Indonesia, Inner Thought

Catatan Perjalanan: Nusa Tenggara Timur dan Laut yang Tidak Tenang


IMG_4867.JPGKita tidak pernah memerintahkan laut untuk tenang. Kita pun tidak menyulut angin agar gelombang pasang.

Laut adalah rentang luas yang mendikte nasib-nasib kapal di pelabuhan: nasib-nasib kita.

Dan terhadap nasib, jika sudah habis segala daya, kita tinggal berdoa.

Kamis sore, dalam jeda perjalanan ke Bima, saya dan seorang laki-laki rekan seperjalanan -sebut saja DS- memutuskan untuk menyeberang ke Flores. Tanpa rencana yang benar-benar terencana, kami semacam bertaruh kepada nasib baik. Ya, cukup baik untuk mengantar kami menjajakiĀ Rinca, Pulau Komodo, Pink Beach, Pulau Kelor, dan kembali lagi ke Labuan Bajo lalu ke Bima…

…sebelum laut memutuskan untuk pasang, hingga tak ada kapal yang berlayar ke sana.

Dua hari dua malam itu, yang bisa saya lakukan hanya bolak-balik pelabuhan dan motel Pelangi (yang sangat seadanya). DS pergi duluan untuk urusan lain yang harus diselesaikan. Saya tinggal sendiri, traveler perempuan sok kuat yang padahal sedang panas dingin terserang demam di pulau asing. Dengan satu ponsel rusak dan satu ponsel pinjaman Ā yang hanya bisa menangkap sinyal sebatang.

 

Hampir frustasi saya lihat jam tangan yang berjalan begitu lambat. Saya menunggu, sambil berkenalan dengan orang-orang di pelabuhan yang sama-sama menanti pengumuman dari Syahbandar tentang kapan kapal akan berangkat. Saya ikut ngobrol di warung kopi, memesan kopi Flores sambil ngobrol dengan abang-abang yang minta maaf karena menyalakan rokok di depan saya. Mengamati orang-orang yang sama gelisahnya karena barang dagangan pun tertahan, atau sanak saudara sudah menunggu di Sape yang letaknya di Nusa Tenggara Barat sana.

Kali itu saya meraasakan kesendirian yang begitu menguras, namun sekaligus menguatkan.

Tut.. tut… tut…

Setiap sirine dari pelabuhan adalah harapan. Saya dan belasan penumpang lain yang tertahan di sini, setiap jam, setiap menit, setiap detik kami diliputi rasa cemas.

Tapi kita tidak memerintahkan laut, bukan?

Ketika bergabung bersama NGO yang menugaskan saya ini, saya sudah sering mendengar cerita kunjungan tugas yang penuh aral melintang. Karenanya, jauh-jauh hari pun saya sudah siap, apalagi kali ini adalah jadwal agenda pribadi yang kebetulan dijejer dengan lokasi tugas.

Lucu terkadang, betapa di NGO ini kami dilatih hampir militan, sehingga situasi seperti ini sudah jadi seperti camilan bagi para senior site-visitor.

Tapi saya baru belajar…

Belajar merencanakan perjalanan, belajar mengambil keputusan, belajar menjalankan, lebih-lebih lagi belajar menyesuaikan. Misalnya rencana-rencana yang harus direlakan karena kita tidak memerintahkan laut.

Karena, saya hanya bisa bertahan sendiri di tengah ketidakpastian jadwal kapal. Karena, sebagaimana inginnya saya untuk sampai ke tujuan, kapal tidak bisa datang tepat waktu.

Dan memang selalu begitu, dalam hidup selalu ada sesuatu yang kau inginkan justru dalam momen ketidakpastian. Apa lagi yang bisa kau lakukan selain menunggu dan menyelipkan doa agar kapal datang?

Ah, lama-lama saya jadi tidak tahu sedang menulis tentang kapal atau tentang Anda.

Tipis bedanya.

 

Labuan Bajo, 26 Januari 2015

Disalin dari coret-coretanĀ selembar kertas bekas fasilitasi, di dermaga pelabuhan yang panas dan tanpa hiburan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s