31 Hari Menulis

Hari #25: Romance d’Amour


Jatuh selalu mengerikan. Jatuh seperti halnya tersungkur tanpa perlawanan. Makanan yang sudah jatuh akan diabaikan. Barang yang sudah jatuh retak dan kehilangan tawaran. Orang yang sudah jatuh disingkirkan. Jatuh adalah ketidakseimbangan yang menghancurleburkan. Kebanyakan, jatuh adalah kutukan.

Namun, kata jatuh tidak lagi menakutkan jika dipadankan dengan kata bebas. Ketika jatuh kamu terbuang. Namun ketika jatuh bebas kamu malah terbang. Seperti sky diving. Melesat dalam kecepatan tinggi tanpa gesekan. Hanya ada sensasi jatuh yang menyenangkan. Karena kamu tahu dalam radius sekian puluh meter dari tanah, ada parasut yang akan melayangkan tubuhmu ringan. Mengurangi jatuhmu perlahan, sampai di titik dimana kamu bisa memvisualisasikan dengan jelas tempat pendaratan selanjutnya, dan berfokus pada gravitasi di sekitar tanda X yang mendadak menguat. Pandanganmu rekat. Lalu dalam kebebasan itu, kamu beradu tarik menarik dengan gravitasi dan arah angin.

Sayang jatuh cinta tidak seteratur itu.

Alikha pernah diberi pertanyaan sulit oleh sahabatnya, Kiko, pada suatu ketika. Mengapa disebut jatuh cinta? Berhari-hari Alikha memikirkan jawabannya. Karena tidak pernah ada yang siap untuk jatuh, kata Kiko dengan puas ketika Alikha menyerah.

Namun Alikha tidak puas. Ia merasa esensi jatuh cinta bukan itu. Tapi apa? Tidak ada yang tahu pasti ontologi jatuh cinta, apalagi sampai menguraikan aksiologi dan epistimologinya. Ia ingin bertanya kepada dosen filsafatnya, berdiskusi dengan mentor diplomasinya, mendengarkan ceramah dari pembimbing spiritualnya, namun diurungkannya niat. Ia harus mencari tahu dan mengalami sendiri. Masalah besar berikutnya, pada siapa? Sungguh Alikha sudah lama tidak jatuh cinta. Terakhir kali waktu SMA ketika ia dengan intens merindukan Aruna yang bersebelahan kelas dengannya.

Itulah yang terpanggil kembali. Alikha rindu perasaan rindu itu sendiri.

Alikha sudah lama tidak jatuh bebas, layaknya sky diving dari ketinggian di awan. Itulah mengapa ketika mendengar suara gitar di minggu pagi dari teras rumahnya, ia terbangun dengan segera. Hari itu adalah hari pertamanya jatuh cinta setelah sekian lama.

Ia mengintip dari jendela. Ada Malik, adik laki-lakinya yang berjarak tiga tahun dengannya, dan satu orang laki-laki yang mungkin seumuran dengan Alikha. Lagu tetap mengalun, perasaannya luntur dengan santun.

Tidak, Alikha tidak jatuh cinta pada laki-laki asing yang dilihatnya untuk pertama kali lewat jendela. Ia jatuh cinta pada instrumental Romance d’Amour yang dimainkannya. Dua puluh tahun kehidupannya, sudah sering ia mendengarkan berbagai versi gitar klasik dari Romance d’Amour ini. Dari mulai versi asli, mixing, improvisasi. Ibaratnya murid taman kanak-kanak mengenali lagu Pelangi, Alikha dapat dengan cepat mengidentifikasi. Ia pun pernah beberapa kali mencoba memainkan, namun gagal. Karena itu ketika dihadapkan pada di minggu pagi, Alikha menarik kesimpulan dengan mantap, orang ini main dari hati.

Setengah jam berikutnya dihabiskan Alikha untuk memandangi kaca. Belum terkena matahari tapi pipinya sudah bersemu kemerah-merahan. Seperti warna langit senja. Satu hal, ia jatuh bebas.

Ketika suara gitar berhenti, Alikha seperti menemukan inspirasi yang sudah lama hilang. Ia mengambil gitar yang telah lama tidak disentuhnya, mulai meraba-raba lagi. Mencari kord yang sesuai untuk Romance de Amor. Mengalirkan cinta lewat jari-jarinya.

“Hoi, Mbak. Maen itu juga?” Malik memergokinya.

“Hehe. Iya. Itu tadi siapa?” Alikha bertanya sambil tetap menjaga nada suaranya agar tidak terdengar terlalu penasaran.

“Kakak kelas. Dia ngajarin aku buat nampil pentas seni bulan depan.”

“Oh. Nggak belajar sama Mbak aja?”

“Satu-satunya yang aku pelajari dari Mbak itu cuma tidur.” Kata Malik kalem. Disusul dengan bantingan pintu yang menutup di depan wajahnya.

Mulai saat itu minggu pagi jadi golden time yang selalu dinantikan Alikha. Karena di minggu pagi, ada melodi tentang cinta yang mengalun ke kamarnya. Tidak lagi membangunkan tidurnya, karena Alikha sekarang jadi penghuni rumah yang bangun paling cepat di minggu pagi. Karena di minggu pagi ada petikan gitar yang menebarkan afeksi. Membangun imajinya tinggi-tinggi. Menstimulus amigdala otaknya, tempat segala perasaan dikendalikan. Menyemburkan partikel-partikel endorfin ke seluruh peredaran darahnya. Alikha suka berbaring saja di kasurnya. Menatap langit-langit. Membiarkan kolaborasi pikiran dan perasaannya mengambil alih. Lalu berkaca. Menemukan semburat merah lagi di sana.

Ah, andai dia bisa berdansa saat itu juga.

Satu bulan setelah pagi pertamanya jatuh cinta, Alikha terbangun dalam kesunyian. Pentas seni usai sudah. Alunan Romance d’Amour di teras rumahnya berhenti. Padahal di antara tujuh hari dalam seminggu, ada minggu pagi yang akan selalu ia rindukan. Alikha pasrah, sayapnya patah. Sekarang ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Perasaan rindu. Yang tertinggal hanya itu.

Lucu. Ketika cinta dilukiskan dengan perjuangan, Alikha justru mengenalinya dengan peruntungan. Karena jatuh cintanya kali ini bukanlah sesuatu yang patut diperjuangkan. Hanya sepotong lagu yang mengisi sepersekian memorinya. Hanya sesuatu yang sebatas diingat. Hanya momen bahagia tanpa harus melakukan apa-apa, tanpa harus dituntut siapa-siapa.

Dalam padanan kata, jatuh harusnya berpasangan dengan bangun. Ada yang salah ketika kamu jatuh tapi tidak pernah bangun. Sepertinya menyalahi aturan. Dan Alikha tidak mau menjadi yang salah di saat takdir sudah pernah menempatkannya di tempat yang benar.

Alikha mengambil gitar dan memainkan instrumen Romance d’Amour yang telah dilatih pendengarannya empat minggu lamanya. Ia menekan kord dengan mantap. Memetik satu persatu senar dan menyingkronkannya dengan tempo. Kali ini Alikha berhasil. Ia duduk di teras dan menjelma menjadi sosok yang selalu diperhatikannya dari jendela kamar. Mungkin beginilah rasanya jadi orang itu, bermain dari hati. Seketika ia menemukan cintanya lagi. Ternyata cinta itu tidak pernah pergi ke mana-mana.

Beginilah caraku mengenangmu. Kata Alikha di minggu pagi.

Advertisements
Standard

One thought on “Hari #25: Romance d’Amour

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s