31 Hari Menulis

Hari #28: Kue Keranjang


Kadang hidup adalah sekelumit alur protokoler. Seringkali baru bisa berjalan jika ada panduan. Sebuah set prosedural seperti yang tertera di buku resep makanan. Pemula akan patuh kepada instruksi takaran yang tertera disana, sampai ke gram, sendok makan, arah adukan, tingkat keulenan, kadar pengembangan, semua dalam satu adonan. Sama halnya dengan adonan kue keranjang.

Aroma perpaduan gula dan santan, diramaikan tepung ketan dalam adonan proporsional, selalu tercium setahun sekali. Khas tradisi. Dimasukkan ke dalam keranjang-keranjang kecil sebagai pencetaknya. Kue keranjang mengajarkan, bahwa dalam setiap cetak biru kehidupan ada rasa manis yang tercetak. Manis yang akan tetap disana dan berulang setiap tahunnya.

Sepenggal manis tertinggal di ujung lidah Rudi. Manis yang betah berlama-lama disana. Manis yang dicecapnya setiap imlek. Bagi Rudi kue keranjang sudah melampaui batas tradisi, ia mengkategorikannya sebagai adiksi. Mereka pun membentuk koalisi, Rudi dan kue keranjang.

Kecintaan Rudi pada kue keranjang adalah upayanya mengalahkan kecintaannya pada Carissa. Kertas merah yang ditempel di kue keranjang mengingatkannya pada gaun merah Carissa. Rasa manis dan lembutnya kue keranjang mengingatkannya pada rasa manis dan lembutnya bibir Carissa. Semuanya.

Dalam dialek Hokkian, kue keranjang disebut tii kwee yang berarti kue manis. Tradisi turun temurun, pertalian antar generasi yang mengalir santun. Sangking tersohornya, belum dicicipi pun orang akan mengatakan kue keranjang manis. Sama seperti orang tua yang mengajarkan anaknya bahwa air laut itu asin. Sebuah commonsense. Satu kenyataan yang tidak pernah ada yang susah-susah mau membantah. Karena itu, sebagai bentuk kedewasaannya, Rudi tidak pernah membantah kenyataan yang dipilihkan Tuhan untuknya. Bahwa Carissa adalah diva yang hanya bisa dinikmatinya lewat sepotong kue. Begitulah ia menghabiskan tahun-tahun panjangnya.

Kertas merah di kue keranjang akan selalu ditulisi macam-macam tulisan tentang kebahagiaan, kesejahteraan, kedamaian, dan hal-hal baik lainnya. Rudi sadar, porsinya bahagia adalah menggenggam kertas merah ini. Karena gaun merah yang cantik itu bisa saja tidak memberinya hal-hal baik. Gaun merah cantik hanyalah sebatas rasa penasaran yang menggelitik. Walau pada akhirnya Rudi harus terima hidup dengan rasa penasaran seumur hidupnya.

Mereka bertemu di setiap festival imlek. Rudi adalah salah satu pemain barongsai yang mengisi acara akbar untuk perhelatan di alun-alun kota. Dia anak tertua dari keluarga Tionghua pinggiran yang hidup serba pas-pasan. Dulu keluarga ayah ibunya sempat berjaya saat ikut juragan kain di kota. Namun sebuah musibah kebakaran menjungkirbalikkan keadaan. Kejadian ini membentuk Rudi menjadi pekerja keras di ladang yang buas. Pernah adiknya, Sensen bertanya kepadanya. Apa sebenarnya yang membuat Rudi rela menomorseratus-sekiankan dirinya demi mengangkat martabat keluarga.

“Malu sama nenek moyang kalau oe orang jadi Cina nggak rajin.”

Kerja kerasnya inilah agaknya yang menarik perhatian Carissa. Putri saudagar kaya yang diajaknya menari Liang Liong di malam kembang api Cap Go Meh. Mereka berdua berdoa di kelenteng.

“Apa yang kamu minta dalam doa?” Tanya Carissa.

Rudi tersenyum kikuk, “Saya tidak meminta. Sudah sepanjang tahun doa saya isinya cuma meminta. Malam ini, sesekali saya hanya mau berterimakasih. Itu saja.”

Carissa tertegun. Tiba-tiba ia berkata, “Saya ingin melempar jeruk ke tengah laut.”

Rudi menyela, “Agar dapat jodoh baik di kemudian hari? Haiaa, Car! Kamu orang itu cantik, baik, pintar. Tak usah lempar jeruk jodohmu pasti bakal turun dari langit. Malaikat.”

“Berapa banyak jeruk yang harus saya kasih ke laut biar dapat malaikat?”

“Tiga kardus?”

“Ha. Dewa tidak makan serakus itu.”

“Setengah potong?”

“Nanti malaikatnya juga datang sepotong.”

“Hiii. Yausudah, tidak ada. Kamu tidak perlu melempar jeruk. Berdoa saja disini. Lempar koin.”

“Tapi saya tetap mau melempar jeruk ke laut.” Carissa berkata pelan. Ada kesungguhan di matanya. Sesuatu yang akhirnya membuat Rudi menyanggupi.

“Baiklah. Saya antar ke pantai sekarang.”

