Life Journal

You Never Know What You’ll Get. But Once It Is, It’s Summer!


Sebelum saya diprotes karena sok-sokan nulis summer padahal tinggal di Indonesia raya, saya mau bikin disclaimer karena yang akan saya tulis ini adalah tentang “DREaM International Student Summer Program”, yang mana di nama programnya juga emang udah  ada summernya. Namun karena tulisan ini saya tujukan untuk audiens lokal, mahasiswa-mahasiswi UGM, putra-putri bangsa, maka marilah melakukan sedikit adaptasi disini. Kemarau! Yak, kemarau, saudara-saudari. Saya benci kemarau. Karena kemarau bikin kulit saya belang kayak pantat kuali. Susah diilangin walaupun udah pake sunlight lima bungkus. Dan by the way saya pernah hampir salah menyangka sunlight sebagai sabun mandi. Tapi bukan itu poinnya. Intinya saya mau cerita, betapa musim kemarau ternyata bisa jadi sangat, sangat menyenangkan!

Tulisan ini saya buat, pertama buat nostalgia. Kedua, siapa tau nanti saya dapet surat misterius kayak Julie James yg tulisannya ‘I know what you did last summer’. Tapi jauh di balik itu semua adalah saya pengen ada lagi yang bisa experiencing apa yang saya dapatkan satu tahun kemaren. Dan yang mulia Kertarajasa mohon maafkan saya karena suka mencuri timun semacam berpamer-ria disini. Karena kalo berpamer-mulan itu Ahmad Dani.

*mohon dilanjutkan*

Semua ini bermula dari tawaran beasiswa dari KUI yang saya tau dari temen saya Risa. Dia adalah peserta DREaM tahun sebelumnya, yang kemudian jadi panitia. Awalnya terlihat rebek dan bikin malas. Tapi saya waktu itu saya anti malas, karena kata orang tua jaman dulu anak gadis malas jodohnya susah. Walau sampe sekarang juga walau sudah nggak malas jodoh tetep nggak kunjung nongol batang hidung beserta batangan emasnya. Tapi tiada mengapa. Karena perjalanan yang mengubah hidup saya ternyata dimulai dari satu step. Mendaftar.

Adalah DREaM Summer Program-nya UGM yang baru diadakan di tahun ke-tiga saat itu. Temanya “sociopreneurship”. Kalau saat itu saya masih cengok nggak ngerti itu apa, percayalah sekarang pun masih. Hihi, masih terngiang-ngiang betapa DREaM bikin saya melek sociopreneurship maksudnyaaa. *takut diblacklist KUI* :))

Ada 78 peserta yang berasal dari 22 negara di kegiatan ini. Peserta dari luar bayar 4,5 jutaan. Peserta dari univ laen bayar 3,5 jutaan. Dan peserta yang dapet beasiswa dari UGM (waktu itu ada 3) nggak bayar sama sekali. Sebenernya kalau saya hitung2 pake sempoa, bayar segitu juga nggak rugi. Murah banget malah itungannya kalo dibanding dengan fasilitas dan tur yang kita dapet. Duit segitu buat bayar penginapan di wisma MM UGM yang setara hotel bintang 3 itu, selama 2 minggu aja nggak cukup kali ya.

Makanya kalau ditanya apakah dapet beasiswa itu menyenangkan?Salah pertanyaan lo.

Yaudah. Kalau ditanya misalnya udah tau bakal dapet apa aja disana dan waktu itu disuruh bayar, mau nggak? Mau. Banget.

Kalau disuruh bayar 2x lipat? Tetep mau. Masih worth it.

Kalau disuruh bayar 3x lipat? Ah keterlaluan kalo itu mah.

Kalo ditanya mau ikut lagi nggak taon ini? Mau. Mau banget. Sayangnya nggak bisa. I have another awesome summer waiting. *wink*

Kalo misalnya ada orang yang baca tulisan ini, available di Jogja tanggal 1-14 Juli 2012, nggak KKN atau magang atau SP, fit sama kriteria beasiswa, tertarik sama programnya, tapi nggak daftar? Euhh. Saya kutuk anda pake avada kedavra.

Kenapa? Sebelum saya jelaskan panjang lebar tentang ini marilah kita protes dulu sama JK Rowling kenapa Fred Weasley mati. Kenapa mbak, kenapaaaaah?

*jambak2 mbak je-ka*

*dicolok tongkat sihir*

Yak. Sampai mana tadi? Ha? Tenang, sekuel Harry Potter ini tidak ada hubungannya samasekali sama DREaM. Seperti saya yang juga tidak punya hubungan apa-apa sama Iko Uwais. Sumpah, itu Audy, bukan saya!

Bismillah. Lanjut nulis yang bener. Jadi 2 minggu yang saya habiskan di DREaM tahun kemarin itu terbagi ke dalam 4 sesi: lecturing, short internship, community service, sama social event.

Yang ngisi sesi lecturing bukan orang-orang sembarangan. Ada executive directornya ASEAN Foundation, ASHOKA International. AKSI, Ibu Martha Tilaar, Butet Manurung, dan Pak Sandiaga Uno. Short internshipnya dibagi per kelompok kecil gitu ke beberapa NGO yang tersebar di seluruh Jogja. NGO yang bergerak di bidang environment, disaster relied and health care, education and art, economic empowerment, sama advocacy. Terus community service kita menghabiskan waktu berapa hari ke Gunung Kidul. Gabung sama anak-anak KKN disana yang lagi membangun desa Pindul jadi desa wisata. Tinggal sama warga, nyangkul sawah, nangkep lele, bikin pupuk dari kotoran sapi, cave tubing dan floating di sungai Oyo.

