Inner Thought, Short Stories

Cerpen: Ninggar


Di teras rumah, Ninggar memandangi jalan aspal yang mulai basah kena gerimis. Papa Huat sudah pergi lima menit yang lalu. Naik ojek dari Tanjung Balai Karimun, lanjut naik ferry ke Singapura lewat HarbourFront. Ninggar sudah tiga kali kesana, ke tempat Papa Huat kerja. Setahun sekali, setiap hari ulang tahunnya. Tempat kerja Papa Huat terletak di bagian utara Singapura, dekat sekali dengan perbatasan ke Johor, Malaysia. Setiap malam ulang tahunnya Ninggar dibawa kesana, melihat pinggiran kota dari Woodland Waterfront. Berdiri di jembatan tua, memandangi lampu-lampu kecil di ujung pantai yang berkerlip jingga. Kota ini kuemu, lampu-lampu disana lilinmu, kata Ibu Lia. Maka Ninggar meniupnya dengan sekuat tenaga sampai pipinya bersemu. Lalu mencuri pandang ke Papa barunya malu-malu.

Ninggar dan Ibu pindah ke Karimun tiga tahun yang lalu. Tahun 2006, usia Ninggar 10 tahun.

“Mbak, sekarang kita bisa tinggal sama-sama. Di Kepulauan Riau. Bulan depan kita pindah dari Jawa.” Begitu isi surat yang sampai ke mbah puteri. Lia selalu memanggil Ninggar dengan sebutan ‘mbak’ walau dia adalah anak tunggal. Melatih tanggung jawab biar ngayomi yang lebih muda, katanya. Ibunya sudah nikah lagi sama Cina-Melayu dari Singapura. Begitu kata tetangga.

Ketika berumur 2 tahun, teman-temannya belajar memanggil bunda, Ninggar mendengar tetangga mereka memanggil Lia janda. Ayah yang hanya diingatnya lewat foto di pigura meninggal waktu krisis orde baru. Mei 1998. Toko-toko dibakar, semua orang diPHK, termasuk ayah yang cuma jadi buruh kasar. Luka bakar karena terkena serpihan api dari amukan massa membuat kondisi ayahnya memburuk, hingga akhirnya pergi selamanya di sebuah sore hening saat Ninggar melihat Lia menangis sampai meraung-raung, untuk alasan yang saat itu dia tidak tahu mengapa.

Bukan main susahnya Lia, waktu itu. Bayinya butuh dihidupi, tulang punggung yang jadi sandaran finansial sudah tiada. Ninggar segera disapihnya, lalu dengan hati remuk redam Lia bergabung bersama ratusan wanita lain yang dikirim ke Singapura untuk bekerja menjadi pekerja domestik.  Setelah itu Ninggar dititipkan di rumah mbah puteri di Ambarawa.

5 tahun selanjutnya hanya surat-surat dan omongan tetangga. Dulu mereka memanggil ibunya janda, sekarang tuna susila. Begitu yang Ninggar dengar. Entah apa artinya. Waktu itu dia baru mau masuk madrasah. Di pelajaran pertama Bahasa Indonesia Ninggar menanyakan kosakata yang berbulan-bulan mengisi kepalanya itu. Ustadzah hanya balik bertanya, dimana ia mendengar kata itu. Ninggar tidak menjawab. Di akhir kelas Ustadzah mendekatinya sendirian, berusaha menjelaskan sesuatu yang bisa dipahami oleh seorang anak yang berusia 7 tahun. Satu hal yang Ninggar tangkap dari cerita panjang itu: wanita nakal yang akan masuk neraka. Ninggar tau ia tidak sepantasnya menangis di hari pertama sekolah. Tapi hari itu, ia meraung-raung, persis Lia di sore hari yang diingatnya itu.

Sekarang Ninggar sudah 13 tahun. Sudah mengerti lah ia cerita lengkapnya.

Lia dulu bekerja jadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Cina di Singapura. Sadis benar perlakuan yang diterimanya, terlambat 5 menit pun bisa hilang seluruh waktu istirahatnya. Waktu sholat tidak diberikan. Lia disuruh masak babi, dan itu adalah menu satu hari. Alhasil sering kali dia cuma bisa makan nasi putih lauk garam.

Tidak tahan, Lia mengakhiri kontraknya dengan agen tenaga kerja. Masalahnya ia jadi harus membayar denda dan semua gajinya ditahan untuk membayar denda tersebut. Ia pun masih tetap harus membayar hutang. Ada yang bilang jangan pernah mengambil keputusan di tengah keputusasaan. Tidak berlaku untuk Lia. Keputusannya untuk bekerja di rumah bordil di Batam dengan cepat memberikannya kemampuan untuk melunasi hutang.

