NUS, TF LEaRN Programme

TF LEaRN Programme @NUS – Semester 1 AY 2012/2013


Program pertukaran pelajar satu semester di National University of Singapore yang saya ikuti ini akhirnya selesai. Saatnya mewrap-up apa saja yang sudah saya dapatkan selama disana.

1. Wrap-up program

Program ini adalah program rutin yang dibiayai Temasek Foundation, sebuah perusahaan Singapura yang bergerak di bidang investasi, khususnya di Asia. LEaRN sendiri adalah kepanjangan dari “Leadership Enrichment and Regional Networking”. Bekerjasama dengan universitas-universitas besar, 35 mahasiswa undergraduate yang lolos seleksi mendapatkan kesempatan belajar di 3 universitas besar di Singapura, yaitu: NUS, NTU, dan SMU. Tidak hanya mengikuti perkuliahan yang bisa ditransfer kredit, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan community service di NGO lokal, leadership camp yang fun, kunjungan ke perusahaan-perusahaan besar di Singapura termasuk CapitaLand dan Singapore Airlines, serta terlibat dalam proses persiapan ASEAN Learning Journey, sebuah simposium internasional yang menghadirkan keynote speaker ternama termasuk duta besar negara-negara ASEAN.

Image

Untuk ini semua, setiap peserta mendapatkan funding sebesar SGD 6000. Kalau bisa berhemat malah bisa dipake buat travelling around lagi.

Cara daftarnya? Karena program ini basisnya adalah kerjasama universitas, coba cek ke Kantor Urusan Internasional (KUI) universitas masing-masing. Siapa tahu universitas kalian masuk di list yang eligible sebagai partner TF LEaRN. Kalau saya di UGM, pendaftarannya bisa dari 2 jalur: KUI sama PSSAT (Pusat Studi Asia Tenggara). Kebetulan karena saya dulu pernah kerja di PSSAT, saya milih seleksinya dari sana. Basic requirement untuk program ini adalah sebagai berikut:

  • Latest transcript in English (minimum GPA 3.25)
  • Copy of TOEFL certificate with minimum score 570 (paper based), 237 (computer based) / or IELTS 6.0
  • Copy of your CV
  • Letter from your faculty stating that you are currently  top 5 / top 10 students in your major
  • 200 words essay of “Why do you deserve to be in TF LEaRN Programme”
  • Copy of your passport

2. Wrap-up universitas

Universitas yang mendapatkan 23rd position dalam jajaran World Reputation Ranking ini memang jadi daya tarik sendiri bagi pelajar di seluruh dunia. National University of Singapore ini punya dua kampus, satu terletak di Kent Ridge, satu terletak di Bukit Timah. Kampus saya di Faculty of Art and Social Science itu di Kent Ridge. Luaaas sekali daerah kampusnya, juga berbukit-bukit terjal. Jangan khawatir, sistem internal shuttle busnya sangat efisien. Meski kadang-kadang di peak hour antrian bus jadi padat sekali. Jadi kalau nggak datang lebih awal kemungkinan bisa terlambat.

75144_4582063277712_1018330696_n

Ada beberapa spot yang bikin saya betah banget tinggal di lingkungan kampus. Ini dia!

  • Perpustakaan

Hebat kalau nggak berdecak kagum liat perpustakaannya. Bangunan 5 tingkat ini koleksinya lengkap, fasilitasnya nyaman, tata letaknya apik.  Dengan akses nomor mahasiswanya, kita bisa akses buku, artikel, jurnal, bahkan disertasi global yang konon susah banget carinya kalo di Indonesia. Jadi kalau exchange kesana, manfaatkan kesempatan buat download materi sebanyak-banyaknya. Apalagi kalau sudah mau skripsi.

Selain itu disana juga ada Writing and Communication hub, yaitu tempat dimana kita bisa konsultasi paper dan presentasi dengan tutor-tutor yang disediakan secara free. Asal dari awal kita booking dulu secara online.

