31 Hari Menulis

Hari #26: Elevator


Dalam setiap rangkaian hidup, selalu ada sesuatu yang diinginkan untuk dipercepat. Satu bagian yang ingin dilangkahi saja karena mungkin menjemukan, mungkin juga melelahkan. Tapi hidup bukan elevator yang cepat. Hidup tidak menawarkan perjalanan bagi mereka yang hanya berdiri di tempat. Hidup, sayangnya bukanlah elevator yang bisa naik turun dengan kendali penuh di tangan penumpang.

Hidup lebih mirip tangga. Naik turun satu per satu. Namun semua orang ingin cepat sampai. Walau untuk sebuah percepatan selalu ada resiko kegagalan. Tetap saja, semua orang ingin cepat sampai. Jarang ada yang bepikiran terkadang keinginan untuk mempercepat sebuah proses bisa jadi berbalik memperlambat semuanya. Terjebak di dalam elevator, misalnya.

Bagi Sally, naik elevator adalah perkara efisiensi waktu. Bekerja  di agensi digital membuat ia tidak hanya bersaing dengan kompetitor agensi sebelah, tapi juga bersaing dengan detik jam. Ia harus berpindah-pindah dari satu tempat pertemuan ke pertemuan lainnya, menangani klien, mengakomodir, dan memenangkan mereka. Lalu dia harus mempresentasikan final brief. Akurasi berarti harga diri, perusahaan maupun jabatan. Jadi, ya, elevator bukanlah pilihan. Elevator adalah kewajiban.

Bagi Aruna, berpacu bersama elevator adalah apresiasi untuk teknologi. ia menghabiskan pagi sampai sorenya berkutat dengan algoritma pemrograman. Melangkahkan kaki masuk ruangan yang sempit, memperhatikan pintunya menutup dan membawa mereka naik dan turun. Mengagumi perkembangan dari elevator hidrolik yang sudah kuno sampai jadi traction elevator seperti yang dinaikinya sekarang. Elevator adalah satu lagi alasan mengapa ia sanggup bertahan disini. Menyaksikan dengan pasti bahwa yang ia lakukan bukan hanya bermain bilangan biner, tapi bereksperimen untuk memudahkan kehidupan manusia.

Bagi Gea, ikut arus orang-orang yang antri menunggu elevator adalah pembiasaan. Sebagai seorang yang baru disini, dia harus menyesuaikan diri. Naik turun elevator adalah salah satu caranya menjadi bagian dari lalu lintas kantoran yang padat merayap. Tugasnya tidak banyak. Hanya menonton, sambil sesekali memfotokopi dan mengambilkan kopi. Sepele. Tapi Gea melihatnya sebagai sesuatu yang ekstensif. Melalui lembar-lembar sketsa yang telah diduplikasi, ia mendekati. Menyerap taktik dan strategi untuk amunisinya di kemudian hari.

Ketiga orang ini adalah penghuni elevator di pencakar langit 15 lantai itu pada suatu siang.

Lantai 1. Mereka masuk dengan wajar, menekan tombol lantai dengan wajar.

Lantai 2. Mereka bertukar senyum sederhana.

Lantai 3. Mereka menunggu dengan pikiran yang melanglang buana.

Lantai 4. Ruangan itu hening.

Lantai 5. Lampu berkedip. Elevator berguncang keras, lalu mati.

HOLY CRAP!!!”

Salah seorang dari mereka menekan tombol panggilan darurat. Seseorang di speaker kemudian memberikan instruksi untuk menekan saklar pengait rem yang akan menonaktifkan fungsi lift secara total. Nampaknya ada semacam konsleting akibat arus listrik yang tidak stabil di sana. Mereka diminta menunggu. Tim yang akan menangani kemacetan lift segera beroperasi.

“Saya harusnya ada di lantai 14 sejak setengah jam yang lalu. Damn it!

“Saya juga harusnya sudah ada di lantai 12 untuk presentasi.”

“Saya juga harusnya.”

Mereka bertiga bertukar pandang sebal. Apa boleh buat. Ini adalah bonus yang diberikan siang untuk mereka. Mereka tidak punya pilihan selain berinteraksi.

“Sally. Account executive.”

“Aruna. IT manager.”

“Gea. Magang di public relation.”

Sudah. Selebihnya mereka bertiga memilih untuk berdoa semoga perbaikan elevator tidak memakan waktu yang lama. Bukan hanya karena meradang saat melihat jam berkali-kali dan menonton menit-menit yang terbuang percuma, tapi juga karena berada terlalu lama di dekat orang asing tanpa melakukan apa-apa adalah momen tercanggung yang dihadiahkan semesta.

Gea jongkok. Sally mengetik-ngetik di layar ponselnya. Aruna bersiul-siul.

Menggerutu dan kepanasan. Mereka harus bersabar sedikit lagi untuk menghadapi sirkulasi udara yang harus dibagi tiga. Sudah tidak ada gunanya lagi melirik sebal ke kamera di sudut atas. Udara yang gerah benar-benar mematikan rasa.

Gea melepas blazer abu-abunya.

