31 Hari Menulis

Hari #20: Filosofi Orkestra


“Bergabung ke dalam orkestra adalah perkara memutuskan untuk belajar hidup pada panggung pertunjukan dan permainan suara. Ini bukan perkara meningkatkan eksistensi. Ini adalah dedikasi. Walau kadang-kadang keduanya kerap dikira sama, terlihat setara. Sekali-kali resapilah. Ada filosofi yang larut di dalamnya.

Orkestra adalah mendengarkan. Bermain sendiri mungkin akan membawamu meninggi. Tapi bermain bersama, akan membawa kita untuk rendah hati. Karena saat bermain bersama yang tercipta adalah saling mendengar. Baik nada maupun isyarat. Mendengarkan adalah kasta tertinggi dari seluruh kemampuan indera yang dimiliki manusia. Lewat pendengaran kita melihat, meraba, merasa, juga bersuara. Jika kau masih saja berpendapat bahwa definisi suara adalah resonansi bunyi yang dihasilkan dalam frekuensi tertentu, maka kau perlu menutup semua indera dan mendengarkan musik orkestra. Kawan, sesungguhnya suara bisa berupa apa saja. Dengarkanlah. Diam pun bersuara. Di setiap resonansi nol ada makna yang jumlahnya tidak kurang dari seribu ditambah satu. Birama diam yang terselip di berapa bagian dari partitur itu adalah bagian dari lagu yang menyempurnakan. Jeda untuk suara, peralihan sebuah suasana. Seperti tanda koma. Tanpanya tidak akan lengkap sebuah cerita.

Saya belajar mendengarkan orang lain. Menjadi tidak egois tanpa harus apatis. Yang lebih penting lagi, saya belajar mendengarkan kata hati.

Orkestra adalah kepatuhan. Menyisihkan sepersekian menit untuk mempelajari repertoar yang berlembar-lembar. Membunyikannya dengan tepat dan benar. Berlatih keras dalam hitungan jam, hari, minggu, dan bulan untuk menghasilkan sebuah komposisi yang pas. Mengalunkannya persis seperti apa yang ingin diceritakan oleh pencipta lagu. Sesungguhnya itu yang membuatnya merdu. Bermain orkestra seperti bermain lakon dan peran. Setiap tokoh dituntut patuh kepada konsekuensi peran yang mereka pilih. String section memproduksi nada dengan menggesek alat musiknya, brass section menyelaraskan dengan meniupnya, ryhtme section menyeimbangkan dengan memukul dan menekan nada sampai tercipta melodi yang sempurna. Orkestra juga berarti patuh kepada ayunan tongkat baton, sepatuh tangan-tangan yang ada di bawah kepemimpinan yang pas untuk bisa selaras. Patuh bukan berarti menolak segala kemungkinan improvisasi, patuh yang sebenarnya adalah sesederhana tahu porsi.

Saya belajar patuh. Untuk hasil yang sempurna, ada peran yang harus dimainkan, ada aturan yang harus dijalankan. Yang lebih penting lagi, saya belajar bertanggungjawab atas kepatuhan yang saya pilih dengan sukarela.

Orkestra adalah memaafkan. Setiap saat ada yang salah. Setiap saat ada yang tertinggal. Setiap saat ada yang melaju terlalu cepat. Setiap saat ada yang merusak perjalanan sehingga harus diulang dari awal. Namun orkestra bukanlah baris berbaris yang harus selalu maju berderap-derap. Orkestra, justru berjalan mundur. Merunut lagi dari awal, memperhatikan yang tertinggal. Melambatkan tempo. Lalu belajar merangkak lagi sebelum akhirnya berlari. Dengan itu kita sadar bahwa ketika belajar, kesalahan ada memang untuk dimaafkan. Diarahkan, bukan dihentikan.

Saya belajar memaafkan. Kesalahan orang lain yang membuat teralihkan, juga kesalahan diri sendiri yang kadang melelahkan. Yang lebih penting lagi, saya belajar memulai lagi ketika sudah  lelah dan ingin berhenti.

