa mereka pada akhirnya akan terlupakan. Tidak ada yang akan ingat kepada orang yang biasa-biasa saja. Angin selatan berang, dikasihaninya seseorang yang malang. Yang berada di antara kebaikan dan kejahatan. Sudah terdera, lalu hilang begitu saja.

Angin utara jahat. Ia tertawa. Biarkan, orang seperti itu memang tercipta untuk dilupakan. Angin selatan baik. Ia menangis. Hukum seperti itu tidak adil, katanya. Lalu mereka melaju. Beradu. Pada akhirnya mereka berdua menghilang dan diingat sebagai badai pancaroba. Peralihan musim di pertengahan tahun. Di bulan Juni.

Perubahan musim kali ini diantisipasi Juni dengan membeli persediaan obat-obatan herbal di rumahnya. Dua belas tahun menjadi ibu rumah tangga cukup memberinya pengalaman untuk selalu melakukan persiapan. Biasanya kekebalan Petra akan menurun karena tonsilnya yang sudah diangkat akan membuat kesehatannya drop. Perubahan musim memang bukan momen favorit Petra. Juni tahu itu. Ia hapal kebiasaan Petra luar kepala.

Ada satu kebiasaan Petra yang juga tidak mungkin tidak diketahuinya. Binar di matanya saat pertama kali meminta Juni jadi pacarnya. Cahaya yang terpancar setiap hari itu adalah alasan mengapa Juni rela mengalah demi menjaganya tetap menyala. Menikah dengannya. Namun seperti lilin yang semakin lama semakin habis terbakar, perlahan cahaya itu memudar. Karena itu ketika suatu hari Petra pulang dari sebuah proyek kantor di luar kota, dan binar di matanya kembali ada, saat itu juga Juni tahu, Petra sedang jatuh cinta.

Ia menyelidiki. Ia mengetahui. Nama wanita itu Meimei. Ia pernah bertemu dengannya dua kali. Gadis yang pintar dan menyenangkan. Mereka pasti sudah jadi teman. Andai saja dia bukanlah seseorang yang sedang menggerogoti kehidupannya perlahan.

Juni sudah terlalu terbiasa mengalah. Hormat kepada kakaknya dan mengayomi adiknya. Dilarang berkuasa karena lebih muda, dan dilarang manja karena lebih tua. Diberikan baju lungsuran, dikurangi uang jajan karena menghilangkan mainan. Masuk ke sekolah unggulan lalu dibandingkan dengan kakaknya, lalu tidak jadi masuk universitas idaman karena terhalang biaya untuk sekolah adiknya. Baginya perhatian terbagi antara si sulung dan bungsu, bukan untuk si tengah. Karena takdir si tengah adalah menyerah. Seperti yang sudah-sudah.

Pertanyaannya sekarang, akankah dia lagi-lagi mengalah?

Sebenarnya Juni telah sampai pada suatu titik dimana yang bisa dilakukannya hanya menerima, bahwa sebenarnya bukan Meimei yang sedang ada di tengah, tapi dirinya. Menjadi penghalang di antara mereka berdua. Karena untuk menyingkirkan cinta yang berbicara dari sorot mata Petra, ia tidak kuasa. Namun untuk merelakan, ia lebih tidak bisa.

Seharusnya ia total. Jika jahat, jahat sekalian. Melabrak Meimei, menggugat Petra, mempermalukan mereka, melaporkan kepada polisi, mengadu kepada keluarga besar,  memohon kepada Tuhan agar mereka masuk neraka. Jika baik, baik sekalian. Memahami Meimei, mengampuni Petra, memaklumi keadaan, lalu memaafkan. Berharap semua baik-baik saja pada akhirnya. Tapi Juni tidak tahu caranya. Terbiasa di tengah membuatnya tidak bisa memutuskan apa-apa.

Kecuali berdoa.

Juni berdoa. Persis anak kecil yang baru belajar membaca. Diejanya lukanya satu-satu, dikompensasikannya dengan rindu. Diingatnya sumpahnya yang telah lalu.

“Tuhan, jika semua yang terjadi di semesta ini adalah tentang balas-berbalas, maka maafkan aku yang mungkin sedang mendapatkan balas. Dan jika ini memang caraMu memberikan pelajaran, Tuhan, semoga mereka pun suatu saat nanti belajar. Aku ingin jadi guru tanpa menggurui. Aku ingin menyembuhkan luka tanpa balas melukai. Mungkin takdirku memang harus mengalah, tapi bukan berarti kalah. Aku hanya ingin damai, untuk anak yang sedang ku kandung, dan kehidupan yang sedang Kau rancang.”

Langit cerah, udaranya menyegarkan. Seperti doa yang telah tersampaikan. Juni membuka jendela. Menyambut datangnya Juni.

Standard
31 Hari Menulis

Hari #30: Bingkisan di Sudut Kabin

Menjauh dari anjungan penumpang yang mulai dilepas, pesawat bersiap lepas landas. Prosedur keamanan standar mulai diperagakan oleh tiga pramugari di lorong dalamnya. Gerakannya persis, serupa dan kembar. Mereka yang terlatih terlihat menguasai medan, sekaligus memainkan peran. Seperti tidak berpikir lagi. Melakukan ratusan prosedur serupa yang diulang setiap hari. Sepertinya ini adalah semacam hukum tidak tertulis, konvensi, bahwa ada hal-hal yang selalu kita lakukan tanpa henti. Bedanya adalah pramugari itu melakukan hal yang patut dipertontonkan, sementara Petra melakukan hal yang patut disembunyikan. Perselingkuhan.

