31 Hari Menulis

Hari #15: Percakapan Ruang Tunggu


Menunggu, adalah sesuatu yang berkorelasi dengan jemu. Sudah tahu begitu, tetap saja ada yang malah memonumentalkan itu dengan membangun ruang tunggu. Terbayang sudah, ada berapa banyak jemu-jemu yang berkumpul jadi satu. Bergumul dengan awan pikiran yang berkabut di bawah atap yang sama. Tapi siapa pun yang menciptakan ruang tunggu pertama di dunia pantas dihadiahi piagam. Dia pasti memahami konsep perkalian dengan dengan sangat brilian. Minus dikali minus jadi plus. Jemu dikali jemu jadi percakapan yang baru. Setidaknya di ruang tunggu rumah sakit ini pada suatu siang.

Dua wanita paruh baya duduk bersampingan, bertukar senyum sopan, lalu menunggu nomor antri masing-masing dipanggil.

“Sudah sering ke sini?” Wanita yang duduk di kiri menunjuk ke kartu member rumah sakit yang dipegang orang sampingnya.

“Iya. Kontrol rutin.” Yang ditanya tersenyum.

“Sendiri saja?”

“Iya. Ibu?”

“Saya mengantar anak. Terapi anoreksia.”

“Oh. Selalu ke sini?”

“Saya baru pertama ke sini. Kata orang pelayanan disini bagus. Mereka tidak akan membiarkan kita menunggu terlalu lama.”

“Saya tidak keberatan kok menunggu lama.”

Ada kerutan spontan di dahi wanita itu mendengar jawaban lawan bicaranya yang tidak biasa. Sepertinya ia ingin mendengar lebih banyak, tapi terbungkam oleh senyuman yang setara tanda titik. Akhir kalimat. Dibalasnya sungkan titik itu dengan titik, ia tersenyum juga. Lawan bicaranya kembali membuka buku yang terbuka di pangkuannya, menelusuri barisan aksara dengan seksama. Lembar demi lembar, halaman demi halaman, mimik wajahnya tetap sama. Ada keseriusan bersarang di sana. Seperti kalimat-kalimat di dalam buku itu tidak bertitik. Begitu asyik sampai orang di sampingnya bahkan tidak dilirik.

Wanita yang tadi bertanya mulai gelisah. Dicurinya sedikit pandang lewat ujung mata.

“Buku apa, Bu?” Akhirnya ia bertanya.

“Ah ini cuma tulisan seorang teman. Dibukukan independen. Isinya tentang menunggu.”

“Mengapa orang sampe bikin buku tentang menunggu?”

“Sama seperti foto, untuk diabadikan. Karena menunggu tidak berlangsung selamanya.”

“Haha. Saya tidak mengerti, Bu. Jika menunggu itu selamanya, bisa mati tercekik kita makan penantian. Bosan. Lantas kenapa bosan harus diabadikan? Harusnya ia diabaikan. Kita kan selalu punya pilihan. Misalnya sekarang, saya menunggu dipanggil dokter. Jika menunggu itu jadi sesuatu yang terlalu panjang dan membosankan, saya bisa memilih untuk pergi. Atau memilih untuk meneror suster itu agar bekerja lebih cepat.

Wanita itu menutup buku. Menggeser arah duduknya satu inchi lebih dekat.

“Ibu sendiri kenapa tidak bosan dengan hidup yang cepat?”

“Karena waktu saya terbatas, lebih baik digunakan untuk melakukan hal lain yang tidak percuma. Memangnya Ibu tahan dengan hidup yang terlalu lambat?

Ada beberapa detik kosong. Di antaranya terjalin keinginan untuk bertukar kepala. Namun karena belum ada metode yang bisa merealisasikannya, cukuplah detik-detik selanjutnya diisi dengan bertukar kata. Semoga sampai.

“Lihat orang itu.” Wanita yang memangku buku menunjuk kepada seorang perempuan muda yang baru datang lalu melenggang masuk ke ruangan periksa. “Mungkin ia istri dokter, mungkin ia pejabat, mungkin ia polisi, mungkin ia preman, atau siapapun yang memiliki kekuasaan untuk melewati antrian.”

