Life Journal

2016 In A Nutshell

Let’s see.

I quitted my job in January. Said goodbye to wonderful people from work. Stayed unemployed in Jakarta for two months to focus on GRE preparation class. Traveled to Bangka Belitung island to visit my grandmother grave (and say thousand of apologies to the ground for not being there in her last moment). Witnessed the 2016 total eclipse at the open beach. Went back to Jakarta. Took some freelance jobs to pay the rent and campus admission. Worked my ass off really hard to secure the seat in the best universities for a master degree. Got accepted to 6 universities out of 7 (yes, you let me down JHU! But never mind, I got Columbia however!). Got a new job offer for short-term period in Jogja. Broke up with my significant other. Tried to pull myself all together. Moved back to Jogja. Took a step back to heal by playing music, traveled to peaks of mountain and sea, read new books, made the most time and moment with family. Started new job. Made new friends. Treasured my old friends. Said goodbye (again). Moved to New York. Lived in Elmhurst. Started my first semester. Made new friends (again). Explored a total new environment. Struggled an academic like what a graduate student does. Strugged a big city life like what a scholarship student with no work permit does. Survived finals with satisfying grades. Surviving temperature drop in winter. Gained winter weight. Missed two important wedding in Indonesia. Moved to Harlem. Took a break. Challenged myself to practice my faith in a foreign land, but end up questioning everything.

I have to credit Spotify’s ad copy:

THANKS 2016, IT’S BEEN WEIRD!

Standard
Life Journal

19 Lesson Learned of First Month Moving to NYC

I posted this on my Instagram and Facebook previously, but then I decided the post worth to stay in the blog. Might be useful for anyone else, who knows? 🙂

flatiron

Today marks my completed first month living in NYC. Juggling to make the best of 24 hours a day, from time to time, place to place, people to people.

Here what i’ve learned so far:
1. Halal foods are everywhere.

2. Basically, any foods are everywhere. Measure your weights!

3. Buying unlimited monthly metro card is a must, if you’re commuting every day. It encourages me to go many to places, too! 😉

4. But remember, NYC trains in midnight and weekend are dubious. Allow additional travel time.

5. Google map is the voice of God. Just follow it.

6. Before going out, pay attention to the weather forecast. It helps to choose outfits, and stuff to bring in our bag.

7. About outfits, don’t worry too much. No one will judge you or tell you what to wear. Just believe in what you wanna believe, and be awesome.

8. Yes, that includes a major change of fashion like my turban hijab style. :p

9. Speak up and raising concern won’t cause you trouble. So does saying no to something you don’t want.

10. Invest in at least one pair of good Nike/Adidas/New Balance/Converse shoes. Because we walk a lot!

11. That makes a woman who enters subway and walks the street in high heels as the strongest person of the day. *applauds*

12. Parks are always beautiful. Always. Cental Park, Union Square, Washington Square, Madison, you name it.

13. Sunset is best seen from Dumbo near Brooklyn bridge, and High Line. My two best serendipity so far.

14. Music performers in Times Square subway station are awesome. They changed groups every day. If you record them, you may consider giving a dollar or any appropriate number.

15. Entertainment is expensive. But there are many cheap, even free, events going on around the city. But mostly not in the touristic area.

16. Museums are wow! Nothing like old boring pyjamas.

17. To split the bill with friends easier, install Venmo. That’s one of the best human invention ever.

18. I read somewhere: “In NY, people are either looking for a job, an apartment, or a boyfriend/girlfriend.” True.

19. However, in a city full of everything, we don’t need to take everything. Only bite what we can chew. ďż˝

Looking forward to many months ahead! XoXo.

Standard
Life Journal, USA

Menjadi Seorang New Yorker dari Indonesia

Saya ingin memulai cerita ini dengan membenarkan bahwa Tuhan benar-benar baik.

Sewaktu kecil seorang teman meramalkan saya akan tinggal jauh dari rumah. Saya mengiyakan saja. Untuk seorang anak daerah yang bahkan tidak pernah melihat Jakarta, bayangan menjelajahi tempat-tempat jauh sungguh mimpi yang menyenangkan. Tidak pernah saya bayangkan, mimpi itu jadi kenyataan. Tidak tanggung-tanggung, jangkarnya mendarat di benua Amerika, land of the free and home of the brave.

