Life Journal, USA

Menjadi Seorang New Yorker dari Indonesia

Saya ingin memulai cerita ini dengan membenarkan bahwa Tuhan benar-benar baik.

Sewaktu kecil seorang teman meramalkan saya akan tinggal jauh dari rumah. Saya mengiyakan saja. Untuk seorang anak daerah yang bahkan tidak pernah melihat Jakarta, bayangan menjelajahi tempat-tempat jauh sungguh mimpi yang menyenangkan. Tidak pernah saya bayangkan, mimpi itu jadi kenyataan. Tidak tanggung-tanggung, jangkarnya mendarat di benua Amerika, land of the free and home of the brave.

Ini adalah minggu pertama saya pindah ke City of New York. Lagi, Tuhan memang baik, karena ia membenarkan bahwa tak ada doa yang terlalu tinggi. Bagi saya, doa itu adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa LPDP dan juga kesempatan berkuliah di kampus Ivy League Columbia University. Program kuliah S2 saya akan memakan waktu 1,5 tahun dimulai. Karena materinya akan sangat berbeda, saya berniat menuliskan tentang dunia perkuliahan di postingan terpisah.

Sebenarnya jauh di lubuk hati saya masih ketar-ketir dengan load perkuliahan yang tinggi, serta proses adaptasi yang penuh tantangan. Namun sebagaimana setiap orang yang ada di New York adalah para survivor, penyintas kehidupan, saya pun harus jadi salah satunya. Sebab itu, tema besar untuk berbulan-bulan ke depan adalah belajar bagaimana menjadi seorang New Yorker dari Indonesia.

***

IMG_4950

Elmhurst, Queens

New York adalah tempat pertemuan dan peleburan banyak hal. Demografi keberagamannya sungguh luar biasa. Ratusan ras dan etnis bergabung jadi satu entitas: citizen of the world. Kali pertama menginjakkan kaki di New York pada tahun 2012, saya adalah seorang turis yang jatuh hati dengan kota ini. Kota ini adalah paradoks, liar dan berbahaya, namun hangat dan penuh kejutan menyenangkan. Berjalan-jalan di setiap sudutnya sebagai turis tentu berbeda dengan berusaha melebur sebagai salah satu penghuninya. Kini saya lebih peka, meniru cara orang berbicara, naik subway, membaca peta, membuat rencana finansial, mencari kenalan, dan memahami hal-hal kecil yang terjadi sambil berjalan dari taman ke taman.

Saya memutuskan untuk menyewa kamar di sebuah shared-apartment untuk 4 bulan pertama di area Elmhurst, Queens. Jauh memang jaraknya ke kampus di Upper Manhattan yang membutuhkan waktu 1-1,5 jam perjalanan dengan subway. Namun perumahan dan biaya hidup di sini relatif lebih murah, dengan lingkungan sub-urban yang lebih tenang. Banyak populasi orang Asia di sini. Bahkan, ada 3 restoran Indonesia (Upi Jaya, Sky Café, Asian Taste 86) dan toko barang-barang Indonesia (Indojava) di Elmhurst. Ini jadi alasan banyak orang-orang Indonesia berdatangan ke area Elmhurst di akhir pekan atau ketika libur, untuk mengobati rindu rumah. Proses adaptasi budaya saya pun jadi terbantu, setidaknya pelan-pelan menyesuaikan diri di lingkungan yang familiar sebelum memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru lagi.

Ketika berjalan, saya mendengarkan banyak bahasa dan aksen berbeda diperbincangkan oleh berbagai orang yang lalu lalang. Saya melihat warna kulit dan rambut yang berbeda, gaya berpakaian yang tidak sama, serta tingkah laku dan polah aneh yang tak terduga. Namun satu hal yang pasti, setiap orang adalah minoritas, partikel kecil dari kelompok yang sangat besar. Karenanya, perbedaan bukan suatu masalah. Ini justru membuat orang-orang di sini yang individualis, justru punya kesadaran tinggi untuk saling menjaga para orang-orang asing di sekitarnya. Karena konon,polisi di distrik ini memang canggih dan siap siaga, tapi selalu banyak hal tak bisa diprediksikan terkait keamanan. Oleh karenanya, mereka memasang pesan kampanye sosial yang tak akan luput di mata orang yang berpergian menggunakan kereta Metro: New Yorkers keep New Yorkers safe. If you see something, say something.

***

IMG_4805.JPG

Union Square, Manhattan

Manhattan adalah sektor kota di New York yang paling metropolitan. Pusat dari sektor industri, pemerintahan, obyek wisata, serta pusat perbelanjaan ada di sini. Hari pertama begitu mendarat di bandara John F. Kennedy, sorenya saya bersama teman-teman awardee LPDP mengadakan kopi darat di Manhattan. Berjalan-jalan di taman Washington Square sambil melawan lelah dan kantuk karena Rifda, Binar, dan saya masih jetlag setelah sekitar 30 jam perjalanan udara dari Jakarta melewati Dubai.

Sore itu, saya dan Tri duduk di taman bersama puluhan orang yang sedang rehat sore, dan menyaksikan pertunjukan seni jalan dadakan. Sekelompok orang hispanik menabuh gendang, dan menari di pinggir jalan. Di sisi taman yang lain, seorang pria menggelar grand piano di gerbang taman dan unjuk kemampuan memainkan musik klasik di tengah kerumuman orang. Walau tak ada hubungannya, tapi rasanya kedatangan kami disambut dengan riang.

Nuansa kota yang begitu hidup ini pun berlanjut ke hari-hari dan malam-malam selanjutnya. Seperti cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam yang saya baca ulang sebelum berangkat, lampu-lampu pencakar langit yang bertaburan mengingatkan saya pada sebuah desa nun jauh di Jawa sana. Cerita cinta Marno dan Jane yang berdebat tentang bulan berwarna ungu, adalah penggambaran betapa di New York, hal-hal yang tak biasa malah jadi lumrah dan apa adanya.

***

 

Setiap orang adalah penyintas. Dalam duduk-duduk santai sambil berburu Pokemon di Central Park dengan Rifda dan Mas Rami, ada perbincangan tentang orang-orang Indonesia yang kami kenal sudah jadi permanent residence di New York. Mereka datang dari latar belakang yang menarik. Bukan scholars yang dapat privilege sekolah seperti kami, yang nantinya akan pulang lagi ke Indonesia untuk membangun negeri. Mereka, golongan orang-orang yang di masa lalu pun tidak beruntung mengenyam pendidikan tinggi, dengan bermodal nekad berani datang ke kota ini dan memulai hidup baru. Ada yang jadi pelaut, memalsukan dokumen tugas kerja, sampai diam-diam jadi pekerja striptis demi menyambung hidup. Pada akhirnya mereka bisa bertahan dan jadi seorang New Yorker sejati: penyintas kehidupan.

