Poets, Writing Project

Falling from Sky

What a pure thing a sailor be,

Breathing the salt-wind and deep blue water

Not knowing war and crime

Happening miles away from sea

 

What a peaceful day a farmer has,

Exhausted by planting seed and cropping corn field

Not witnessing evil pulling pen that is not gun

Far, far above the motherland

 

What an exquisite home a baby sleeps,

Safe and sound inside his crib

Not suffocating, dying in Syria’s leftover ground

Burn with chlorine – or sarin they never ask for

 

What a comfort one may never thank for,

To read,

To see,

To remember,

To imagine,

To cry,

without having to run

no stamp, no flag

asking for one more day

 

What a joy

What a life.

 

SA – New York, 6 April 2017

To Syria

Standard
Poets, Writing Project

A Tale of April Fool

Dear reckless, you always forgot your umbrella

Wrapping hands inside your wet coat, waving to stop a yellow cab

Don’t fight the East Coast wind; you can’t

Let today be rain

Must give someone else’s day a bless

An America’s favorite Frenchman now a wet street somewhere downtown

O, Lafayette! Lafayette!

The hero of the two worlds, I recall his fight for the unborn

 

I, too, want to repeat history but stumbled upon my insecurity

Earth keep moving, at 2 a.m. days and nights tick-tocking – intertwining

Tell me how a transition does to reveal your flaw

A mediocre stamp to your unworthy non-existence

How a soul not bleed, having loved by many but left them behind easy

Wouldn’t you want to be low grounded and laid, just all?

 

Then stay!

For month has changed and half-year goes by

When winter ends, a daughter lost her father

Long before she know her road is steeply rise

Thousand butterflies floats above the tranquil strawberry field

She heard John Lennon from the Central Park circular bronze plaque

“Imagine if there is no me”

So I,

Count up to one two three

Scrolling down my phone, forget to pay a bill and whisper

“How are you, Pa?”

Words are loose, and wishes are mud thick

Pa, I wish we share the same poem…

 

So I’m taking this bus from Harlem

Reminiscing Manhattan, a tale of unfinished stories

A stranger with gray hair asks, how is your country?

I said fine; there you can eye wide ocean from the top of the mountain

Sun shines to the abundance, the yellow rice-paddies, and the villager’s hats

That once my home, my precious root

But one thing missing yet is for you to be understood

That’s how I moved, yeah, that’s why I moved

 

I walk again

Round and round, heading to the late cherry blossom somewhere in Brooklyn

Long ago I knew a person who wants the same thing

To be loved, to be spoiled,

and shamefully frazzled by the April fool.

 

SA – New York, 2 April 2017

Standard
Short Stories, Writing Project

Sebatang Kara

sebatang kara

DULU di sebelah rumah ini tinggal seorang pria dengan sebatang Kara yang dijaganya. Dia pemilik rumah terbesar di pinggir kota ini. Lahan di belakang rumahnya berhektar-hektar, dikelilingi pagar besi dengan kawat listrik melingkar kusut di atasnya. Banyak yang berkata ia menyimpan narapidana di dalamnya. Ada pula yang mengira ia adalah anggota sekte sesat yang suka mengambil bayi dan gadis-gadis, kemudian minum darahnya di sana. Sebagian tidak ambil pusing dan berkata mungkin dia pengusaha tambang kaya yang sedang menandai teritori baru untuk mengeruk lagi perut bumi kita.

Namun aku tahu yang cerita yang sebenarnya. Ia hanyalah seorang ilmuwan yang gemar mengoleksi seratus pohon di sana.

Setiap pagi pria itu membuka jendela saat sinar matahari tepat tiga puluh derajat masuk dari ventilasi kamarnya. Burung-burung masih pandai memainkan sandi morse dan ular hijau kadang-kadang menggantung basah terkena embun. Sebelum ia membenarkan letak kacamata di atas hidungnya, ia bahkan suka melihat tupai bersayap terbang dari dahan ke dahan.

