Life Journal

Menuju Ibukota (H-7): Farewell to Remi


Hari ini akhirnya saya berpisah dengan Remi, motor Mio yang sudah menemani saya sejak 2009. Untuk seseorang yang mobilitasnya tinggi dan lebih suka melakukan apa-apa sendiri, Remi ini jadi andalan saya. Maklum, Trans Jogja rada ngehe dan nggak bisa diandalkan. Di kota ini motor adalah kendaraan favorit. Temen deket saya si Tiphainne, bule Perancis aja rela 2x jatoh pas belajar motor demi bela-belain bisa catch up sama arus transportasi Jogja.

Karena pemiliknya mau pindahan, daripada dia menua, mendingin, dan menyusahkan, jadinya dia dijual.

Mungkin terdengar seperti perpisahan yang fungsional, jadi kehilangan kendaraan. Tapi bagi saya Remi lebih dari itu. Saya menjalin hubungan emosional bersamanya lebih dari benda mati yang lain selama 4,5 tahun terakhir. Remi adalah teman berkelana, kebanyakan sih nyasar bersama. Jalanan mulus, gundukan, hutan, gunung, pantai, hujan, panas, beh… tahan banting dia mah! Kalau goresan di badan motor itu kayak tatto bagi sesama motor, mungkin di antara temen-temennya dia sudah kayak preman sangar.

Tapi sebenarnya Remi itu motor berkelamin pria baik-baik. Dia suka bercanda. Misalnya ya, spionnya suka longgar dan muter-muter lunglai. Biasa? Enggak. Soalnya itu hanya terjadi ketika saya habis putus, break, atau mengalami kejadian tidak menyenangkan dalam hubungan romantis. Haha. Sampai sahabat saya, Gita, sadar hal ini dan ketika lihat spion Remi longgar, dia otomatis nanya, “nek, lo nggak habis kenapa-napa kan?” Sesakti itu.

Layaknya pria baik-baik, Remi pun rakus. Baru sebentar saja, tangki bensin sudah kosong. Terpaksa deh mampir terus di pom bensin maupun toko-toko di pinggir jalan. Tapi gara-gara Remi pun, akhirnya saya kenal baik sama sepasang suami istri baik hati yang buka toko bensin eceran di dekat rumah. Padahal biasanya orang-orang di kawasan rumah saya ini minta ampun susahnya buat kenal dekat.

Dia pun manja. Suka mogok dan minta diengkol kalau sudah lama nggak diajak jalan. Suka protes karena jarang saya panasin pagi-pagi, tapi begitu nyalain langsung tancap gas. Alhasil umur sparepartnya nggak lama dan perawatannya pun juga lumayan. Tapi lumayan lah, sambil nungguin Remi nyalon (baca: bengkel) bisa ngobrol-ngobrol sama mas-mas di sana. Meski akhirnya saya selalu menyesal karena selalu mengiyakan penawaran. Habis gimana, nggak ngerti mesin-mesin gitu!

Sering kali, saya biarkan Remi kehujanan sendiri tanpa rasa bersalah. Sering juga, saya tinggalkan Remi di tempat yang sebenarnya rawan dan berbahaya. Tapi dia diam saja. Memang seperti itu perannya, diam. Diam-diam pula dia menjaga saya.. Terutama ketika saya yang biasanya ngedumel atau nyanyi berisik kalau di jalan, tiba-tiba diam saja dan menangis di balik kaca helm yang tertutup rapat. Kadang saya lelah, atau mungkin cuma sedikit marah. Satu-satunya yang bisa menenangkan adalah berkendara tanpa tujuan, satu atau dua jam. Saya tidak ingin mengejar, dikejar, melihat, atau dilihat. Saya cuma mau berjalan-jalan sendiri, sebentar. Itu saja. Tanpa banyak tingkah, Remi melaju kencang.

Ternyata dia lah yang membingkai diam jadi perjalanan. Dia juga yang, dalam diam, mengajarkan bahwa di antara perjalanan, ada pergi dan pulang.

Sore tadi, saya bawa Remi jalan-jalan. Untuk yang terakhir kali.

Nggak cuma saya ya, Mi, yang memulai hidup baru. Kamu juga. Baik-baik ya, kita..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s