Padahal awalnya saya sudah merasa perjuangan menuju sini berat sekali adanya. Banyak hal-hal besar yang telah dikorbankan. Hal-hal yang membuat saya ingin menangis, lelah, sampai depresi. Hal-hal yang tidak bisa saya bagikan dengan leluansa. Namun ketika sudah sampai di sini dan melebur dengan kehidupan New York, saya jadi merasa perjuangan tersebut baru ujian pre-test untuk kehidupan di sini. Karena setiap orang pun punya perjuangannya sendiri-sendiri.Dan juga karena saya tidak hanya membawa nama sendiri, tapi juga nama Indonesia, Asia, Islam, dan segala hajat hidup yang ingin diraih di tanah Amerika. A lot to bear, a lot to gain, Insha Allah.

Bahkan Freud pun dengan sederhana menjelaskan lewat Iceberg Theory-nya, bahwa apa yang kita lihat dari seseorang adalah bongkahan es di atas permukaan saja. Padahal yang terjadi sesungguhnya, fondasi dan apa-apa saja yang menjadikan orang itu bermula, ada di bawah permukaan.

Begitulah. Di balik wajah-wajah garang, langkah cepat, penampilan edgy, dan nada bicara yang berapi-api para New Yorker, ada segunung besar cerita hidup yang tidak kasatmata. Untuk itu saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip Plato, untuk mengingatkan kita terutama di masa-masa yang akan datang.

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”

 

 

Advertisements
Standard
Indonesia

Di Bawah Langit Dukuh Sebatang

 

Siang itu turun hujan, di sebuah rumah yang berjarak dari jalan aspal, jauh dari jalan raya, juga tidak terpetakan dari pusat kota, saya duduk menonton tiga anak bermain lempar bola di teras. Pagi hari, penderes nira naik ke pucuk pohon kelapa, lalu turun memikul sajeng (air nira) dalam tabung-tabung kayu yang dipikul di pundak, melintasi jalanan berbukit terjal yang menukik dan berbelok tajam. Oleh mereka, sajeng ini disetor ke pengolah nira untuk dimasak dan diproduksi jadi gula merah.

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

12

Si Mbah mengolah nira jadi gula kelapa

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

“Kamu suka hujan?” Saya memeluk lutut sambil duduk merapat ke arahnya, mempersingkat jarak.

“Ndak, Mbak.” Ia menjawab singkat.

“Lebih suka musim panas?” Saya bertanya lagi. Ia hanya mengangguk singkat tanpa kata. Masih asing dengan kehadiran saya.

“Kenapa?” saya bertanya lagi. Semoga pekerjaan sehari-hari yang mengharuskan saya sering bertanya sampai jadi kebiasaan, tidak membuat anak kelas 4 SD ini dongkol. Ia menggeleng lagi, menghindari tatapan mata saya. Mungkin karena terdengar menguji seperti soal Bahasa Indonesia di buku LKS yang tidak ia sukai, sementara ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara hujan di luar masih turun dengan derasnya.
Kunjungan singkat saya selama dua hari ke Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kulonprogo, Yogyakarta kali ini adalah dalam rangka bertemu dengan adik asuh dalam program pendidikan Menyapa Indonesia yang dijalankan oleh penerima beasiswa LPDP RI. Layaknya anak-anak desa pada umumnya, anak-anak Sebatang pemalu di depan orang asing. Jangankan beropini, berbicara sambil memandang lurus mata orang yang mengajak berbicara pun tak berani.

Anak itu bernama Zandy, adik asuh yang dipasangkan oleh Rizka sebagai Kakak Inspirasi. Sementara saya sendiri menjadi Kakak Inspirasi bagi Rimba, seorang anak laki-laki berbadan tambuh yang lebih periang, namun sama curiganya dengan kehadiran orang baru yang tiba-tiba. Kami baru saja berkunjung ke rumah Rimba sebelum menghampiri rumah Zandy. Rimba dan Zandy adalah teman sekelas. Dari salah satu teman koordinator program saya diam-diam mencatat hasil pemetaan observasi, mereka senang bermain di luar ruangan; Rimba senang bersepeda dan Zandy senang bermain layangan.

“Nek hujan, ra iso main layangan po?” celetuk saya sambil curi pandang ke layangan kuning-biru besar di sudut ruangan. Memegangnya dengan hati-hati, takut merusak benda kesayangan Zandy yang berharga ini.

“Ho’oh,” merasa terbantu dengan pertanyaan yang dijawab sendiri oleh orang yang menanyakan, Zandy tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang besar-besar. Dua anak yang lain menghentikan permainan dan merapat ke perbincangan kami.

“Yo nyanyi wae lah nek ngono!” di tengah percikan hujan yang memantul-mantul di genteng, saya ambil tempo dengan tepukan tangan, bersiap memimpin paduan suara, “Ku ambil buluh sebatang.. Ku potong sama panjang.. Ku raut dan ku timbang dengan benang.. Ku jadikan layang-layang…” Hening. Tidak ada yang pernah mendengar lagu itu sebelumnya kecuali saya, seseorang dengan usia yang berjarak, serta ruang kehidupan yang sebelumnya terpisah. Jauh.

 

Fungsi Pendampingan dalam Proses Belajar Anak adalah Tugas Bersama

Zandy, Rimba, Ridho, Shafiq, Edi, Bherta, Dwi Astari, dan Dwi Riyanti. 8 orang anak kelas 4 SD Muhammadiyah Menguri ini selama 3 tahun ke depan menjadi adik-adik asuh kami. Amanah baru bagi kami di Menyapa Indonesia.

Program Menyapa Indonesia adalah inisiatif sosial yang dikembangkan oleh awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia. Setiap angkatan memiliki fokus yang pengembangan masyarakat yang berbeda, secara berkelanjutan selama tiga tahun. Jivakalpa, angkatan 43, fokus pada pengembangan masyarakat di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sebatang. Cetak biru rencana kegiatan, pengembangan, dan monitoring evaluasi berkelanjutan telah dibuat dengan tidak main-main. Meski lokasi program Menyapa Indonesia kami berada di Yogyakarta, hampir setiap minggu ketika program berjalan, beberapa awardee dari luar kota menyempatkan hadir.

Forum Kakak dan Wali Inspirasi yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 2015 ini merupakan salah satu program di bidang pendidikan. Forum tersebut mengundang orang tua dan wali siswa, siswa, guru, dan kepala sekolah untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang pendampingan anak. Di dalamnya, anak-anak didorong untuk berprestasi, memiliki semangat belajar tinggi, dan berani mencoba melakukan hal-hal yang mereka sukai. Forum ini juga dijadikan ajang “kulo nuwun” untuk pendekatan pendamping anak dengan pihak sekolah dan keluarga.

13

Orang tua dan wali bersama siswa dalam forum

“Dulu belum pernah ada pertemuan wali dengan sekolah. Setelah ada program Menyapa Indonesia, semua merasa memiliki program ini dan mau hadir di sini,” kata Bu Uji, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Menguri. Bu Uji ini adalah tipikal kepala sekolah yang aktif dan bersemangat mendampingi anak didiknya dalam proses belajar, namun masih belum mendapatkan dukungan maksimal dari orang tua dan wali murid.

