Life Journal

Imlek dalam Memori tentang Nyai


Momen imlek selalu menampilkan memori masa kecil yang tidak menua. Hari ini, dengan raga yang berada di Jakarta, ingatan saya kembali ke Pulau Bangka dan samar-samar tahun baru Tionghoa yang terkenang.

Lampion merah di sepanjang jalan Sungailiat ke Belinyu. Kue keranjang dan bertoples-toples kue lain di rumah-rumah kerabat dan teman keluarga. Lilin merah dan buah-buahan sesembahan yang rasanya hambar setelah disajikan untuk leluhur. Nisan-nisan kuburan megah yang mendadak terpantul dengan kerumuman orang-orang yang pulang kampung untuk sembahyang kubur. Lagu-lagu Mandarin yang dijadikan playlist karaoke. Sampai angpau yang terselip setelah cium tangan sebelum pulang bertamu.

Dari bacaan sejarah yang saya baca, pulau Bangka yang kaya timah menarik keluarga Tionghoa dari Guangdong, Lim Tiau Kian, pada abad ke-18. Ketika penambangan resmi dibuka, orang Tionghoa banyak yang datang ke Bangka. Pada akhirnya mereka tinggal dan menikah dengan masyarakat sekitar, sehingga muncul istilah peranakan, yaitu campuran Tionghoa dan pribumi.

Sebagai muslim yang tumbuh di masyarakat multikultur perpaduan Melayu dan Tionghoa di Bangka, saya belajar bertenggangrasa sejak dulu walaupun rasanya lebih familiar dengan kultur Melayu, daripada kultur peranakan Tionghoa. Apalagi dengan kultur Jawa yang juga masuk lewat ibu, saya semakin jauh dengan asal usul sebelah sana. Keluarga kami tidak merayakan Imlek. Namun mungkin saja bisa jadi, jika takdir memilih jalan yang lain untuk nenek kami yang adalah seorang peranakan.

Di hari imlek ini, saya mau merapikan kenangan tentang nenek kami, yang baru saja meninggal dunia 3 hari yang lalu. Layaknya merapikan ruangan, memang selalu ada yang perlu dibongkar terlebih dahulu. Hari ini, bercerita tentang kepulangan nenek dengan sanak saudara lain yang baru saja pulang dari Bangka, ada napak tilas tentang kedatangan. Di dalam Bahasa Bangka, kami memanggil nenek dengan sebutan Nyai.

73 tahun lalu, nyai lahir ke dunia dari rahim seorang etnis Tionghoa yang tinggal di sekitar benteng Kutopanji, Belinyu. Lalu seorang etnis Melayu dari kota Sungailiat, buyut saya, mengadopsi nyai sebagai anak, sehingga putuslah hubungan etnis dan agama dengan leluhur Tionghoa itu, kecuali darah yang mengalir di nadinya. Buyut saya ini, Melayu Islam yang cukup memiliki kedudukan terpandang di sekitarnya, sangat menyayangi nyai. Sebuah cerita ajaib yang saya ingat adalah buyut pernah melobby orang untuk memalsukan umur nyai 2 tahun lebih tua, sehingga nyai bisa nonton bioskop saat dia remaja.

Zaman itu belum ada internet tempat orang-orang penasaran bisa mencari apa saja dari masa lalu. Namun Bangka adalah pulau kecil. Walau dirahasiakan, tetap saja ternyata nyai yang beranjak dewasa mengetahui tentang asal-usulnya. Sebab itu kota Belinyu selalu jadi tempat yang menarik langkahnya untuk datang, walau tidak berani mendekat ke rumah yang sebenarnya. Ia tetap menjaga perasaan buyut dengan menyimpan perasaannya sendiri sebagai sebuah rahasia.

Sebab itulah hingga ayah saya dan 7 adik-adiknya dewasa dan memiliki keluarga masing-masing, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya beberapa teman-teman mereka di sekolah sebenarnya adalah sepupu kandung mereka sendiri.

Sebab itu, seringkali dia bertengkar dengan anak-menantunya soal apakah dia masih kuat untuk berbelanja di pasar dan ikut masak di dapur. Ternyata lempah kuning, pantiaw, dan kue bolu remeng yang tidak pernah absen itu adalah caranya untuk tetap ada di ingatan keluarga besarnya yang sudah berpindah ke pulau-pulau seberang.

Sebab itu tas jinjing dari Singapura yang saya belikan sebagai oleh-oleh tidak pernah mau disingkirkannya meski sudah robek dan memudar. Sebuah pemberian dari cucu pertama harus dipertahankan dengan sebaik-baiknya.

Sebab itu tasbih dan mukena tidak pernah terlambat dikenakannya. Dari jauh ia menjaga.

Itulah nyai saya. Penyimpan rahasia yang ulung. Bahkan sampai akhit hayatnya.

Dengan rahasia-rahasia, nyai menyayangi saya.

Semoga dengan rahasia-rahasia, Allah menyayanginya juga.

Sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan bergulir dengan air mata lega ketika mendengar cerita bahwa sebelum berpulang, nyai berkata betapa tempat tidurnya lapang dan betapa pintu rumahnya sekarang sudah bagus, betapa wangi semerbak orang-orang yang menjemputnya, dan juga bahwa akan banyak hajatan di rumah kami di Sungailiat.

Wahai nyai yang berpulang dengan tenang, salam untuk surga…

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s