31 Hari Menulis

Hari #22: Berlari


 Ara tidak pernah bisa mengerti apa yang menyenangkan dari berlari. Dari delapan kecerdasan dasar, kecerdasan kinestetis berada di tingkat paling rendah yang dimilikinya. Ara tidak pernah dipilih dalam tim voli untuk pertandingan antar kelas di sekolahnya, selalu jadi cadangan dalam praktik basket, bahkan dijaga ketika berenang. Olahraga bukanlah bidangnya. Olahraga adalah ketakutannya, sejak dulu.

Karena itu ketika ia mendapatkan Gading yang notabenenya adalah atlet lari, Ara tergelak sendiri. Ia beranggapan Gading mungkin hadiah dari Tuhan untuk melengkapi kekurangannya. Komplementer yang baik untuk menyeimbangkan kecerdasannya. Yin yang melegkapi Yang-nya. Ketika Gading berlari, Ara kerap menunggui di titik mulainya. Menjadi tempatnya pulang kembali.

Ara ingat kata-kata Gading suatu hari,

“Lari itu membebaskan.”

“Apa artinya bebas tapi sendiri?”

Pertanyaan Ara yang pada awalnya dimaksudkan untuk membela diri karena tidak mau berlari pada akhirnya jadi bumerang yang menerjang wajahnya sendiri. Karena nampaknya pertanyaan itu masuk ke alam bawah sadar Gading, diterjemahkan menjadi doa, dan dijawab melalui Dira. Seorang gadis yang menganggap lari seperti makan nasi.

Gading yang dari dulu sudah terbiasa berlari sendiri karena tidak ada yang mampu sejajar dengan dia sehari-hari, kini memiliki zona yang ditempuhnya dengan orang yang memiliki kemampuan setara. Satu hal yang Ara lupa, setiap komplementer bersaingan dengan substitusi. Perlahan, Ara tersubstitusi oleh kehadiran Dira yang menjadi komplementer baru Gading saat berlari. Menemaninya jogging, menyainginya sprint, menyamainya cruising.

Ada membran tak kasatmata yang melingkupi mereka berdua saat berlari bersama. Ara tahu ia tidak akan pernah bisa menembusnya.

Satu hal yang gampang ditebak. Ara cemburu.

Satu hal yang juga gampang ditebak. Gading tidak tahu.

Sebuah kewajaran jika seseorang dihinggapi rasa cemburu. Kemarin Ara diceritakan oleh Kendra sahabatnya bahwa ia dicemburui oleh kakaknya sendiri. Di setiap senti kehidupan, cemburu adalah bumbu. Kadang ia jadi candu. Sebegitu kuatnya efek cemburu sampai Dewi Hera dalam mitologi Yunani pun mengutuk Peri Echo sampai tidak bisa bersuara. Cemburu adalah keharusan, dalam nonfiksi maupun fantasi. Cemburu bahkan jadi inspirasi mahakarya.

Namun cemburu yang seperti itu adalah cemburu yang memiliiki objek yang tepat dan terkunci. Sementara Ara tidak tahu sebenarnya yang dicemburuinya adalah Dira ataukah konspirasi semesta untuk memberikan Gading teman berlari. Menjadikannya substitusi. Membuangnya yang memang dari awal tidak punya posisi dalam cinta Gading kepada lari. Ara cemburu pada bagian cinta yang terlepas darinya, lalu tersangkut di Dira.

Kecemburuan menjadikannya sentimentil. Bahkan kepada benda mati seperti sepatu. Saat itu Dira melihat sepatu Gading dan mendadak menjerit, mengenalinya sebagai Nike Air Pegasus Flywire limited edition, yang bisa dipasangi sensor dan dihubungkan ke iPod. Padahal sepatu itu dibeli Gading bersama Ara. Dan Ara yang tidak tahu apakah ia harus menjerit ataukah menangis palsu karena sebuah sepatu edisi terbatas, memilih untuk diam saja. Baginya, respon paling aman adalah dengan bersikap seperti halnya laki-laki ketika disodori sepatu Amanda Jane. Mengacungkan jempol dan berkata, “bagus”. Walau dalam hati berkata “semua terlihat sama saja”.

Namun justru jeritan dan afeksi berlebihan kepada sepatu tebal dan bergerigi itulah sesuatu yang sangat diinginkan Ara. Entah bagaimana caranya, ia tidak ingin disubstitusi oleh Dira.

Jadi siang itu Ara mengancingkan jaketnya, menalikan sepatu, dan memasang headphonenya kencang. Ia mau berlatih berlari. Mengibarkan bendera kompetisi. Dengan langkah pendek-pendek, disusurinya lintasan lari sendiri. Biar Gading tidak tahu dulu, gengsilah ia jika ketahuan modus aslinya adalah karena cemburu. Diingat-ingatnya derap langkah dan tawa Dira. Diingat-ingatnya wajah Gading yang kemerahan karena lari. Diingatnya juga bagaimana mereka berdua merancang target sprint dengan alat pengukur jarak. Seperti hukum alam. Sepertinya ada yang sedang merancang sesuatu bersama, sementara ada pula yang ditinggalkan berjarak.

Ara menambah kecepatannya.

Ternyata berlari meringankan. Ada hentakan yang mirip lagu dan derapan yang mirip tarian. Melesat maju seperti busur panah liar. Ara tidak sempat memikirkan bagaimana penampilannya terlihat saat ini. yang paling penting baginya saat ini adalah membiarkan otaknya turun ke kaki.

Ara semakin menambah kecepatannya.

Seperti ada yang membakar sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang telah lama ditinggalkan dingin dan mengkristal. Sesuatu itu terbebaskan dan menyublim bersama setiap nafas yang dihelanya. Ia bebas. Cemburunya lepas. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari sebuah insekuritas, karena jika ia datang, Ara punya opsi untuk mengeliminirnya, tergantung seberapa cepat ia berlari.

Ara terus berlari sampai terpental. Kakinya terantuk, jatuh terkilir. Ia meringis perih mengusap lutut dan sikunya yang tergores memar. Meluruskan persendian kaki yang masih tegang, Ara duduk di trotoar. Sinar matahari sore menyilaukan mata. Dilingkupi nelangsa, ia tertawa geli. Sesuatu membisikinya saat berlari.

“Ara, apa artinya bebas tapi sendiri?”

Ia sadar mengapa ia tidak perlu cemburu. Karena sebenarnya objek yang dia tuju bukanlah Dira, bukan juga konspirasi semesta untuk menghadiahi Gading teman lari. Tapi dirinya. Yang takut ditinggal sendiri ketika Gading berlari.

Ara akhirnya merasa, cinta itu seharusnya seperti berlari. Membebaskan. Dan seperti Gading yang tidak pernah mensyaratkan Ara harus berlari untuk mendapatkan cintanya, Ara harus menerima cinta Gading yang terbagi. Padanya, dan pada jalanan yang rajin dicumbui. Dan siapapun yang menemani Gading berlari, dia adalah yang membawa Gading kembali ke titik finish. Pulang kepada Ara.

Sambil membersihkan luka, dia menengadah ke matahari. Menjawab sesuatu yang dari dulu mengusik kehidupannya.

“Apa artinya bebas tapi tidak pernah sendiri?”

Bukan untuk menjadi substitusi, bukan juga untuk mengibarkan kompetisi. Tapi untuk dirinya sendiri. Ara berjanji. Besok dia akan lari lagi.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s