31 Hari Menulis

Hari #27: Tanlie dan Sensen


Jika ada pakaian yang digunakan Tanlie lebih sering daripada seragam sekolah, itu adalah kostum baletnya. Warnanya keemasan. Dengan renda yang melambai, Tanlie melangkah gemulai. Dititinya lantai, memfokuskan seluruh berat badan dan kekuatan pada jempol kaki sebagai tumpuan. Ia memutar dengan kadar yang pas. Tariannya lugas. Tidak kurang, tidak berlebih. Sebagaimana efek iringan lagu, menonton tarian Tanlie adalah candu. Paling tidak untuk Sensen.

Sensen selalu datang menonton pertunjukan panggung sekolah Tanlie. Baik itu pentas seni, konser akhir tahun, drama musikal, aksi teatrikal, dan semuanya. Karena di setiap pertunjukan selalu ada tambahan balet yang mengisi. Selalu ada Tanlie yang menari. Dan untuk menontonnya, Sensen berprinsip harus berada pada tempat yang tepat. Seperti rel kereta yang sejajar dalam jarak yang pas, bagi anak muda Tionghua itu jarak yang tepat untuk keretanya dan kereta Tanlie adalah di kursi penonton baris ke-tiga. Ia selalu di sana. Menjadi yang pertama datang agar tempat favoritnya tidak diambil orang, sekaligus jadi yang terakhir pulang. Ini cara sederhananya untuk tersenyum senang.

Tanlie bisa mengontrol setiap milimeter gerakan tubuhnya. Kecuali satu, warna wajah yang berubah ketara saat merasa malu. Tidak pernah ada momen yang dilewatkannya dengan tersipu tanpa seluruh dunia tahu.  Satu kekurangan yang jadi alasan mengapa Tanlie, walaupun sangat suka kepada Sensen, tidak pernah berada di jarak yang terlalu dekat. Ketika berada di dekat Sensen, paras Tionghuanya selalu memerah. Pipi, hidung, kening, dagu, leher, tengkuk, sampai telinga. Semuanya menyala. Dan Tanlie tidak suka. Ia lebih memilih menyala di jarak yang tepat dan dengan riasan yang akurat. Dalam pakaian balet dan riasan tarinya, semburat merah yang tercipta menjadi tertutupi. Jika pun terlihat, penonton akan mafhum. Anak ini menari dengan total, pikir mereka. Pada akhirnya, Tanlie bisa mempertahankan interaksi dengan Sensen tanpa harus takut. Ia bebas tersipu malu.

Entah sejak kapan memandangi Sensen yang duduk di bangku penonton deretan nomor 3 itu jadi kebiasaan. Ditambahkannya lagi di list pemompa semangatnya saat tampil, tepat di urutan setelah doa. Dalam usianya, mereka belum mengerti kekuatan cinta pertama. Namun pengertian bisa datang belakangan. Yang penting mereka bahagia cukup dengan berpandangan. Yang penting setiap Tanlie berjingkat menari, ia semakin lihai mencuri kesempatan untuk mencari-cari sosok Sensen lewat sudut mata. Yang penting setiap Sensen menonton, ia semakin lihai untuk mengefisiensikan kedipan mata yang mengurangi sepersekian detik kala Tanlie menari. Lekat-lekat ia mengamati, merekamnya dalam arsip ingatan. Sensen tidak pernah terlambat apalagi absen. Jika ada penghargaan setara murid teladan untuk kategori penonton teladan, Sensen juaranya.

Karena itu ketika sudah lewat tiga kali pertunjukan dan Tanlie tetap tidak menemukan Sensen di kursi penonton deretan ke-tiga, Tanlie gelisah. Tariannya sekarang dibayangi resah. Pasti ada sesuatu yang menahan Sensen entah dimana. Tanlie merana. Ia jatuh sakit. Pelatihnya memberikan dispensasi untuk tidak melanjutkan pentas rutin. Tanlie disuruhnya istirahat, persendianmu butuh istirahat, katanya. Tapi Tanlie tahu, bukan istirahat yang dibutuhkannya, melainkan Sensen.

Tanpa sepengetahuan Tanlie, Sensen pun mencarinya. Ia ingin berbicara tentang kepindahannya sebulan lagi. Tiga minggu saat dia tidak datang sebelumnya adalah waktu dimana dia diboyong ke luar kota oleh keluarganya. Ayahnya pindah kerja. Tak ada pilihan lain, ia harus mencari sekolah baru dengan segera. Sungguh sedih bukan main rasanya, memikirkan arsip rekaman tarian balet yang tersimpan rapi di kepalanya. Sensen setengah putus asa berdoa, semoga nanti Tanlie jadi penari balet terbaik sedunia. Yang bisa pentas di setiap kota. Mengunjungi kota barunya yang jauh disana.

Tiga kali pentas yang ditonton Sensen, tidak ditemukannya sosok Tanlie. Ia masih sakit, kata orang-orang disana. Tinggal satu minggu sebelum keberangkatannya, Sensen panik. Sekian lama hanya bertukar pandangan, setidaknya mereka harus bertukar kata. Sebelum akhirnya berpisah tanpa rencana.

Beruntung hari terakhirnya disana, Sensen akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melihat Tanlie lagi. Dalam balutan kostum baletnya, ia digandeng oleh kakaknya, Gea. Sensen mengenalinya lewat foto keluarga yang digantung Tanlie di loker mereka yang bersebelahan. Membuncah oleh rasa yang bercampur aduk, Sensen berlari dari tempat duduknya ke belakang panggung. Dipanggilnya nama Tanlie dengan keras saat seisi tim teater sedang berkumpul di satu titik dan berdoa sebelum pentas. Dalam kesunyian, semua menoleh. Termasuk Tanlie. Sekian liter darah terpompa ke bagian atas tubuhnya, membuat wajahnya merah. Entah karena terdesak malu, entah karena sesak bahagia.

Tanlie berlari. Dihampirinya Sensen. Wajahnya tetap merah bersemu. Dulu ia menyesal jadi Tionghua, perasaannya dengan jelas terbaca dari warna wajahnya. Tentu saja di bawah lampu yang sangat terang ini, dengan jarak yang sangat dekat ini, Sensen akhirnya dapat membaca. Bagaimana sebenarnya perasaan Tanlie kepadanya. Namun Tanlie tidak peduli. Karena saat menatap mata Sensen, ia seperti bercermin. Wajah anak laki-laki itu pun tidak kalah merah. Sama. Sekarang Tanlie bersyukur mereka berdua Tionghua.

Sensen lalu berbicara. Ini adalah kali terakhirnya menonton tarian balet Tanlie.

“Menarilah untuk kepindahanku,” kata Sensen pilu.

Karena itu Tanlie menari. Berimporvisasi paling panjang dalam kehidupan panggung pertunjukannya. Piroutte. Seperti angsa yang menari. Melebihi porsi. Menentang skenario. Hari ini panggung jadi miliknya sendiri. Wajahnya merah. Bukan lagi tersipu malu, tapi tersorot sendu. Selama itu tidak diliriknya bangku penonton deret ketiga. Mungkin untuk selanjutnya ia perlu memejamkan mata. Suka ataupun tidak, ia harus mulai terbiasa.

Karena itu sampai lampu padam dan tirai sudah diturunkan, Tanlie tetap menari. Untuk Sensen, yang mungkin tidak akan dilihatnya lagi.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s