Setelah minum kopi dan menggosok gigi pria itu akan berjalan menyusuri pohon demi pohon, dahan demi dahan, ranting demi ranting, dan daun demi daun. Mengabsen satu per satu,

Agatis, Dyera, Terminalia, Pterygota, Pinus, Peronema canescens….

Dari seratus nama latin yang berbeda dari semua pohon ini, dia menamakannya satu per satu seperti anak yang dilahirkannya sendiri.

Gia. Detta. Rambo. Xena. Semuanya sesuka dia. Meski di mataku semua pohon terlihat sama saja, dia akan marah kalau kau mengatakan itu padanya. Bukankah kau tidak pernah mengatakan setiap manusia terlihat sama meskipun mereka memang sama-sama punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut? Begitu katanya.

Lama aku berpikir sambil tetap mengamatinya dari kejauhan. Seiring rintik-rintik hujan yang mengaburkan kacamatanya, ia berbicara kepada pepohonan. Perkara apakah ia sendirian, entahlah. Sepertinya banyak kebenaran yang tersembunyi dalam keanehan.

PAGI itu ada paket kiriman bibit pohon yang dipesannya. Aku kira ada mati dari seratus pohonnya sehingga harus diganti, namun ternyata ia hanya merasa seratus masih terlalu sepi. Digenapkannya lagi ganda menjadi seratus lagi dengan masing-masing spesies yang sama, ia ingin setiap anak pohonnya berpasangan.

Aku melihatnya hari itu menghitung satu-satu bibit pohon yang baru datang pagi itu, dan menyaksikan keningnya berkerut ketika sampai ke hitungan terakhir.

“Seratus satu? Tapi aku hanya membutuhkan seratus saja!”

Sambil geleng-geleng kepala, bibit tambahan yang tersisa itu disingkirkan dari hutan kecilnya. Lalu ditanam depan jendela kamarnya.  Ia beri nama Kara.

Di bawah bayangan kanopi rumah yang teduh siang hari dan lampu taman kekuningan yang berjajar di setapak menuju hutan kecilnya, sebatang Kara itu tampak begitu tenteram sendiri. Tidak ada yang mengusiknya. Tidak ulat-ulat gemuk yang sering datang untuk menggerogoti daun-daun bunga matahari dan wijayakusuma yang ia tanam silang, tidak pula kawanan lebah yang sering kawin di sela bunga mawar yang ia pangkas sendiri. Semua menjauh dari Kara. Membiarkannya tetap tenteram dalam keteguhan yang sama dengan pria di balik kaca jendela itu. Aku tidak pernah mendengarkan tawa lagi dalam hari-hari pria itu. Semua suara diredamnya dalam diam yang disimpannya di dalam tanah. Aku pun tidak mengerti bagaimana bisa sebatang Kara bisa mengubah seorang pria yang dulu ku kenal banyak canda. Mungkin benar kata orang, pria sejati tidak akan bicara kecuali ia rasa benar-benar perlu. Dan ku rasa, dia tidak akan bicara sebelum bisa bercerita tentang kenapa, di antara padatnya dunia, sebatang Kara tiba-tiba menemukannya.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Semua pohon sudah bercabang, berakar panjang, dan berdaun rindang.

Tapi Kara tetap sama seperti hari ketika ia menanamnya. Kara hanya sebatang yang mencuat ke atas Tanpa cabang, tanpa akar panjang, tanpa daun rindang. Kara hanya sebatang.

Ini aneh. Tumbuhan harusnya tumbuh, bukan? Karena itu ia disebut tumbuhan. Keanehan ini membungkam pria itu lebih dalam lagi. Jadi yang pertama dilihatnya setiap matahari sedang tiga puluh derajat sinarnya. Jadi yang pertama disaksikannya setelah tegukan kopi dan sebelum gosokkan gigi. Kara tetap seperti itu, sebatang saja.

Di laboratoriumnya, pria itu telah melakukan berbagai tes untuk menjelaskan kepadanya kenapa Kara hanya sebatang saja?