Mengikuti arah telunjuk orang yang berbicara dengannya, wanita yang satunya menatap ke pintu ruang periksa yang baru saja dibanting tidak sengaja. Berdebum bunyinya.

“Mereka adalah orang-orang yang sedang cepat-cepat. Punya waktu, tapi bukan untuk menunggu. Punya kesibukan, tapi  tidak didedikasikan untuk penantian.”

“Saya tidak mengerti.”

“Saya pun tidak, awalnya. Sampai suatu ketika saya ditunggu untuk memberikan kata sambutan di hari kelulusan anak saya. saya kehilangan kata-kata. Ternyata saya baru sadar, saya tidak tahu apa-apa tentang anak saya. Saya hanya bisa memburu kehidupannya agar lebih cepat, lebih efisien, lebih berkembang, biar dia lebih berguna. Saya terlalu sibuk mendidiknya untuk menghargai waktu, karena waktu tidak dapat diulang. Sampai saya lupa satu hal yang paling penting, menungguinya. Menghargai setiap detail pertumbuhan yang ada setiap harinya. Seumur hidup belum pernah saya begitu merasa dungu. Akhirnya saya sadar saya benar, waktu memang tidak dapat diulang.”

Wanita itu terkesima. Sekelebat ingatannya melayang pada wajah anaknya, Kristal. Antara menjajari langkahnya, memangkas keinginannya yang tidak sesuai, agar tumbuh rapi seperti pohon bonsai yang dirawat setiap hari. Ataukah menyerahkannya pada alam, tumbuh liar dengan akar gantung seperti beringin di hutan belakang rumah. Menungguinya walau akhirnya yang ia dapatkan bukan bonsai yang ia inginkan.

“Saya masih bingung membedakan mana yang harus dikejar dan mana yang harus ditunggu.”

“Jika sesuatu pantas untuk dikejar, maka ia pasti pantas untuk ditunggu. Sekarang berilah kesempatan kepada dokter dan suster rumah sakit ini untuk merasa ditunggu. Karena merekalah yang sebenarnya telah mengejar kita mati-matian untuk sampai ke tempat ini.”

Wanita itu sekarang merasa jauh lebih rileks dari kali pertama ia menginjakkan kaki di ruangan ini. Dipendarkannya tatapan ke sekeliling. Ada bonsai mini di dekat jendela. Orang lalu lalang di sekitarnya.  Di ruangan ini ia yang jadi sang penunggu, mengumpulkan remah-remah percakapan, menanti kalau-kalau ada yang diamnya terlalu lantang.

“Berbicara dengan Anda, saya jadi mulai kasihan orang yang tidak pernah mau menunggu. Dia tidak pernah memberikan ruang orang lain untuk ditunggu. Untuk merasa berarti.”

Dia diam sejenak. Diam yang lantang.

“Lebih tepatnya, saya kasihan kepada diri saya sendiri.”

Wanita di sampingnya menjawab spontan,

“Saya juga kasihan kepada diri Anda.”

Dia mulai tertawa kecil. Lalu berlanjut, tertawa lagi, menatap teman berbincangnya dengan geli. Walau tidak ada yang lucu dia terus tertawa. Lalu tawa itu jadi dua. Mereka tertawa bersama sama, tersedak sampai mata mereka berair. Jemu di ruang tunggu itu menular, begitu pula dengan tawa. Nanti di masa depan, orang yang lebih mulia dari yang menciptakan ruang tunggu adalah orang yang menciptakan ruang tertawa.

“Mungkin besok ketika di ruang tunggu lagi Anda bisa membawa buku, memberikan ruang untuk diri sendiri. Hadiah untuk yang sedang beristirahat dari setelah mengejar dunia yang terlalu cepat. Kita berhak untuk kadang-kadang jadi lambat. Semoga besok ketika kembali ke sini, Anda sudah tidak lagi mengasihani diri sendiri.”

Ruang tunggu itu diatur dalam temperatur dingin. Namun ada kehangatan terpancar dari mata kedua orang asing yang baru saja bertemu itu.

“Oh ya, sampai lupa. Saya Lana.”

“Kencana.”

Mereka berjabat tangan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s