  • The Deck

Kantin FASS yang bernama “The Deck” ini nggak pernah sepi. Selain karena murah, pilihannya banyak! Mulai dari Japanese, Western, Malay, Chinese, Indian, Indonesian cuisine, sampai junk food seperti Burger King ada disana. Oh iya, kalau Muslim jangan khawatir kok, ada beberapa stall seperti Malay, Indian, Indonesian, bahkan Western yang punya sertifikasi halal. Beda sama di luar kampus yang lebih limited pilihan halal foodnya.

Kalau mau sholat juga memang nggak ada spot kayak mushola yang di kampus-kampus Indo pasti jadi tempat wajib. Tapi kalau jalan dikit dari The Deck ke arah AS 6, naik lift ke tingkat paling atas, di sudut tangga darurat paling atas itu ada spot sholat yang biasa digunakan Muslim untuk beribadah.

  • NUS Museum

Jauh dari kata membosankan.  Itu dia. Museum yang terletak di dalam kampus ini sering mengadakan ekshibisi yang promosinya disebarkan secara online via email mahasiswanya.

  • UCC

University Cultural Centre biasanya digunakan untuk wisudaan atau pementasan cultural dan musikal. Di dekatnya ada ada Yong Siew Toh Conservatory Music, yang hampir setiap minggu akan ada free performance mulai dari resital sampai konser. Rajin-rajin update infonya aja.

  • Recreation Centre

Fasilitas olahraga mulai dari kolam renang ukuran olimpiade, gym, serta lapangan indoor untuk berlatih yoga, judo, capoeira, dan teman-temannya tersedia disini. Free access untuk students.

3. Wrap-up asrama: University Town

University Town adalah kawasan yang baru dibangun dalam dua tahun terakhir untuk tempat tinggal akademisi NUS. Ada beberapa residential college disini. Termasuk Cinnamon, Tembusu, Angsana, Khaya, Graduate Residence. Selain di UTown, residential college lain ada lagi yang berstatus hall di luar UTown, bedanya disana sistem untuk tinggal disana harus ngumpulin poin CCA alias kegiatan organisasi mahasiswa. Jadi kalau nggak aktif, bisa dikick out!

Residential college tempat saya tinggal, Cinnamon, dikenal juga dengan University Scholar Program (USP). Jadi ini semacam program khusus untuk orang-orang terpilih yang nanti lulusnya under NUS – USP program. Selain ambil kelas di fakultas masing-masing, mereka harus ambil kelas tambahan yang ditawarkan oleh USP, yang kuliahnya diadakan di asrama. Professor-professor tinggal bersama dengan mahasiswa disini. Tidak jarang kami makan bersama, bahkan mengorganize pesta bersama.

Image

Di asrama yang terdiri dari 21 lantai ini saya mendapatkan kamar tipe apartment, yang mana setiap apartment terdiri dari 6 kamar. Fasilitas dapur, laundry, ruang belajar termasuk di dalamnya. Bahkan di lobby juga ada piano cantik buat dimainin kalau lagi bosan.

Tinggal disini sudah seperti kota kecil sendiri. Kalau bosan di asrama, jalan sedikit ke luar ada UTown Green, lapangan yang sering digunakan untuk olahraga, main frisbee atau bola. Di depannya ada Starbucks yang harganya diskon buat mahasiswa juga. Auditorium mirip bioskop yang sering dipakai buat nonton bareng. Kalau lapar atau butuh belanja, Cheers dan Koufu selalu jadi penyelamat. Ada juga PC & Mac Common, ruang komputer yang kalau masuk kesitu, aura belajarnya intimidatif sekali. Haha. Ya, memang UTown adalah tempat yang sangat kondusif untuk belajar. Pernah saya baru balik jam 3 pagi, dan orang-orang masih pada belajar.