Saya termenung. Masalah klasik yang jarang ditemui di kota karena setiap orang tua yang bayar mahal tentu rajin mencari tahu perkembangan anaknya di sekolah. Namun di desa, jangankan bertemu dengan pihak sekolah, untuk bertemu anak pun, banyak masih terhalang ruang dan waktu. Tuntutan ekonomi membuat beberapa orang tua siswa bekerja sebagai TKI di luar negeri, bertahun-tahun tidak pulang. Pun bekerja di sekitar desa, mata pencaharian sebagai supir truk, peternak, dan penderes nira cukup menyita waktu sehingga edukasi anak tersingkir ke nomor sekian setelah urusan perut dan kemelut kehidupan.

Padahal, tanpa pendamping, anak akan tumbuh menjadi burung yang melihat dunia dalam sudut sangkar yang persegi empat, ketika di luar sana ada horizon yang melintang tanpa sudut batas. Sempat saya iseng ngobrol dengan seorang bapak yang rumahnya kami tinggali untuk bermalam, tentang pendidikan anaknya.“Wah ndak tau, Mbak. Sekolahnya anak itu urusan ibunya anak-anak. Saya sibuk sama kerjaan e, Mbak.”

Saya nyengir kuda. Lha kalau bapak berharap ke ibu, ibu  berharap ke guru, guru berharap ke kepala sekolah, kepala sekolah berharap ke kami, kami berharap ke siapa dong?

Lingkaran kejar-kejaran ini lumrah ditemui di berbagai pelosok di Indonesia. Oleh karenanya program pemberdayaan masyarakat idealnya digalang untuk berjalan dalam waktu panjang. Karena proses pendekatan, seperti yang siang itu saya lakukan kepada Rimba dan Zandy, memang tidak bisa secepat merebus mie instan, lima menit jadi, sepuluh menit kenyang.

Andai semudah itu…

 

Sepucuk Surat dan Khayalan tentang Masa Depan

Bagi saya dan teman-teman, hadir ke Sebatang bukan hanya perkara menyisihkan budget untuk transportasi dan waktu akhir pekan untuk berjalan lebih jauh. Tapi melihat bahwa ruang interaksi kami yang sempit ternyata bisa menjadi lebar jika sudah bertemu. Jika sudah kenal, dekat, saling percaya, maka fungsi pendampingan menjadi sesederhana menjadi teman sepermainan bagi semua pihak yang sedang berjuang di sana.

Salah satu usaha pendekatan yang kami lakukan adalah mengirimi surat motivasi kepada adik asuh di sana. Beberapa teman juga menjembatani tukar sapa antara teman-teman di UK dari asosiasi alumni LPDP, Mata Garuda, yang mengirimkan kartu pos kepada mereka. Semua anak mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika saya tanya siapa yang ingin ke Inggris. Sebelumnya, Mas Sandro bercerita di depan kelas tentang empat musim di Inggris ketika dia tinggal dan bekerja di sana. Surat dan cerita jadi bahan bakar kami mengkhayal tinggi-tinggi. Ke negeri yang tanahnya belum tersentuh, yang namanya tersohor lewat olahraga sepak bola yang setiap sore dimainkan anak-anak di Sebatang.

14

Zandy (baju hijau), adiknya (baju putih), temannya (baju merah), dan saya yang berjuang keras menarik perhatian mereka dengan topeng gorila

Mungkin karena itu, sepulang sekolah, Zandy yang ibunya sudah bertahun-tahun tidak pulang karena bekerja di Hongkong, menulis surat balasan untuk Rizka dan menyerahkannya tanpa suara.

==

Halo Kak Rizka, Ini Zandy.

Ini ada surat untuk Kak Rizka.

Semoga Kak Rizka bisa tersenyum.

Semoga Kak Rizka semangat kuliyahnya.

Kalau aku di Sebatang Belajar untuk meraih cita-cita ku. Saya belajar mahrib sampai insyak. Aku Juga Belajar dengan tekun.

Salam Zandy

Tanda tangan

==

“Terima kasih ya, Zandy. Suratmu bagus sekali.” Rizka memeluk adik asuhnya di depan saya. Zandy hanya diam, tertunduk. Sedetik kemudian ia mulai terisak, menggulirkan butir-butir bening dari matanya yang mendung dan basah. Entah karena malu atau karena berharap suatu saat, ibunya yang mengirimkan surat dan memuji surat balasannya. Rizka ikut menitikkan air mata, sementara di luar hujan masih turun dengan derasnya.

Di sudut rumah yang dipenuhi mainan yang dikirimkan dari Hongkong, hari itu saya mencoba memahami, Zandy lebih suka bermain di luar, menerbangkan layangan sekaligus khayalan. Mungkin ada pesan yang tidak terucapkan dengan kata, yang hanya bisa dimengerti oleh angin dan dua musim di bawah langit Sebatang.

Senyap karena Zandy dan Rizka masih menangis tanpa suara, saya yang merasa canggung lalu menepuk-nepuk pundak mereka berdua sambil bersenandung pelan.

“Bermain… Berlari… Bermain layang-layang.

Bermain ku bawa ke tanah lapang.

Hati gembira dan riang…”

*tulisan ini dipublikasikan di website angkatan penerima beasiswa BPI LPDP RI angkatan 43, Jivakalpa di sini

Standard
Indonesia

Lintas Kalimantan ke Kapuas Hulu

“Kursi Kalstar penuh. Sudah tiga hari penerbangan ditunda karena asap.”

Vonis final petugas jaga di Bandara Supadio Pontianak itu mengirim kami melalui perjalanan darat ke Putussibau selama kurang lebih 15 jam. Memanggul tas backpack dan tas jinjing berisi peralatan amunisi sebagai fasilitator, Mbak Hety dan saya bergegas mencari tiket mobil travel yang bisa membawa kami secepatnya ke lokasi tujuan. Memang pagi itu adalah pagi pertaruhan bagi kami yang sedang site visit ke lokasi penempatan Indonesia Mengajar di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Kami sengaja tidak memesan tiket pesawat karena kondisi asap yang membuat jadwal penerbangan tidak menentu. Paling aman memang lintas kabupaten lewat jalur darat: walau menuntut kesabaran dan keiklasan untuk terantuk-antuk dan terguncang, jalur Lintas Kalimantan masih bisa diprediksi.

Tapi di pulau terbesar di Indonesia ini, daratan luas dan garang. Luas yang memanggil dan garang yang menantang. Kalimantan, akhirnya kita jumpa juga!

 

 

1a

duo site visitor IM

Desa-Desa di Pesisir Sungai Kapuas

Sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas, mengaliri sekat-sekat antar kecamatan di Kapuas Hulu. Perjalanan lintas desa ditembus dengan perahu dengan berbagai macam nama: speed, sampan, dan banyak lagi ragam transportasi air lainnya. Melintasi rumah kayu terapung yang disebut lanting, serta melalui warung transit tempat supir-supir speed mengisi bahan bakar kendaraan maupun perut. Pada musim kemarau, anak Sungai Kapuas yang sempit mengering dan dapat dilewati dengan kehati-hatian ekstra tukang ojek. Di musim saat debit sungai naik pun, berpindah tetap tidak gampang.