Namun percobaan ilmiah di bawah mikroskop elektron pun mengkhianatinya. Tidak ada yang tidak normal pada Kara. Seperti dua ratus tumbuhan dikotil miliknya yang lain, Kara sama-sama memiliki semua struktur jaringan batang. Kara normal, kecuali fakta bahwa dia tidak tumbuh namun tidak mati.

Dia cek tanahnya, semua zat hara yang dikandung pun sama dengan tanah belakang rumahnya. Dia pindahkan di tempat agar arah sinar matahari yang mengenainya berpindah. Kara tak bergeming. Tetap sama seperti semula.

Dia suntikkan hormon untuk mempercepat pertumbuhannya. Sampai diracuninya agar sakit. Nihil. Kara tetap sebatang tanpa bertumbuh atau runtuh satu milimeter pun.

Hampir frustasi, pria itu menulis surat kepada semua laboratorium canggih yang ia tahu untuk meneliti spesies baru ini. Seorang profesor sitologi dari laboratorium di Zurich membalasnya. Seketika itu dia terbang ke sana dan mewanti-wanti kepada awak penerbangan agar berhati-hati dengan sebatang Kara yang berada di ruang karantina.

Namun setelah tiga bulan penuh uji coba, tetap tidak ada yang berubah. Kara istimewa, itu saja kata mereka.

Pria itu pulang lagi dan bertemu dengan seorang politisi.

“Kabarnya kau punya sebatang Kara?”

“Ya. Dia istimewa.”

“Bagaimana jika kita kenalkan dia kepada dunia?”

“Baiklah.”

Lalu tersiarlah cerita tentang Kara sampai seantero negeri. Kara difoto, dicetak di buku-buku pelajaran dan ensiklopedi. Pria itu diundang ke berbagai acara televisi dan radio, diminta berbicara tentang bagaimana cerita hidupnya dan sebatang Kara yang ia punya. Pria itu senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, banyak yang mendengarkannya.  Sang politisi selalu setia menemani, di penghujung acara ia selalu menambahkan di pidato panjangnya, Kara adalah keajaiban dunia, begitu pula dengan dirinya.

Lalu di bulan berikutnya, politisi itu jadi walikota dan tidak pernah lagi duduk membahas Kara.

Namun sejak saat itu, orang-orang mulai berbondong-bondong datang kepada Kara. Ada yang bersemedi, menaruh sesaji, dan minum dari air siraman Kara. Jika Tuhan satu-satunya di dunia, bukankah Kara juga? Begitu kata mereka.

Rumah pria itu semakin penuh sesak, namun entah mengapa ia merasa semakin sepi.

SUATU hari Kara dicuri. Orang-orang kalut mencari kesana kemari. Anak-anak menangis kehilangan dongeng yang selalu diceritakan ibu-ibu mereka. Ayah-ayah bergantian jaga setiap malam di sekitar rumah pria itu untuk menemukan jejak pencurinya. Bahkan walikota yang sudah tidak pernah datang lagi kini turun tangan, bersama kamera-kamera televisi yang besar-besar dan karavan-karavan yang berisi tentara. Katanya, hari itu dijadikan hari siaga Kara. Semua sekolah libur. Kantor-kantor berhenti bekerja. Toko-toko tutup. Pencuri Kara harus menyerahkan diri dalam waktu 1×24 jam jika tidak ingin ditembak mati.

Di sore hari seseorang muncul dengan gemetar memeluk sebatang Kara yang tetap mencuat dengan jumawa.

Pencurinya mengaku ia punya terlalu banyak beban dalam hidupnya. Istrinya dua, anaknya lima, perempuan semua dan saat ini mengandung semua. Saat itu, Ia hanya ingin merasakan hidup dengan sebatang Kara.

Walikota dapat pujian lagi. Kata warga ia berhasil menegakkan keadilan dan keamanan di kota mereka. Namun sejak saat itu, ketakutan berpendar seperti cahaya obor yang semakin besar. Mereka bilang sebatang Kara berbahaya.

