Life Journal

HH


Arsitekata

Dua kali ketukan di pintu.

Salah seorang office boy masuk setelah dipersilakan. Mamase–panggilan akrab bagi pesuruh di kantor saya–mengangsurkan sebuah buku gambar A3. Penerimanya sumringah, “Nah ini dia, Shal.”

Yang saya tahu selanjutnya, buku gambar itu jadi favorit yang hampir selalu dibawa-bawa.

Di buku itulah dia sering menggambar skema masalah yang sedang menggelayut di pikirannya. Selalu dimulai dengan bulatan di tengah, entah untuk menggambarkan himpunan atau entitas. Lalu bulatan itu akan bertumpuk, bercabang, atau berjukstaposisi sampai skema itu selesai atau bagian bersih di kertas sudah habis.

Jangan lengah menyimak saat dia sedang menjelaskan skema dibuat. Percayalah, tidak ada gunanya mencontek salinan skema punya teman sebelah, tak perlu juga menghapal skema-skema itu. Karena bagian terpenting adalah penjelasannya itu sendiri. Saya yakin, tak ada patokan baku dari skema-skema tersebut karena dia pun akan membuatnya dengan cara (sedikit) berbeda pada kesempatan berikutnya.

Skema-skema dinamis itu seolah menjelaskan bahwa dia sudah muak betul dengan…

View original post 528 more words

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s