Ini adalah minggu pertama saya pindah ke City of New York. Lagi, Tuhan memang baik, karena ia membenarkan bahwa tak ada doa yang terlalu tinggi. Bagi saya, doa itu adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa LPDP dan juga kesempatan berkuliah di kampus Ivy League Columbia University. Program kuliah S2 saya akan memakan waktu 1,5 tahun dimulai. Karena materinya akan sangat berbeda, saya berniat menuliskan tentang dunia perkuliahan di postingan terpisah.

Sebenarnya jauh di lubuk hati saya masih ketar-ketir dengan load perkuliahan yang tinggi, serta proses adaptasi yang penuh tantangan. Namun sebagaimana setiap orang yang ada di New York adalah para survivor, penyintas kehidupan, saya pun harus jadi salah satunya. Sebab itu, tema besar untuk berbulan-bulan ke depan adalah belajar bagaimana menjadi seorang New Yorker dari Indonesia.

***

IMG_4950

Elmhurst, Queens

New York adalah tempat pertemuan dan peleburan banyak hal. Demografi keberagamannya sungguh luar biasa. Ratusan ras dan etnis bergabung jadi satu entitas: citizen of the world. Kali pertama menginjakkan kaki di New York pada tahun 2012, saya adalah seorang turis yang jatuh hati dengan kota ini. Kota ini adalah paradoks, liar dan berbahaya, namun hangat dan penuh kejutan menyenangkan. Berjalan-jalan di setiap sudutnya sebagai turis tentu berbeda dengan berusaha melebur sebagai salah satu penghuninya. Kini saya lebih peka, meniru cara orang berbicara, naik subway, membaca peta, membuat rencana finansial, mencari kenalan, dan memahami hal-hal kecil yang terjadi sambil berjalan dari taman ke taman.

Saya memutuskan untuk menyewa kamar di sebuah shared-apartment untuk 4 bulan pertama di area Elmhurst, Queens. Jauh memang jaraknya ke kampus di Upper Manhattan yang membutuhkan waktu 1-1,5 jam perjalanan dengan subway. Namun perumahan dan biaya hidup di sini relatif lebih murah, dengan lingkungan sub-urban yang lebih tenang. Banyak populasi orang Asia di sini. Bahkan, ada 3 restoran Indonesia (Upi Jaya, Sky CafĂŠ, Asian Taste 86) dan toko barang-barang Indonesia (Indojava) di Elmhurst. Ini jadi alasan banyak orang-orang Indonesia berdatangan ke area Elmhurst di akhir pekan atau ketika libur, untuk mengobati rindu rumah. Proses adaptasi budaya saya pun jadi terbantu, setidaknya pelan-pelan menyesuaikan diri di lingkungan yang familiar sebelum memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru lagi.

Ketika berjalan, saya mendengarkan banyak bahasa dan aksen berbeda diperbincangkan oleh berbagai orang yang lalu lalang. Saya melihat warna kulit dan rambut yang berbeda, gaya berpakaian yang tidak sama, serta tingkah laku dan polah aneh yang tak terduga. Namun satu hal yang pasti, setiap orang adalah minoritas, partikel kecil dari kelompok yang sangat besar. Karenanya, perbedaan bukan suatu masalah. Ini justru membuat orang-orang di sini yang individualis, justru punya kesadaran tinggi untuk saling menjaga para orang-orang asing di sekitarnya. Karena konon,polisi di distrik ini memang canggih dan siap siaga, tapi selalu banyak hal tak bisa diprediksikan terkait keamanan. Oleh karenanya, mereka memasang pesan kampanye sosial yang tak akan luput di mata orang yang berpergian menggunakan kereta Metro: New Yorkers keep New Yorkers safe. If you see something, say something.

***

IMG_4805.JPG

Union Square, Manhattan

Manhattan adalah sektor kota di New York yang paling metropolitan. Pusat dari sektor industri, pemerintahan, obyek wisata, serta pusat perbelanjaan ada di sini. Hari pertama begitu mendarat di bandara John F. Kennedy, sorenya saya bersama teman-teman awardee LPDP mengadakan kopi darat di Manhattan. Berjalan-jalan di taman Washington Square sambil melawan lelah dan kantuk karena Rifda, Binar, dan saya masih jetlag setelah sekitar 30 jam perjalanan udara dari Jakarta melewati Dubai.

Sore itu, saya dan Tri duduk di taman bersama puluhan orang yang sedang rehat sore, dan menyaksikan pertunjukan seni jalan dadakan. Sekelompok orang hispanik menabuh gendang, dan menari di pinggir jalan. Di sisi taman yang lain, seorang pria menggelar grand piano di gerbang taman dan unjuk kemampuan memainkan musik klasik di tengah kerumuman orang. Walau tak ada hubungannya, tapi rasanya kedatangan kami disambut dengan riang.