Ada tutup kabin barang yang masih goyang. Seorang pramugari mundur satu langkah dan membuka tutup kabin. Dirapikannya dua ransel yang saling bertindihan. Lalu diletakkannya sebuah bingkisan yang terbungkus plastik putih di bagian paling depan. Kabin di tutup kembali. Pramugari itu pergi. Di bawah kabin Petra terpekur menyandarkan kepala di jendela. Dilihatnya lampu-lampu landasan terbang yang berkerlip di luar yang berlatar gelap. Kemudian pesawat melaju dengan kecepatan tinggi, naik dan naik. Tekanan di dalam yang sedikit membuat kuping berdenging diatasi Petra dengan cara menelan ludah. Ia melakukannya tanpa berpikir. Sudah sangat terbiasa, sebagaimana ia selalu terbiasa menelan ludah menghadapi kenyataan melihat rumah tangga yang dibinanya nyaris goyah. Ulahnya, yang terpikat pada rekan kerja barunya, Meimei.

Petra berharap kembali mengerdil jadi anak kecil. Melakukan kesalahan sebanyak-banyaknya tanpa konsekuensi lebih besar daripada dijewer dan dihukum membersihkan kamar sendiri. Masalahnya saat ini ia tidak tahu bagaimana caranya menghukum diri sendiri.

Apakah semua orang melewati fase ini? Petra bertanya dalam hati. Dari atas dilihatnya kerlap-kerlip lampu kota yang berjajar membentuk sebuah bidang indah. Semakin tinggi semakin luas bidangnya. Pemandangan ini adalah alasan mengapa orang-orang pasti lebih suka memilih duduk di sisi yang dekat jendela. Apalagi orang-orang yang jarang naik pesawat. Lazimnnya mereka akan berdecak kagum. Petra pernah jadi salah satu dari orang-orang itu. Pernah. Itu berarti sekarang ia sudah berpindah, seperti halnya arah angin yang tidak pernah konstan.

Ia ingat penerbangan pertamanya. Waktu itu umurnya 17 tahun. Pertama kalinya ia lihat Jakarta. Dari Sumbawa tempatnya tumbuh, lampu-lampu dari ketinggian itu memesonanya. Apalagi ketika ia lihat lampu-lampu ibukota. Seperti kerang yang baru terbuka, impiannya baru mulai tercipta. Ia berjanji akan terbang sering-sering ke Soekarno-Hatta.

Saat pertama. Itu adalah sensasi yang saat ini hilang. Perasaan udik saat pertama kali melongok dari jendela pesawat. Perasaan penasaran ingin kembali mengulang lagi dan menjadikannya memori episodik. Perasaan berdebar saat check-in, berharap dapat nomor kursi dekat jendela. Perasaan girang saat duduk lagi dan menempelkan wajah di kaca. Perasaan bahagia. Karena perasaan pertama adalah yang murni, yang paling hebat yang pernah ada.

Masalahnya Petra sudah terlalu sering terbang. Lampu-lampu yang memesonanya saat pertama kini sudah jadi ornamen pelengkap yang biasa saja. Ia lebih memilih memejamkan mata. Berkonsentrasi menyeimbangkan tekanan darah di kepalanya yang menusuk-nusuk tajam ketika ia mengingat Juni. Seorang wanita yang dulu memesonanya, tapi sekarang jadi biasa saja. Persis seperti lampu kota.

Ini salah. Bathinnya.

Seorang laki-laki Tionghua menyalakan lampu baca dan mulai menulis di meja lipatnya. Petra disebelahnya melirik. Sepertinya orang ini sedang menulis untuk kekasihnya. Ia hidup di dunia dimana kesetiaan dijunjung tinggi di atas segalanya. Petra dengan egonya ingin menyudahi saja. Namun dengan segenap rasionalitasnya ia menyadari, cinta bukan arah angin, yang dapat berubah jika ingin. Cinta harus konstan. Walaupun memang kadang membuat bosan.

Seperti naik pesawat berkali-kali dan tetap mengagumi lampu kota dari ketinggian. Tanpa ada keterpaksaan. Seperti Petra yang perlahan ingin cepat pulang dan memvisualisasikan lagi saat pertamanya bertemu Juni. Pintu dibuka, ia tergesa menuruni tangga. Perjalanan ini adalah sebuah keputusan yang besar. Memang butuh pergi jauh dulu untuk dapat pulang. Dan kepulangan kali ini adalah akhir yang mungkin jadi awal.

Sebuah bingkisan tertinggal di kabin. Untuk Juni, yang tak ingin Petra tinggalkan.

Standard
31 Hari Menulis

Hari #29: Kita Sebaiknya

Kita sebaiknya jadi awan. Ringan, menggumpal, dan menghilang jadi hujan. Lalu kembali lagi, entah besok, seminggu, atau sebulan lagi. Bereksplorsi dalam evaporasi.

Kita seharusnya turun ke bumi. Beroksidasi dengan partikel udara. Kita harusnya memperkaya diri dengan hal-hal yang membuat kita kotor. Lalu jatuh bebas, terpental ke aspal. Jadi embun di kaca-kaca yang buram. Membersihkan.

Kita semestinya mengalir ke sungai. Tersimpan di sumur. Larut ke laut. Menyatu bersama yang sudah berada di sana sejak lama. Kita harusnya sering-sering jadi pendatang baru.

Kita selayaknya mendingin saat panas. Memanas saat dingin. Menyeimbangkan. Hingga keberadaan kita punya arti lebih dari sekedar hidrogen dan oksigen yang berjajar dalam satu mata rantai.

Kita mungkin bisa jadi awan. Dekat tapi tidak tersentuh. Jauh tapi seperti mau runtuh. Karena kita adalah kata yang berubah bentuk setiap milisekon. Kadang ada, kadang tiada.

Thomas Lim kepada Carissa,

Bandara Adisucipto ke Soekarno-Hatta

29 Mei 2012.

Standard