31 Hari Menulis

Hari #14: Roti dan Selai Stoberi


Ada banyak kebiasaan di pagi hari. Kebiasaan dalam kondisi auto-pilot, tubuh jalan sendiri tanpa disadari. Seotomatis mematikan alarm lalu tidur lagi. Seterbiasa menyanyikan lagu bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi.

Bagi Lana, mengoleskan selai stroberi di atas lapisan roti adalah perihal kebiasaan yang tidak bisa disanggah. Apapun yang terjadi. Krisis moneter, peringatan tsunami, lumpur panas, banjir ibukota, gempa, bumi gonjang ganjing, Lana akan tetap mengoleskan selai stroberi.

Roti pertama yang dibuatkan Lana untuk Rico adalah saat usia putranya tersebut 3 tahun. Waktu itu Rico berkata antara coklat dan stroberi ia lebih suka stroberi.  Mulai saat itu roti dan selai stroberi jadi menu wajib sarapan yang selalu ada di meja makan setiap pagi.  24 tahun x 12 = ada 288 bulan. 288 x 4 = ada 1152 minggu. 1152 x 7 = 8064 hari. Berarti ada sekitar 8064 selai stroberi yang sudah dioleskan Lana ke permukaan roti setiap paginya. Delapan ribu enam puluh empat. Sebanyak itulah kesetiaanya disana. Selama itu lah cintanya tetap sama.

Kesetiaan tidak butuh jaminan. Tidak perlu kosakata lebih untuk berjanji, apalagi basa basi. Karena itu walalupun Rico tidak pernah berjanji untuk makan roti, atau sekedar berbasa basi untuk menolak makan pagi di rumah, Lana akan tetap melakukan kebiasaan yang sama. Satu menit penuh terhitung ia membuka tutup selai, menyedok dan memaparkannya di atas roti, adalah satu menit favoritnya untuk mengawali hari. Menepuk-nepuk olesan lalu memutar-mutarkannya agar rata, setara meditasi bagi Lana. Harus dilakukan dengan hati-hati, dan dengan sepenuh hati.

Lana tidak pernah mengajarkan Rico untuk bernyanyi ‘kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa’. Karena masa tidak sama dengan selamanya. Masa selalu punya titik hingga. Dalam hal ini, hingga Lana tidak lagi mengoleskan selai stoberi. Sayang masa dalam definisi Lana dan Rico berbeda. Mungkin Rico bosan. Kebiasaan lama-lama hanya jadi atribut, seperti sikat gigi yang sama setiap mandi. Lama-lama akan mekar dan pudar, harus diganti. Tidak apa, Lana mengerti. Tapi bagaimana harus mengganti satu-satunya hal yang bisa dilakukan Lana untuk Rico ketika dia semakin beranjak dewasa?

“Mama ngapain sih masih aja sibuk ngerjain ini itu. Udahlah Ma, urusan dapur serahin sama si bibik.”

“Sibuk gimana. Orang ini satu-satunya kerjaan mama yang tersisa kok. Semuanya udah diambil alih sama bibik.”

“Ya kan Rico kerja buat bayar si bibik biar mama nggak kerja lagi.”

Ada yang tidak dimengerti Rico. Ini bukan hal kecil seperti kata Kartini, habis gelap terbitlah terang. Habis roti, terbitlah kenyang. Bukan! Kerja mengoles roti itu bukan sekedar kerja biasa bagi ibunya. Itu momen sakral. Lana sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan. Sebagaimana tunas hydra terlepas dari induknya, bubuk dandelion terbang dari kepala bunganya, seorang anak yang sudah besar akan memiliki hidupnya sendiri. Sudah diatur di hukum alam. Kadang, mereka akan tanpa sadar pergi tanpa prediksi, apakah akan kembali sebagaimana yang sebelumnya dikenali. Jadi Lana sudah mempersiapkan hatinya jauh-jauh hari, walau Rico akan berkelana keliling dunia dengan spaghetti dan makaroni, ia ingin tetap dikenang sebagai roti berselai stroberi. Karena roti adalah substitusi kehadiran Lana. Sesuatu yang dapat dibawa Rico saat Lana tidak bisa. Sesuatu yang akan selalu ada setiap hari tanpa diminta. Seperti cinta orang tua.

Meski ketika hanya dilirik, kemudian diabaikan. Tidak apa. Lana mengerti. Meski kemudian semakin dewasa Rico sibuk dengan kegiatan organisasi. Untuk kepentingan rakyat, Ma. Katanya suatu hari. Siapakah rakyat itu, Nak? Lana rela melakukan apa saja untuk masuk jadi golongan rakyat yang selalu Rico perhatikan sampai jatuh bangun itu. Karena ketika Rico berjuang untuk kemajuan teknologi dan hak rakyat untuk hidup bahagia, tidak pernah sekalipun ia bertanya kepada Lana, apakah ia bahagia dengan hidupnya?

Lana sadar. Ia bukan rakyat. Mungkin ia penjahat. Yang kadang berharap memiliki separuh saja bagian dari Rico yang bebas. Padahal selama ini yang selalu mendorongnya untuk melangkah jauh tanpa ragu. Karena keragu-raguan akan melumpuhkan. Lana baru merasakan, ternyata ketidakraguan pun sama adanya. Karena pada akhirnya Rico tidak ragu untuk terbang bebas tanpa kait. Ditonton oleh Lana dari bawah sini. Tidak apa, Lana mengerti. Paling tidak artinya ia berhasil mengajar.

Tapi Lana kerap bertanya, berhasilkah ia mengejar? Karena roti adalah kendaraannya untuk menjajari Rico yang kerap berlari. Berhasilkah ia sejajar?

Ada banyak kebiasaan di pagi hari. Seperti mengoles roti dengan selai stoberi. Tapi menurut hukum semesta, setiap kebiasaan punya pengecualian. Dan setiap pengecualian punya alasan. Pagi ini ada yang berbeda. Tutup selai stroberi tidak sempat dibuka. Lana terjatuh di kamar mandi.

“Ma. Rico anter ke rumah sakit sekarang ya.” Rico yang awalnya sudah berpamitan karena masa cutinya sudah berakhir hari ini, memapah Lana dengan penuh kekhawatiran.

“Nggak usah, Nak. Cuma terkilir. Kamu berangkat aja. Nanti ketinggalan pesawat.” Lana menyeret kakinya dengan tertatih.

Rico ragu, diliriknya jam tangan dan taksi yang sudah menunggu di depan sana. Ia menyerah. Bisa mati diamuk bosnya dia nanti kalau tidak sampai lokasi tambang off-shore hari ini juga. Diciumnya pipi Lana dengan tergesa, lalu taksi biru itu membawanya menghilang di perempatan jalan.

Sebenarnya, hari ini memang ada jadwal kontrol ke rumah sakit. Gula darahnya yang rendah lah yang tadi membuatnya sempoyongan di kamar mandi. Dan beberapa penyakit komplikasi ala orang lanjut usia mulai akrab dengannya. Sebenarnya, Lana ingin ditemani. Karena satu-satunya saat dimana dia betah sendirian adalah ketika mengoles roti dengan selai stroberi. Pelariannya. Penyangkalannya. Sayangnya hari ini sepertinya jadi hari dimana Lana memutuskan untuk berhenti. Ternyata, dengan ataupun tanpa roti dan selai stoberi, dia memang selalu sendiri.

Tertatih-tatih, dimasukkannya selai stoberi dan roti yang tinggal setengah ke kotak sampah.

“Tidak apa, Nak. Mama mengerti.”

Advertisements
Standard

3 thoughts on “Hari #14: Roti dan Selai Stoberi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s