Life Journal

Menuju Ibukota: Pengantar Perpisahan


A yey! Tiket sudah di tangan. Air Asia tanggal 11 April 2014, jam 12.55 WIB. Tepat 7 hari lagi saya akan pindah ke ibu kota. A brand new start after graduation. Alhamdulillah, saat ini saya sudah diterima sebagai Officer Development Program di Indonesia Mengajar (IM).

Ceritanya sejak semester 4 memang sudah pengen gabung jadi pengajar muda di IM, namun agak kurang direstui keluarga kalau turun langsung mengajar ke daerah-daerah terpencil selama 1 tahun. Antara patuh dan kekeuh, saya nggak berani ngelawan, tapi nggak rela juga menyerah. Khas kaum tengah banget ya, haha. Sampai-sampai di bookmark Google Chrome saya yang pertama adalah website IM, jadi tiap buka browser, dia nongol di pojok paling atas. Ini bikin saya tetap termotivasi dan mungkin ini juga yang membuat saya waktu itu tahu kabar yang nggak semua orang tahu, IM sedang buka program ODP untuk angkatan ke-2! ODP ini akan dipersiapkan untuk masuk jajaran tim manajemen di kantor pusat IM, di daerah Kebayoran Baru, Jakarta. Saya pikir, ini momen dan pekerjaannya pas banget ya! Bisa gabung IM tanpa harus menjadi pengajar muda. Linear juga sama studi strategi komunikasi yang jadi background saya semasa kuliah, juga fokus manajemen komunikasi yang saya dalami semasa skripsi. Langsung deh masukin lamaran, waktu itu untuk seleksi awal juga harus membuat esai panjang dengan tema-tema pertanyaan seputar motivasi, pengalaman, pengetahuan, dan juga leadership.

Seminggu setelah wisuda, diemail ternyata masuk shortlist dan dipanggil tes di Jakarta. Kalang kabut waktu itu, soalnya dadakan, saya belum izin ke kantor lama, dan tesnya sehari sebelum jawal tes IELTS yang diselenggarakan di Jogja. Dengan penuh perjuangan, termasuk latihan soal IELTS di kereta, mencak-mencak karena  flatshoes yang solnya lepas (Donatello macam apa!) pagi-pagi sebelum tes, desak-desakan di busway dari Jaktim ke Jaksel, muter-muter sama tukang ojek cari kantor IM di jalan Galuh 2 yang ternyata di penunjuk jalannya cuma Jalan Galuh “aja” (coba sih ada yang iseng semprot cat aerosol buat nulis angka 2 ah di infrastruktur disfungsi itu), buru-buru ke bandara subuh-subuh buat ngejar first flight, dan langsung menuju tempat tes IELTS sebelum sempat ke rumah (karena tesnya jam 8), masih petantang-petenteng pake tas backpacknya bokap.

And the effort was worth it!

Tesnya dirapel seharian penuh. Ada psikotes, focus group discussion, presentasi studi kasus, dan wawancara. Seharian penuh sampai migrain kambuh. Waktu itu ada 20 shortlist yang dipanggil tes. Backgroundnya beragam, rata-rata sudah punya profesi semua di bidang kesehatan, pemerintahan, perbankan, EO, dll. Bahkan ada beberapa pengajar muda purna tugas juga yang sama-sama ikut tes. Entah karena waktu itu masih cupu-cupunya freshgrad atau jarang nemu orang-orang yang punya idealisme sama, rasanya takjub aja gitu. I was like, guys.. guys.. saya cuma butiran debu di sini ya guys? 

Tapi alhamdulillah, kemudian jalannya dimudahkan.

Getting a job is easy, getting a decent job in your dream workplace is the real challenge! Dan karena ini merupakan hal yang memang saya inginkan, saya nggak merasa berat untuk bermigrasi dari kota penuh kenangan yang sudah jadi rumah saya selama 4,5 tahun ini. Namun, fase melankolis sepertinya wajar ya. Hehe. Seminggu sebelum memulai fase baru di tempat baru ini, saya mau mencatat apa saja yang akan saya tinggalkan. Sepertinya 7 hari ke depan akan sarat dengan perpisahan..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s