Nuansa kota yang begitu hidup ini pun berlanjut ke hari-hari dan malam-malam selanjutnya. Seperti cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam yang saya baca ulang sebelum berangkat, lampu-lampu pencakar langit yang bertaburan mengingatkan saya pada sebuah desa nun jauh di Jawa sana. Cerita cinta Marno dan Jane yang berdebat tentang bulan berwarna ungu, adalah penggambaran betapa di New York, hal-hal yang tak biasa malah jadi lumrah dan apa adanya.

***

 

Setiap orang adalah penyintas. Dalam duduk-duduk santai sambil berburu Pokemon di Central Park dengan Rifda dan Mas Rami, ada perbincangan tentang orang-orang Indonesia yang kami kenal sudah jadi permanent residence di New York. Mereka datang dari latar belakang yang menarik. Bukan scholars yang dapat privilege sekolah seperti kami, yang nantinya akan pulang lagi ke Indonesia untuk membangun negeri. Mereka, golongan orang-orang yang di masa lalu pun tidak beruntung mengenyam pendidikan tinggi, dengan bermodal nekad berani datang ke kota ini dan memulai hidup baru. Ada yang jadi pelaut, memalsukan dokumen tugas kerja, sampai diam-diam jadi pekerja striptis demi menyambung hidup. Pada akhirnya mereka bisa bertahan dan jadi seorang New Yorker sejati: penyintas kehidupan.

Padahal awalnya saya sudah merasa perjuangan menuju sini berat sekali adanya. Banyak hal-hal besar yang telah dikorbankan. Hal-hal yang membuat saya ingin menangis, lelah, sampai depresi. Hal-hal yang tidak bisa saya bagikan dengan leluansa. Namun ketika sudah sampai di sini dan melebur dengan kehidupan New York, saya jadi merasa perjuangan tersebut baru ujian pre-test untuk kehidupan di sini. Karena setiap orang pun punya perjuangannya sendiri-sendiri.Dan juga karena saya tidak hanya membawa nama sendiri, tapi juga nama Indonesia, Asia, Islam, dan segala hajat hidup yang ingin diraih di tanah Amerika. A lot to bear, a lot to gain, Insha Allah.

Bahkan Freud pun dengan sederhana menjelaskan lewat Iceberg Theory-nya, bahwa apa yang kita lihat dari seseorang adalah bongkahan es di atas permukaan saja. Padahal yang terjadi sesungguhnya, fondasi dan apa-apa saja yang menjadikan orang itu bermula, ada di bawah permukaan.

Begitulah. Di balik wajah-wajah garang, langkah cepat, penampilan edgy, dan nada bicara yang berapi-api para New Yorker, ada segunung besar cerita hidup yang tidak kasatmata. Untuk itu saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip Plato, untuk mengingatkan kita terutama di masa-masa yang akan datang.

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”

 

 

Standard
Life Journal

Tentang Cinta di Antara Kopi, Rokok, dan Warung Kelontong

Musim hujan turun di Magelang.

Saat itu sekitar pukul tiga sore, kami -saya dan lima orang teman- kelimpungan cari tempat berteduh di jalan. Setelah berburu sunrise di Suroloyo paginya, kami bertolak ke Semarang dengan tiga motor yang beriringan. Sayangnya hujan deras hanya membolehkan kami sampai warung kelontong yang jual detergen, gorengan, kopi, dan atap.

Lama kami menunggu, berdempet-dempet di bangku kayu memandangi jalanan aspal basah dan orang-orang yang menepi ikut berteduh.

Di sebelah saya Andrall, teman perjalanan yang mengingatkan saya akan perpaduan Rendra dan Rano Karno di masa muda. Ia mulai uring-uringan. Rokoknya habis dan warung kelontong gagal menyediakan. Rupanya sudah sejak semalam ia tidak merokok. Merek rokok pacarnya -yang juga ikut dalam rombongan- pun tak bisa menggantikan apa yang ia inginkan.

“Ndrall.. apa itu mencintai?” saya potong gusarnya dia dengan pertanyaan.

“Ngggg??” Andrall bergumam, mencerna pertanyaan saya yang tiba-tiba.

“Menurutmu, mencintai itu apa?” saya susun ulang pertanyaan spontan tadi.

