Life Journal, USA

Nostalgia 5 Minggu


John Mayer suatu ketika bilang begini, “when you dreaming with the broken heart. The waking up is the hardest part.”

Bagaimana harus merangkum 5 minggu yang seperti mimpi sangking indahnya, ketika semuanya telah berakhir dengan heartbreaking farewell?

Ini akan jadi sebuah flashback yang panjang…

Minggu pertama.

8 delegasi dari Indonesia (Eric, Abi, Zami, Kak Hasrul, Kak Sasa, Dikara, dan Shofi) mendarat di Indianapolis airport. Dijemput sama Suzy Smith, Mary Spillman, dan Sarah England. 3 orang wanita hebat yang jadi program assistant SUSI New Media and Journalism BSU 2012. Kami betemu 6 delegasi dari Malaysia (Awatif, Aiman, Peter, Nirosha, Audrey, Shiven) dan naik bus 1,5 jam ke Muncie. Memasuki gerbang Ball State University dengan kompak berdecak kagum. Kampus yang keren. Arsitektur yang sederhana namun apik. Jalan yang bersih. Menara bell yang tinggi menjulang. Juga danau yang ada di dalam kampus lengkap dengan taman bunga cantik di sekitarnya.

Kami diantar ke asrama Studebaker West. Disana ketemu 6 delegasi Philippines (Anthony, Matthan, Eduard, Jester, Mimile, Kez). Langsung disambut sama pizza party untuk mengobati kelaparan dari makanan pesawat yang terrible. Kamar dibagi. Lantai 3 for girls, lantai 5 for boys. Saya sekamar sama Shere. View dari jendela kamar kami sangat bagus. Sayang, karena lagi liburan, jadi penghuni asrama nggak terlalu banyak selain anak-anak yang ambil kelas musim panas dan beberapa orang yang ikut summer camp disana.

2 hari pertama adalah untuk orientasi kampus. Kayaknya untuk ngebahas Ball State University aja saya butuh postingan sendiri. Nggak cukup disini sangking amazingnya.

Hari-hari selanjutnya. Masih dengan suasana jetlag. Dan penyesuaian biologis untuk menerima kenyataan bahwa matahari baru tenggelam jam 9.30 p.m., perkuliahan dimulai. Walaupun cuma short course sebulan, ternyata kurikulum yang digunakan sama persis dengan yang diajarkan di Faculty of Communication, Information, and Media di BSU.

Materi yang dipelajari adalah seputar New Media dan Jurnalisme. Untuk amunisi, kami dipinjami kamera Nikon Coolpix, tripod, mega headset, Mac. Juga diberikan handphone Samsung Cricket, Zoom Video Recorder, thumbdrive, dan SD card, FOR FREE!

Nah, dalam materi multimedia reporting, ada beberapa kelas yang kami ikuti. Kelas fotografi oleh Prof. Thomas Price dan kelas interactive design oleh Jennifer Palilonis. Masing-masing peserta wajib bikin akun wordpress baru buat kumpulan tugas yang akan dikasih setiap harinya. Untuk fotografi kami ditugaskan untuk bikin proyek jangka panjang, sebuah foto gallery yang ditampilkan dalam format video Animoto. Kelas interactive design, di sisi lain, menitikberatkan pada seni mendesain sebuah informasi yang kompleks sehingga menarik untuk dibaca lewat chart yang sederhana. Belajar pake Adobe Indesign ini cukup menantang, terutama bagi saya yang bener-bener buta desain. Sementara di kelas teori, Mr. Mike Spillman dengan pengetahuannya yang luar biasa membawa kami menjelajahi materi foundation of new media. Ada juga Nicole Johnson dengan materi leadershipnya yang membantu peserta mengenali tipe leader seperti apa mereka.

Selain itu kami juga bertemu orang-orang pentingnya Amerika. Dibawa ke office-nya mayor Muncie, Dennis Tyler, untuk audiensi. Diskusi jarak jauh via Skype dengan jurnalisnya national Public Radio, Wright Bryan. Serta sebuah sesi makan malam yang meaningful bersama former ABC Goodmorning American news anchor, Steve Bell.

Di minggu pertama ini pun, tugas community service sudah dimulai. Setiap hari kamis peserta dibagi ke dua grup yang akan gantian tiap minggunya. Pertama, ke Second Harvest Food Bank untuk membantu mengemas makanan dari warehouse ke plastik-plastik. Kedua, ke Habitat for Humanity. Turun langsung bikin rumah buat orang-orang yang kurang mampu. Ya, kita ngecat, nukul, dan ngangkat-ngangkat kayu. Dan semua pekerjaan kecil inilah yang berperan besar jadi sesi bounding kami. 20 mahasiswa dari 3 negara, yang sebelumnya nggak kenal satu sama lain.

