31 Hari Menulis

Hari #30: Bingkisan di Sudut Kabin


Menjauh dari anjungan penumpang yang mulai dilepas, pesawat bersiap lepas landas. Prosedur keamanan standar mulai diperagakan oleh tiga pramugari di lorong dalamnya. Gerakannya persis, serupa dan kembar. Mereka yang terlatih terlihat menguasai medan, sekaligus memainkan peran. Seperti tidak berpikir lagi. Melakukan ratusan prosedur serupa yang diulang setiap hari. Sepertinya ini adalah semacam hukum tidak tertulis, konvensi, bahwa ada hal-hal yang selalu kita lakukan tanpa henti. Bedanya adalah pramugari itu melakukan hal yang patut dipertontonkan, sementara Petra melakukan hal yang patut disembunyikan. Perselingkuhan.

Ada tutup kabin barang yang masih goyang. Seorang pramugari mundur satu langkah dan membuka tutup kabin. Dirapikannya dua ransel yang saling bertindihan. Lalu diletakkannya sebuah bingkisan yang terbungkus plastik putih di bagian paling depan. Kabin di tutup kembali. Pramugari itu pergi. Di bawah kabin Petra terpekur menyandarkan kepala di jendela. Dilihatnya lampu-lampu landasan terbang yang berkerlip di luar yang berlatar gelap. Kemudian pesawat melaju dengan kecepatan tinggi, naik dan naik. Tekanan di dalam yang sedikit membuat kuping berdenging diatasi Petra dengan cara menelan ludah. Ia melakukannya tanpa berpikir. Sudah sangat terbiasa, sebagaimana ia selalu terbiasa menelan ludah menghadapi kenyataan melihat rumah tangga yang dibinanya nyaris goyah. Ulahnya, yang terpikat pada rekan kerja barunya, Meimei.

Petra berharap kembali mengerdil jadi anak kecil. Melakukan kesalahan sebanyak-banyaknya tanpa konsekuensi lebih besar daripada dijewer dan dihukum membersihkan kamar sendiri. Masalahnya saat ini ia tidak tahu bagaimana caranya menghukum diri sendiri.

Apakah semua orang melewati fase ini? Petra bertanya dalam hati. Dari atas dilihatnya kerlap-kerlip lampu kota yang berjajar membentuk sebuah bidang indah. Semakin tinggi semakin luas bidangnya. Pemandangan ini adalah alasan mengapa orang-orang pasti lebih suka memilih duduk di sisi yang dekat jendela. Apalagi orang-orang yang jarang naik pesawat. Lazimnnya mereka akan berdecak kagum. Petra pernah jadi salah satu dari orang-orang itu. Pernah. Itu berarti sekarang ia sudah berpindah, seperti halnya arah angin yang tidak pernah konstan.

Ia ingat penerbangan pertamanya. Waktu itu umurnya 17 tahun. Pertama kalinya ia lihat Jakarta. Dari Sumbawa tempatnya tumbuh, lampu-lampu dari ketinggian itu memesonanya. Apalagi ketika ia lihat lampu-lampu ibukota. Seperti kerang yang baru terbuka, impiannya baru mulai tercipta. Ia berjanji akan terbang sering-sering ke Soekarno-Hatta.

Saat pertama. Itu adalah sensasi yang saat ini hilang. Perasaan udik saat pertama kali melongok dari jendela pesawat. Perasaan penasaran ingin kembali mengulang lagi dan menjadikannya memori episodik. Perasaan berdebar saat check-in, berharap dapat nomor kursi dekat jendela. Perasaan girang saat duduk lagi dan menempelkan wajah di kaca. Perasaan bahagia. Karena perasaan pertama adalah yang murni, yang paling hebat yang pernah ada.

Masalahnya Petra sudah terlalu sering terbang. Lampu-lampu yang memesonanya saat pertama kini sudah jadi ornamen pelengkap yang biasa saja. Ia lebih memilih memejamkan mata. Berkonsentrasi menyeimbangkan tekanan darah di kepalanya yang menusuk-nusuk tajam ketika ia mengingat Juni. Seorang wanita yang dulu memesonanya, tapi sekarang jadi biasa saja. Persis seperti lampu kota.

Ini salah. Bathinnya.

Seorang laki-laki Tionghua menyalakan lampu baca dan mulai menulis di meja lipatnya. Petra disebelahnya melirik. Sepertinya orang ini sedang menulis untuk kekasihnya. Ia hidup di dunia dimana kesetiaan dijunjung tinggi di atas segalanya. Petra dengan egonya ingin menyudahi saja. Namun dengan segenap rasionalitasnya ia menyadari, cinta bukan arah angin, yang dapat berubah jika ingin. Cinta harus konstan. Walaupun memang kadang membuat bosan.

Seperti naik pesawat berkali-kali dan tetap mengagumi lampu kota dari ketinggian. Tanpa ada keterpaksaan. Seperti Petra yang perlahan ingin cepat pulang dan memvisualisasikan lagi saat pertamanya bertemu Juni. Pintu dibuka, ia tergesa menuruni tangga. Perjalanan ini adalah sebuah keputusan yang besar. Memang butuh pergi jauh dulu untuk dapat pulang. Dan kepulangan kali ini adalah akhir yang mungkin jadi awal.

Sebuah bingkisan tertinggal di kabin. Untuk Juni, yang tak ingin Petra tinggalkan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s