Orkestra adalah pengukuran. Ada kadar keseimbangan yang dicari untuk mencapai kepuasan tertinggi. Dan manusia-manusia ini, adalah manusia yang terdeterminasi. Seperti anak kecil yang mengukur tinggi, tidak ada yang puas jika diukur mengerdil. Karena itu mereka melonjak-lonjak, minum vitamin lalu beradu siapa paling cepat tinggi. Dalam orkestra, vitamin ditelan dalam wujud kesempatan. Untuk bermain lebih tinggi, dan bersinergi lebih luas. Karena kesempatan, wahai kawan, bukanlah sesuatu yang diberikan. Kesempatan adalah sesuatu yang didapatkan.

Saya belajar mengukur seberapa jauh saya bisa bertahan. Yang lebih penting lagi, saya belajar sejauh apa saya bisa mendapatkan kesempatan.

Orkestra adalah pengendalian. Badai dinamika yang terpapar di dalamnya seperti sebuah ujian. Bisa juga dikatakan sebuah permainan. Bagaimana kita mengenali lalu memposisikan karakter. Manis dalam ritmis. Serasi dalam presisi. Ada bagian-bagian lagu yang memposisikan kita untuk vokal dan menguat, di lain waktu menempatkan kita untuk samar dan mengiringi. Orkestra di sisi ini seperti game adu strategi mengalahkan rasa takut. Itulah mengapa musisi selalu terlihat percaya diri. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki rasa takut paling besar di dunia. Takut mengecewakan, takut tidak berarti, takut tidak diapresiasi. Tapi musik mengajari kita untuk mengendalikan. Percayalah, kawan, tidak ada orang yang benar-benar percaya diri. Yang ada hanya orang yang rasa takutnya terkendali.

Saya belajar mengendalikan emosi. Tahu kapan saatnya menguat, kapan melemah. Yang lebih penting lagi, saya belajar percaya diri.

Satu lagi,

Orkestra tidak punya arti ketika hanya dimainkan oleh pemainnya sendiri. Hidup matinya orkestra ada pada penonton. Penikmat orkestra sejati adalah orang yang mau belajar. Bukan hanya menyaksikan pertunjukan hebat yang bermandikan peluh, tapi meresapi keberadaannya disana secara menyeluruh. Bukan siapa yang memainkan, tapi apa yang sedang disampaikan.

Untuk ini, dibutuhkan sebuah pertunjukan. Dan untuk pertunjukan, dibutuhkan sebuah pengaturan. Kemampuan untuk bisa bermain musik adalah sesuatu yang langka. Namun kemampuan untuk bisa mengatur orang-orang yang bermain musik adalah sesuatu yang sangat, sangat langka. Mengakomodasi semua kepentingan tanpa harus mengorbankan, selalu membuat sakit jiwa. Ada orang-orang tertentu yang menyanggupi itu bukan sebagai tuntutan, tapi sebuah panggilan.

Ini yang saya sebut dedikasi. Ini yang saya anggap sebagai inspirasi.

Sebenarnya setelah menulis saya jadi ragu apakah ini filosofi atau hanya racauan di malam hari. Mungkin kamu yang membaca juga jadi ragu. Kita sama-sama ragu. Tidak apa, karena orkestra akan selalu punya kisah tentang kebersamaan.”

 

Yang sedang belajar,

-Azalea-

 

 

PS: Tulisan ini spesial untuk Gadjah Mada Chamber Orchestra yang baru menyelesaikan Grand Concert Vol.2 : Concerto d’Amore. I LOVE YOU.

image by: Vina Sectiana


Advertisements
Standard

One thought on “Hari #20: Filosofi Orkestra

  1. yg ini bagus kayak biasanya. dalem.
    tapi apa ya shof.. aku kok cenderung pingin cepet-cepet selese bacanya, banyak bagian yg tak skimming thok. semacam kurang daya tariknya.
    trus azalea ini ceritanya kan main contrabass ya? sama arsitek juga kan?
    bayanganku adalah dia akan ngomongin arsitektur juga disana-sini. persis kok, musik sama arsitektur itu, coba tanya mbak sheila atau mutia deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s