Saat itu hampir tengah malam, dan mereka berkendara dua jam ke tepi pantai. Debur ombak di laut yang pasang menyambut dua butir jeruk yang akhirnya dilempar ke laut bersama-sama. Terapung sebentar, lalu hilang dalam kegelapan. Carissa kedinginan. Gaun merahnya tidak berlengan. Perjalanan impulsif membuat mereka tidak sempat bersiap-siap. Rudi hanya membawa kostum barongsai di ranselnya. Tanpa pikir panjang dilingkarkannya bahu Carissa dengan buntut naga. Wanita itu cekikikan. Katanya ia sudah merasa hangat. Entah karena buntut naga, atau karena raut wajah Rudi yang merah tersamarkan.

Mulai saat itu mereka bertemu dengan alasan apapun. Mulai dari pertemuan untuk lowongan pekerjaan, mengantar makan siang, mencarikan hadiah untuk teman yang berulang tahun, pergi ke pameran, pulangnya ke taman hiburan, sampai memasak kue keranjang bersama.

“Kamu tahu mengapa saya melempar jeruk ke pantai waktu itu?” tanya Carissa pada suatu ketika.

“Untuk minta jodoh, kan?” kata Rudi di sela-sela keasyikannya memperbaiki sepeda motor.

“Awalnya iya. Tapi setelah mendengarmu berdoa, saya tidak jadi meminta. Jeruk itu adalah simbol terimakasih saya karena sudah dipertemukan dengan kamu.” Ada kesunyian yang serupa hening tengah malam saat Carissa mengatakan ini, “Kamu laki-laki yang saya cari selama ini, Rudi.”

“Tapi saya tidak gagah dan tidak kaya, Car.”

“Saya tidak mau yang gagah dan kaya. Saya mau kamu.”

“Kamu keras kepala.”

“Kamu juga. Itu yang bikin saya jatuh cinta.”

Rudi tersenyum saja. Dicoleknya pipi Carissa dengan oli di tangannya. Carissa menjerit dan melemparkan lap ke wajah Rudi. Yang dilempar cuma cengengesan, bersiap mendaratkan tangannya lagi. Carissa lari menjauh. Pembicaraan terhenti. Namun tidak bagi Rudi. Hal itu tetap jadi pikirannya hingga hari-hari berikutnya. Dalam kespontanan yang mengejutkan, Carissa mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepadanya. Seharusnya ia senang karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Seharusnya ia senang karena mengetahui isi hati ternyata tidak membutuhkan panduan protokoler yang lama. Namun ia bimbang. Seperti ada sesuatu yang salah, bukan pada cintanya, tapi pada aktor yang jatuh cinta.

“Car. Saya mau ngomong.”

“Iya.”

“Saya dengar kamu mau dilamar Thomas Lim. Benar?”

“Dengar dari mana?”

“Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan.”

“Iya.”

“Kamu terima?”

Entah Rudi yang salah memilih pertanyaan atau intonasi, sorot mata Carissa yang tadinya tenang sekarang berubah garang.

“Kamu mau saya terima dia?!”

“Kenapa tidak?”

“Kenapa iya?! Kamu mengerti tidak, Rudi! Saya menunggu kamu. Tapi kamu tidak pernah berusaha mendapatkan saya. Saya sudah memberi banyak peluang, banyak celah, banyak pertanda. Tapi kamu tidak pernah mau sedikit saja memanfaatkannya. Untuk kamu saya merendah, Rud. Kenapa kamu jadi terlalu tinggi untuk saya gapai?”

“Status sosial kita terlalu jauh berbeda, Car. Kita nggak bisa bersama.”

Carissa kehabisan kata. Dicernanya kata-kata Rudi dengan seksama.

Kebenaran. Pada akhirnya semua akan dihadapkan pada kebenaran. Pahit  maupun manis. Kebenaran kali ini dibungkus dalam kue keranjang, dimasukkan satu-satu ke bulatannya yang bertingkat. Padat. Baik Rudi maupun Carissa akhirnya mengerti, manis yang terlalu dominan pada akhirnya akan mencapai titik akumulatif dan pecah menjadi pahit yang tertinggal di tenggorokan. Pahit yang tertelan.

“Terima lamarannya, Car. Dia jawaban dari jeruk yang kau lempar di pantai bersamaku. Dia yang pantas bersamamu.”

Sekian lama berkoalisi dengan kue keranjang, Rudi belajar tentang keikhlasan. Dia tahu dia bisa mendapatkan Carissa, namun tidak dikejarnya. Karena tidak semua yang bisa didapatkan, harus didapatkan. Ada hal-hal yang memang harus ada pada tempat dan waktunya. Seperti kue keranjang yang jadi pelengkap imlek. Hanya sekali dalam setahun. Membuatnya setiap hari seperti menyalahi esensi. Melanggar aturan tidak tertulis. Dan Carissa, adalah putri bulan yang tidak pantas hidup selamanya bersama kuli. Jadi disinilah Rudi berdiri, melepaskan. Menonton jeruknya terombang-ambing dibawa ombak di lautan.

Ada kue keranjang. Warnanya kertasnya merah, rasanya manis. Semoga rasa kehilangan ini semakin menipis.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Hari #28: Kue Keranjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s