Life Journal

Tentang Cinta di Antara Kopi, Rokok, dan Warung Kelontong


Musim hujan turun di Magelang.

Saat itu sekitar pukul tiga sore, kami -saya dan lima orang teman- kelimpungan cari tempat berteduh di jalan. Setelah berburu sunrise di Suroloyo paginya, kami bertolak ke Semarang dengan tiga motor yang beriringan. Sayangnya hujan deras hanya membolehkan kami sampai warung kelontong yang jual detergen, gorengan, kopi, dan atap.

Lama kami menunggu, berdempet-dempet di bangku kayu memandangi jalanan aspal basah dan orang-orang yang menepi ikut berteduh.

Di sebelah saya Andrall, teman perjalanan yang mengingatkan saya akan perpaduan Rendra dan Rano Karno di masa muda. Ia mulai uring-uringan. Rokoknya habis dan warung kelontong gagal menyediakan. Rupanya sudah sejak semalam ia tidak merokok. Merek rokok pacarnya -yang juga ikut dalam rombongan- pun tak bisa menggantikan apa yang ia inginkan.

“Ndrall.. apa itu mencintai?” saya potong gusarnya dia dengan pertanyaan.

“Ngggg??” Andrall bergumam, mencerna pertanyaan saya yang tiba-tiba.

“Menurutmu, mencintai itu apa?” saya susun ulang pertanyaan spontan tadi.

“Mencintai itu… adalah ketidakterpaksaan.”

Andrall mengalihkan pandangan ke arah depan, entah kepada hujan atau pacarnya. Saya tertegun, tidak menyangka jawaban dari mencintai adalah sebuah frasa adjektif.

“Kalau dicintai, itu apa?” saya bertanya lagi.

“Dicintai itu, Shof, adalah sebuah keberuntungan.”

Aaah.. Saya jadi kagum tapi malas mengaku. Sambil memutar-mutar gelas kopi, saya lanjut meluncurkan permainan tanya. Berharap kali ini Andrall tidak bisa menjawab.

“Lantas bisakah mencintai dan dicintai berdiri sendiri-sendiri?”

“Bisa,” kata Andrall pasti. “Tapi mereka seperti rokok dan kopi. Tak pernah lengkap tanpa satu sama lain.” Lalu ia menenggak kopi hitamnya yang sudah mendingin. Dan saya juga, ikut menghabiskan gelas kopi saya sendiri, yang saat itu baru terasa kemanisan.

Pukul lima. Hujan masih turun perlahan. Semarang harus kami relakan.

IMG_2723

Magelang, 7 Mei 2016

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Tentang Cinta di Antara Kopi, Rokok, dan Warung Kelontong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s