“Mencintai itu… adalah ketidakterpaksaan.”

Andrall mengalihkan pandangan ke arah depan, entah kepada hujan atau pacarnya. Saya tertegun, tidak menyangka jawaban dari mencintai adalah sebuah frasa adjektif.

“Kalau dicintai, itu apa?” saya bertanya lagi.

“Dicintai itu, Shof, adalah sebuah keberuntungan.”

Aaah.. Saya jadi kagum tapi malas mengaku. Sambil memutar-mutar gelas kopi, saya lanjut meluncurkan permainan tanya. Berharap kali ini Andrall tidak bisa menjawab.

“Lantas bisakah mencintai dan dicintai berdiri sendiri-sendiri?”

“Bisa,” kata Andrall pasti. “Tapi mereka seperti rokok dan kopi. Tak pernah lengkap tanpa satu sama lain.” Lalu ia menenggak kopi hitamnya yang sudah mendingin. Dan saya juga, ikut menghabiskan gelas kopi saya sendiri, yang saat itu baru terasa kemanisan.

Pukul lima. Hujan masih turun perlahan. Semarang harus kami relakan.

IMG_2723

Magelang, 7 Mei 2016

Standard
Life Journal

HH

Arsitekata

Dua kali ketukan di pintu.

Salah seorang office boy masuk setelah dipersilakan. Mamase–panggilan akrab bagi pesuruh di kantor saya–mengangsurkan sebuah buku gambar A3. Penerimanya sumringah, “Nah ini dia, Shal.”

Yang saya tahu selanjutnya, buku gambar itu jadi favorit yang hampir selalu dibawa-bawa.

Di buku itulah dia sering menggambar skema masalah yang sedang menggelayut di pikirannya. Selalu dimulai dengan bulatan di tengah, entah untuk menggambarkan himpunan atau entitas. Lalu bulatan itu akan bertumpuk, bercabang, atau berjukstaposisi sampai skema itu selesai atau bagian bersih di kertas sudah habis.

Jangan lengah menyimak saat dia sedang menjelaskan skema dibuat. Percayalah, tidak ada gunanya mencontek salinan skema punya teman sebelah, tak perlu juga menghapal skema-skema itu. Karena bagian terpenting adalah penjelasannya itu sendiri. Saya yakin, tak ada patokan baku dari skema-skema tersebut karena dia pun akan membuatnya dengan cara (sedikit) berbeda pada kesempatan berikutnya.

Skema-skema dinamis itu seolah menjelaskan bahwa dia sudah muak betul dengan…

View original post 528 more words

Standard
Life Journal

Imlek dalam Memori tentang Nyai

Momen imlek selalu menampilkan memori masa kecil yang tidak menua. Hari ini, dengan raga yang berada di Jakarta, ingatan saya kembali ke Pulau Bangka dan samar-samar tahun baru Tionghoa yang terkenang.

Lampion merah di sepanjang jalan Sungailiat ke Belinyu. Kue keranjang dan bertoples-toples kue lain di rumah-rumah kerabat dan teman keluarga. Lilin merah dan buah-buahan sesembahan yang rasanya hambar setelah disajikan untuk leluhur. Nisan-nisan kuburan megah yang mendadak terpantul dengan kerumuman orang-orang yang pulang kampung untuk sembahyang kubur. Lagu-lagu Mandarin yang dijadikan playlist karaoke. Sampai angpau yang terselip setelah cium tangan sebelum pulang bertamu.

Dari bacaan sejarah yang saya baca, pulau Bangka yang kaya timah menarik keluarga Tionghoa dari Guangdong, Lim Tiau Kian, pada abad ke-18. Ketika penambangan resmi dibuka, orang Tionghoa banyak yang datang ke Bangka. Pada akhirnya mereka tinggal dan menikah dengan masyarakat sekitar, sehingga muncul istilah peranakan, yaitu campuran Tionghoa dan pribumi.

Sebagai muslim yang tumbuh di masyarakat multikultur perpaduan Melayu dan Tionghoa di Bangka, saya belajar bertenggangrasa sejak dulu walaupun rasanya lebih familiar dengan kultur Melayu, daripada kultur peranakan Tionghoa. Apalagi dengan kultur Jawa yang juga masuk lewat ibu, saya semakin jauh dengan asal usul sebelah sana. Keluarga kami tidak merayakan Imlek. Namun mungkin saja bisa jadi, jika takdir memilih jalan yang lain untuk nenek kami yang adalah seorang peranakan.

