USA

Berkunjung ke Suku Amish di Indiana


Masih dalam sesi hostfamily, keluarga Robinson mengajak saya sama kakak (tiri) Casandra ke central Indiana untuk berkunjung ke salah satu keluarga dari kaum Amish kenalan mereka.

Amish adalah kaum Kristen ortodox yang memilih untuk hidup komunal di sebuah perkampungan sendiri. Nenek moyang mereka datang dari Switzerland ke Amerika untuk mendapatkan kebebasan beragama. Nggak heran kampung dan jalan mereka dinamain seperti nama di Swiss, kayak Geneva.

Disini mereka tinggal di kawasan urban, yang mayoritas pekerjaannya bertani. Indiana yang notabenenya memang terkenal karena farming fieldnya, adalah tempat yang sangat mengakomodir kebutuhan dasar mereka. Kaum Amish memilih untuk tidak terekspos teknologi. Nggak ada listrik, nggak ada mesin otomatis. Mereka bener-bener swadaya.

Image

Image

Image

Image

Image

Kendaraannya adalah kereta yang ditarik kuda yang dinamain buggy. Ini ngingetin saya sama delman di Jogja, tapi bedanya kalo delman buat transportasi umum, buggy dipake buat ngangkat hasil pertanian atau sekedar ngangkut keluarga buat berkunjung ke tempat lain. Sebenernya keluarga yang saya kunjungin nggak memperbolehkan sih ngambil foto mereka, kecuali barang-barangnya aja. Tapi pssttt.. waktu di jalan pulang saya ketemu keluarga lain dan saya potret candid. Jadi saya nggak melanggar perjanjian dengan keluarga sebelumnya.

Image

Mereka juga jualan hasil pertanian. Uniknya, selain jual beli biasa, sistem perdagangan yang masih digunain adalah self-service. Mereka naruh paprika, melon, dll di luar rumah dan orang yang lewat ngambil bisa ninggalin dollar berapapun mereka pikir pantas. Sukarela deh.

Mostly orang yang beli, kayak Mr. Robinson, akan meninggalkan uang lebih. Karena orang-orang luar yang datang berkunjung adalah orang yang kagum sama cara hidup mereka yang sangat sederhana dan nggak materi oriented. Coba di kota besar ya. Toko dijaga aja dicuri, apalagi yang nggak ada penjaganya.

Image

Dari segi penampilan. Setipe sama Islam, mereka menutupi aurat dengan baju semacam jubah, dan penutup kepala kalau keluar rumah. Mereka nggak dibolehin buat potong rambut dan jenggot. Dan sepertinya nggak nganut keluarga berencana juga. Setiap keluarga pasti anaknya buanyak. Anak-anak ini akan sekolah sampe kelas 8. itu pendidikan maksimal. Sehabis itu yang cowok akan kerja. Bertani, ngurus kuda atau sapi, nukang, dll. Yang cewek bantuin. Hidup mereka itu simpel. Nggak ngurusin ribetnya dunia yang penuh intrik. Prinsipnya adalah mengabdi kepada Tuhan dan hidup sesuai jalanNya.

Tapi kalau awalnya saya mikir mereka kayak manusia gua yang nggak tau apa-apa, o ternyata saya salah besar! Mereka baca koran juga. Dan seorang teman bilang dia liat beberapa Amish di kota buat liburan. Dan ternyata pun mereka setelah mencapai usia dewasa, diperbolehkan pergi ke kota untuk mengambil keputusan apakah masih mau tinggal dengan Amish lifestyle atau tidak.

Seorang gadis Amish yang semuran sama saya bilang,

“Big city is full of big building, noise, and pollution. How to live a life like that? I definitely won’t choose one.”

Saya mesem-mesem aja dalam hati,

“How to live a life like yours?”

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s