Poets

Pukul Tiga


*Untuk Samsul, Andrall, Oji, Gaga, dan Tirsa.

 

pukul tiga tadi aku mengamatimu

yang lelap dalam hitam tembaga

tubuh-tubuh lelah bersilang dan berjuntakposisi;

meracau keraguan-kekosongan bunga tidur

nyala dan rupa yang tak akan kau ingat esok hari

 

hanya aku yang akhirnya terjaga pada pukul tiga

bukan dengkurmu yang membangunkanku,

bukan aspal jalan raya yang tergilas truk dan meronta,

atau derit kipas angin yang

mengingatkanku pada ringkih tua ibu bapak kita

bukan perkara tidur kita

 

sebab alarmmu bising berbunyi sejak tadi

menjelma rencana suka cita ingin riuh

seperti subuh kemarin di puncak Kendil

O Suroloyo! wangi kabutmu pekat di wajah-wajah musafir

kenanganmu lekat direkam lensa gawai kami

 

tapi kantuk terlalu kejam, kawan,

terlalu kejam untuk melanjutkan perjalanan

 

di sebelah bantal-bantal,

kurutuki tangan-tangan kita yang sengaja bersisian

akankah kubangunkan kau yang terpejam damai?

apakah tega kusintas pertarungan batin yang bahkan belum kau selesaikan?

 

pukul tiga pagi yang hanya ada aku sendiri itu,

kurelakan pembicaraan tentangĀ lereng Gunung Sumbing

menguar jadi embun pada spion-spion motor dingin di garasi

 

maka cinta pada matahari pagi itu, kawanku,

adalah sebuah peruntungan yang hanya sekali kita miliki

 

Magelang, 8 Mei 2016

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s