31 Hari Menulis

Hari #24: Kepingan Gelas


Mereka bersandar di pilar-pilar besar di luar bangunan tua itu. Di depannya ada taman sederhana, tempat orang-orang sering bersantai dan berolahraga mengitari lantai conblock atau sekedar bersepeda bersama. Kebanyakan orang berbicara tentang cita-cita. Ada pula yang cuma sekedar mengomentari cuaca agar tercipta pembicaraan yang lebih lama. Angin pagi meniupkan beberapa helai anak rambut di belahan rambut Kiko. Dirapihkannya asal, ia masih bersandar. Menyimpulkan bahwa ia dan Haikal lagi-lagi akan bertengkar.

“Kamu marah?” hati-hati, Kiko bertanya.

“Tidak.” Rendah, Haikal menjawab.

“Kamu marah.” Kiko tidak bertanya lagi. Ia memberikan statement.

“Saya bilang tidak.” Haikal menegaskan.

“Tidak mungkin. Waktu saya terlambat datang ke jamuan kantormu, kamu marah. Waktu saya dekat dengan ketua himpunan mahasiswa kampus karena ada proyek, kamu marah. Waktu saya tidak membangunkanmu saat ada meeting penting, kamu marah. Kamu akan selalu marah atas kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan. Tidak mungkin sekarang ketika saya lupa ulang tahun kamu, kamu tidak marah.”

“Justru karena kamu melakukan kesalahan yang besar, Kiko, makanya saya tidak marah.”

“Kamu bohong.”

“Tidak.”

“Buktikan kalau tidak!”

“Buktikan kalau iya!”

“Kamu aneh. Saya takut.”

“Haha. Kamu yang aneh. Harusnya yang bikin kamu takut itu adalah ketika bersama orang yang sedikit-sedikit marah. Tapi kamu tidak pernah sedikitpun takut sama saya. Sekarang saya tidak marah kamu malah takut. Manusia macam apa kamu ini, Kiko.. Kiko.. Ketika Tuhan menciptakanmu mungkin Dia terpeleset, tertukar-tukar letak sensor perasamu.”

“Justru sekarang Tuhan sekarang sedang tertukar  memencet tombol kendalimu. Saya seperti tidak mengenali kamu, Haikal. Kamu kenapa?”

“Saya ingin berhenti menghakimimu.”

Kiko mendengarkan dengan seksama. Dahinya berkerut. Pikirannya menguntai benang kusut. Haikal benar-benar dirasuki sesuatu yang asing. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendengarkan, mencernanya perlahan.

“Tadi saya tidak sengaja saya menjatuhkan gelas, pecah berkeping-keping. Kepingannya sampai melukai tangan saya dan kaki office boy. Memang sepertinya tidak ada yang istimewa. Setiap jam di seluruh penjuru bumi selalu aja gelas yang pecah. Tapi bagi saya gelas yang pecah pada jam itu adalah alarm. Ternyata saya sudah tidur terlalu lama selama ini.”

Gelas dengan alarm. Bicara apa lagi laki-laki satu ini.

“Sama halnya dengan gelas, saya sering sekali menjatuhkanmu dengan tidak sengaja. Tapi kamu tidak pernah pecah. Atau belum. Saya tidak mau ambil resiko untuk mengetahui jawabannya dengan uji coba.”

Sekarang dia mengatakan sesuatu tentang uji coba. Ingatan Kiko melayang ke laboratorium. Ada rak dengan puluhan tabung kaca disana. Ia pernah memecahkan beberapa. Tapi melihat dirinya dibandingkan dengan sesuatu yang terbuat dari kaca, ia masih belum bisa menemukan kata yang tepat untuk setuju.

“Belum pernah ada orang yang setahan banting ini sama saya, Ko. Cuma kamu. Saya baru kehilangan Ken. Itu pukulan keras dari hidup. Saya tidak mau kehilangan satu lagi orang yang berharga dalam hidup saya karena kebodohan saya yang terus-terusan menuntut ekspektasi.”

Akhirnya Kiko bicara.

“Saya bukan gelas.”

Giliran Haikal yang mencerna.

“Jika pun saya gelas, saya bukan gelas yang kamu jaga agar tidak pecah. Jika tiba saatnya saya akan pecah, maka itu adalah karena temperatur udara yang terlalu dingin dan air yang terlalu panas. Bukan karena campur tangan kamu. Saya tahan banting, karena memang beginilah saya tecipta. Bukan karena telah kebal dibanting olehmu.”

Haikal mulai merasa mereka adalah kurir pos yang sedang menyortir kardus barang pecah belah.

“Jika saya adalah kepingan gelas. Saya ingin tetap bebas. Dan kebebasan itu saya artikan dengan tetap berada di sampingmu. Menghabiskan satu demi satu pertengkaran denganmu. Karena perdamaian, Kal, perdamaian kita adalah sesuatu yang ku tunggu-tunggu. Faktanya saya bukan keping gelas. Tapi kamu, Kal! Kamu sendiri yang menamainya begitu. Dengan menganggap saya gelas, kamu menghentikan dirimu dari apa yang memang seharusnya kamu lakukan. Kamu berhenti membuat pertengkaran.”

Kiko ini mulai sinting, pikir Haikal.

“Kal. Jika kamu sadar, sedikit saja. Hubungan kita bertahan sejauh ini karena pertengkaran. Saya tidak bisa membayangkan hidup bersamamu dengan baik-baik saja setiap harinya. Itu bukan kita. Gelas yang kamu jaga tidak pecah. Terang saja, itu gelas plastik. Palsu!”

Dari gelas ke alarm, ke tabung uji coba, ke kardus pecah belah, sekarang jadi plastik. Pembicaraan tentang gelas ini sepertinya menemukan hilirnya sendiri. Seperti Kiko dan Haikal yang mengalir searah arus air. Pada akhirnya memutuskan untuk tidak bertengkar lagi pun mereka harus melalui pertengkaran.

“Jadi kamu marah?” tanya Haikal hati-hati.

“Iya. Semuanya sudah pernah saya lakukan. Kecuali marah. Karena selalu kamu yang ambil kesempatan saya untuk marah duluan.” Kata Kiko cepat.

“Baiklah.” Haikal mengangkat kedua tangan.

“Baiklah. Selamat tinggal.” Kiko menyambar tasnya. Melenggang pergi dengan sneakers menghentak-hentak di lantai conblock. Ia sudah separuh jalannya ketika ia berhenti sejenak, lalu menoleh lagi ke belakang.

“Oh iya. Selamat ulang tahun. Ini hadiahku untukmu. Marah.”

Tanpa memberikan ruang untuk jawaban, Kiko berbalik dan melenggang pergi. Menghilang di pinggiran taman. Meninggalkan Haikal, yang hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s