2

3

Mengarungi sungai (doc. PM X Kapuas Hulu)

Untuk mencapai sebuah kampung di Bunut Hilir, Nanga Lauk, misalnya, kita harus menunggu sampai ada kuota penumpang perahu cukup untuk berangkat. Menunggu bisa dalam hitungan jam sampai hari. Jika ingin cepat, siap-siap merogoh kocek yang kira-kira setara membeli tiket ke Australia hanya untuk melakukan perjalanan pindah desa di kabupaten yang sama. Ke Semalah juga tak kalah menantang. Teman-teman saya yang ke sana butuh waktu sehari penuh yang dihabiskan dengan rute bis, jalan kaki, ojek dan perahu sekaligus! Perjalanan lintas desa di Kapuas Hulu yang menyita tenaga juga sekaligus menyuntikkan energi baru. Saya sempat bermalam di Desa Teluk Aur, yang ditempuh lewat perjalanan air dengan speed selama 3-4 jam. Dinar, Pengajar Muda yang bertugas di desa ini, langsung disambut oleh anak-anak dan warga begitu menjejakkan kaki di dermaga. Riuh sekali, seperti baru pulang setelah bertahun-tahun pergi. Namun akhirnya saya mengerti, dengan kontur demografis seperti ini, tidak semua orang punya kemewahan untuk sering-sering pergi lalu pulang kembali.

4

Dinar, Pengajar Muda X Teluk Aur, Kapuas Hulu

5

Rumah panggung di Teluk Aur

Teluk Aur adalah kumpulan rumah-rumah panggung yang tertata rapi. Anak-anak maupun tua renta lincah meniti jalan-jalan tinggi yang ditopang tanggul kayu. Menurut cerita orang lokal, desa ini pernah menjadi desa percontohan pelepasan Orang Utan versi WWF. Saya bertemu seorang penggerak pendidikan lokal, Bapak Dayat, yang tidak lulus SD tapi bekerja sebagai fotografer lepas untuk WWF.

“Prinsip saya, biar (saya) tidak bisa keliling dunia, yang penting karya saya bisa ke mana-mana,” kata Pak Dayat. Karya fotonya memang sudah sampai menembus pameran internasional sampai ke Jerman dan negara-negara tetangga. Teluk Aur yang ketika malam gelap gulita tanpa pelita ini, punya mutiara-mutiara cemerlang yang tumbuh dan bersinar dengan caranya sendiri.

Akar budaya dan sejarah yang lestari

Setiap orang punya akar. Kapuas Hulu mengingatkan saya dengan akar saya di Pulau Bangka. Girang sekali rasanya sekali ketika disuguhi kerupuk basah, makanan khas Kapuas Hulu yang terbuat dari ikan, tepung, dan bawang putih yang digulung jadi adonan dan direbus. Makanan ini seperti empek-empek khas Sumatera Selatan, hanya saja berbeda tekstur dan rasa. Bahkan beberapa frasa dan dialek daerah yang digunakan di sini juga mirip dengan bahasa Melayu yang digunakan di Bangka. Dalam waktu kurang dari sehari, saya beradaptasi memaksa lidah menyelipkan beberapa kata lokal dalam percakapan seperti ‘aok’, ‘sepradik’, dan ‘dak’. 

6

Kerupuk basah khas Kapuas Hulu

Bagian yang menyenangkan dari perjalanan ke daerah baru adalah melakukan observasi etnografi singkat. Belajar bahasa adalah salah satu metode efektif, terutama ketika pekerjaan menuntut untuk melakukan pendekatan dengan warga lokal untuk mengerti keadaan program di sana.

Tidak seperti Ibukota Putussibau yang sudah didiami sejumlah pendatang dari suku Tionghoa, Minang, dan lainnya, Suku Melayu dan Dayak menjadi suku yang dominan di daerah pinggir sungai dan pedalaman. Suku dan agama menjadi dikotomi yang tidak terpisahkan: Melayu pasti Islam, Dayak pasti Kristen. Saya sempat tergelak ketika diceritakan Dini, Pengajar Muda di Desa Kepala Gurung, alkisah ada orang Dayak yang pindah agama menjadi Islam. Kemudian dia mendeklarasikan dirinya pindah suku juga menjadi Melayu. Betapa suku dan agama telah menyatu jadi identitas yang saru.

Kemampuan beradaptasi dengan bahasa Melayu yang sudah familiar bagi saya ternyata lebih susah diterapkan untuk bahasa Dayak sangat beragam. Suku Dayak sendiri banyak rumpun; rumpun Kalimantan, Iban, Apokayan, Murut, Ot Danum-Ngaju, dan Punan. Setiap kelompok rumpun punya cabang dan berbeda-beda pula bahasanya. Kunjungan budaya yang menarik dari perjalanan bersama Lissa dan Dinar kali ini adalah kesempatan mengunjungi rumah adat khas masyarakat Dayak Kalimantan: Rumah Betang!

7

Rumah Betang Dusun Malapi Patamuan, Putussibau Selatan

Rumah Betang berbentuk panggung dan memanjang. Sangat panjang malah. Rumah yang saya kunjungi memiliki 37 pintu, yang dihuni oleh 47 Kepala Keluarga. Bayangkan saja keributan yang terjadi jika beberapa anak berkelahi, atau beberapa ibu bergunjing layaknya di kota-kota. Tapi siang itu para penghuni rumah sedang bekerja di ladang. Saya yang tidak bisa memastikan bayangan keributan macam apa yang terjadi dengan puluhan penghuni di bawah satu atap, memilih untuk berasumsi bahwa mereka hidup rukun sekali.

Untuk menyebrang ke sisi sebelah sungai Putussibau Selatan tempat Rumah Betang ini berada, kami harus memecahkan misteri yang rumit: bagaimana caranya mendapatkan tumpangan dari perahu nun jauh di seberang? Setelah hampir putus asa mencoba berteriak-teriak dari seberang sungai, untunglah Lissa (Pengajar Muda X Gudang Suai) menemui warga yang kemudian memberitahu mantera ajaib untuk menyebrang, yaitu berteriak “tambang..tambang!” Teriakan itu memang pada akhirnya didengar sebagai sandi yang dimengerti. Tak sampai lima menit, ada sampan yang menjemput kami ke seberang, ke Rumah Betang.

Kami bertemu dengan Bapak Stephanus Sakumpai yang menjaga rumah. Lewat beliau kami diperkenalkan dengan silsilah pohon keluarga Bai’Tii’ Piangdayu’ Tungo yang mendirikan rumah ini sejak tahun 1741. Lebih tua dari umur negara ini. Salah satu tetua yang masih hidup ternyata adalah veteran pejuang Dwikora pada masa itu.

7a

Silsilah Bai’Tii’ Piangdayu’ Tungo

Rumah Betang Malapi ini adalah satu-satunya Rumah Betang di sisi kiri sungai yang terdapat di Putussibau Selatan. Di sini, ritual dijaga dengan kuat. Jika ada tetua yang meninggal, alat musik kangkuang dipukul secara bertalu-talu untuk menandakan mulainya momen sakral. Lalu mulailah pesta potong kerbau, ritual tari, dan penyemayaman jenazah di tempat kehormatannya. Konon ceritanya, ritual ini bisa makan waktu berhari-hari.