Social eventnya juga sangat oke. Dari mulai gala dinner opening ceremony yang sangat fancy di hall balairung UGM. Cultural village yang menampilkan performance antar negara. Tur ke Borobudur, pabrik bakpia, Malioboro,  desa batik di Imogiri, keraton, firecamp, sampe closing ceremony di candi Boko yang sangat menguras air mata.

Regardless semua hal keren yang bisa didapatkan dengan gratis (kalo lo dapet beasiswa) itu, yang membuat DREaM ini beda dari semua program-program yang pernah saya ikuti adalah pelajaran yang ada di dalamnya. Baik itu tekstual maupun nilai yang saya ambil sendiri dari interaksi singkat yang ada. 2 minggu memang singkat. Tapi believe me, itu cukup untuk membuat anda merasa sudah mengenal teman-teman anda sejak lama, dan tetap menyayangi mereka dengan kadar yang tidak sedikitpun berkurang hingga detik ini.

Bisa dikatakan, DREaM 2011 adalah turning-back point saya. Saat dimana saya benar-benar mulai terbuka pikirannya untuk memandang dunia lebih luas lagi. Untuk bergabung bersama komunitas yang produktif. Untuk tidak menyia-nyiakan energi. Untuk berpetualang lebih jauh lagi.

Karena DREaM bukan kegiatan musim kemarau yang berakhir begitu saja. . Setelah DREaM saya punya 78 partner luar biasa yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Hari perpisahan kami di lobby hotel dan bandara itu sesungguhnya adalah hari pertama dimana perjuangan mencapai mimpi kami dimulai. Bagi saya perjuangan itu dimulai dengan mengimprove bahasa inggris saya yang belepotan kayak bayi baru nemu Milna. Ikut konfrensi demi reuni sama temen-temen di Jakarta sebelum mereka balik ke negara masing-masing. Korespondensi masal. Mencari insight dari luar, membandingkannya dengan yang di dalam. Mengekstraksikan fenomena cross-culture di kelas komunikasi antar budaya. Daftar ratusan beasiswa lainnya. Menambahkan sertifikasi DREaM di setiap CV dan motivation letter. Minta bantuan teman di Jepang buat riset untuk paper. Magang di Pusat Studi Asia Tenggara. Menjalin link dengan sesama alumni yang udah kerja di beberapa perusahaan buat cari sponsor. Dan akhirnya balik lagi ke putaran musim kemarau berikutnya dengan insyaAllah bertandang ke Amerika.

Percayalah, DREaM bisa membuka jalan anda juga. Asal tahu caranya 😉

Jadi tunggu apa lagi? Nggak mau kalah kan sama saya? Buruan daftar. Nih link beasiswa dari www.oia.ugm.ac.id

Requirements for the selection:

1.    Fill out the registration form (can be downloaded in our website),

2.    Write an essay 500-750 long, in English, about ‘The Importance of Alternative Education’,

3.    Copy of TOEFL score (min. 500),

4.    Enrollment letter from your faculty (this opportunity is open only for D3 and S1 students)

5.    Committed to fully attend the program for the duration of 14 days.

Deliver your application in a sealed envelope to the Office of International Affairs, Gedung Pusat UGM, Sayap Selatan lt.2. Don’t forget to write DREaM 2012 and your name on the envelope. The deadline is June 8 at 15.00. Shortlisted applicants will be informed to have the interview test.

 

Siapapun kalian yang akhirnya keterima jadi duta UGM di DREaM 2012 ini, doa dan dukungan saya bersama kalian. Selamat menikmati jadi guide di kampus sendiri. Mengepalai rombongan orang asing kelaparan yang pengen cari makanan khas di luar hotel. Menunjukkan cara naik TransJogja. Mengajari mereka bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Menampilkan poco-poco dan game makan kerupuk di cultural village night. Berdebat tentang nasi gemuk bersama Malaysian fellas. Tercengang dengar cerita dari Brunei bahwa mereka kalau shopping ke luar negeri sangking punya uang banyak tapi nggak tau harus dihabiskan dimana. Nemenin Belgian friend fitting baju, mblusuk-mblusuk ke toko batik nggak terkenal tapi keren. Ngajarin si Jerman yang cantik kayak barbie caranya pake jilbab. Diskusi tentang emansipasi wanita di Mesir sama roommate. Tidur di jalanan aspal Gunung Kidul yang sepi bersama Japanese fellas, sambil liat ke langit yang subhanallah bersih dan indah sekali. Diajakin ke diskotik sama Australian fellas tapi alhamdulillahnya masih bisa nahan nggak ikutan. Lol. Tidur sekamar hampir bersepuluh sangking nggak mau pisah keesokan harinya. Sampe merasakan punya summer crush yang *piiiip* dan *piiiip* (maaf yang ini disensor). 😛

Banyak deh banyak. That’s mine. I wait for yours!

Dan untuk panitia, Salut! Salut! Salut! Semoga DREaM tahun ini lebih baik dari tahun kemaren yang sebenarnya sudah sangat baik.

A big dream starts from a small DREaM.

Sekian, salam rindu untuk DREaM.

Image

Advertisements
Standard

3 thoughts on “You Never Know What You’ll Get. But Once It Is, It’s Summer!

  1. HAHAHA. Lucunya shoff gaya nulismu. Anjeeer ngakak gulung-gulung baca bagian intronya. Habis itu agak-agak membiru apalagi pas bagian2 akhirnya 🙂

  2. Dea Kristina says:

    baru sempat membaca blog ini.. Tiba2 merinding mengenang banyak sekali kenangan masa itu dan sekaligus lega sudah bisa menciptakan satu masa memori lagi di tahun ini.. terimakasih shofi,, terimakasih DREaMers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s