Life Journal, USA

Menjadi Seorang New Yorker dari Indonesia


Saya ingin memulai cerita ini dengan membenarkan bahwa Tuhan benar-benar baik.

Sewaktu kecil seorang teman meramalkan saya akan tinggal jauh dari rumah. Saya mengiyakan saja. Untuk seorang anak daerah yang bahkan tidak pernah melihat Jakarta, bayangan menjelajahi tempat-tempat jauh sungguh mimpi yang menyenangkan. Tidak pernah saya bayangkan, mimpi itu jadi kenyataan. Tidak tanggung-tanggung, jangkarnya mendarat di benua Amerika, land of the free and home of the brave.

Ini adalah minggu pertama saya pindah ke City of New York. Lagi, Tuhan memang baik, karena ia membenarkan bahwa tak ada doa yang terlalu tinggi. Bagi saya, doa itu adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa LPDP dan juga kesempatan berkuliah di kampus Ivy League Columbia University. Program kuliah S2 saya akan memakan waktu 1,5 tahun dimulai. Karena materinya akan sangat berbeda, saya berniat menuliskan tentang dunia perkuliahan di postingan terpisah.

Sebenarnya jauh di lubuk hati saya masih ketar-ketir dengan load perkuliahan yang tinggi, serta proses adaptasi yang penuh tantangan. Namun sebagaimana setiap orang yang ada di New York adalah para survivor, penyintas kehidupan, saya pun harus jadi salah satunya. Sebab itu, tema besar untuk berbulan-bulan ke depan adalah belajar bagaimana menjadi seorang New Yorker dari Indonesia.

***

IMG_4950

Elmhurst, Queens

New York adalah tempat pertemuan dan peleburan banyak hal. Demografi keberagamannya sungguh luar biasa. Ratusan ras dan etnis bergabung jadi satu entitas: citizen of the world. Kali pertama menginjakkan kaki di New York pada tahun 2012, saya adalah seorang turis yang jatuh hati dengan kota ini. Kota ini adalah paradoks, liar dan berbahaya, namun hangat dan penuh kejutan menyenangkan. Berjalan-jalan di setiap sudutnya sebagai turis tentu berbeda dengan berusaha melebur sebagai salah satu penghuninya. Kini saya lebih peka, meniru cara orang berbicara, naik subway, membaca peta, membuat rencana finansial, mencari kenalan, dan memahami hal-hal kecil yang terjadi sambil berjalan dari taman ke taman.

Saya memutuskan untuk menyewa kamar di sebuah shared-apartment untuk 4 bulan pertama di area Elmhurst, Queens. Jauh memang jaraknya ke kampus di Upper Manhattan yang membutuhkan waktu 1-1,5 jam perjalanan dengan subway. Namun perumahan dan biaya hidup di sini relatif lebih murah, dengan lingkungan sub-urban yang lebih tenang. Banyak populasi orang Asia di sini. Bahkan, ada 3 restoran Indonesia (Upi Jaya, Sky Café, Asian Taste 86) dan toko barang-barang Indonesia (Indojava) di Elmhurst. Ini jadi alasan banyak orang-orang Indonesia berdatangan ke area Elmhurst di akhir pekan atau ketika libur, untuk mengobati rindu rumah. Proses adaptasi budaya saya pun jadi terbantu, setidaknya pelan-pelan menyesuaikan diri di lingkungan yang familiar sebelum memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru lagi.

Ketika berjalan, saya mendengarkan banyak bahasa dan aksen berbeda diperbincangkan oleh berbagai orang yang lalu lalang. Saya melihat warna kulit dan rambut yang berbeda, gaya berpakaian yang tidak sama, serta tingkah laku dan polah aneh yang tak terduga. Namun satu hal yang pasti, setiap orang adalah minoritas, partikel kecil dari kelompok yang sangat besar. Karenanya, perbedaan bukan suatu masalah. Ini justru membuat orang-orang di sini yang individualis, justru punya kesadaran tinggi untuk saling menjaga para orang-orang asing di sekitarnya. Karena konon,polisi di distrik ini memang canggih dan siap siaga, tapi selalu banyak hal tak bisa diprediksikan terkait keamanan. Oleh karenanya, mereka memasang pesan kampanye sosial yang tak akan luput di mata orang yang berpergian menggunakan kereta Metro: New Yorkers keep New Yorkers safe. If you see something, say something.