Masyarakat Dayak Taman tidak lepas dari sejarah perbudakan yang melibatkan ritual kurban manusia pada musim paceklik, atau pada momen-momen ‘tolak bala’. Namun pada tahun 1860, moyang-moyang Suku Dayak menghapuskan perbudakan (ulun paangkam) sekaligus menegakkan hak asasi manusia dengan mengganti kurban dengan hewan peliharaan. Monumen tooras didirikan di depan Rumah Betang Malapi sebagai simbol pengingat sejarah yang mengubah hidup mereka.

9a

Monumen Toorah

Di sini, kami hanya sekelompok orang asing yang mengetuk pintu rumah mereka dengan ingin tahu. Bapak Stephanus dengan baik menanggapi ketukan itu tanpa curiga dan pamrih, seakan yang datang adalah teman lama. Akan lain jadinya jika yang kami ketuk adalah pintu-pintu rumah di Jakarta yang pagarnya tinggi melindungi diri. Dari sini saya bersyukur, masih ada titik-titik yang tersebar di seluruh Indonesia, di mana kepercayaan terhadap sesama bukan jadi barang langka.

Walau harus melintasi sungai, menunggu ada perahu warga yang menepi untuk ikut ke seberang, kunjungan ke Rumah Betang yang singkat ini sangat berbekas dalam ingatan. Ketika pulang, saya ingin tetap ingat bahwa perjalanan ini bukan hanya lintas ruang geografis, tapi juga ruang waktu.

Menyisiri aliran Sungai Kapuas. Di sepanjangnya, cerita kehidupan ikut mengalir…

10

Kapuas Hulu, 11-18 Oktober 2015.

*Tulisan ini dipublikasikan di Kompasiana, 20 Oktober 2015

 

Standard
Indonesia

Cerita Site Visit Bima: Sabana dan Dorocanga

1424776037577088870

Hamparan padang  luas terbentang tanpa batas. Sejauh mata memandang, seluruh penjuru mata angin menampilkan dorama sabana raksasa. Musim hujan merajah gurat-gurat hijau di tanah cokelat tandus yang biasanya lapang oleh semak-semak kering. Puluhan kuda berkumpul di bawah pepohonan rindang nun jauh di sana. Berderet-deret pula ternak besar nan gagah di ruas-ruas jalan, bebaris di aspal tebal. Berkelompok-kelompok sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, hingga rusa tumpah ruah di dorama ini. Berkeliaran menyatu di alam. Bebas.

“Shofi, bangun. Ini Dorocanga!” Riri menyentuh bahu saya pelan. Perjalanan dari kaki gunung Tambora menuju Bima Timur yang sudah ditempuh sekitar 4 jam melelapkan kami. Saya beringsut terkesima, mengintip dari kaca mobil, melepaskan rompi hijau lumut yang sepanjang perjalanan tersemat di badan saya. Rompi Indonesia Mengajar.

Saat itu adalah suatu sore di akhir Januari 2015, salah satu momen yang saya rekam lekat-lekat di ingatan dalam kunjungan saya selama dua minggu dalam kapasitas sebagai Program Officer Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar ke Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Di dalam istilah monitoring dan evaluasi, kami menyebutnya sebagai site visit,yaitu kunjungan ke daerah penempatan Pengajar Muda.

Rasanya seperti bebas,” gumam Riri. Ia masih mengenakan rompi hijau yang sama.

“Iya. Bebas.” Saya mengamini.

Meski sudah 7 bulan ditempatkan di Kabupaten Bima, Riri juga sama seperti saya yang baru pertama kali melewati Dorocanga. Desa penempatan Riri, Karumbu, di Kabupaten Bima timur secara geografis memang jauh dari Tambora yang cenderung lebih dekat ke Kabupaten Dompu.

Riri adalah salah satu dari 9 Pengajar Muda yang ditempatkan di Bima. Satu dari 9 orang prajurit yang ceritanya saya simak secara berkala. Menjadi seorang Trustee atau hub untuk mereka yang berada di daerah dengan kantor Indonesia Mengajar di Jakarta merupakan sebuah tantangan, juga kehormatan bagi saya yang notabenenya baru pertama kali mengemban tugas ini. Sebuah hubungan jarak jauh yang melibatkan multiaktor, misi berkelanjutan, dan jarak yang tidak hanya serentang batas geografis, tetapi juga peradaban.

Kabupaten Bima merepresentasikan semua kontur bumi yang ingin kita bayangkan. Perjalanan awal ke Bima bagian timur dimulai dari Paradowane yang merupakan dataran tinggi, dilanjutkan ke Laju dan Karumbu yang berada di wilayah pesisir pantai. Tim saya yang beranggotakan 5 orang Pengajar Muda Bima menempuh jalan darat yang berkelok-kelok dan melewati danau besar yang sering disinggahi pemuda untuk bercengkrama. Di saat yang bersamaan, satu orang site visitor lain, Dimas Sandya selaku Deputy Program Manager dan 4 orang Pengajar Muda lainnya mengunjungi Sape yang harus menyebrang dulu dengan kapal kecil untuk sampai ke seberang sana, dan Baku yang menyertakan perjalanan medan berat dengan motor untuk mempertahankan keseimbangan di jalanan kerikil yang curam dan licin.

Beranjak ke Tambora, saya teringat sebuah cerita tentang sebuah gunung di Sumbawa yang pernah meluluhlantakkan dunia. Dua abad lalu, tepatnya pada 10 April 1815, erupsi dahsyat Gunung Tambora yang tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah ini konon membumihanguskan Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora, dan Kerjaaan Pekat yang saat itu menguasai wilayah tersebut. Puluhan ribu jiwa tewas, disapu awan panas dan wabah penyakit yang berkepanjangan. Iklim dunia ikut berubah. Erupsi Tambora membuat langit mendung, lapis abunya menghalangi sinar matahari. Setahun setelah itu pun, krisis produksi ternak dan pangan sudah sampai Eropa. Pertanda bahwa di alam semesta, tidak ada yang benar-benar terputus rantainya.

Sebab itu, kali ini saya benar-benar memindai lanskap yang tersaji. Menikmati aspal lurus panjang yang padanya kendaraan lewat hanya sesekali. Merilekskan raga dari pegal badan yang menyangga tas backpack 30 L sejak berpindah-pindah tempat selama berhari-hari. Meresapi setiap cercah matahari sore yang semburatnya muncul dari balik gunung-gunung landai yang memagari padang sabana ini.

Sabana yang tak ada di pulau Jawa.

Sabana yang jadi buruan pelancong-pelancong dari luar Sumbawa.

“Ibu Shofi datang dari Jakarta. Jakarta ada di pulau mana, anak-anak?”pancing Riri ketika memperkenalkanku ke murid-murid kelas 3 di salah satu sekolah yang kami kunjungi.

“Kalimantan, Bu!” seorang murid mengacungkan jari dan langsung menjawab. Saya tertawa saja, memandangi Riri yang sigap mengambil peta Indonesia yang tergantung di dinding. Menjelaskan tentang sebuah kota bernama Jakarta.

Untunglah, selain sabana, para Pengajar Muda punya alasan lain untuk berada sejak  di sini. Adalah ketulusan untuk merelakan waktu, energi, dan tenaga untuk memangkas jarak peradaban dan pengetahuan yang ternyata lebih panjang dari selisih waktu satu jam antara WIB dan WITA saja.

