31 Hari Menulis

Hari #23: Nephentes


Gading pernah mendongeng. Sebuah besi yang diwariskan kepada dua orang kakak adik yang berbeda karakter, oleh ayah mereka yang baru meninggal. Sang kakak berhasil membuat kapak, bekerja, dan mendapatkan penghasilan. Ia menjadi seorang yang sukses dan bahagia sepanjang hidupnya. Sang adik hanya memandangi besi tersebut, tidak melakukan apa-apa, dan akhirnya menderita karena tidak bisa menghasilkan apa-apa. Cerita itu ditutup dengan pesan moral bahwa orang yang berusaha pasti akan mendapatkan hasil yang setimpal. Kata Gading.

Kata Diatra lain lagi. Sang kakak mungkin saja hidup bahagia. Bagaimana dengan sang adik? Apakah ia benar-benar tidak bahagia? Apakah ia benar-benar tidak mau berusaha? Diatra curiga ia sengaja. Mungkin ia menatap besi itu dengan penuh kerinduan. Karena ketika memandanginya ia bisa mengingat masa kecilnya di saat ayah mereka mengajaknya berlari-lari turun bukit. Masa dimana mereka bersama-sama membangun rumah di sepetak tanah bekas ladang tua, dan besi itu tersisa sehabis rumah mereka, yang cuma dua ruangan, berhasil berdiri. Mungkin dia cuma merasa ingin menjaga kenangan itu tetap ada di tempatnya.

Mungkin dia cuma tidak mau melepaskan. Mungkin Diatra juga.

Saat hujan, orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Beradu cepat sampai rumah. Beristirahat. Tidur yang nyenyak di balik selimut yang nyaman. Minum teh hangat sambil membaca. Mendengarkan musik. Atau sekedar bengong memandangi butiran air yang turun dari langit. Karena dingin harus dilawan dengan tetap hangat. Itu cara menikmati hujan, bukan?

Mau tau cara Diatra menikmati hujan? Diatra melawan dingin dengan dingin. Menengadahkan tangan ke cucuran air dari atas. Mencelupkan kaki ke danau yang meluap. Merebahkan diri di rumput yang basah. Memejamkan mata. Ikut mendingin.

Hujan adalah satu-satunya yang tertinggal dari Ken. Hujan bagi Diatra adalah besi bagi sang adik dalam cerita. Dan yang lebih penting lagi, hujan adalah mediasinya bercerita. Tentang Ken. Dan kepada Ken.

Sekarang kaki Diatra mulai terasa beku dan buku jarinya mengerut. Sebentar lagi kamu akan hadir bukan, Ken? Seperti ratusan hujan sebelumnya. Entahlah, Diatra lupa menghitung. Sudah lama sekali mereka berkomunikasi dengan cara ini.

Nephentes. Tempat ini pernah jadi tempat favorit mereka karena banyak spesies kantung semar yang tumbuh di tepi danau. Ken dengan lensa kameranya dan Diatra dengan tabung riset laboratoriumnya. Ken akan menggulung ujung jeansnya masuk ke air danau, mengintip di balik kamera dan mengambil spot garis pertemuan antara danau dan langit senja yang oranye. Diatra akan tersenyum melihatmu asyik memotret, kemudian duduk di batu sambil mengambil sampel tanah untuk diukur kadar keasamannya, meneliti daun-daun kantung semar yang masih sehat, iseng membuka katupnya, melihat siapa tahu masih ada serangga hidup yang terjerat di dalam kantungnya. Waktu Diatra menoleh kepada Ken untuk memberitahu tentang serangga itu, ia dihadapkan pada siluet Ken yang sedang diam-diam memotretnya. Candid.

Diatra tidak pernah pede dipotret. Jadi dia akan berpaling, memungut batu, dan melemparkannya pada Ken. Biasanya Ken akan tertawa dan mengejek Diatra karena lemparannya tidak pernah akurat. Batu kecil cuma menciptakan riak-riak kecil di permukaan air sekitarnya. Sementara apa yang sebenarnya berhasil diciptakan olehnya adalah gelombang di laut yang tenang.

Diatra rindu Ken.

Ken selalu menggerutu jika kacamatanya berembun kena hujan. Diatra selalu menggerutu jika Ken menggerutu. Lalu Diatra ambil kacamata Ken biar dia tidak menggerutu lagi. Lalu Ken marah karena pandangannya jadi kabur. Lalu Diatra lari. Ken mengejarnya. Dan Diatra berteriak pura-pura minta tolong setiap kali Ken berhasil menangkapnya dan mengambil kembali kacamata yang dicurinya. Lalu Ken akan mengajakku menepi, memeluk Diatra di bawah pohon ini. Lalu mereka akan diam saja sambil mendengarkan percik hujan di daun-daun yang hijau.

Rindu ini sampai membuat sesak. Bagaimana bisa Ken sudah pergi tanpa isyarat?

Di setiap film yang Diatra tonton, buku yang dia baca, mereka selalu mengatakan bahwa ada isyarat kepergian. Ada selamat tinggal yang tersirat. Ada kebiasaan yang berbeda. Ada mimpi yang tidak biasa.

Bagaimana bisa semuanya begitu biasa di hari ketika Ken pergi?

Tidak ada peluk lebih erat di bandara. Atau tatapan berkaca-kaca entah karena apa. Bahkan Diatra tak melihat pesawat yang membawamu pergi untuk terakhir kali. Ini sama biasanya seperti perpisahan-perpisahan sebelumnya, ketika Ken melambaikan tangan di pintu keberangkatan untuk mengatakan sampai jumpa. Ken akan pergi sebentar ke pulau seberang, lalu pulang lagi ke sini. Diatra akan menyambutmu lagi di sini. Ini sama biasanya dengan cengiran yang biasanya. Ini sama biasanya dengan kecupannya setiap pagi.

Yang tidak biasa adalah berita kecelakaan pesawat di atas samudra pasifik hari itu. Pesawat Ken. Hujan turun semalaman itu. Malam dimana Diatra menangis terpanjang seumur hidupnya.

Bahkan dia tak bisa mengecup kening Ken untuk yang terakhir kali.

Hujan turun semakin deras.

Bersender di pohon besar ini, Diatra terisak. Ini dia. Angin menggoyangkan ranting di atas kepalanya. Ken sudah hadir lewat isyarat alam.

Diatra membayangkan sekarang Ken memeluknya untuk memberikan sedikit hangat. Tapi Ken sudah mendingin entah dimana. Biarlah. Dingin adalah suasana yang Dia ciptakan dengan sengaja. Cuma agar Diatra untuk mengingat Ken. Menemani Ken. Begini cara Diatra menikmati hujan. Tak perlu selimut, tak perlu teh hangat, tak perlu musik, tak perlu buku.

Dan mereka diam tanpa suara.

Ada serangga baru terperangkap di kantung Nephentes saat hujan. Namanya kenangan.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Hari #23: Nephentes

  1. andin says:

    “Ada serangga baru terperangkap di kantung Nephentes saat hujan. Namanya kenangan”
    saya selalu tertarik dg kantung semar, dan jika saya menemukan masih ada serangga yg hidup didalam kantung’y saya akan mengeluarkan serangga tersebut (biasanya semut..karna saya menghormati semut). tapi jika saya adalah diatra, saya akan memasukkan semut sebanyak2’y ke kantung agar kenangan selalu ada 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s