Life Journal

Pertunjukan


Masa kecil saya tidak seperti kebanyakan orang di kota ini. Sebagai pendatang yang baru 3 tahun menetap di Yogyakarta, keluarga saya adalah salah satu dari sedikit keluarga di Sungailat, Bangka, Brov. Kep. Babel yang mengambil keputusan besar untuk pindah ke kota besar dan memulai kehidupan baru dari 0.

17 tahun di Bangka kami habiskan dengan kehidupan ala masyarakat daerah yang tidak terekspos dengan hiruk pikuk kehidupan kota. Tanpa pernah ke mall, nonton bioskop, nongkrong di Jco, menyaksikan pertunjukan yang dihadiri bintang besar, apalagi terlibat di dalamnya.

Tidak pernah terpikirkan bahwa 3 tahun setelahnya warna dalam kehidupan keluarga kami berputar 180 derajat seperti jarum jam.

18 Mei 2013 lalu di Taman Budaya Yogyakarta, sebuah gedung pusat kesenian dan kebudayaan di dekat pusat kota Malioboro, ada dua buah pertunjukan akbar yang diselenggarakan bersamaan. Grand Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra dengan guest conductor Addie MS dan guest singer Lea Simajuntak, dan Pameran Tugas Akhir Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogja. Saya dan adik saya secara kebetulan akan mementaskan hasil karya seni dan latihan kami berbulan-bulan di hari yang sama, dan di tempat yang sama!

Sebuah senyum yang tidak bisa dirangkai ke dalam kata menghiasi wajah kami hari itu. Membayangkan nanti di sore hari ayah akan menyetir ke Taman Budaya, membawa Ibu dan Mbah Uti, mengunjungi pameran di lantai bawah untuk melihat karya animasi anaknya yang nomor dua (yang kabarnya sehabis itu langsung dilirik seorang kontraktor proyek animasi), kemudian naik ke concert hall di lantai 2 untuk menonton pertunjukan orkestra di mana anaknya yang pertama duduk di jajaran player biola 2.

Saya masih ingat dulu ketika keluarga saya malah terpencar satu sama lain. Ayah bekerja sebagai konsultan tambang di Kalimantan dan baru pulang ke Bangka sebulan sekali, Ibu bekerja di KPU sekaligus dosen, saya di asrama kelas unggulan SMA 1 Pemali, adik perempuan saya Almas di pesantren Islamic Center, sementara adik laki-laki saya Luthfan yg saat itu masih SD kadang-kadang bermain seperti layaknya anak sekolah.

Sebuah rumah besar dengan penghuni yang tidak pernah lengkap.

Memiliki kehidupan sendiri-sendiri yang tidak memiliki sesuatu untuk mempersatukan membuat kami menjadi individu yang terpisah, tanpa irisan. Saya sempat berada di masa-masa di mana saya merasa asing di dalam rumah sendiri, merasa tidak mengenal keluarga sendiri.

Saya ingat sekali waktu itu film Laskar Pelangi booming dan orang-orang di luar pulau sudah berkoar-koar tentangnya, sementara kami masyarakat daerah justru baru bisa menyaksikan film tentang daerah kami itu berbulan-bulan setelah masuk box office. Itu pun  atas inisiatif Pemda yg membuat layar tancap dadakan di sebuah lapangan kota. Jika sering mendengarkan protes tentang pembangunan yang tersentralisir di Jawa saja, percayalah bahwa kontras itu memang benar adanya. Tapi saya di sini menulis bukan untuk mengkritik pembangunan. Saya cuma mau bercerita, bahwa efek pindah domisili itu sangat besar pengaruhnya untuk keluarga saya. Layar tancap di lapangan kota itu saja sudah cukup untuk membuat saya dan adik-adik keluar untuk menghabiskan waktu bersama.

Kami tumbuh bersama mindset orang-orang sekitar yang otak kiri-centris. Belajar yang rajin, lulus ujian, masuk perguruan tinggi, kerja, sukses, dan banggakan orang tua.

Padahal sejak kecil saya bermimpi menonton Broadway. Padahal saya, Almas, dan Luthfan, selalu menari dengan gaya waltz konyol setiap menonton Tom and Jerry episode Johann Mouse dengan iringan Blue Danube-nya Strauss, atau pura-pura bermain piano juga saat Tom memainkan The Cat Concerto. Padahal Almas sangat suka menggambar dan bermimpi suatu saat bisa memproduksi kartun sendiri.

Padahal ternyata ada darah seni mengalir di dalam darah kami.

Dan saat itu kami belum tahu, dengan darah ini, bagaimana cara membanggakan orang tua kami? Dengan darah ini, bagaimana caranya berkembang di tempat yang miskin sarana aperesiasi?

Life moves on, and so should we.

Pindah. Itu adalah solusi yang diambil ketika saya sudah keterima di UGM, Almas akan lulus SMP dan Luthfan akan lulus SD.

Saya cinta daerah tempat saya dibesarkan, bagaimanapun banyak memori dan perjuangan yang pada akhirnya membentuk saya yang sekarang. Namun saya tidak yakin jika sampai saat ini kami masih berada di sana, hidup kami akan tetap sama. Mungkin tidak hanya kesempatan untuk berkarya yang tinggal mimpi, tapi juga kebersamaan keluarga yang hilang.

Masih teringat di ingatan saya beberapa hari lalu saat ayah mengeluh kenapa banyak sekali aturan resmi hanya untuk menonton orkestra, namun akhirnya beliau datang juga dengan mengenakan batik, dan di akhir acara mengirimkan foto saya yang sedang berdiri di sebelah Addie MS ke semua grup BBM yang dia punya. Masih ingat juga saya saat ibu membelikan kain merah untuk dress saya dan panik saat penjahitnya tutup. Saat ibu marah-marah saya pulang malam sehabis latihan dan Almas pun begadang berminggu-minggu, namun setelah itu beliau membuatkan susu hangat untuk kami.

Without words, we make them proud.

Pertunjukan bukan hanya sekedar ajang pembuktian. Dia adalah kesempatan. Dia adalah irisan.

Untuk kita, keluargaku. Kepada kalianlah pertunjukan ini kami persembahkan.

1044932_10151467697915404_1941959428_n

Foto diambil oleh Joy Photography

pameran-tugas-akhir-ocean-dreams-smsr-yogyakarta-mimpi-harus-seluar-samudra4_thumb

Foto diambil dari jogjanews.com

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s