Short Stories

Matahari yang Setia Menunggu Rembulan


Kamu cuma tau, ada yang salah. Bukan berarti kamu harus selalu melawan sampai titik darah penghabisan. Itu hanya berlaku pada peperangan. Kali ini bukan. Cuma tentang cinta yang jauh, lalu runtuh. Kadang, takdir menempatkan kita pada pilihan tunggal, menunggu.

Di kota ini aku biasa duduk menunggui senja. Di kotamu, kamu biasa terjaga menanti pagi. Kita sudah lama begini. Mengabsorbsikan pagi dan senja dalam intensitas yang sama. Menakar rindu di garis cahaya. Di tempatmu siang, di tempatku malam. Kita bertemu di tengah, sebelum kamu tidur dan setelah aku bangun. Mengembara ke setengah belahan dunia yang berbeda.

“Kuncup Bunga Matahari itu selalu menghadap ke arah matahari. Pagi-pagi dia nungguin ke arah timur. Kalau matahari di langit sudah muncul, bergerak ke arah barat, kuncup bunganya juga ikutan gerak mengarah ke barat. Dia setia nungguin dan ngikutin. Indah kan?” Jelasmu dulu.

“Memangnya akan selalu begitu?” tanyaku.

“Nggak juga sih. Kalau sudah sempurna mekarnya biasanya mereka sudah kehilangan kemampuan untuk mengikuti arah matahari. Sudah nggak setia lagi. Haha. Bedanya sama kamu, makin dewasa kamu makin setia.” Candamu sambil menepuk kepalaku.

Aku cuma tertawa.

Bagimu, Bunga Matahari berarti pekerjaanmu. Penelitianmu. Mimpimu.

Bagiku, Bunga Matahari berarti tiga hal. Pertama, namaku. Kedua, sepetak tanah di depan rumah yang kamu tanami dengan gerombolan bunga matahari. Ketiga, lambang Kansas, negara bagian Amerika Serikat dimana kamu melakukan penelitian untuk Museum Ilmu Pengetahuan Smithsonian. Territori yang telah merampas kamu dari aku sejak 5 tahun yang lalu.

“Mentari, besok aku akan ke Buenos Aires! Ada professor yang menginginkan aku dalam timnya. Penelitian tentang fosil purba kluster Asteraceae ini akan jadi puncak karirku. Bunga matahari, Mentari, Bunga Matahari!” rentetmu histeris setengah tahun yang lalu.

“Di Argentina kamu akan tinggal berapa lama?” susah payah ku telan firasat tidak enakku.

“Belum tahu. Aku akan mentap di daearah utara Patagonia, wilayahnya di tengah hutan. Fosil yang akan kami cari nanti diprediksi akan berada di sepanjang sungai… sungai apa ya, aku lupa namanya! Nanti aku kabari lagi. Sekarang professorku menelfon.” Kemudian Skype kita diputus.

Sungai Picheleufu. Tidak perlu kau beri tahu, aku akhirnya tahu sendiri. Dan aku tidak akan pernah lupa namanya. Nama sungai yang sudah seminggu ini diberitakan karena ada salah seorang tim peneliti yang terpeleset saat mengambil sampel batuan tempat fosil bunga matahari purba dideteksi, lalu terseret arus dan belum ditemukan sampai sekarang.

Sekali lagi, matahari merebutmu dariku.

Chandra. Namamu berarti bulan. Kita seharusnya tahu dari awal, Selama masih hidup di bumi, mentari dan bulan tidak akan pernah bisa bersatu. Yang bisa kita lakukan hanya memandangi cakrawala, menitip rindu. Kadang ia terselip di perpaduan gelap dan terang di ufuk pagi dan senja.

Di sepetak tanah tempat Bunga Matahari yang kau tanam itu berada, sebelahnya kini ku tanami dengan Bunga Wijayakusuma. Bunga yang hanya mekar di waktu malam. Bunga yang jadi simbol kehidupan. Bunga yang jadi nama belakangmu. Chandra Wijayakusuma.

Dalam legenda perwayangan, Bunga Wijayakusuma digunakan untuk membangkitkan orang mati. Ah, aku tak yakin apa yang ingin aku bangkitkan bahkan ketika kamu mati atau tidak pun aku tak tahu. Mungkin kenangan tentangmu. Ada legenda lama yang bercerita bahwa matahari dan bulan saling jatuh cinta. Kita hanya dua orang yang bertentangga sejak kecil, yang kebetulan dinamai seperti benda langit. Yang menyatukan kita hanya kecintaan pada bunga.

Aku cuma ingin bunga mataharimu punya teman. Biar mereka bergantian menjaga satu sama lain saat siang dan malam. Setidaknya kalau kita tidak pernah bersisian, biarlah bunga kita yang mekar bergantian.

Tim SAR bergerak gencar. Hutan Patagonia jadi sorotan berita internasional. Dunia penelitian sedang dirundung duka. Keluargamu berangkat kesana. Ingin rasanya aku ikut. Hanya saja seorang gadis yang duduk di kursi roda sejak lahir ini mungkin malah ikut tersesat di hutan belantara, terperosok di sungai yang penuh piranha. Semakin menyulitkan lagi. Biarlah ku titipkan doa. Juga bunga Wijayakusuma.

Siapalah aku. Hanya Matahari yang setia menunggu kabarmu.

PS: Cerpen ini ditulis sambil mendengarkan lagu “Surya Kembara”-nya @TheEverydayBand disini http://www.reverbnation.com/theeverydayband. Terimakasih atas karya yang melahirkan inspirasi untuk karya lainnya! 🙂

Advertisements
Standard

4 thoughts on “Matahari yang Setia Menunggu Rembulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s