Namun masalah baru timbul. Tidak semudah itu masuk lalu keluar dari lingkaran rumah bordil. Ia punya Mami, jahat sekali. Perempuan itu tahu bahwa pekerjanya tidak punya skill lain yang bisa dijual selain badan. Tapi ia kurang memperhitungkan keberanian Lia, naluri seorang ibu yang terseok-seok demi mempertahankan agar anaknya bisa hidup.

“Saya memang ndak berpendidikan. Tapi saya ngerti prostitusi itu ilegal! Laporkan sana saya ke polisi, saya ndak peduli! Sak karepmu! Biar sekalian kamu ditangkap, setan!” jerit Lia sambil membanting pintu setelah Mami menjambak rambutnya dan mengancam mau melaporkannya ke polisi kalau dia kabur. Mami menjerit, dua jarinya terjepit sampai kukunya lepas. Lia berhasil kabur. Dalam keremangan semua penghuni rumah bordil mengidolakan Lia dan berharap suatu saat mereka bisa melakukan hal yang sama. Meretas jari-jari setan perempuan bertitel Mami itu sampai lepas satu-satu, menggunduli rambutnya, dan menyudut kemaluannya dengan putung rokok. Biar dia tahu rasanya dipaksa melayani belasan bahkan sampai puluhan klien dalam sehari.

Singkat cerita Lia memanfaatkan jaringan klien yang dikumpulkannya selama bekerja dengan Mami. Ia memilih siapa saja yang disukainya. Ditelusurinya satu-satu, dihubunginya dengan penawaran yang menarik, paket delivery service. Ia dapat ide dari McDonnald. Lia memilih klien yang berbasis di Singapura atau Malaysia, kemudian mendatangi mereka ke negaranya. Biaya perjalanan dan upah ditanggung oleh klien tanpa mengganggu waktu mereka untuk pergi ke Batam dulu, terombang ambing di atas ferry, dan menempuh jalan panjang. Sementara Lia dapat bayaran yang lebih tinggi yang dikumpulkannya demi Ninggar.

Namun bekerja tanpa perlindungan dari Mami ternyata beresiko tinggi. Lia pernah ditangkap polisi. Bisa berharap apa tentang dokumen lengkap dari seseorang yang pekerjaannya tidak dilindungi negara. Waktu kecil Lia bercita-cita jadi bidan. Sekarang dia anggap cita-cita hanyalah cerita manis untuk didengar orang. Begitu pula dengan cinta. Ketika mantan kliennya, Ah Huat menginginkan orang yang bisa dibayarnya untuk mengurusi dia di hari tua, Lia setuju. Mereka menikah. 57 usia suaminya pada saat itu.

Mbah puteri tidak pernah tahu ayah angkat cucunya sekarang lebih cocok untuk jadi kakeknya. Yang dia tahu, Lia sudah dijaga orang. Sama Ninggar juga. Cukup itu dulu.

“Jika dikembalikan ke 11 tahun yang lalu dengan kondisi yang sama, antara meninggalkan kehormatan ibu di mata tetangga atau melihatmu mati pelan-pelan dengan menderita, ibu akan tetap pilih yang pertama. Kamu tahu ibu punya alasan untuk tidak menyesal.” Tutur Lia di satu malam.

Mengertilah Ninggar. Ibunya bukannya tidak punya pilihan, ia hanya sedang melawan ketidakberdayaan.

Pagi itu, sebelum Ah Huat pergi lagi ke negaranya setelah berakhir pekan 3 hari di Tanjung Balai, Ninggar menyeduh kopi O instan untuknya.

“Mendung. Ninggar mau ikut ke pelabuhan. Mau mandi hujan disana.” Gadis itu menunjuk langit sambil loncat-loncat. Nampan stainlessnya berdenting terkena tepi jendela.

No lah. Mandi hujan di pelabuhan. Seperti orang gila. Apa kata tetangga?” Ah Huat menepis tangannya ke udara, mengusir ide liar yang terasa asing itu. Selama dibesarkan, tidak pernah ia lihat anak kecil hujan-hujanan di pelabuhan sendirian. Kecuali gelandangan yang tidak punya rumah. Dia tidak mau orang anggap dia tidak mampu kasih tempat berteduh untuk anak angkatnya.

Ojek datang. Lelaki paruh baya itu pergi. Meninggalkan Ninggar yang di teras, berdiri mematung. Mengucap tipis di bibir kecilnya.

“That’s okay, Papa Huat.  Ninggar tak peduli kata tetangga.”

Lalu sedikit-sedikit hujan turun.

**Singapore 1 Desember 2012.

Tribute to Michele Ford and Lenore Lyons for such an inspiring research. I shoud’ve been studied for scientific exam but I can’t resist from writing fiction. 😛

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s