4 tahun sudah Pengajar Muda bekerja di 17 titik kabupaten di seluruh Indonesia. Menemukan, mengembangkan, kemudian menjejaringkan aktor-aktor kunci yang kami sebut dengan penggerak daerah. Sehingga suatu saat ketika mereka sudah tidak lagi ada di sana, sudah ada kerumunan positif yang bebas menentukan arahnya sendiri.

Setidaknya itu yang saya saksikan selama site visit. Berkunjung ke sekolah, bertemu siswa, berbincang dengan guru-guru dan kepala sekolah. Bersilaturrahmi ke UPT. Bertamu ke rumah-rumah warga. Bertukar cerita dengan para pemuda. Berjejaring dengan pemangku kepentingan di kota; dinas, bupati, sponsor, serta komunitas-komunitas pendidikan lainnya.

Tak ada yang benar-benar bebas ketika bekerja. Justru karena itu, kita bisa bangga ketika menuai hasilnya.

===

Teruntuk Pengajar Muda Bima angkatan VIII: Aidell, Ajeng, Catur, Doni, Riri, Ryanda, Suwanto, Tri, Via.

Layaknya kuda-kuda di Dorocanga, larilah kencang. Bukan lomba, bukan perang. Hanya kebebasan yang akan dirayakan jika waktunya tiba.

Selamat memasuki bulan ke-9 di lokasi penempatan! 🙂

*credit foto oleh Ajeng Septiana Widianingrum, Pengajar Muda VIII Bima.

**tulisan ini juga dipublikasikan via @Kompasiana di http://www.kompasiana.com/shofiawanis/cerita-site-visit-bima-sabana-dan-dorocanga_54f8fb8ca33311553b8b4851 

Standard
Indonesia, Inner Thought

Catatan Perjalanan: Nusa Tenggara Timur dan Laut yang Tidak Tenang

IMG_4867.JPGKita tidak pernah memerintahkan laut untuk tenang. Kita pun tidak menyulut angin agar gelombang pasang.

Laut adalah rentang luas yang mendikte nasib-nasib kapal di pelabuhan: nasib-nasib kita.

Dan terhadap nasib, jika sudah habis segala daya, kita tinggal berdoa.

Kamis sore, dalam jeda perjalanan ke Bima, saya dan seorang laki-laki rekan seperjalanan -sebut saja DS- memutuskan untuk menyeberang ke Flores. Tanpa rencana yang benar-benar terencana, kami semacam bertaruh kepada nasib baik. Ya, cukup baik untuk mengantar kami menjajaki Rinca, Pulau Komodo, Pink Beach, Pulau Kelor, dan kembali lagi ke Labuan Bajo lalu ke Bima…

…sebelum laut memutuskan untuk pasang, hingga tak ada kapal yang berlayar ke sana.

Dua hari dua malam itu, yang bisa saya lakukan hanya bolak-balik pelabuhan dan motel Pelangi (yang sangat seadanya). DS pergi duluan untuk urusan lain yang harus diselesaikan. Saya tinggal sendiri, traveler perempuan sok kuat yang padahal sedang panas dingin terserang demam di pulau asing. Dengan satu ponsel rusak dan satu ponsel pinjaman  yang hanya bisa menangkap sinyal sebatang.

 

Hampir frustasi saya lihat jam tangan yang berjalan begitu lambat. Saya menunggu, sambil berkenalan dengan orang-orang di pelabuhan yang sama-sama menanti pengumuman dari Syahbandar tentang kapan kapal akan berangkat. Saya ikut ngobrol di warung kopi, memesan kopi Flores sambil ngobrol dengan abang-abang yang minta maaf karena menyalakan rokok di depan saya. Mengamati orang-orang yang sama gelisahnya karena barang dagangan pun tertahan, atau sanak saudara sudah menunggu di Sape yang letaknya di Nusa Tenggara Barat sana.

Kali itu saya meraasakan kesendirian yang begitu menguras, namun sekaligus menguatkan.

Tut.. tut… tut…

Setiap sirine dari pelabuhan adalah harapan. Saya dan belasan penumpang lain yang tertahan di sini, setiap jam, setiap menit, setiap detik kami diliputi rasa cemas.

Tapi kita tidak memerintahkan laut, bukan?

Ketika bergabung bersama NGO yang menugaskan saya ini, saya sudah sering mendengar cerita kunjungan tugas yang penuh aral melintang. Karenanya, jauh-jauh hari pun saya sudah siap, apalagi kali ini adalah jadwal agenda pribadi yang kebetulan dijejer dengan lokasi tugas.

Lucu terkadang, betapa di NGO ini kami dilatih hampir militan, sehingga situasi seperti ini sudah jadi seperti camilan bagi para senior site-visitor.

Tapi saya baru belajar…

Belajar merencanakan perjalanan, belajar mengambil keputusan, belajar menjalankan, lebih-lebih lagi belajar menyesuaikan. Misalnya rencana-rencana yang harus direlakan karena kita tidak memerintahkan laut.

Karena, saya hanya bisa bertahan sendiri di tengah ketidakpastian jadwal kapal. Karena, sebagaimana inginnya saya untuk sampai ke tujuan, kapal tidak bisa datang tepat waktu.

Dan memang selalu begitu, dalam hidup selalu ada sesuatu yang kau inginkan justru dalam momen ketidakpastian. Apa lagi yang bisa kau lakukan selain menunggu dan menyelipkan doa agar kapal datang?

Ah, lama-lama saya jadi tidak tahu sedang menulis tentang kapal atau tentang Anda.

Tipis bedanya.

 

Labuan Bajo, 26 Januari 2015

Disalin dari coret-coretan selembar kertas bekas fasilitasi, di dermaga pelabuhan yang panas dan tanpa hiburan.

Standard
Life Journal, Singapore

Where I Have Been This Far

Heihooo.. Dua bulan lebih di Singapura, kemana aja saya? Banyak! Haha. Coba saya inget-inget lagi ya.. Hmm.. Inilah kerjaan sampingan saya selain menjadi pelajar yang baik dan budiman..

1. National Day

Peringatan hari kemerdekaan Singapura yang jatuh di tanggal 9 Agustus ini kami peringati dengan piknik di Marina Bay Sands, bersama ratusan orang lain. Nonton parade, pertunjukan air force, dan fireworks!

2. NUS Rag Day

Adalah tradisi tiap tahun di NUS, setiap fakultas dan asrama mengirimkan perwakilan di Rag Day. Ini semacam event festival mahasiswa. Ada maskot kendaraan yang dihias sbg properti, costum party yang dicombine dengan tarian kontemporer, dan berbagai atraksi yang gila-gilaan.

3. Ramadhan – Geylang Serai

Ketika Ramadhan, kawasan Geylang Serai berubah jadi pasar Ramadhan yang rame banget. Dari mulai makanan, baju, household, dan semua pernak-pernik lebaran ada deh. Yang jualan juga banyak orang Indonesia dan Malaysianya. Jalan-jalan kesini sore hari, beli makanan buka puasa, dan sholat di masjid terdekat sana. Beh, sedaaap!