Di hari imlek ini, saya mau merapikan kenangan tentang nenek kami, yang baru saja meninggal dunia 3 hari yang lalu. Layaknya merapikan ruangan, memang selalu ada yang perlu dibongkar terlebih dahulu. Hari ini, bercerita tentang kepulangan nenek dengan sanak saudara lain yang baru saja pulang dari Bangka, ada napak tilas tentang kedatangan. Di dalam Bahasa Bangka, kami memanggil nenek dengan sebutan Nyai.

73 tahun lalu, nyai lahir ke dunia dari rahim seorang etnis Tionghoa yang tinggal di sekitar benteng Kutopanji, Belinyu. Lalu seorang etnis Melayu dari kota Sungailiat, buyut saya, mengadopsi nyai sebagai anak, sehingga putuslah hubungan etnis dan agama dengan leluhur Tionghoa itu, kecuali darah yang mengalir di nadinya. Buyut saya ini, Melayu Islam yang cukup memiliki kedudukan terpandang di sekitarnya, sangat menyayangi nyai. Sebuah cerita ajaib yang saya ingat adalah buyut pernah melobby orang untuk memalsukan umur nyai 2 tahun lebih tua, sehingga nyai bisa nonton bioskop saat dia remaja.

Zaman itu belum ada internet tempat orang-orang penasaran bisa mencari apa saja dari masa lalu. Namun Bangka adalah pulau kecil. Walau dirahasiakan, tetap saja ternyata nyai yang beranjak dewasa mengetahui tentang asal-usulnya. Sebab itu kota Belinyu selalu jadi tempat yang menarik langkahnya untuk datang, walau tidak berani mendekat ke rumah yang sebenarnya. Ia tetap menjaga perasaan buyut dengan menyimpan perasaannya sendiri sebagai sebuah rahasia.

Sebab itulah hingga ayah saya dan 7 adik-adiknya dewasa dan memiliki keluarga masing-masing, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya beberapa teman-teman mereka di sekolah sebenarnya adalah sepupu kandung mereka sendiri.

Sebab itu, seringkali dia bertengkar dengan anak-menantunya soal apakah dia masih kuat untuk berbelanja di pasar dan ikut masak di dapur. Ternyata lempah kuning, pantiaw, dan kue bolu remeng yang tidak pernah absen itu adalah caranya untuk tetap ada di ingatan keluarga besarnya yang sudah berpindah ke pulau-pulau seberang.

Sebab itu tas jinjing dari Singapura yang saya belikan sebagai oleh-oleh tidak pernah mau disingkirkannya meski sudah robek dan memudar. Sebuah pemberian dari cucu pertama harus dipertahankan dengan sebaik-baiknya.

Sebab itu tasbih dan mukena tidak pernah terlambat dikenakannya. Dari jauh ia menjaga.

Itulah nyai saya. Penyimpan rahasia yang ulung. Bahkan sampai akhit hayatnya.

Dengan rahasia-rahasia, nyai menyayangi saya.

Semoga dengan rahasia-rahasia, Allah menyayanginya juga.

Sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan bergulir dengan air mata lega ketika mendengar cerita bahwa sebelum berpulang, nyai berkata betapa tempat tidurnya lapang dan betapa pintu rumahnya sekarang sudah bagus, betapa wangi semerbak orang-orang yang menjemputnya, dan juga bahwa akan banyak hajatan di rumah kami di Sungailiat.

Wahai nyai yang berpulang dengan tenang, salam untuk surga…

Standard
Life Journal

Berbeda

“Goenawan Muhammad? Dia kan liberal!” serunya saat memergoki sampul buku Catatan Pinggir yang sedang saya baca.

Kontan saya menoleh dengan dahi terkerenyit, memandangi tante saya yang melontarkan perkataan spontan tadi. Saya ingat, hari itu adalah 9 Juli.  Saat itu kami bertiga –saya, tante, dan om- sedang berkemudi dalam  mobil menuju Cimanggis, ke TPS di mana kami akan masuk ke bilik suara dan menyoblos kandidat pilihan dalam pemilu presiden 2014.

“Kalau iya, terus kenapa?” Tanya saya, merasa asing dengan pernyataan barusan.

“Nanti kamu jadi ikut liberal.”

“Loh. Kan sudah.”

Kaget sesaat. Lalu dia merentet berbicara sesuatu tentang Jokowi dan bagaimana bisa saya memutuskan untuk berada di kubu nomor 2 alih-alih nomor 1 yang didukung seluruh keluarga besar. Bagaimana bisa saya begitu berbeda.