Demi namanya, walikota itu pun memerintahkan pria itu untuk membawa Kara pergi jauh. Sangat jauh hingga anjing-anjing polisi pun tidak mampu lagi mengendus jejaknya. Namun pria itu tidak mau. Sebatang Kara telah menjadi separuh hidupnya. Ia memilih menjaganya sendiri. Memulangkan Kara ke tanah tempat awal ia menanamnya. Mungkin jika tadi kau ingin bertanya untuk apa pagar listrik di sekitar rumahnya itu, sekarang kau sudah dapat jawabannya.

PRIA itu punya kesukaan baru. Duduk lama-lama di depan Kara dan memandanginya dengan terpesona. Ia bahkan membangun kursi kayu dengan sandarannya tepat di depan Kara. Kadang-kadang ia membawa bantal dan selimutnya serta sehingga ketika malam tiba ia tidak perlu beranjak pergi, dan Kara jadi yang pertama dilihatnya ketika bangun membuka mata, tanpa perlu bersusah-susah pergi lagi.

Demi sebatang Kara pria itu kehilangan semua hartanya. Lalu waktunya. Berikut tenaganya.

Lama-lama burung-burung pergi, ular-ular meninggalkan kulitnya, dan tupai terbang tidak pernah terlihat lagi. Seratus pohon yang  dulunya tinggi dan lebat pun mulai meranggas mati. Lama-lama ia tidak pernah berkunjung ke hutan kecilnya lagi.

Lama-lama tahun berganti, uban-uban mulai merambat di rambutnya yang lebat, keriput mulai membekas di wajahnya yang pucat. Kehilangan mulai menggerogoti rongga matanya dari dekat.  Lama-lama ia sudah tidak pernah keluar rumah lagi.

Lama-lama orang tidak peduli lagi apakah di dalam sana ada narapidana, darah bayi dan gadis, ataukah mesin pengeruk berlian. Lama-lama orang pun lupa bahwa rumah itu ada. Lupa bahwa pria itu ada.

Tapi ketika menulis ini aku sebenarnya hanya ingin kalian tetap ingat. Dia adalah seorang pria dengan sebatang Kara yang ia jaga sampai akhir hayatnya.

*Dimuat di Jakartabeat, 16 Juni 2013

https://www.jakartabeat.net/prosa/konten/sebatang-kara?lang=id

Standard
Poets

Pukul Tiga

*Untuk Samsul, Andrall, Oji, Gaga, dan Tirsa.

 

pukul tiga tadi aku mengamatimu

yang lelap dalam hitam tembaga

tubuh-tubuh lelah bersilang dan berjuntakposisi;

meracau keraguan-kekosongan bunga tidur

nyala dan rupa yang tak akan kau ingat esok hari

 

hanya aku yang akhirnya terjaga pada pukul tiga

bukan dengkurmu yang membangunkanku,

bukan aspal jalan raya yang tergilas truk dan meronta,

atau derit kipas angin yang

mengingatkanku pada ringkih tua ibu bapak kita

bukan perkara tidur kita

 

sebab alarmmu bising berbunyi sejak tadi

menjelma rencana suka cita ingin riuh

seperti subuh kemarin di puncak Kendil

O Suroloyo! wangi kabutmu pekat di wajah-wajah musafir

kenanganmu lekat direkam lensa gawai kami

 

tapi kantuk terlalu kejam, kawan,

terlalu kejam untuk melanjutkan perjalanan

 

di sebelah bantal-bantal,

kurutuki tangan-tangan kita yang sengaja bersisian

akankah kubangunkan kau yang terpejam damai?

apakah tega kusintas pertarungan batin yang bahkan belum kau selesaikan?

