31 Hari Menulis

Hari #31: Menyambut Juni


Juni adalah bulan tengah. Juni adalah anak tengah. Mungkin Juni adalah takdir bagi para penengah.

Ada sebuah cerita. Angin dari utara pernah berkata, dua orang yang akan selalu diingat adalah orang yang paling baik dan orang yang paling jahat. Lalu datanglah angin dari selatan bertanya. Bagaimana dengan orang yang ada di antara keduanya? Angin utara berhembus ragu. Dijawabnya bahwa mereka pada akhirnya akan terlupakan. Tidak ada yang akan ingat kepada orang yang biasa-biasa saja. Angin selatan berang, dikasihaninya seseorang yang malang. Yang berada di antara kebaikan dan kejahatan. Sudah terdera, lalu hilang begitu saja.

Angin utara jahat. Ia tertawa. Biarkan, orang seperti itu memang tercipta untuk dilupakan. Angin selatan baik. Ia menangis. Hukum seperti itu tidak adil, katanya. Lalu mereka melaju. Beradu. Pada akhirnya mereka berdua menghilang dan diingat sebagai badai pancaroba. Peralihan musim di pertengahan tahun. Di bulan Juni.

Perubahan musim kali ini diantisipasi Juni dengan membeli persediaan obat-obatan herbal di rumahnya. Dua belas tahun menjadi ibu rumah tangga cukup memberinya pengalaman untuk selalu melakukan persiapan. Biasanya kekebalan Petra akan menurun karena tonsilnya yang sudah diangkat akan membuat kesehatannya drop. Perubahan musim memang bukan momen favorit Petra. Juni tahu itu. Ia hapal kebiasaan Petra luar kepala.

Ada satu kebiasaan Petra yang juga tidak mungkin tidak diketahuinya. Binar di matanya saat pertama kali meminta Juni jadi pacarnya. Cahaya yang terpancar setiap hari itu adalah alasan mengapa Juni rela mengalah demi menjaganya tetap menyala. Menikah dengannya. Namun seperti lilin yang semakin lama semakin habis terbakar, perlahan cahaya itu memudar. Karena itu ketika suatu hari Petra pulang dari sebuah proyek kantor di luar kota, dan binar di matanya kembali ada, saat itu juga Juni tahu, Petra sedang jatuh cinta.

Ia menyelidiki. Ia mengetahui. Nama wanita itu Meimei. Ia pernah bertemu dengannya dua kali. Gadis yang pintar dan menyenangkan. Mereka pasti sudah jadi teman. Andai saja dia bukanlah seseorang yang sedang menggerogoti kehidupannya perlahan.

Juni sudah terlalu terbiasa mengalah. Hormat kepada kakaknya dan mengayomi adiknya. Dilarang berkuasa karena lebih muda, dan dilarang manja karena lebih tua. Diberikan baju lungsuran, dikurangi uang jajan karena menghilangkan mainan. Masuk ke sekolah unggulan lalu dibandingkan dengan kakaknya, lalu tidak jadi masuk universitas idaman karena terhalang biaya untuk sekolah adiknya. Baginya perhatian terbagi antara si sulung dan bungsu, bukan untuk si tengah. Karena takdir si tengah adalah menyerah. Seperti yang sudah-sudah.

Pertanyaannya sekarang, akankah dia lagi-lagi mengalah?

Sebenarnya Juni telah sampai pada suatu titik dimana yang bisa dilakukannya hanya menerima, bahwa sebenarnya bukan Meimei yang sedang ada di tengah, tapi dirinya. Menjadi penghalang di antara mereka berdua. Karena untuk menyingkirkan cinta yang berbicara dari sorot mata Petra, ia tidak kuasa. Namun untuk merelakan, ia lebih tidak bisa.

Seharusnya ia total. Jika jahat, jahat sekalian. Melabrak Meimei, menggugat Petra, mempermalukan mereka, melaporkan kepada polisi, mengadu kepada keluarga besar,  memohon kepada Tuhan agar mereka masuk neraka. Jika baik, baik sekalian. Memahami Meimei, mengampuni Petra, memaklumi keadaan, lalu memaafkan. Berharap semua baik-baik saja pada akhirnya. Tapi Juni tidak tahu caranya. Terbiasa di tengah membuatnya tidak bisa memutuskan apa-apa.

Kecuali berdoa.

Juni berdoa. Persis anak kecil yang baru belajar membaca. Diejanya lukanya satu-satu, dikompensasikannya dengan rindu. Diingatnya sumpahnya yang telah lalu.

“Tuhan, jika semua yang terjadi di semesta ini adalah tentang balas-berbalas, maka maafkan aku yang mungkin sedang mendapatkan balas. Dan jika ini memang caraMu memberikan pelajaran, Tuhan, semoga mereka pun suatu saat nanti belajar. Aku ingin jadi guru tanpa menggurui. Aku ingin menyembuhkan luka tanpa balas melukai. Mungkin takdirku memang harus mengalah, tapi bukan berarti kalah. Aku hanya ingin damai, untuk anak yang sedang ku kandung, dan kehidupan yang sedang Kau rancang.”

Langit cerah, udaranya menyegarkan. Seperti doa yang telah tersampaikan. Juni membuka jendela. Menyambut datangnya Juni.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s