Inner Thought

Ngopi: Lifestyle Alternatif Masyarakat Urban sampai Pedesaan


Jika ada ucapan ‘In Jogja, everyday is a holiday’ terceletuk dari salah seorang teman atau kerabat yang baru mengunjungi kota gudeg ini, maka cobalah untuk sedikit percaya. Kultur bersantai sudah semacam jadi roh di sini, bahkan bagi para workaholic yang (walaupun tetap sambil bekerja) ingin melepas penat di sudut kota. Coffee shop jadi pilihan yang tepat untuk ini.

Jum’at malam. Weekend dimulai lebih awal dengan hujan yang berhenti di awal malam, mempersilakan lalu lintas yang relatif lebih lengang. Iseng-iseng saya mampir di Philokopie, sebuah coffee shop baru, tepat di pinggir Jalan Kaliurang. Seperti tipikal coffee shop pada umumnya, tempat yang saya datangi ini didominasi dengan pencahayaan kuning yang hangat. Ruangan smoking dan non-smokingnya terpisah. Di dindingnya terlukis karikatur eye-catchy dengan rak penuh majalah sebagai artribut tidak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat informasi.

Saya membuka menu, menimbang dan memilih. Pada akhirnya satu jenis kopi yang jadi pilihan saya waktu itu saya tuliskan di order list. Namun alih-alih langsung membuatkan kopi, saya malah didatangi langsung oleh baristanya.

 “Maaf mbak,sebelumnya sudah pernah pesan machiatto?” barista berjilbab itu bertanya dengan hati-hati.

“Belum. Kenapa?” aku mendongakkan kepala, kaget tiba-tiba diajak berinteraksi.

“Sudah tahu komposisi machiatto?”

Aku mulai menebak arah pembicaraan ini.

“Kalau yang saya baca dari menu sih satu shot espresso + foam susu.”

“Cuma mau ngingetin aja, espresso lebih kuat daripada americano, Mbak. Jadi kalau belum terbiasa dengan kopi hitam, kadang agak kaget.”

Ku lirik menu sekali lagi. Informasi singkat yang berhasil ku tangkap dengan skimming kira-kira begini:  Espresso adalah hasil ekstrak bubuk kopi menggunakan air panas di bawah tekanan tinggi. Secara teknis, espresso diperoleh ketika air disemburkan melewati 7-10 gr kopi bubuk pada temperatur 90 C/ 190-197 F dengan tekanan 8-10 atmosfer. Untuk mempermudah, seorang teman pernah mengatakan, espresso ini biangnya kopi. Jadi efeknya mempercepat detak jantung akan sangat kerasa.

“Saya penasaran aja sih. Biasanya pesen latte atau cappucinno. Tapi sekarang lagi pengen yang beda aja.”

“Oh gitu. Berarti nggak masalah sama yang kental?” dia memastikan dengan hati-hati, setelah prediksinya bahwa aku bukan penikmat kopi hitam terbukti.

“Menurut mbak gimana nih?”

“Kalau temen saya sih, minum americano aja udah ‘ketendang’ banget”

Barista itu tertawa renyah. Aku melirik laptop dan ranselku yang menggembung.

“Memang lagi butuh ‘ditendang’ nih Mbak kayaknya. Macchiatonya tetep ya.”  Aku tersenyum seiring barista perempuan itu mengangguk dan menghilang lagi di meja kerjanya.

Interaksi singkat yang terjadi antara barista-pelanggan yang acap kali terjadi di sudut coffee shop seperti ini adalah yang membuat unik, sebuah lifestyle yang dikonstruksikan oleh komoditas. Entah karena Indonesia merupakan penghasil kopi ke-3 terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam, atau karena industri gaya hidup sudah mulai masuk sebagai penetrasi khas di bagi masyarakat urban. Bisa jadi keduanya. Yang pasti, ada sebuah tuntutan untuk mengenal dan merasakan langsung suasana bersantai di ruangan nyaman, musik yang menenangkan, dan teman yang menyenangkan. Karena walaupun tanpa kopi, coffee shop tetaplah menjadi tempat nongkrong yang asyik. Di sini kopi sudah beralih bukan lagi sebagai produk, tapi sebagai atmosfer.

Jika diibaratkan dengan lingkaran, menurut saya kopi itu memiliki dua lingkar: pertama sebagai benda material, kedua sebagai katalis sosial. Sebagai material yang secara biologis dapat membuat kita terjaga, kopi memiliki khasiat menghilangkan pegal-pegal setelah terlalu lama bekerja, menjauhkan depresi, bahkan mencegah berbagai penyakit kronis. Sementara itu, sebagai katalis sosial, kopi berperan untuk menjadi pelumer dalam interaksi sosial dalam masyarakat urban yang sudah semakin sibuk ini. Interaksi barista tadi dengan saya di awal tulisan ini langsung knocking the right door untuk contoh lingkaran kedua ini.

Kultur ngopi jadi tidak terpisahkan dari mulai sudut pedesaan sampai perkotaan. Seorang teman bercerita tentang pengalaman KKN (Kuliah Kerja Nyata)nya di Temanggung, Jawa Tengah. Petani biasa menggelar biji kopi hasil panen di tengah jalan aspal agar terpapar panas matahari,  untung-untung terlindas ban kendaraan yang lewat sehingga proses pengelupasan kulit jadi tidak susah lagi, lalu menyeduh kopi hitam setelah makan siang bersama-sama di sawah. Gotong royong. Sementara itu di Bangka Belitung tempat saya tumbuh besar, warung kopi malah jadi satu tempat break di pagi hari sambil menunggui istri berbelanja di pasar, atau sambil menonton berita pagi sambil menyapa tetangga jauh. Warung kopi jadi simbol percampuran etnis Melayu dan Tionghua yang rukun hidup berdampingan. Merakyat.  Nun jauh di sudut perkotaan di sini, pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, dan pebisnis berkelas mengekstraksikan ide sambil menghirup tajamnya aroma kopi dan lembutnya busa yang digemari sebagai latte art. Garis merahnya satu, pertemuan.

Di Yogyakarta, alih-alih Starbucks atau Coffeebean yang relatif eksklusif, bisa kita temukan coffee-shop ala anak muda sebagai simbol lifestyle alternatif. Pelanggan yang menggunakan ruang dan suasanan untuk meeting, mengerjakan tugas, bertemu teman lama, atau sekedar newbie yang ingin coba-coba. Uniknya, keberadaan coffee shop tidak lantas menggeser angkringan kopi tradisional khas, kopi joss! Tanpa komposisi rumit seperti espresso ditambah foam susu jadi macchiato, kopi joss hanya dibuat dari kopi bubuk, gula, diseduh air mendidih, lalu dicelupkan bara arang panas. Konon nama kopi joss ini didapat dari bunyi mendesis pada kopi saat dicemplungkan arang panas. Joss! Rasanya yang khas dan suasana malam di sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta yang temaram jadi daya tarik tersendiri tidak hanya untuk turis, tapi juga untuk anak muda Yogyakarta yang sedang tergila-gila gaya hidup anti-mainstream. Terlebih bagi yang menganggap interaksi yang digelar di atas selembar tikar pinggiran jalan itu lebih bikin ‘plong’ dibandingkan yang terhalang meja dan kursi.

Yang manapun, pastinya visualisasi kopi tidak lagi terbatas pada biji hitam dengan ceruk tengah yang dalam. Ada kopi, ada suasana, hukum ini berlaku di mana saja. Lalu secangkir kecil macchiato-ku datang. Aromanya tajam, permukaannya kental. Tegukan pertama, Deg! Sepertinya ada yang tidak tidur malam ini.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s