 

pukul tiga pagi yang hanya ada aku sendiri itu,

kurelakan pembicaraan tentang lereng Gunung Sumbing

menguar jadi embun pada spion-spion motor dingin di garasi

 

maka cinta pada matahari pagi itu, kawanku,

adalah sebuah peruntungan yang hanya sekali kita miliki

 

Magelang, 8 Mei 2016

Standard
Short Stories

Matahari yang Setia Menunggu Rembulan

Kamu cuma tau, ada yang salah. Bukan berarti kamu harus selalu melawan sampai titik darah penghabisan. Itu hanya berlaku pada peperangan. Kali ini bukan. Cuma tentang cinta yang jauh, lalu runtuh. Kadang, takdir menempatkan kita pada pilihan tunggal, menunggu.

Di kota ini aku biasa duduk menunggui senja. Di kotamu, kamu biasa terjaga menanti pagi. Kita sudah lama begini. Mengabsorbsikan pagi dan senja dalam intensitas yang sama. Menakar rindu di garis cahaya. Di tempatmu siang, di tempatku malam. Kita bertemu di tengah, sebelum kamu tidur dan setelah aku bangun. Mengembara ke setengah belahan dunia yang berbeda.

“Kuncup Bunga Matahari itu selalu menghadap ke arah matahari. Pagi-pagi dia nungguin ke arah timur. Kalau matahari di langit sudah muncul, bergerak ke arah barat, kuncup bunganya juga ikutan gerak mengarah ke barat. Dia setia nungguin dan ngikutin. Indah kan?” Jelasmu dulu.

“Memangnya akan selalu begitu?” tanyaku.

“Nggak juga sih. Kalau sudah sempurna mekarnya biasanya mereka sudah kehilangan kemampuan untuk mengikuti arah matahari. Sudah nggak setia lagi. Haha. Bedanya sama kamu, makin dewasa kamu makin setia.” Candamu sambil menepuk kepalaku.

Aku cuma tertawa.

Bagimu, Bunga Matahari berarti pekerjaanmu. Penelitianmu. Mimpimu.

Bagiku, Bunga Matahari berarti tiga hal. Pertama, namaku. Kedua, sepetak tanah di depan rumah yang kamu tanami dengan gerombolan bunga matahari. Ketiga, lambang Kansas, negara bagian Amerika Serikat dimana kamu melakukan penelitian untuk Museum Ilmu Pengetahuan Smithsonian. Territori yang telah merampas kamu dari aku sejak 5 tahun yang lalu.

“Mentari, besok aku akan ke Buenos Aires! Ada professor yang menginginkan aku dalam timnya. Penelitian tentang fosil purba kluster Asteraceae ini akan jadi puncak karirku. Bunga matahari, Mentari, Bunga Matahari!” rentetmu histeris setengah tahun yang lalu.

“Di Argentina kamu akan tinggal berapa lama?” susah payah ku telan firasat tidak enakku.

“Belum tahu. Aku akan mentap di daearah utara Patagonia, wilayahnya di tengah hutan. Fosil yang akan kami cari nanti diprediksi akan berada di sepanjang sungai… sungai apa ya, aku lupa namanya! Nanti aku kabari lagi. Sekarang professorku menelfon.” Kemudian Skype kita diputus.

Sungai Picheleufu. Tidak perlu kau beri tahu, aku akhirnya tahu sendiri. Dan aku tidak akan pernah lupa namanya. Nama sungai yang sudah seminggu ini diberitakan karena ada salah seorang tim peneliti yang terpeleset saat mengambil sampel batuan tempat fosil bunga matahari purba dideteksi, lalu terseret arus dan belum ditemukan sampai sekarang.

Sekali lagi, matahari merebutmu dariku.

Chandra. Namamu berarti bulan. Kita seharusnya tahu dari awal, Selama masih hidup di bumi, mentari dan bulan tidak akan pernah bisa bersatu. Yang bisa kita lakukan hanya memandangi cakrawala, menitip rindu. Kadang ia terselip di perpaduan gelap dan terang di ufuk pagi dan senja.

