31 Hari Menulis

Hari #18: Mencari Azalea


Curiosity kills the cat. Jika dahsyatnya rasa penasaran saja bisa membunuh kucing, besar kemungkinan ia juga bisa membuat manusia gila lalu bunuh diri. Rasa penasaran punya dua sisi. Seperti koin yang berputar dan jatuh di satu bidang. Memuaskan rasa penasaran itu adalah pilihan untuk memutar koin dan melihat sisi mana yang ada di atas.

Ada penasaran yang terabaikan, seringkali jadi batu nisan yang takut-takut untuk dikunjungi. Ada juga penasaran yang tersalurkan, yang ini sudah dibuktikan Edison bisa jadi inovasi. Namun bagaimana dengan penasaran yang tersalurkan sebentar lalu terabaikan? Kau harus mencari Azalea dulu baru mengerti. Alex sudah, dan akhirnya dia tahu rasanya disambangi rasa penasaran, pergi tersesat, lalu berkarat.

Mungkin penasaran itu adalah kutukan. Karena suatu malam ketika Alex diseret Pamungkas untuk pergi meliput peragaan busana, yang dikaguminya bukanlah model-model cantik ciptaan Tuhan, tapi bangunan. Ya. Bangunan gedung tempatnya berada yang memiliki langit-langit dengan kubah paling brilian sedunia. Kubah yang simpel dan elegan, namun memantulkan sinar lampu dan memecahkannya jadi kerlip redup yang memantul ke segala penjuru. Satu kerlip tidak sengaja terpental dan menelusup masuk tertangkap retina Alex. Seketika ia melongo, menganggap arsitek adalah pekerjaan hebat nomor wahid di Indonesia. Presiden kalah. Karena pidato kepresidenan tidak pernah berhasil menyentuh hatinya. Mulai saat itu, Alex ingin mencari seorang arsitek. Ia ingin memilih memutar haluan dan jatuh kepada arsitek pujaannya, persis seperti memilih memutar koin dan menjatuhkannya di satu sisi.

Disusunlah rencana dengan segera. Perempuan itu harus sedang kuliah di jurusan arsitektur atau sudah mulai kerja. Baru magang lebih baik. Karena nanti dia dan Alex akan merancang masa depan, pelan-pelan. Dimulai dari merancang rumah bersama. Dengan desain yang dibuat sesukanya, ditambahi ornamen-ornamen antik yang memadukan suasana. Atapnya piramida. Pilarnya stonehead. Ruang tengahnya Timur Tengah. Ruang makannya Jepang. Kamar tidurnya Eropa. Taman belakangnya Amerika Latin. Dapurnya tetap Indonesia! Dia akan sibuk mendesain dan Alex sibuk mendokumentasikan. Itu adalah liputan yang paling ia inginkan.

Dan satu lagi! Gadis arsitek ini harus bisa main contrabass. Kenapa? Tidak ada alasan spesifik sebenarnya. Hanya saja Alex memang belum pernah menemukan perempuan yang main contrabass, di panggung jalanan maupun panggung orkestra. Alat musik gesek itu terlalu tinggi, badannya terlalu berat, suaranya terlalu seram. Perempuan tentu saja lebih suka biola, viola, atau paling besar cello. Namun ini lagi-lagi mengusik penasaran Alex. Ia pernah membuat sayambara. Barang siapa yang pertama dilihatnya sebagai perempuan pertama yang main contrabass, akan didekatinya. Karena perempuan pemain contrabass pastilah seorang pejuang sejati. Dan bagi Alex, dia pantas diperjuangkan. Sayang sayembara yang didasari rasa penasaran ini terabaikan, sampai kadaluarsa.

Dua kriteria. Arsitek dan pemain contrabass. Selebihnya dia tidak peduli.

Seperti terjawab, seorang teman bernama Eri datang kepadanya.

“Lex, aku punya kenalan. Anak arsitektur, dan anak orkestra, pemain contrabass. Namanya Azalea.”

