31 Hari Menulis

Hari #21: Momen Antitesis


Kendra membaca  tulisan Azalea. Ditutupnya laptop yang berderu kepanasan sejak tadi siang itu. Ia berbaring, meletakkan tangan di bawah kepala, menatap langit-langit yang temaram.

Inilah momen antitesis.

Ia tidak suka dengan fakta bahwa kakaknya bisa menceritakan dengan lugas apa yang dia suka. Azalea sangat suka orkestra. Sementara Kendra, bahkan ia baru mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia suka?

Usia mereka terpaut dua tahun. Namun betapa Kendra kerap kali berharap rentang waktu dua tahun itu elastis, dapat memelar sampai jauh sekali. Karena dalam 24 bulan yang tidak terlalu jauh itu, Kendra dan Azalea hadir sebagai sosok yang tidak jauh berbeda, namun kerap dibedakan. Seperti matematika, dunia sudah terlalu terbiasa mengukur mereka dengan perbandingan. Azalea yang bintang, Azalea yang anggun, yang ramah, yang pintar. Kendra yang biasa saja. Sepertinya ketika pertama bersemayam di rahim ibu, Azalea merampas semua. Sehingga ketika Kendra jadi yang berikutnya, tempat itu jadi semacam rumah sisa.

Kakaknya selalu disinari oleh cahaya,sementara dirinya hanya bayangan. Hilang jika sudah gelap.

Apa yang sebenarnya ia punya?

Ada sepersekian detik sebelum tidur yang selalu kita gunakan untuk menatap kekosongan, membiarkan pikiran melesat ke banyak hal yang mungkin terlewatkan. Momen ini digunakan Kendra untuk merunut hubungannya dengan Azalea.

“Dek, aku iri sama kamu.”

Dheg. Ucapan Azalea tadi  siang itu lagi-lagi paradoks. Yang benar saja!

“Ngarang kamu, Kak.”

“Lah ho’oh. Kamu tu kayaknya adalah orang paling santai yang pernah aku kenal sedunia.”

“Bukan akunya yang terlalu santai. Kamunya yang terlalu sibuk.”

“Aku iri. Gimana bisa kamu nggak iri sama aku? Kamu sepertinya nggak pernah punya keinginan untuk mengejarku. Selama ini aku berusaha jadi role-model buatmu, biar kamu bisa ikutin jejakku, bahkan lebih dari itu. Tapi ternyata aku malah balapan sendiri.”

Kendra diam memperhatikan. Seperti apa yang selama ini dilakukannya. Diam, dan memperhatikan kakaknya itu berjuang jumpalitan untuk hidupnya. Bukan karena ia tidak ingin ikut ambil bagian di arena balapan, tapi lebih karena ketika berada di tempatnya ia bisa melihat lebih luas. Ia bisa melihat lanskap yang terbentang dengan rumputnya yang hijau. Mengamati lawan-lawan buas yang siap menerkam kakaknya. Menganalisis celah-celah sempit yang tidak terlihat mata yang dibanjiri  adrenalin dari tengah lapangan sana. Kendra memilih untuk melihat seluruh penjuru arena yang berusaha ditaklukkan Azalea dari satu titik pandang. Menjaga titik butanya.

Azalea tersenyum datar.

“Aku gagal jadi kakak ya?”

Kendra tahu dia paling benci pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan. Namun untuk kali ini, hanya itu jawaban yang ia punya.

“Kok kesimpulanmu gitu?”

“Aku pengen bikin kamu cemburu, Dek. Tapi akhirnya malah aku yang cemburu sama hidupmu.”

Sisa pembicaraan siang itu dihabiskan Kendra dengan tertawa terbahak-bahak. Baginya itu adalah lawakan paling juara yang pernah dikatakan oleh Azalea. Juga, ia menertawakan dunia. Orang-orang bilang Azalea pintar. Namun hanya dia yang tahu bahwa kakaknya itu bodoh setengah mati. Dia tahu dan sangat mengerti, karena begitu banyak momen antitesis yang telah mereka lewati.

Malam ini Kendra memandangi wajah letih Azalea yang tertidur pulas di sampingnya. Berbagi kamar masih jadi sesuatu yang membuat mereka satu. Merekam diam dalam lampu tidur yang temaram.

Memang harus ada pihak yang diam. Karena itu adalah shelter yang dibutuhkan setiap pejuang yang butuh tambahan energi, atau onderdil untuk diganti. Kendra paham posisinya di arena balapan ini, persis seperti ia paham posisinya di dunia yang akan mereka tinggali sampai mati. Azalea jadi prajurit, Kendra jadi penjaga. Dan keduanya setara.

Sepersekian detik sebelum masuk ke alam bawah sadar, Kendra mendapati dirinya tersadar akan satu hal. Ini adalah sesuatu yang ia suka. Menjaga cahaya agar tetap berpendar. Mengatur komposisi dan strategi dari balik layar. Tidak apa. Dengan begini justru dia ada dan didambakan. Karena ternyata, sang bintang pun sesekali ingin jadi bayangan.

Ada satu hal yang ingin diucapkannya, namun ditahannya dalam hati.

“Jangan cemburu, Kak. Jalani saja peran kita sama-sama.”

Kendra menyelimuti Azalea. Lalu ia lebur di dalam kegelapan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s