Life Journal

Berbeda


“Goenawan Muhammad? Dia kan liberal!” serunya saat memergoki sampul buku Catatan Pinggir yang sedang saya baca.

Kontan saya menoleh dengan dahi terkerenyit, memandangi tante saya yang melontarkan perkataan spontan tadi. Saya ingat, hari itu adalah 9 Juli.  Saat itu kami bertiga –saya, tante, dan om- sedang berkemudi dalam  mobil menuju Cimanggis, ke TPS di mana kami akan masuk ke bilik suara dan menyoblos kandidat pilihan dalam pemilu presiden 2014.

“Kalau iya, terus kenapa?” Tanya saya, merasa asing dengan pernyataan barusan.

“Nanti kamu jadi ikut liberal.”

“Loh. Kan sudah.”

Kaget sesaat. Lalu dia merentet berbicara sesuatu tentang Jokowi dan bagaimana bisa saya memutuskan untuk berada di kubu nomor 2 alih-alih nomor 1 yang didukung seluruh keluarga besar. Bagaimana bisa saya begitu berbeda.

“Tenang aja tan. Otak liberal, hati konvensional kok,” saya berusaha mencairkan suasana.

Keesokan harinya, saya mendapat pesan singkat berbunyi begini:

Liberal boleh, asal jangan mengorbankan akidah.

Kalau kemarin kening ini berlipat-lipat, kini giliran mulut saya yang menganga. Waduh, makin melebar saja ngaconya. Di pikirannya saat itu mungkin saya sudah bergelimang noda dan menjual diri pada setan kapitalis. Padahal ‘dosa’ saya saat itu hanya membaca.

Apa gerangan yang membuat label liberal jadi menakutkan dalam konteks tante saya itu? Apa karena latar belakang pendidikannya yang eksakta? Karena nama GM mengingatkannya dengan Tempo, dan Tempo mengingatkannya pada kubu kontra Prabowo? Atau karena terlalu takut saya menjadi semakin berbeda? Mungkin semuanya.

Padahal ‘liberal’ dalam definisi saya hanyalah ketika kita tidak berhenti bertanya. Ketika kita patuh terhadap agama maupun negara karena perjuangan dan pencarian, bukan karena sekedar perintah dari sononya… 

Tante saya ini contoh dari sepersekian banyak orang yang tidak banyak tahu, tapi menutup diri untuk tahu. Sama seperti newsfeed Facebook saya yang dipenuhi dengan orang-orang yang menyerukan protes terhadap perang di Gaza. Hanya saja nada seruannya terkadang membuat hati ini miris,

Bantai Yahudi… Selamatkan saudara-saudari Muslim di  Palestina… dll.

Bagaimana caranya membuat mereka setidaknya mengetahui bahwa tidak semua Yahudi pro rezim Israel? Bahwa Zionis dan Yahudi tidak selalu dalam kubu yang sama? Bahwa selain Muslim, orang Palestina ada juga yang Kristen, Druze, Ahmadiyah, Samaritan, dan juga Lebanon? Bahwa perang bukan soal adu jumlah rakyat sipil yang tewas, tapi soal mereka yang, terlepas dari asal kubunya, adalah korban.  Bahwa bagaimanapun ini terlihat seperti konflik agama, yang sebenarnya terjadi adalah konflik politik dan tragedi kemanusiaan. Seperti ribuan orang lainnya, saya juga mengecam kejinya setan-setan yang berdalih self-defense untuk membumihanguskan lawan yang tak sebanding.

Hanya saja, soal benci-membenci hingga timbul keinginan untuk bantai-membantai dari sebagian orang di newsfeed saya itu mungkin saja karena, lagi-lagi, ketidaktahuan. Karena ketika sejarah dan permainan politik yang tumpang tindih itu bisa diurai, seharusnya bukan lagi kemarahan yang membabi buta yang timbul, tapi empati sebagai manusia.

Semingguan terakhir inilah yang mengusik pikiran saya. Berat sekali rasanya menjadi berbeda itu. Suruh siapa jadi Sarjana Ilmu Politik, ha? Andai saja saat UM UGM saya pilih sastra saja. Tentu perang batinnya akan beda.

Tapi semalam, sastra pun bersuara. Saya baru saja membaca karya klasik Fitzgerald, The Great Gatsby. Ayah Nick berkata, “whenever you feel like criticizing any one,just remember that all the people in this world haven’t had the advantages that you’ve had.”

Saya yang baru saja membuka bab awal sambil menunggu jam sahur yang membuat tidur terasa tanggung itu kontan tersentak.  Mungkin yang teriak-teriak membenci Yahudi itu belum tahu rasanya hidup sebagai minoritas di luar negeri dan Islam dicap agama teroris hanya karena sebagian ormas radikal yang menjadikan bom bunuh diri sebagai mainan kesukaan.

Mungkin sebelum mengkritisi mereka tidak tahu, ada baiknya saya juga berbenah dan menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui juga. Mungkin saya harus lebih sering kaji Al-Qur’an, cari guru, cari rekan diskusi lagi. Tapi bukan yang antipati duluan sama hal-hal yang dianggap tabu untuk dipertanyakan. Karena saya orang dewasa baru yang banyak tanya, juga seorang Taurian yang keras kepala.

Karena itu pula, mungkin, sebelum mengenal saya lebih jauh, anda juga perlu tahu, kita mungkin berbeda..

Tapi itu tak apa.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s