31 Hari Menulis

Hari #17: Hanya di Dalam Kepalanya


Pamungkas sedang berpikir. Bagaimana jika saat ini dia muncul ke hadapan Irina dan berkata,

“Aku mencintaimu sejak pertama.”

Mungkin Irina akan melongo tanpa suara. Kalau dia sedikit sial paling Irina berjingkat dan menyeplos ketus,

“Oh yang benar saja. Kita baru saja bertemu di pentas peragaan busana minggu lalu. Kamu menemani temanmu, Randy. Aku menemani temanku, Kristal. Kita bahkan belum kenal terlalu lama.”

Tapi tenang saja. Pamungkas sudah sedia jawaban pamungkasnya.

Dia akan berkata,

“Lalu kenapa?

Pertanyaan terakhirnya lebih mirip pernyataan. Karena ia sedang mengatakan sesuatu yang tidak butuh alasan. Ia datang menandai teritorinya yang retoris. Bukan karena afeksi berlebihan kepada adegan romantis, lebih karena ia tidak mengerti sesuatu yang puitis. Jadi begitulah, semoga berakhir dengan manis.

Adegan selanjutnya Pamungkas akan bertanya apakah ia boleh mencium Irina? Kali ini pertanyaan, bukan pernyataan. Karena ia butuh konsensus untuk mengadu nasibnya lebih tinggi dari ramalan dadu. Dan jika Irina mengangguk, ia akan bergabung ke sirkus. Lompat tinggi ke lingkaran api, naik sepeda satu roda, berjalan di atas temali, lalu terjun dari gedung yang tinggi.

Tentu saja, jika semua jungkir balik ini hanya terjadi di dalam kepalanya.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s