Weekend pertama tiba.  Free time yang dinanti-nantikan pun tiba. Untuk pertama kalinya kami masuk ke Walmart. Semacam Carefur-nya Amerika, dalam versi yang lebih besar. Shopping! Kalap ketemu barang-barang murah disana, uang cultural allowance minggu pertama pun berkurang dengan sukses. Tapi pas mau beli oleh-oleh, agak kecewa. Mungkin sekitar 70% barang disana made in China. Puas dengan kegembiraan dan kekecewaan sekaligus karena Walmart, kami hang out nonton bioskop. Karena yang 3D agak mahal, saya harus berpuas diri nonton Brave, dan sukses nguap berkali-kali di dalam theater. Bertanya-tanya dalam hati, apa jadinya kalau nonton Abraham Lincoln: Vampire Hunter aja?

Minggu Kedua

Fokus materi praktis minggu kedua masih di multimedia reporting, namun sudah beda bidang. Kami belajar audio-journalism di kelas Prof. Terry Heifetz dan news writing di kelas Prof.  Adam Kuban. Nggak hanya teori, kami benar-benar diharuskan terjun ke medan perang yang sesungguhnya. Mencari berita saat perayaan kemerdekaan Amerika, yang lebih sering dikenal dengan 4th of July.

Libur nasional 4th of July. Kami berangkat ke Minnetrista, sebuah lapangan besar yang biasa digunakan untuk event kultural. Mirip-mirip alun-alun kidul lah kalau di Jogja. Disana keluarga-keluarga piknik di hamparan rumput, menikmati matahari sore sambil makan dan main frisbee. Kami juga nggak mau kalah. Makanan enak-enak dan es krim home made yang dibawa Suzy dan Mary habis dalam sekejap. Setelah itu baru hunting, cari foto, video, audio, dan interview orang-orang disana. Challenging. Ada yang merespon dengan welcome, sempat juga ditolak dengan jutek. Bagian yang tidak terlupakan hari itu adalah fireworks yang jadi puncak acaranya. Indah sekali. Itu adalah fireworks paling meriah yang pernah saya saksikan so far.

Weekend kedua ini kami semua berpencar. Sesi host-family dimulai. 2-4 orang akan tinggal bersama dengan satu keluarga. Saya dan Kak Sasa dapat kesempatan tinggal di rumah keluarga Robinson. We were really, really, had a great time there! Sayang waktunya hanya dua hari.

 

Minggu Ketiga

Memasuki minggu ketiga, materi kuliah sudah mengarah ke ranah politik dan etis. Diskusi Media Law and Ethic dengan Prof. Gery Lagnosa. Dan dibikin mikir berat tapi seru oleh Prof. Brandon Waite di kelas U.S Political dan History. Mulailah bermunculan esai-esai kritis yang harus diupload ke website setiap sesinya. Sementara di kelas praktis untuk multimedia reporting, Prof. Adam Kuban membantu kami membenahi tata cara penulisan berita untuk hasil reportase 4th of July sebelumnya. Prof. Terry  juga memberikan arahan untuk editing audio jadi sebuah rekaman yang newsworthy. Materi praktis juga bertambah satu lagi, yang paling kompleks dari semuanya, video! Prof. Tim Underhill dengan stylenya yang easy going sukses membuat kita makin lengket ke kamera untuk mencuri-curi setiap moment yang bisa diconvert jadi video yang bercerita banyak.

Tinggal di Muncie saja memang nggak bakal bikin bosan. Tapi tur ke ibukota, Indianapolis, jadi salah satu agenda yang kami tunggu-tunggu. Kami mengunjungi Indiana Statehouse. Tempat dimana kebijakan pemerintah state diolah. Duduk di kursi yang biasa dipakai house representative dan senat untuk rapat. Mengitari bangunan megah yang langit-langitnya menakjubkan itu. Lalu kami mengunjungi Indiana War Memorial. Kepala saya sampai sakit mendongak untuk ke atas sangking tinggi dan megahnya monumen ini. Spot yang bagus buat foto. Kekekekk..

