Inner Thought

Strangers, (not) again?


Seperti biasa, tengah malam adalah momen magis untuk menangkap inspirasi yang bertebaran di udara. Pemanasan untuk menulis sebuah naskah yang masih rahasia (kekekekek) yang saya pilih di iTunes adalah playlist Ada Band. Kenapa Ada Band? Karena mereka kebetulan Ada aja tuh di folder lagu lama di laptop saya.

*ngloyor makan rambutan*

Kenapa rambutan?

Ya karena mereka ada aja tuh di kulkas.

Bok lanjut bok, lo mau ngomong apa. *suara ghoib*

Jadi ketika saya sedang membuka ms. word untuk menulis, kemudian buka Fb lalu chat dengan seorang teman, lalu buka blog saya nggak kuat nggak buka postingan terbarunya Faelasufa karena judulnya catchy “Strangers, again

Sudah hampir setengah tahun tidak bertemu seorang sahabat yang sedang berada di negeri sakura ini. Saya rindu duduk menunggu maghrib di kampus yang mulai sepi, berbicara tentang kepastian dan ketidakpastian bersamanya. Kami kadang-kadang punya sudut pandang yang jauh beda, tapi entah mengapa selalu terkoneksi, terutama lewat filosofi.

Tapi saya yakin Faela pasti setuju dengan pendapat saya kali ini, bahwa stranger atau orang asing itu sebenarnya adalah kita sendiri. Tidak percaya? Coba pergi ke setting sudut kanan halaman Twitter anda, lalu coba aplikasi download Twitter archieves. Baca semua twit anda dari awal sampai sekarang. Teman-teman (termasuk saya) sudah melakukannya dan berefek samping pipi panas, nafas terengah-engah menahan tawa, mulut kejang mengumpati tingkah laku di masa lalu yang terarsip dengan rapi.

Pada saat itu kita rasanya tidak mengenal diri kita sendiri, bukan? Padahal baru berapa tahun sih ‘kita’ yang di arsip itu menjalani hidupnya yang penuh ketidakpastian? Dan rasanya kok, ya ampun, I felt like seeing a stranger.

Padahal coba dibalik. What if the person from years ago you see by now, is seeing you?

Kalau saya yang baru kelar ospek dan dengan semangat maba yang obsesinya pengen dapet nilai bagus, ngeliat saya yang sekarang lagi digantungin judul skripsinya sama jurusan tapi cuma bisa ketawa-ketawa aja, apa nggak stress dia?

Kalau anda yang sekarang, ngeliat anda yang seminggu lagi melakukan hal yang bahkan tidak punya ruang untuk terpikirkan samasekali di pikiran anda detik ini, apakah anda akan merasa melihat seseorang yang asing?

we are stranger for ourselves, my friend.

Terlebih perkara perasaan. Kemarin ketika kita merasa sangat into something, or into someone katakanlah. Lalu karena prinsip atau pilihan lalu kalian meninggalkan apa yang sudah membuat sesak tersebut. You thought you’ll be suffer as hell, but hell, you never know that you are more than okay. Bahkan lebih bahagia dari biasanya. Berarti tidak ada yang salah dengan menjadi stranger bagi masa lalu kita sendiri, bukan? Toh masa yang sekarang pun sebentar lagi juga akan menjadi masa lalu.

Bung, tidak hanya hidupnya makhluk antar dimensional yang bergerak melintasi kecepatan cahaya. Hidup kita juga.

Karena itu, biarkanlah. Perasaan apapun yang kamu punya, dengarkanlah. Lalu bijak-bijaklah bernegosiasi dengannya. Jika kamu ingin menyukai, sukailah. Jika kamu ingin membenci, bencilah. Jika kamu ingin memberi, berilah. Jika kamu ingin mengagumi, kagumilah. Jika kamu ingin bersyukur, syukurilah. Jika kamu ingin marah, marahlah.
Asal kamu bisa memberikan alasan kepada ‘orang asing’ di masa depan yang akan berdiri di sana dengan wajahmu, badanmu, dan suaramu, mengapa kamu berhak mempunyai dan mengekspresikan perasaan tersebut.

Agar nanti kamu bisa jadi not too stranger, again, to your future self.

“Karena kita tidak bisa memaksakan hal sesakral perasaan. C’est la vie.”

Singkat dan padat. Begitu katanya Faela.

Well, pola yang sudah sangat familiar bagi generasi Y alias generasi milenium yang lahir antara tahun 1977-1997. Distraksi virtual. Hukum dasar internet: one leads to another. then you already gone too far to go back.

Sepertinya malam ini lembaran calon naskah saya harus menunggu lagi.

Advertisements
Standard

One thought on “Strangers, (not) again?

  1. Shof, kalau gitu, gimana dengan ada orang yang bisa menikah puluhan tahun tanpa merasa menjadi strangers to each other? Padahal, mereka sama-sama berubah setiap tahunnya.

    In my case, I’m pretty sure dia orang yang berubah kok. Bukan sebaliknya #curcol lol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s