31 Hari Menulis

Hari #29: Kita Sebaiknya


Kita sebaiknya jadi awan. Ringan, menggumpal, dan menghilang jadi hujan. Lalu kembali lagi, entah besok, seminggu, atau sebulan lagi. Bereksplorsi dalam evaporasi.

Kita seharusnya turun ke bumi. Beroksidasi dengan partikel udara. Kita harusnya memperkaya diri dengan hal-hal yang membuat kita kotor. Lalu jatuh bebas, terpental ke aspal. Jadi embun di kaca-kaca yang buram. Membersihkan.

Kita semestinya mengalir ke sungai. Tersimpan di sumur. Larut ke laut. Menyatu bersama yang sudah berada di sana sejak lama. Kita harusnya sering-sering jadi pendatang baru.

Kita selayaknya mendingin saat panas. Memanas saat dingin. Menyeimbangkan. Hingga keberadaan kita punya arti lebih dari sekedar hidrogen dan oksigen yang berjajar dalam satu mata rantai.

Kita mungkin bisa jadi awan. Dekat tapi tidak tersentuh. Jauh tapi seperti mau runtuh. Karena kita adalah kata yang berubah bentuk setiap milisekon. Kadang ada, kadang tiada.

Thomas Lim kepada Carissa,

Bandara Adisucipto ke Soekarno-Hatta

29 Mei 2012.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Hari #29: Kita Sebaiknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s