Sore harinya kami ke Indianapolis TV Station. Melihat ruang dimana berita diproduksi, tayangan direkam, proses di balik layar, dan andil orang-orang yang terlibat di dalamnya. Setelah dinner di Hamilton Town Center, kami pulang dengan keliyengan disambut tugas-tugas yang setia menanti. Tur selanjutnya adalah ke Paws Inc. Perusahaannya Jim Davis sang creator tokoh kartun Garfield ini kerennya maksimal. Muncie memang kota dimana Garfield berasal. Di akhir sesi tur, kami dapat kesempatan bermain di satu ruangan besar yang isinya semua boneka dan aksesoris Garfield.

Bisa saya katakan, ini minggu yang bebannya paling berat. Karena semua tugas sudah harus selesai minggu depan. Ditambah jadwal tur yang padat merayap. Kami pun masih harus menyisihkan waktu latihan untuk cultural performance. Rata-rata kami baru tidur setelah jam 2 malam. Namun dengan fasilitas perpustakaan yang baru tutup jam 3 malam, atau study lounge yang cozy dipakai belajar ramai-ramai itu, semuanya jadi ringan.

Semua latihan ini membuahkan hasil yang maksimal. Indonesia dapat respon yang paling antusias dari audiens di malam cultural performance. Konsep drama yang kami bawakan dengan memadukan cerita Si Pitung, tari Kecak, tari Sunda, mainan tradisional cublak-cublak suweng, tari Saman, dan Poco-Poco ini sukses lekat di hati pemirsa.

Weekend, trip ke Lexington, negara bagian Kentucky. Nginap di hotel Marriot. Hal yang pertama kali kami cari adalah Kentucky Fried Chicken! Merasakan sensasi makan ayam KFC langsung dari kota Kolonel Sandersnya. Spot tujuan selanjutnya adalah Kentucky Horse Park. Kuda di negara bagian ini sudah jadi semacam kultur yang nggak bisa dipisahkan lagi. Ngecengin kuda-kuda pemenang pacuan dari seluruh penjuru dunia ini jadi hiburan tersendiri yang nggak ada di Indonesia.

Pulang dari Kentucky, kami menonton Indianapolis Baseball Game. Di saat orang masih seru-serunya main, saya yang pada dasarnya emang nggak ngerti aturan mainnya ini asyik aja jalan-jalan motret. Wehehe.

Minggu Keempat

Ketika minggu keempat dimulai, suasana gloomy mulai kerasa. Ini minggu terakhir kami di BSU. Semangat menuntaskan tugas semakin gila-gilaan. Agar kami punya waktu luang untuk menjelajahi bagian kampus yang belum sempat terjamah.

Tur di minggu ini membawa kami kembali ke Indianapolis. Melihat dari dekat track balap untuk Indiana Motor Speedway. Serta ke museum interaktif Corner Praire. Museum ini adalah museum paling unik yang pernah saya kunjungi sepanjang hidup. Sejarah Indiana diceritakan dengan properti yang sesuai dengan tahunnya, lengkap dengan orang yang berpakaian dan berakting seperti hidup pada masa itu. Timetravel asyik ini juga kayaknya bakal saya ceritain di satu posting sendiri deh.

Sesi es krim sosial BSU juga sangat menyenangkan. Semua warga BSU diundang di sore hari untuk berkumpul dan merayakan sore yang santai dengan es krim dan performance dari American Hometown Band. Hebatnya, yang menyajikan es krimnya presidennya BSU langsung.

Farewell dinner di Letterman building terasa sangat menyesakkan. Karena tempat ini adalah tempat pertama kami mendapatkan welcoming dinner ketika baru sampai di BSU. Foto grup terakhir di kampus ini diambil di depan kolam patung frog baby. Acara ditutup dengan awarding night, dimana kami dianggap lulus dari Ball State University dan mendapatkan award. Ada juga special award untuk beberapa peserta yang berhasil mengerjakan tugas dengan outstanding.

Sabtu pagi, kami check-out dari kamar yang sudah ditempati satu bulan. Melambaikan tangan dari bus ke Studebaker West, ke BSU, ke Muncie. Lalu berada di perjalanan menuju Gettysburg, Pennsylvania. Di sana kami mengunjungi museum perjuangan yang keren. Tempat yang di bangun di tanah lokasi battlefield saat perang saudara di masa lalu terjadi. Jangan bayangkan museum yang isinya cuma baju-baju pejuang. Mereka punya cyclorama, satu ruangan yang bercerita secara interaktif dengan format 3 dimensi.

Selesai di Gettysburg, kami menahan nafas. Perjalanan panjang ke New York dimulai.