***

IMG_4805.JPG

Union Square, Manhattan

Manhattan adalah sektor kota di New York yang paling metropolitan. Pusat dari sektor industri, pemerintahan, obyek wisata, serta pusat perbelanjaan ada di sini. Hari pertama begitu mendarat di bandara John F. Kennedy, sorenya saya bersama teman-teman awardee LPDP mengadakan kopi darat di Manhattan. Berjalan-jalan di taman Washington Square sambil melawan lelah dan kantuk karena Rifda, Binar, dan saya masih jetlag setelah sekitar 30 jam perjalanan udara dari Jakarta melewati Dubai.

Sore itu, saya dan Tri duduk di taman bersama puluhan orang yang sedang rehat sore, dan menyaksikan pertunjukan seni jalan dadakan. Sekelompok orang hispanik menabuh gendang, dan menari di pinggir jalan. Di sisi taman yang lain, seorang pria menggelar grand piano di gerbang taman dan unjuk kemampuan memainkan musik klasik di tengah kerumuman orang. Walau tak ada hubungannya, tapi rasanya kedatangan kami disambut dengan riang.

Nuansa kota yang begitu hidup ini pun berlanjut ke hari-hari dan malam-malam selanjutnya. Seperti cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam yang saya baca ulang sebelum berangkat, lampu-lampu pencakar langit yang bertaburan mengingatkan saya pada sebuah desa nun jauh di Jawa sana. Cerita cinta Marno dan Jane yang berdebat tentang bulan berwarna ungu, adalah penggambaran betapa di New York, hal-hal yang tak biasa malah jadi lumrah dan apa adanya.

***

 

Setiap orang adalah penyintas. Dalam duduk-duduk santai sambil berburu Pokemon di Central Park dengan Rifda dan Mas Rami, ada perbincangan tentang orang-orang Indonesia yang kami kenal sudah jadi permanent residence di New York. Mereka datang dari latar belakang yang menarik. Bukan scholars yang dapat privilege sekolah seperti kami, yang nantinya akan pulang lagi ke Indonesia untuk membangun negeri. Mereka, golongan orang-orang yang di masa lalu pun tidak beruntung mengenyam pendidikan tinggi, dengan bermodal nekad berani datang ke kota ini dan memulai hidup baru. Ada yang jadi pelaut, memalsukan dokumen tugas kerja, sampai diam-diam jadi pekerja striptis demi menyambung hidup. Pada akhirnya mereka bisa bertahan dan jadi seorang New Yorker sejati: penyintas kehidupan.

Padahal awalnya saya sudah merasa perjuangan menuju sini berat sekali adanya. Banyak hal-hal besar yang telah dikorbankan. Hal-hal yang membuat saya ingin menangis, lelah, sampai depresi. Hal-hal yang tidak bisa saya bagikan dengan leluansa. Namun ketika sudah sampai di sini dan melebur dengan kehidupan New York, saya jadi merasa perjuangan tersebut baru ujian pre-test untuk kehidupan di sini. Karena setiap orang pun punya perjuangannya sendiri-sendiri.Dan juga karena saya tidak hanya membawa nama sendiri, tapi juga nama Indonesia, Asia, Islam, dan segala hajat hidup yang ingin diraih di tanah Amerika. A lot to bear, a lot to gain, Insha Allah.

Bahkan Freud pun dengan sederhana menjelaskan lewat Iceberg Theory-nya, bahwa apa yang kita lihat dari seseorang adalah bongkahan es di atas permukaan saja. Padahal yang terjadi sesungguhnya, fondasi dan apa-apa saja yang menjadikan orang itu bermula, ada di bawah permukaan.

Begitulah. Di balik wajah-wajah garang, langkah cepat, penampilan edgy, dan nada bicara yang berapi-api para New Yorker, ada segunung besar cerita hidup yang tidak kasatmata. Untuk itu saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip Plato, untuk mengingatkan kita terutama di masa-masa yang akan datang.

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”

 

 

Advertisements
Standard

3 thoughts on “Menjadi Seorang New Yorker dari Indonesia

  1. Vivi Pohan says:

    Love to read this. Setuju tentang pre test, however kamu punya segalanya untuk bertahan dan berhasil. Good luck dear 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s