Di sepetak tanah tempat Bunga Matahari yang kau tanam itu berada, sebelahnya kini ku tanami dengan Bunga Wijayakusuma. Bunga yang hanya mekar di waktu malam. Bunga yang jadi simbol kehidupan. Bunga yang jadi nama belakangmu. Chandra Wijayakusuma.

Dalam legenda perwayangan, Bunga Wijayakusuma digunakan untuk membangkitkan orang mati. Ah, aku tak yakin apa yang ingin aku bangkitkan bahkan ketika kamu mati atau tidak pun aku tak tahu. Mungkin kenangan tentangmu. Ada legenda lama yang bercerita bahwa matahari dan bulan saling jatuh cinta. Kita hanya dua orang yang bertentangga sejak kecil, yang kebetulan dinamai seperti benda langit. Yang menyatukan kita hanya kecintaan pada bunga.

Aku cuma ingin bunga mataharimu punya teman. Biar mereka bergantian menjaga satu sama lain saat siang dan malam. Setidaknya kalau kita tidak pernah bersisian, biarlah bunga kita yang mekar bergantian.

Tim SAR bergerak gencar. Hutan Patagonia jadi sorotan berita internasional. Dunia penelitian sedang dirundung duka. Keluargamu berangkat kesana. Ingin rasanya aku ikut. Hanya saja seorang gadis yang duduk di kursi roda sejak lahir ini mungkin malah ikut tersesat di hutan belantara, terperosok di sungai yang penuh piranha. Semakin menyulitkan lagi. Biarlah ku titipkan doa. Juga bunga Wijayakusuma.

Siapalah aku. Hanya Matahari yang setia menunggu kabarmu.

PS: Cerpen ini ditulis sambil mendengarkan lagu “Surya Kembara”-nya @TheEverydayBand disini http://www.reverbnation.com/theeverydayband. Terimakasih atas karya yang melahirkan inspirasi untuk karya lainnya! 🙂

Standard
Inner Thought, Short Stories

Cerpen: Ninggar

Di teras rumah, Ninggar memandangi jalan aspal yang mulai basah kena gerimis. Papa Huat sudah pergi lima menit yang lalu. Naik ojek dari Tanjung Balai Karimun, lanjut naik ferry ke Singapura lewat HarbourFront. Ninggar sudah tiga kali kesana, ke tempat Papa Huat kerja. Setahun sekali, setiap hari ulang tahunnya. Tempat kerja Papa Huat terletak di bagian utara Singapura, dekat sekali dengan perbatasan ke Johor, Malaysia. Setiap malam ulang tahunnya Ninggar dibawa kesana, melihat pinggiran kota dari Woodland Waterfront. Berdiri di jembatan tua, memandangi lampu-lampu kecil di ujung pantai yang berkerlip jingga. Kota ini kuemu, lampu-lampu disana lilinmu, kata Ibu Lia. Maka Ninggar meniupnya dengan sekuat tenaga sampai pipinya bersemu. Lalu mencuri pandang ke Papa barunya malu-malu.

Ninggar dan Ibu pindah ke Karimun tiga tahun yang lalu. Tahun 2006, usia Ninggar 10 tahun.

“Mbak, sekarang kita bisa tinggal sama-sama. Di Kepulauan Riau. Bulan depan kita pindah dari Jawa.” Begitu isi surat yang sampai ke mbah puteri. Lia selalu memanggil Ninggar dengan sebutan ‘mbak’ walau dia adalah anak tunggal. Melatih tanggung jawab biar ngayomi yang lebih muda, katanya. Ibunya sudah nikah lagi sama Cina-Melayu dari Singapura. Begitu kata tetangga.

Ketika berumur 2 tahun, teman-temannya belajar memanggil bunda, Ninggar mendengar tetangga mereka memanggil Lia janda. Ayah yang hanya diingatnya lewat foto di pigura meninggal waktu krisis orde baru. Mei 1998. Toko-toko dibakar, semua orang diPHK, termasuk ayah yang cuma jadi buruh kasar. Luka bakar karena terkena serpihan api dari amukan massa membuat kondisi ayahnya memburuk, hingga akhirnya pergi selamanya di sebuah sore hening saat Ninggar melihat Lia menangis sampai meraung-raung, untuk alasan yang saat itu dia tidak tahu mengapa.

