Inner Thought

Untuk kamu, urusanku yang sudah selesai.


Kurang adil rasanya. Kamu menulis begitu banyak tentang aku, dari mulai yang menggunakan sudut pandang antagonis, protagonis, sarkatis, sampai akhirnya.. statis. Dan satu-satunya balasan tulisanku kepadamu cuma satu postingan blog yang tajam dan penuh amarah disini. Satu setengah tahun yang lalu.

Pertama. Ini adalah permintaan maafku atas sebutan bodoh yang aku cap di keningmu sejak mungkin hampir tiga tahun terakhir. Ini adalah jabat tangan atas berakhirnya pertandingan ego antar dua manusia yang pernah terbentur sampai memar. Ini adalah jalan setapak pertama yang bisa kita lewati bersama dengan tawa lega. Karena mulai saat ini, kamu dan aku akan saling mengenal sebuah urusan yang sudah selesai.

Bukan sebuah denial. Bukan juga sebuah respon yang menurut para ahli psikologis adalah disonansi kognitif. Bukan juga upaya resolusi konflik seperti yang dilakukan praktisi humas demi sebuah nama baik. Yang ini…ikhlas. seperti pidato panjangmu tentang ikhlas di postingan terakhir blogmu ini, yang secara tidak langsung menjadi jawaban Allah yang memantapkanku membooking tiket ke Jakarta untuk #10hourstogetyouback tiga minggu lalu.

Kedua. Maaf aku belum sempat bertemu kamu langsung untuk bercerita tentang dia yang ku cintai. Dia yang memoriku tentangnya berserakan di hampir separuh penjuru bumi. Dia yang harapanku tentangnya akan memenuhi separuh penjuru bumi lainnya. Dia yang, entah mengapa instingku mengatakan, akan mendapatkan restumu (karena kamu selalu bermasalah dengan siapapun yang aku pilih kan, kan?) yang konon belum ada seorangpun yang lolos sertifikasi.

Nanti, suatu saat kalian akan akan aku pertemukan.

Aku dengar kamu baru saja resmi bersama dia yang baru. Aku sudah dengar kamu bercerita tentangnya sepanjang tahun, naluri wanitaku selalu benar, tahu. Apalagi naluriku tentangmu, seseorang yang sudah ku kenal seperti saudara ketigaku. Aku sudah pernah berdoa sama Allah jauh sebelumnya, jika dia adalah yang paling bisa melengkapimu, maka aku memohon supaya kalian bersatu. Aku makin tersenyum saja saat tahu kamu membawanya ke rumahku untuk bertemu keluargaku. Dan malam ini, sebuah pesan BBM yang memberikan kabar bahagia ini menuntun jemariku untuk menulis lagi.

Nanti, suatu saat aku ingin bertemu dengannya. Ingin berterimakasih sudah bersedia menjaga apa yang belum bisa aku jaga.

Ah, dia-dia kita itu. Semoga kita bisa tumbuh bersama mereka sampai akhir, ya..

Ketiga. Semoga kamu dan aku pun tetap masih tumbuh bersama, sampai akhir juga, dengan peran yang berbeda.

Mungkin keterikatan ini memang sulit dipahami orang lain yang baru masuk ke kehidupan kita. Memang bukan perkara mudah mencerna proses 6 tahun ke dalam satu pengertian instan. Banyak yang malah gugur karena kurang siap mental. Memang butuh proses. Seperti kita yang sudah pernah jatuh bangun dalam proses menyakitkan yang panjang, namun pada akhirnya bisa berjalan lagi dengan kadar pengertian yang lebih matang. Aku curiga yang begini itu memang prosedur untuk tumbuh dewasa.

dan aku harus (lagi-lagi) mengutip 500 Days of Summer,

“people change. feeling change. it doesn’t mean that the love once shared wasn’t true and real. it simply just means that sometimes when people grow, they grow apart.”

and we just did!

Keempat. Memang sedang ada empat orang yang terlibat disini. 😛

Dan karena urusan kita yang seperti benang kusut itu sudah selesai. Mari kita berjanji bahwa yang tertinggal dari si benang hanyalah pelajaran.

Kamu pernah bilang. Suatu saat kita akan berbincang riang, bergurau, tertawa lepas, dan tetap saling merindukan dengan kadar yang sama sekali tidak bersifat romansa. Hanya seperti dua orang yang sudah saling mengenal dengan sangat baik. Itu saja.

dan sebuah “cepet pulang, biar kita bisa cerita :)” itu pun sudah cukup bagiku untuk menanti datangnya bulan Desember.

PS: Untuk dia-mu dan dia-ku,

Percayalah. Kalian adalah urusan kami yang tidak ingin kami selesaikan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s