Minggu Kelima

Perjalanan yang makan waktu hampir seharian itu akhirnya membawa kami ke hotel Hyatt di daerah New Jersey. Sekitar 20 menit jika mau ke New York. Dan tambahkan berapa jam lagi jika mau ke Washington DC. Fantastisnya, jika ditotal, jumlah negara bagian yang kami lewati selama perjalanan ada 11 state: Indiana, Kentucky, Ohio, West Virginia, Pennsylvania, New Jersey, New York, Delaware, Maryland, Virginia, District of Columbia. Jika ditambahkan dengan tempat transit pesawat selama perjalanan PP, termasuk Michigan, Atlanta, Jepang, dan Singapura, berarti delegasi dari Indonesia telah menjejaki 15 negara di 2 benua dalam satu trip program ini. Fantastis sekali, bukan?

😀

Tur seminggu ini bertepatan dengan minggu pertama bulan ramadhan. Dengan durasi puasa hampir 16 jam, dalam kondisi perjalanan jauh berpindah-pindah tempat terus, dan sengatan matahari musim panas yang bikin dehidrasi  itu, rasanya iman bener-bener diuji. Interesting. Karena sebelumnya berpuasa tidak pernah sesulit ini. Tapi perjalanan ini sekaligus jadi perjalanan spiritual, karena kami harus menyesuaikan sendiri, sahur bersama dengan teman-teman muslim dengan makanan yang dibeli malam harinya dan dipanaskan di microwave, tarawih bersama, dan menjaga stamina fisik dengan baik.

Karena New York sangat luas, kami hanya sempat menelusuri Manhattan dalam 3 hari, ke tempat-tempat luar biasa yang kayaknya masing-masing butuh satu postingan sendiri untuk diceritakan. Hudson Bay. Patung Liberty. Central Park. Rockefellar Plaza. New York Times. Ground Zero. Times Square. Broadway.

Belum puas jatuh cinta sama gemerlapnya New York City, kami harus pindah ke Washington DC. Kembali terkagum-kagum dibuatnya, melihat betapa elegannya arsitektur bangunan di jantung kota pemerintahan ini. Kalau dipersonifikasikan sebagai manusia, mungkin Muncie akan jadi orang desa paruh baya yang ramah, berjalan dengan senyum yang menyenangkan. New York akan jadi sosialita yang sibuk dengan bisnis megapolitan, berjalan dengan cepat dan menggoda. Washington DC akan jadi eksekutif muda dengan setelan kantor dan berjalan dengan penuh wibawa.

Tur di Washington ini klimaks yang luar biasa. Kami mengunjungi United Nation. Dibawa masuk ke gedung PBB yang mengatur liga 193 negara seluruh dunia ini. Kami juga berkunjung ke Voice of America, dan disyuting untuk salam ramadhan yang ditayangkan di acara Dunia Kita.

Lalu ke State Department untuk cultural showcase dalam acara “Around The World in The Afternoon”. Lincoln Memorial, Washington Monumen, Smithsonian Museums, Capitol House, dan White House terletak di satu spot silang di kawasan yang disebut The Mall. Tentu saja semua tempat bersejarah dan luar biasa itu kami jejaki satu per satu. Merasakan berada di jantung pemerintahan US yang setiap hari muncul di media, dan bukan sembarang orang yang bisa berada disana.

Saat salah satu teman kami berkelakar bisakah kita bertemu presiden, saat itu juga ada 3 pesawat lewat, yang mana katanya di salah satu pesawat itu ada Obama dan dua yang lain adalah untuk pengabur jejak.

Hotel Hilton di old town Alexandria jadi tempat terakhir kebersamaan kami. Malam terakhir disana kami habiskan dengan stay awake sampai malam dan berkumpul bersama. Karena delegasi Indonesia jadi yang pertama pergi dengan keberangkatan pesawat jam 8, kami harus berpisah pertama kali di waktu subuh. Perpisahan yang sangat heartbreaking. Masih lekat di ingatan saya, pelukan-pelukan erat teman-teman dan lambaian tangan mereka saat bus melaju, membawa kami yang diam dan terisak sepanjang jalan. Masih jelas rasanya, bagaimana Suzy seorang wanita yang sangat kuat pun akhirnya menangis saat melepas kami di bandara. Perjalanan pulang ke Indonesia selama 3 hari itu pun terasa sangat berat, fisik dan mental. Karena sesampainya disana, kami berdelapan harus berpisah. Lagi.

Rather than ‘goodbye’, i prefer say ‘see you’! Because i believe, we will meet again, someday…

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s