Bukan main susahnya Lia, waktu itu. Bayinya butuh dihidupi, tulang punggung yang jadi sandaran finansial sudah tiada. Ninggar segera disapihnya, lalu dengan hati remuk redam Lia bergabung bersama ratusan wanita lain yang dikirim ke Singapura untuk bekerja menjadi pekerja domestik.  Setelah itu Ninggar dititipkan di rumah mbah puteri di Ambarawa.

5 tahun selanjutnya hanya surat-surat dan omongan tetangga. Dulu mereka memanggil ibunya janda, sekarang tuna susila. Begitu yang Ninggar dengar. Entah apa artinya. Waktu itu dia baru mau masuk madrasah. Di pelajaran pertama Bahasa Indonesia Ninggar menanyakan kosakata yang berbulan-bulan mengisi kepalanya itu. Ustadzah hanya balik bertanya, dimana ia mendengar kata itu. Ninggar tidak menjawab. Di akhir kelas Ustadzah mendekatinya sendirian, berusaha menjelaskan sesuatu yang bisa dipahami oleh seorang anak yang berusia 7 tahun. Satu hal yang Ninggar tangkap dari cerita panjang itu: wanita nakal yang akan masuk neraka. Ninggar tau ia tidak sepantasnya menangis di hari pertama sekolah. Tapi hari itu, ia meraung-raung, persis Lia di sore hari yang diingatnya itu.

Sekarang Ninggar sudah 13 tahun. Sudah mengerti lah ia cerita lengkapnya.

Lia dulu bekerja jadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Cina di Singapura. Sadis benar perlakuan yang diterimanya, terlambat 5 menit pun bisa hilang seluruh waktu istirahatnya. Waktu sholat tidak diberikan. Lia disuruh masak babi, dan itu adalah menu satu hari. Alhasil sering kali dia cuma bisa makan nasi putih lauk garam.

Tidak tahan, Lia mengakhiri kontraknya dengan agen tenaga kerja. Masalahnya ia jadi harus membayar denda dan semua gajinya ditahan untuk membayar denda tersebut. Ia pun masih tetap harus membayar hutang. Ada yang bilang jangan pernah mengambil keputusan di tengah keputusasaan. Tidak berlaku untuk Lia. Keputusannya untuk bekerja di rumah bordil di Batam dengan cepat memberikannya kemampuan untuk melunasi hutang.

Namun masalah baru timbul. Tidak semudah itu masuk lalu keluar dari lingkaran rumah bordil. Ia punya Mami, jahat sekali. Perempuan itu tahu bahwa pekerjanya tidak punya skill lain yang bisa dijual selain badan. Tapi ia kurang memperhitungkan keberanian Lia, naluri seorang ibu yang terseok-seok demi mempertahankan agar anaknya bisa hidup.

“Saya memang ndak berpendidikan. Tapi saya ngerti prostitusi itu ilegal! Laporkan sana saya ke polisi, saya ndak peduli! Sak karepmu! Biar sekalian kamu ditangkap, setan!” jerit Lia sambil membanting pintu setelah Mami menjambak rambutnya dan mengancam mau melaporkannya ke polisi kalau dia kabur. Mami menjerit, dua jarinya terjepit sampai kukunya lepas. Lia berhasil kabur. Dalam keremangan semua penghuni rumah bordil mengidolakan Lia dan berharap suatu saat mereka bisa melakukan hal yang sama. Meretas jari-jari setan perempuan bertitel Mami itu sampai lepas satu-satu, menggunduli rambutnya, dan menyudut kemaluannya dengan putung rokok. Biar dia tahu rasanya dipaksa melayani belasan bahkan sampai puluhan klien dalam sehari.

