USA

Washington DC


Jejeran skyline semakin tertinggal jauh di belakang. Kami meninggalkan New York dan beralih ke destinasi selanjutnya, yang sekaligus jadi destinasi terakhir di program SUSI New Media and Journalism 2012 ini, Washington DC. Setelah perjalanan sekitar 5 jam, kami berhenti di United Nation office. Ya! Kantor PBB! Asli! Area kantor yang dinaungi bendera-bendera dari 193 negara ini sangat impresif. Tour guidenya bilang, ini artinya kami sedang memasuki teritori netral. Sama dengan menginjakkan kaki di tanah milik semua negara yang tergabung sebagai member, termasuk Indonesia. Ada kebanggaan dan kerinduan tersendiri saat melihat bendera Indonesia berkibar di jejeran bendera lainnya. Disini, aspirasi kita diperjuangkan. Disini, nasib dunia dipertaruhkan. Perasaan itu jadi lebih kuat ketika diajak keliling hitech ala Amerika, pake earphone gitu biar walaupun kita mencar dikit tetap bisa denger si tour guide. Kemudian kita bikin demo untuk menganalogikan cara UN bekerja, pake drama yang agak konyol dan lucu gitu.

Sorenya kami beristirahat di hotel Hilton di old town, Alexandria. Saya jatuh cinta pada tempat ini sejak injakan kaki pertama. Disebut kota tua karena memang tempat ini kental dengan nuansa historis. Dulunya adalah pusat supplier untuk tentara-tentara civil war. Kota ini juga merupakan kampung halamannya George Washington. Yang saya suka dari hotel tempat kami menginap, dekat dengan blok ruko kecil yang bernuansa Eropa. Ada beberapa toko buku 2nd hand yang langsung kami serbu begitu sampai. Books!!! Sore disana pun sangat romantis. Menghabiskan waktu bersama teman-teman sambil baca buku dan menunggu buka puasa.

Besoknya, kami mengeluarkan persiapan terbaik untuk cultural showcase di acara “Around The World in The Afternoon” di US Department of State. Disini kami bertemu SUSI participant dari program yang lain. Oh ya, SUSI memang terbagi jadi beberapa program yang tersebar di berbagai negara bagian. Yang sempat ketemu face-to-face untuk cultural interaction adalah teman-teman dari program Religious Pluralism dan Social Entrepreneurship. Mereka berasal dari latar belakang budaya yang plural. Ada yang dari Asia Tenggara (seperti kami), India, Mesir, Saudi Arabia, Iraq, Afrika, dll.

Menggunakan pakaian tradisional terbaik (Ibuuu.. kebayamu nyampe kantor pemerintah US, buuk!!) dan menunjukkan benda-benda khas Indonesia yang kami bawa, seperti batik, permainan tradisional, alat musik tradisional, handicraft, foto budaya Indonesia, sampai tolak angin! Stand kami berhasil menarik buanyak sekali. Sekali lagi, nasionalisme dalam dada saya wuih, berkobar-kobarnya minta ampun! Bangga saya bisa merepresentasikan Indonesia di mata dunia, bangga saya jadi bagian dari naungan bendera merah putih! Saya pengen banget perasaan saya waktu itu, bisa dirasakan sama setiap pemuda-pemudi kita. Saya pengen, entah gimana caranya. Biar anak muda ngerti, cuma karena lo taunya cuma kebobrokannya aja, bukan berarti lo harus malu jadi bagian dari Indonesia, dan malah meninggalkannya! Dude, do something to make your country proud or shame upon yourself!

(maaf pemirsa, sedang ketiupan semangatnya Bung Tomo!)

Setelah itu kami berkunjung ke Voice of Amerika. Duh, yang selama ini cuma seneng mantauin beritanya di TV, radio, atau youtube, sekarang ketemu langsung sama presenter dan orang-orang di balik layarnya! Kebetulan disana ada branch VOA Indonesia-nya. Terus 6 delegasi dari Indonesia ‘diculik’ dari rombongan dan diajak ngobrol spesial sama direkturnya. Habis itu kita disyuting dua kali untuk ngucapin selamat berpuasa sama selamat ulang tahun VOA, kemudian disiarin di TV.

Puas bertukar cerita sama orang-orang VOA, kami mengunjungi wilayah sentral pusat turis dari segala penjuru dunia berkumpul, The Hall. Kalau sering ngeliat DC diasosiasikan dengan monumen tinggi ramping dan runcing di ujungnya, itu  adalah Washington Monument. Dia berada di tengah untuk menandai Lincoln Memorial, Smithsonian Museums, Capitol House, dan White House yang berada di sekitarnya. Dengan antusiasme yang tak terbendung, kami berjalan cepat ke tempat-tempat historikal itu. Favorit saya adalah Capitol House. Bagi yang bilang arsitektur bangunan luarnya itu sudah luar biasa, tunggu sampai kalian masuk ke dalamnya. Ternganga kami dibuatnya. Rumit, elegan, misterius, dan berkelas. Berasa masuk kastil modern. Di dalamnya juga kami sempat mengunjungi Library of Congress, perpustakaan terbesar di dunia. Di tengah hari yang terik itu, Sarah mengambil foto yang fabulous ini:

jumpppp!!!!!!!

Ditutup dengan fancy dinner di sebuah resto Italia, malam itu kami berkumpul bersama-sama. Wajah-wajah sendu sudah terlihat. Tapi kami tidak mau menghabiskan malam terakhir kebersamaan kami dengan bersedih. Kami packing, bernostalgia, bercerita, tertawa, berpelukan, dan bernyanyi…

It well may be/ That we will never meet again/In this lifetime

So let me say before we part

So much of me/Is made from what I learned from you

You’ll be with me/Like a handprint on my heart

And now whatever way our stories end

I know you have re-written mine/By being my friend…

(Wicked The Musical – For Good)

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s