“Tenang aja tan. Otak liberal, hati konvensional kok,” saya berusaha mencairkan suasana.

Keesokan harinya, saya mendapat pesan singkat berbunyi begini:

Liberal boleh, asal jangan mengorbankan akidah.

Kalau kemarin kening ini berlipat-lipat, kini giliran mulut saya yang menganga. Waduh, makin melebar saja ngaconya. Di pikirannya saat itu mungkin saya sudah bergelimang noda dan menjual diri pada setan kapitalis. Padahal ‘dosa’ saya saat itu hanya membaca.

Apa gerangan yang membuat label liberal jadi menakutkan dalam konteks tante saya itu? Apa karena latar belakang pendidikannya yang eksakta? Karena nama GM mengingatkannya dengan Tempo, dan Tempo mengingatkannya pada kubu kontra Prabowo? Atau karena terlalu takut saya menjadi semakin berbeda? Mungkin semuanya.

Padahal ‘liberal’ dalam definisi saya hanyalah ketika kita tidak berhenti bertanya. Ketika kita patuh terhadap agama maupun negara karena perjuangan dan pencarian, bukan karena sekedar perintah dari sononya… 

Tante saya ini contoh dari sepersekian banyak orang yang tidak banyak tahu, tapi menutup diri untuk tahu. Sama seperti newsfeed Facebook saya yang dipenuhi dengan orang-orang yang menyerukan protes terhadap perang di Gaza. Hanya saja nada seruannya terkadang membuat hati ini miris,

Bantai Yahudi… Selamatkan saudara-saudari Muslim di  Palestina… dll.

Bagaimana caranya membuat mereka setidaknya mengetahui bahwa tidak semua Yahudi pro rezim Israel? Bahwa Zionis dan Yahudi tidak selalu dalam kubu yang sama? Bahwa selain Muslim, orang Palestina ada juga yang Kristen, Druze, Ahmadiyah, Samaritan, dan juga Lebanon? Bahwa perang bukan soal adu jumlah rakyat sipil yang tewas, tapi soal mereka yang, terlepas dari asal kubunya, adalah korban.  Bahwa bagaimanapun ini terlihat seperti konflik agama, yang sebenarnya terjadi adalah konflik politik dan tragedi kemanusiaan. Seperti ribuan orang lainnya, saya juga mengecam kejinya setan-setan yang berdalih self-defense untuk membumihanguskan lawan yang tak sebanding.

Hanya saja, soal benci-membenci hingga timbul keinginan untuk bantai-membantai dari sebagian orang di newsfeed saya itu mungkin saja karena, lagi-lagi, ketidaktahuan. Karena ketika sejarah dan permainan politik yang tumpang tindih itu bisa diurai, seharusnya bukan lagi kemarahan yang membabi buta yang timbul, tapi empati sebagai manusia.

Semingguan terakhir inilah yang mengusik pikiran saya. Berat sekali rasanya menjadi berbeda itu. Suruh siapa jadi Sarjana Ilmu Politik, ha? Andai saja saat UM UGM saya pilih sastra saja. Tentu perang batinnya akan beda.

Tapi semalam, sastra pun bersuara. Saya baru saja membaca karya klasik Fitzgerald, The Great Gatsby. Ayah Nick berkata, “whenever you feel like criticizing any one,just remember that all the people in this world haven’t had the advantages that you’ve had.”

Saya yang baru saja membuka bab awal sambil menunggu jam sahur yang membuat tidur terasa tanggung itu kontan tersentak.  Mungkin yang teriak-teriak membenci Yahudi itu belum tahu rasanya hidup sebagai minoritas di luar negeri dan Islam dicap agama teroris hanya karena sebagian ormas radikal yang menjadikan bom bunuh diri sebagai mainan kesukaan.

Mungkin sebelum mengkritisi mereka tidak tahu, ada baiknya saya juga berbenah dan menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui juga. Mungkin saya harus lebih sering kaji Al-Qur’an, cari guru, cari rekan diskusi lagi. Tapi bukan yang antipati duluan sama hal-hal yang dianggap tabu untuk dipertanyakan. Karena saya orang dewasa baru yang banyak tanya, juga seorang Taurian yang keras kepala.

Karena itu pula, mungkin, sebelum mengenal saya lebih jauh, anda juga perlu tahu, kita mungkin berbeda..

Tapi itu tak apa.

Standard