Singkat cerita Lia memanfaatkan jaringan klien yang dikumpulkannya selama bekerja dengan Mami. Ia memilih siapa saja yang disukainya. Ditelusurinya satu-satu, dihubunginya dengan penawaran yang menarik, paket delivery service. Ia dapat ide dari McDonnald. Lia memilih klien yang berbasis di Singapura atau Malaysia, kemudian mendatangi mereka ke negaranya. Biaya perjalanan dan upah ditanggung oleh klien tanpa mengganggu waktu mereka untuk pergi ke Batam dulu, terombang ambing di atas ferry, dan menempuh jalan panjang. Sementara Lia dapat bayaran yang lebih tinggi yang dikumpulkannya demi Ninggar.

Namun bekerja tanpa perlindungan dari Mami ternyata beresiko tinggi. Lia pernah ditangkap polisi. Bisa berharap apa tentang dokumen lengkap dari seseorang yang pekerjaannya tidak dilindungi negara. Waktu kecil Lia bercita-cita jadi bidan. Sekarang dia anggap cita-cita hanyalah cerita manis untuk didengar orang. Begitu pula dengan cinta. Ketika mantan kliennya, Ah Huat menginginkan orang yang bisa dibayarnya untuk mengurusi dia di hari tua, Lia setuju. Mereka menikah. 57 usia suaminya pada saat itu.

Mbah puteri tidak pernah tahu ayah angkat cucunya sekarang lebih cocok untuk jadi kakeknya. Yang dia tahu, Lia sudah dijaga orang. Sama Ninggar juga. Cukup itu dulu.

“Jika dikembalikan ke 11 tahun yang lalu dengan kondisi yang sama, antara meninggalkan kehormatan ibu di mata tetangga atau melihatmu mati pelan-pelan dengan menderita, ibu akan tetap pilih yang pertama. Kamu tahu ibu punya alasan untuk tidak menyesal.” Tutur Lia di satu malam.

Mengertilah Ninggar. Ibunya bukannya tidak punya pilihan, ia hanya sedang melawan ketidakberdayaan.

Pagi itu, sebelum Ah Huat pergi lagi ke negaranya setelah berakhir pekan 3 hari di Tanjung Balai, Ninggar menyeduh kopi O instan untuknya.

“Mendung. Ninggar mau ikut ke pelabuhan. Mau mandi hujan disana.” Gadis itu menunjuk langit sambil loncat-loncat. Nampan stainlessnya berdenting terkena tepi jendela.

No lah. Mandi hujan di pelabuhan. Seperti orang gila. Apa kata tetangga?” Ah Huat menepis tangannya ke udara, mengusir ide liar yang terasa asing itu. Selama dibesarkan, tidak pernah ia lihat anak kecil hujan-hujanan di pelabuhan sendirian. Kecuali gelandangan yang tidak punya rumah. Dia tidak mau orang anggap dia tidak mampu kasih tempat berteduh untuk anak angkatnya.

Ojek datang. Lelaki paruh baya itu pergi. Meninggalkan Ninggar yang di teras, berdiri mematung. Mengucap tipis di bibir kecilnya.

“That’s okay, Papa Huat.  Ninggar tak peduli kata tetangga.”

Lalu sedikit-sedikit hujan turun.

**Singapore 1 Desember 2012.

Tribute to Michele Ford and Lenore Lyons for such an inspiring research. I shoud’ve been studied for scientific exam but I can’t resist from writing fiction. 😛

Standard
Poets

Laut Biru

Laut biru.

Muncul di sepertiga mimpiku.

Semalam, dua malam, tiga belas malam yang telah lalu.

Gelombangnya tinggi

Lalu pecah, di pasir basah.

Meleleh asin di sudut mata.

Laut biru pun muncul, tertangkap retina mata saat terjaga.

Ada daratan yang di antaranya ombak.

Ada kerinduan yang di antaranya jarak.

Sepanjang laut biru,

Yang ku lihat hanya kamu…

Standard