4. Idul Fitri

Lebaran pertama di negeri orang. Beruntunglah saya sudah punya sahabat dekat muslim yang ngundang kami halal bi halal ke rumahnya di daerah Woodland. Kamielah, Nurul, bahkan Shun pun ikutan ngerayain lebaran. It feels like home.

5. Sentosa Island

Belum lengkap ke Singapur kalo belum ke Sentosa Island. Naik MRT ke Harbour Front, terus turun di Vivo City mall, ke lantai 3 ambil kereta langsungan ke Sentosa. Sehari aja nggak cukup buat nyusurin seisi pulau. Tapi rata-rata wahana atau atraksi mesti bayar lagi, jadi kalo budgetnya mahasiswa a.k.a terbatas (hehe) yang paling top ya duduk-duduk di pinggir pantai nungguin sunset.

6. Harry Potter Exhibition

Di Museum Art and Science MBS ada Harry Potter Exhibition. Semuanya properti asli syutingnya Harry Potter dari masa ke masa. Masuk sana berasa masuk Hogwarts. Mulai dari topi seleksi, Quidditch, tongkat sihir, buku monster pelajarannya Hagrid, tumbuhan Mandrake yang bisa menjerit, baju Ron-Harry-Hermione pas ketemu Sirius, gaun pesta dansa turnamen Triwizard, kuburan tempat Voldemort bangkit, dementor, deathly hallow, dan banyak lagi deh! Sayangnya nggak boleh ambil foto pas masuk :((

7. USP Event.

Selalu ada event di asrama-asrama yang ada di kawasan UTown, terutama di asrama Cinnamon. Kehidupan mahasiswa yang aktif bikin social interaction emang jadi kunci utama buat ningkatin bonding.  Semuanya bersosialisasi di event-event kayak garden party, pizza party, ice cream party, terus showtalent, sport competition, random walk around Singapore, dining in the dark, dan bahkan turnamen Quidditch ala Harry Potter yang rulenya sama semua kecuali minus sapu terbangnya.

8. Henna and tea time

Kita punya Resident Assistant (RA), semacem kapten per floor gitu, untuk ngoordinir acara bonding anak-anak asrama per lantai. Kadang gara-gara terlalu sibuk belajar orang-orang jadi agak individualis dan gak kenal sekitar. Nah si Janelle, RA kita ini berinisiatif bikin Henna painting art dan tea time, yang berakhir dengan ruang belajar yang ditinggal berantakan. Haha.

These Indian twin look the same, no?

9. Climate Action Day

Sebagai bagian dari volunteering, saya ikutan programnya NUSSO, Climate Action Day. Kita jadi ambassador yang promosiin green lifestyle gitu. It was fun. Ada stand yang majangin sepeda canggih yang awalnya cuma saya lihat di film Doraemon. Ada juga “hugging-machine” dari Coca-Cola yang ketika orang masukin barang recycle ke dalemnya, akan keluar hadiah atau pelukan hangat dari si (orang dalem) mesin.

10. Void deck art gallery painting

Sebagai anak art, saya dan teman-teman merasa terpanggil untuk volunteering juga disini, Void Deck Art gallery painting. Apalagi temanya waktu itu adalah “tribute to Victor Van Gogh”! Lukisan Starry Night-nya Van Gogh udah jadi wallpaper laptop saya bertahun-tahun. Sebagai fans amatir, kita berusaha mengapresiasi seni lewat vandalisme legal. Ngecat-ngecat, ngelukis di dinding galeri seni yang tempatnya di komplek perumahan gitu. Saya sempat nulis tentang ini dan dimuat di jarakpandang.net, nanti habis ini saya post deh tulisannnya 😀

11. Chalk it up!

Masih tentang panggilan seni (duileh), lagi-lagi kita berpartisipasi dalam even yang kali ini lebih besar. Chalk it up! Ngegambar di lantai pake kapur warna-warni di Asian Civilization Museum untuk mecahin rekor the biggest Islamic geopattern in Singapore. We made it, yay!

12. Blockus and Music

Kadang-kadang ketika lagi ada waktu luang dan males ke luar, saya stay aja di asrama. Cari temen buat main blockus atau musik. Permainan blockus ini terlihat simpel tapi percayalah, tidak semudah kelihatannya saudaraaaa!! *masih dendam*

Terus di asrama kita juga ada piano. Seringnya pada main, jago-jago mah anak sini. Saya nikmatin aja, kalo udah tengah malem sepi baru ngendap-ngendap nyeret temen minta diajarin. Satu temen saya juga punya biola, jadi saya culik biolanya. Kita juga sering ngumpul bawa gitar, dan.. jreeenggg… tahukah lagu yang kau suka, itu aa~kuuuuu~

13. NUS Astronomy Society stargazing time

Kecintaan saya sama benda-benda langit akhirnya membawa saya untuk ikut komunitas ini, which is jadi kayak anak nyasar karena rata-rata isinya anak science sama engineering semua. Sesi stargazing yang saya ikut waktu itu adalah ke West Cost. Kita bermalam di tepi pantai untuk observasi bintang. Walau pada akhirnya agak fail karena langit Singapur mah tebel banget polusi cahayanya, tapi dengan teleskop dan lensa binokular yang canggih jadinya keliatan. Dapet pengetahuan baru seputar astronomi. Ini juga pertama kalinya saya tidur literally dibawah langit diatas rumput tanpa atap apa-apa, di tepi pantai dan ngedengerin deburan ombak sebagai lullaby, dan bener-bener nyaksiin sunrise yang keren banget.

14. NUSSO practice and sectional

Rindu Gadjah Mada Chamber Orchestra, saya ikut latian dan seksionalnya NUS Symphony Orchestra. Studi banding deh bahasa formalnya. Bahasa nggak formalnya sih iseng main aja. Buset mereka punya inventaris alat musik lengkap abis. Dari harpa, french horn, sampe tuba segala ada, lengkap dengan player yang advanced.

15. Mid-autumn festival.

Ada sebuah legenda Chinese tentang dua orang kekasih yang terpisah di bumi dan bulan, mereka hanya bisa bertemu setiap bulan purnama. Untuk mengenang itu orang-orang merayakannya dengan festival lampion dan makan moon-cake di bawah cahaya bulan. Chinatown jadi rame banget selama satu bulan perayaan mid-autumn festival ini.

16. Birthday surprise

Hidup jauh dari keluarga, kejutan-kejutan kecil seperti ini adalah hal yang bisa kami lakukan untuk menguatkan satu sama lain. Minjem slogannya Liverpool, You Never Walk Alone!

17. International Exchange Day

Acara international exchange day NUS ini target audiensnya adalah freshman atau anak-anak yang mengincar peluang exchange. Ada informasi beasiswa dari office of international relations, booth dari berbagai yayasan pemberi beasiswa, dan cultural diversity dengan kostum dari berbagai negara. Saya dipilih jadi wakil dari TF LEaRN untuk presentasi tentang pengalaman exchange dan promosi tentang Indonesia. Berbicara tentang negara sendiri di depan siswa internasional itu sempat bikin nervous tapi bangga akan negeri sendiri.

18. Service Learning Workshop

Training yang berbentuk workshop dan collective leadership project ini berlangsung 2 hari. Di hari terakhir kami turun campaign langsung ke masyarakat tentang pentingnya air bagi kehidupan.