Mulai hari itu pencarian Azalea dimulai. Alex bersikukuh ingin menemukannya sendiri. Keras kepala yang pada akhirnya disesalinya. Karena meski jejaknya bertebaran di mana-mana, ternyata bertemu dengan Azalea bukan perkara mudah. Alex berkunjung ke kampusnya, nongkrong di kantin, tapi tidak bertemu. Kata seorang temannya, Azalea sedang ada proyek ke pinggir kota, mengerjakan pekerjaan magang untuk proyek tata letak kota. Disusulnya ke pinggir kota, Alex cuma bertemu maket yang bertebaran dan orang-orang dinas yang berseragam. Azalea baru saja pulang, kata mereka.

Ia setengah memaksa pimpinan redaksinya untuk menempatkannya pada liputan pembangunan flyover baru di tengah kota yang konon kata Eri sedang dijadikan topik skripsi Azalea. Namun sampai terbit dua artikel, tak kunjung ditemukannya Azalea. Dia tidak jadi mengambil skripsi semester ini, kata Eri. Alex menghela nafas, tapi dicobanya mencari sekali lagi.

Dilewatinya gang tempat kos Azalea. Tapi tidak pernah ada tanda-tanda keramaian disana. Ia takut sendiri, dikira maling yang lewat berkali-kali, mengobservasi rumah mana yang ingin dimasuki. Disambanginya sekretariat klub orkestra yang diikuti Azalea. Tapi alih-alih bertemu perempuan idamannya tersebut, ia malah ditawari les clarinet. Pengaturan nafasnya habis terengah-engah mengejar bis demi mengejar jadwal latihan diidentifikasi sebagai bakat alamiah untuk jadi pemain alat musik tiup. Sementara dia berkutat menolak, ternyata latihan sudah selesai dan Azalea lagi-lagi sudah lenyap. Ditontonnya konser orkestra minggu berikutnya. Dilihatnya  dua laki-laki yang sangat gendut dan sangat kurus memainkan contrabass dengan mesra. Tentu saja mereka bukan Azalea.

Alex sampai menyusup masuk ke kelas desain interior demi mencari Azalea. Sayang ia tidak masuk dan Alex gelagapan diminta dosen menyatakan pendapatnya tentang gradasi warna. Lalu di absensi ia menemukan fakta bahwa Azalea sedang izin ke luar kota untuk lomba selama seminggu. Satu minggu berikutnya diisi Alex dengan stalking. Diketikkannya satu-satunya keyword yang ia tahu ke search engine. Azalea Astungkara. Muncullah nama itu di beberapa situs arsitektur dan orkestra. Namun Alex bahkan tidak menemukan fotonya. Di jejaring sosialnya pun yang ada hanya foto-foto maket dan contrabass.

Alex kehabisan tenaga. Ia menemui Eri.

“Ri, apakah Azalea benar-benar ada?”

“Haha. Pertanyaan macam apa itu.”

“Aku kok merasa dia semacam tokoh rekayasamu. Tidak ku temukan dia di mana-mana.”

“Bah! Apa untungnya bagiku merekayasa dia, Lex?”

“Untuk menyenangkanku yang mulai gila ini mungkin?”

Seperti kucing yang bermain-main dengan rasa penasaran. Keluar dari rumah yang hangat dan nyaman demi mengejar benang layang-layang yang dikiranya ekor tikus putih, lalu pergi berlari terlalu jauh, lalu terlindas mobil. Alex menepuk-nepuk kepalanya, mengguncang sisa rasionalitas yang jadi kerak. Sepertinya bukan Azalea yang dia cari. Tapi bayangan yang dia ciptakan sendiri.

Karena itu keesokan harinya ketika Eri dengan paksa membawa Azalea ke hadapannya sebagai bukti bahwa ia tidak berdusta, Alex cuma memandanginya.

“Azalea.”

“Alex.”

Aneh, dikiranya dulu ketika bertemu dengan Azalea, dia akan terbang oleh endorfin. Dikiranya efeknya setara morfin.

Ternyata tidak.

Pencarian Azalea menerangkan Alex pada satu hal. Ia hanya fans fanatik yang tersesat oleh pencarian, lalu berkarat. Rasa penasarannya mati sebelum ia sempat bunuh diri.


Advertisements
Standard

One thought on “Hari #18: Mencari Azalea

  1. Pingback: Trotoar Azalea | Sidekick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s