This is insane.

Melihat anak muda di hadapannya, Sally mengikuti. Dilepasnya blazer hitam The Executive yang dibelinya di Singapura itu. Sekalian, dicopotnya heels 7 cm yang dikenakannya. Lalu dilemparnya asal ke pojokan.

I never really like this shoes actually. Mereka membuat saya sakit, dari kaki sampai kepala.” Kata Sally.

“Saya juga benci setengah mati sama dasi ini. Kakunya, Ya Allah. Bikin sesak.” Tambah Aruna.

Gea tergelak. Tawanya menyembur.

“Apa yang lucu?” Aruna bertanya keheranan.

“Lucu saja. Saya rela nguras tabungan. Beli setelan kantoran yang mahal. Dandan biar kelihatan kayak kalian. Saya kira cuma saya yang pura-pura suka. Ternyata kita sama saja.”

Sesaat Sally terlihat malu. Pencitraannya runtuh sudah di sudut ruangan sempit ini. Kelemahan yang selalu ia bungkus rapi.

“Akan tiba saatnya dimana kamu akan sulit membedakan yang mana yang nyata, yang mana yang pura-pura.” Katanya datar.

“Lantas anda yang mana?” Tanya Gea penasaran.

“Tidakkah ini terlalu personal?” Tanya Sally mempertahankan jarak yang sesaat sempat luntur kejauhan.

Who cares? Kita terjebak sudah setengah jam disini. Apa mau ganti topik ngomongin cuaca?” lantang suara Aruna saat mengatakannya. Namun dalam nadanya terselip dorongan lembut untuk membuka diri. Setidaknya jika memang harus terkukung di tempat ini lebih lama, ada sedikit kebebasan langka dalam bentuk percakapan yang bisa ditukarkan.

This elevator freaking us out.

Yes.

Shit.

Mereka bertiga bertukar pandang. Lalu serempak membalikkan punggung, tertawa disana untuk waktu yang lama. Sampai mata mereka berair dan kekakuan mencair. Kadang, saat frustasi bersama, ada interkoneksi yang tidak terjelaskan. Ada pengakuan yang tidak terelakkan.

“Mungkin kita perlu mengulang lagi perkenalan kita.”

Dalam jeda yang tercipta, mengalir persetujuan yang tak kasatmata. Mereka sepakat. Tigapuluh menit diatur oleh semesta untuk membuat mereka terikat.

“Sally. 24 tahun. Gadis kampung. Hobi bermain bola, dulunya. Sekarang lebih hobi ngatain istrinya bos yang nyebut Hermes aja nggak becus. Oh ya, saya sebenarnya fans asli Everton dari dulu. Tapi karena ikut-ikutan dan biar bisa tetap ambil bagian ngomentarin El Classico, saya migrasi ke Barca.  Sampai detik ini pun saya masih berasa jadi pengkhianat laknat.”

“Aruna. 24 tahun Bukan tipikal pria pendendam. Tapi sekalinya benci sama orang saya bisa ngehack sistem kerjanya team-mate sampe data-data kerjaan lembur dia semingguan ilang. Terus yang dapet promosi saya deh. Asyik kan? Bukan tipikal pemendam. Sekalinya mendem, lama. Saya jatuh cinta sama temen SMA namanya Alikha, dari dulu sampai sekarang. Tapi nggak pernah punya keberanian untuk bilang langsung.”

“Gea. 20 tahun. Magang disini buat bahan skripsi. Karena perusahaan ini masuk top-five agency di Indonesia. Tapi mostly alesannya karena they said disini banyak attractive guy. Which I still couldn’t find one. Yah mungkin juga tidak dipertemukan untuk alesan yang baik. Terakhir kali saya tertarik sama laki-laki saya menciumnya. Di depan tunangannya. Not a good record, is it?”

Sally tergelak sampai duduk. Disibakkannya rambut yang basah oleh keringat dengan asal. Mereka seperti tiga orang yang habis aerobik tapi masih dalam balutan busana formal.

“Hahaha. Gila. This is too much for strangers!”

“Justru karena kalian strangers makanya saya percaya. Intensi kalian nol.”

Tiga orang yang awalnya mengutuk nasib karena terkurung di ruangan persegi empat ini, kini berbalik berterimakasih. Elevator yang dulunya hanya jadi pelengkap identitas diri, mulai saat ini naik kasta jadi ruang satir yang menyenangkan. Tanpa direncanakan, mereka berbagi, sekaligus terbagi. Berkolaborasi dalam kepercayaan darurat. Percaya yang tidak bersyarat. Percaya tanpa pretensi apa-apa. Murni naluri.

Pintu elevator akhirnya membuka. Ramai orang di luar sana, melongok ke dalam. Tiga orang yang terjebak di dalamnya keluar dengan sempoyongan. Lelah. Energi mereka terkuras. Bukan oleh penantian, tapi oleh pengakuan spontan. Membagi rahasia sembarangan ternyata bisa jadi sangat menyenangkan.

Sambil melangkah, ada yang berbisik.

“What happens here, stays here.”

Lalu mereka berpisah.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s