19. Conservatory “Magical Movie” concert

Sekolah musik NUS Yoh Siew Toh Conservatory ngadain konser Magical Movie di RCC. Repertoar yang dimainkan berasal dari soundtrack film-film terkenal kayak Pirates of Carribean, Harpot, Titanic, Gone with The Wind, dll. Dan itu biolanya yang dipake pada keluaran tahun 1700an, 1800an, 1900an!

20. Nuansa – Canting!

Produksi drama musikal karya anak negeri yang satu ini bikin saya kagum banget. PINUS a.k.a. Persatuan mahasiswa Indonesia NUS punya proyek tahunan yang namanya Nuansa. Tahun ini temanya “canting”, cerita tentang keluarga jawa yang punya usaha batik, tradisi, dan konflik keluarga. Konsep panggung yang keren, koreografi, dan musik yang semuanya produksi sendiri ini ternyata butuh waktu setahun untuk persiapan. Cool. Pas keluar eh ketemu Pak Arswendo Atmowiloto. Beliau juga nonton ternyata.

yakk.. that’s how i spent my last 2 months here. looking forward for the next 2 months. dum dum, tararararaaaa~

Standard
Singapore

Seni di Sudut Sunyi Singapura

Tulisan ini dimuat di media online kritik seni rupa & budaya visual, http://jarakpandang.net/blog/?p=1348, 13 September 2012

Berkunjung ke negeri singa Singapura, bayangan tentang kota besar yang tidak pernah tidur mendandak menjadi kenyataan. Hampir setiap sudut dipadati gedung pencakar langit yang gemerlap, serta lalu lalang manusia yang padat dan cepat. Dari mulai kawasan distrik bisnis di Central Area sampai dengan Pulau Sentosa di sisi selatan. Dari mulai pusat perbelanjaan sampai pusat edukasi, semua tertata rapi. Memang, tata letak kota yang efisien dipadu dengan teknologi tinggi membawa peradaban negara ini selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Namun potret Singapura yang high class ini ternyata tidak bisa menjangkau semua kalangan ke dalam satu frame. Cobalah berkunjung ke daerah-daerah yang kurang terkenal. Anda akan menemukan komplek apartment usang yang dihuni oleh kalangan menengah ke bawah. Sebuah potret lain yang terabaikan dari megahnya negeri singa. Di kawasan MacPherson misalnya, ada sebuah galeri seni yang bertema “Tribute to Vincent Van Gogh”. Jauh dari kesan eksklusif museum art yang ada di Marina Bay, galeri seni MacPherson ini justru dibuat di pilar-pilar dinding di lantai dasar apartment Pipit Road Blok 56. Proyek galeri seni ini diadakan oleh Social Creative, yang mana saya berkesempatan menjadi salah satu volunteer untuk proyek baru mereka disana pada hari Rabu (7/9/12) silam.

Social Creative adalah sebuah yayasan sosial yang bergerak dalam bidang seni. Sedikit anti-mainstream, mereka membuat galeri seni dengan konsep mural. Sejak tahun 2009, jejak-jejak karya organisasi ini sudah ada di Queenstown, Bras Basah Complex, Punggol, and Marina Barrage. Tentunya masing-masing galeri seni memiliki temanya sendiri. Ketika sampai ke lokasi Void Deck Art Gallery, saya terkagum-kagum dengan konsep minimalis yang mereka terapkan. Lebih kagum lagi, di saat meludah sembarangan di Singapura pun diancam dengan denda $1000, masih ada yang mau repot-repot memperjuangkan agar membuat mural di tempat umum jadi legal.

Kala, perempuan keturunan India yang menjadi director of volunteer pada sesi tersebut menceritakan tentang proyek galeri seni di kawasan Pipit Road Blok 56 tersebut. Impian yang paling tinggi dari setiap seniman disini adalah mewujudkan Singapura yang berwarna-warni, secara visual maupun emosional. Galeri seni tersebut sengaja dibuat sejak tahun 2011 untuk membuat masyarakat di lingkungan itu melek seni. Konsep edukasi sosial lewat adaptasi karya seniman asing inipun nampaknya jadi hiburan tersendiri untuk masyarakat sekitar.

Tugas saya dalam grup volunteer adalah merenovasi galeri seni sederhana yang catnya sudah memudar tersebut. Sembari saya membuat pola cat di dinding, satu perempuan dan dua laki-laki seumuran saya duduk di sudut, memperhatikan. Senandung khas Melayu sesekali keluar dari mulut mereka sambil bercanda. Menikmati sore hari di sudut Singapura yang jauh dari rakusnya transaksi ekonomi yang tidak terjangkau kantong. Ataupun sekedar menertawakan pemerintah yang berkoar-koar agar perempuan dengan tingkat edukasi tinggi cepat-cepat menikah untuk menghasilkan generasi yang teredukasi pula, sementara perempuan kelas bawah dianggap angin lalu.Mungkin juga ingin melupakan stereotype kental yang melabeli setiap ras disini. Galeri ini sudah bertransformasi, tidak lagi sekedar jadi sarang karya seni, tapi juga sudut nyaman untuk berkontemplasi.

Di sudut satunya ada beberapa laki-laki paruh baya yang sedang nongkrong di dekat dinding lukisan “Blossom Almond Tree” sambil bercerita. Bisa jadi sebelum galeri seni ini ada, mereka tidak kenal dengan maestro pelukis post-impressionist asal Belanda tersebut. Sesudahnya pun mungkin mereka tahu, tapi tidak peduli. Lukisan yang aslinya seharga milyaran tentu saja tidak jauh lebih penting dari pajak penghasilan 15% itu.

Ada garis merah antara nyawa yang terkandung di lukisan-lukisan karya Van Gogh dengan atmosfer lingkungan galeri seni ini. Siapa sangka pelukis yang sudah menelurkan sekitar 900 lukisan dan 1100 gambar dalam 10 tahun terakhir hidupnya ini, adalah hasil dari lingkungan kumuh yang terabaikan di London. Lewat asupan semangat dari adiknya, Theo, Van Gogh akhirnya tetap menekuni dunia lukis walaupun pernah dikeluarkan dari sebuah sekolah seni. Karyanya yang khas dengan warna yang dinamis menjadi sorotan dunia. Publik dibuat terhanyut ke dalam emosi yang sarat dalam self-potrait yang konon kebanyakan terinspirasi oleh sang adik. Duplikat karya yang emosional ini seakan menyatu dalam dinding-dinding dingin ini. Berada di kehidupan yang miskin dan sakit-sakitan, Van Gogh berhasil menorehkan namanya untuk tetap dikenang sampai sekarang lewat karya seni.

Di tengah tingginya tuntutan hidup yang membuat orang-orang tak ubahnya menjadi robot hitam putih, masih ada sekelompok orang yang berjuang ‘memanusiakan’ Singapura lewat karya seni warna-warni. Mendadak pikiran saya melayang ke kota asal saya, Yogyakarta. Membayangkan mural sepanjang jalan menuju Malioboro. Ah, seni, memang tidak mengenal kasta.

Shofi Awanis*

mahasiswi Universitas Gajah Mada Jurusan Ilmu Komunikasi 2009.

Standard