Sayangnya dengan fasilitas selengkap ini, biaya untuk tinggal di UTown memang paling mahal. Uang beasiswa langsung tersita setengahnya untuk biaya tempat tinggal selama satu semester, beserta meal plan. Jatah meal plan adalah sarapan dan makan malam setiap weekday, dan sarapan untuk Sabtu, serta makan malam untuk hari Minggu. Bahkan untuk makan pun ada sistem online yang merecord sudah berapa kali kamu ambil makan. Kalau terpaksanya kita skip makan, jatahnya bisa didobel di lain waktu kok, jadi bisa dimasukin ke lunch box buat makan siang, atau buat nraktir temen luar buat makan di dalem asrama.

4. Summary sistem perkuliahan

Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Hokkien, kiasu, yang artinya takut mati. Kiasuism di Singapura memang bukan lagi sekedar kata, ia sudah menjadi tradisi. Setiap orang takut kalah. Karena itu mereka harus berlomba untuk jadi juara, pantang tertinggal. Itu yang bikin mereka selalu belajar. Bahkan di masa ujian, sampe ada yang bawa sleeping bag ke perpustakaan coba. Haha. So if you’re not adapt kiasuism, you’re dead! Gitulah kira-kira.

Kelas dibagi menjadi seminar class sama tutorial class. Untuk kelas seminar lingkupnya besar, ada yang direkam juga kelasnya jadi kalau mau nonton lecturing lagi tinggal akses webcast di IVLE. IVLE ini adalah kepanjangan dari Integrated Virtual Learning Environtment. Kalau di UGM, e-Lisa, semacam portal online yang semua kegiatan akademik bisa dipantau disana. Bedanya, kalau e-Lisa masih di tahap sosialisasi dan maksimalisasi penggunaan, IVLE sudah well-establish banget. Semua lecturing notes, jurnal dari dosen, forum diskusi, tugas, hasil tutorial, sampai hasil ujian masuk sana.

Sementara untuk kelas tutorial, dibagi jadi kelas-kelas kecil dengan format FGD. Sebelum kelas sudah dikasih reading material. Saran saya, bacalah dengan tekun. Karena di kelas kita sudah nggak lagi membahas apa isinya, tapi sudah diskusi untuk mengkritisi isi bacaan. Jadi ketauan banget siapa yang belajar siapa yang enggak.

Karena saya anak art, basisnya memang di tulisan. Untuk menghindari plagiarisme, NUS puna sistem plagiarism detection. Sebelum disubmit online, paper harus discan dulu lewat sistem ini. Kalau presentasi plagiarismenya di atas 20%, stop! Lebih baik direview ulang ketimbang diblacklist

.Image

 

Itu dulu tentang TF LEaRN yang bisa saya ceritakan. Posting lainnya menyusul.

Banyak yang bertanya, “why Singapore? Isn’t it too near? Isn’t it the same?”

Jawaban saya selalu sama, “because it’s NUS!” dan mengutip kata-katanya temen saya Lilian Wong, “it’s not only about Singapore, but also about Indonesia, Malaysia, Brunei, Philippines, Laos, Thailand, Vietnam, Cambodia, India, Japan, Korea, and China.”

Memang seperti itu adanya.

At first you might think it is a regional networking. But further, you’ll understand, it’s the borderless friendship and once in a lifetime experience that worth all times and efforts.

Image

Advertisements
Standard

6 thoughts on “TF LEaRN Programme @NUS – Semester 1 AY 2012/2013

  1. Jawahirul Mahbubi says:

    Kak Sofi mau tanya. . sbnarny SGD 6000 itu buat apa? tuition feeny byar? is there any additional cost to be borne personally?

    • itu total keseluruhan beasiswa yang dicover sama Temasek Foundation. sudah termasuk tuition fee, jadi kita nggak perlu bayar lagi. tapi semua kepentingan kita yg atur sendiri, mulai dari dormitory, meal, transport, books. so if we manage it properly, there would be no additional cost. unless the desire to shop is that high, which is the highest temptation in Singapore. haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s