31 Hari Menulis

Hari #13: Kilang Minyak


Sebuah botol kaca membentur dinding perahu boat. Terantuk antuk dibawa gelombang. Hari ini angin cukup tenang, Rico membathin. Disingkirkannya botol tersebut, lalu ditumpuknya di kabin. Sampah laut akan akan mengganggu pekerjaan mereka. Dan Rico anti bekerja dua kali, menyeimbangkan tekanan hidrolik dari mesin logging sekaligus mensterilisasi medan operasi. Tidak efektif. Di tengah samudra seperti ini, efisiensi adalah harga mati. Jika tidak, kau lah yang mati.

Boat yang terapung-apung itu akhirnya menepi ke arah sebuah rig kotak yang besar. Rico menjangkarkannya dengan tali tambang ke tiang-tiang penyangga. Hidupnya setara bau garam yang diendusnya setiap hari. Rig ini adalah satu-satunya daratan disini. Untuk mencapainya harus menggunakan boat atau helicopter. Bekerja di kilang minyak lepas pantai adalah sebuah keputusan yang diambil orang matang-matang mengerti, mereka akan jadi tarzan di lautan, terisolasi dari dunia luar. Berkawan dengan mesin dan burung camar.

Genap dua tahun dihabiskan Rico untuk mengenal lautan tempatnya bekerja. Bagi pekerja tambang off-shore, rig adalah perpaduan antara konstruksi baja, dengungan bor, teriakan komandan, bau oli di baju seragam, safety equipment, dan sumur minyak yang mereka gali tanpa henti. Bagi Rico, rig adalah prasasti, penanda bahwa ia diakui.

“Bagaimana situasi di operation land?” Tomi, bertanya kepada Rico sambil mengulurkan tangan untuk membantunya naik ke pijakan rig. Di antara pekerja lepas pantai yang berseragam abu-abu, Tomi terlihat mencolok dengan polo putihnya. Mereka menyebut Tomi, Sang company man. Orang dari perusahaan pusat yang mengontrak mereka dalam proyek tender untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

“Baik, Pak. Ada beberapa titik baru yang akan dieksplorasi untuk drilling berikutnya. Mereka yang di bagian wireline sedang bekerja untuk mengumpulkan data porosity, permeability, resistivity, dan density sesuai prosedur awal. Mungkin hasilnya masih belum bisa diakses dalam waktu dekat karena tadi saya dapat laporan ada beberapa mata bornya agak sedikit bermasalah, Pak.” Rico menyeka keringat dengan ujung lengannya.

“Oke. Saya akan kontak Akbar nanti. Terimakasih, Rico.” Tomi beranjak pergi.

Rico menyunggingkan senyum. Akhirnya Pak Tomi ingat namanya. Berhari-hari dia bekerja ekstra keras untuk ini. Terserahlah orang lain mau bilang dia cari muka, di angkatan pekerja yang mulai masuk bersamanya, Rico tahu cuma dia yang bisa dipercaya untuk tugas yang berhubungan dengan klien. Dengan persaingan sekompetitif ini, mereka memang harus mati-matian jual diri kalau tidak mau terbuang seperti botol kaca yang baru saja dia singkirkan. Sumber daya yang tersaring untuk sampai ke kilang minyak lepas pantai ini tentu saja adalah tenaga-tenaga pilihan yang memiliki skill setara. Namun ada satu hal pada Rico yang tidak dipunyai rekan-rekannya, people skill. Itu yang pada akhirnya memberikan unique selling point pada laki-laki 27 tahun itu di antara robot-robot pekerja lain. Dan di dunia mekanik seperti ini, piala adalah ketika namanya diingat. Karena mereka, robot pekerja, sepertinya memang tercipta untuk terlupakan. Rico sangat sadar akan hal ini. Itulah alasan mengapa ia ingin berbeda, pola kerja maupun pola pikirnya.

You know what. 2 years ago I completely quitted smoking. I swore to God and my wife, I quit. Tapi sejak terjebak disini saya malah merokok lebih parah dari sebelumnya, Ric. Bisa apa lagi. This is a total dehumanization. And smoking, keeps me human. Ah God, please, forgive me.” Cecar Dodi, seorang rekan kerjanya, sambil menghembuskan asap rokok saat Rico bertanya sudah berapa bungkus rokok yang ia habiskan hari ini.

Terapung di tengah laut lepas seperti ini, jangan harap bisa menemukan percakapan seperti di coffee shop. Coffee shop mereka adalah lapang kosong bagian timur rig di sore hari. Tempat berinteraksi di setelah berhari-hari kerja rodi dengan absennya suara manusia.

“God might forgive you. But your wife wouldn’t.” sahut Rico.

“Haha. This cigarette would kills me before she does.” Dodi tergelak sendiri dengan kata-katanya.

“Lucky me, I am not married yet. But poor me, I have no time to look around for woman anymore.” Rico ikut tergelak, menertawakan nasib. Kemudian ia melanjutkan. “But there’s no such a free meal in this world, right? You get some, you lose some!”

“Lose some? Lose a lot, bud! Enak saja. Di saat orang-orang seusia kita bersenang-senang di tengah kota, kita malah terapung-apung di tengah samudra. Busting up our ass from rig to rig. Mereka main ke mall, kita main sama radioaktif. Mereka nonton bioskop, kita nonton ledakan eksplosif.  Sering saya nggak bisa tidur karena mimpi buruk. We lost secure feeling, We lost time with family. And the most important thing, we lost ourselves.” Dodi menaikkan nadanya. Akumulasi depresi dan perasaan tertekan yang sudah ditumpuk sejak lama.

Rico menepuk bahu Dodi.

“We are damn patethic.” Kata Dodi dengan nada yang merendah. Tatapan matanya melayang jauh.

Ada keheningan yang diisi dengan kepulan asap rokok kemudian. Kedua laki-laki itu sibuk dengan gelombang dan buih di pikiran masing-masing.

“No I am not.” Sentak Rico tiba-tiba.

“Kenapa bisa begitu?”

“I love my job.”

“No you’re not. You love the money that your job gives.”

“Ini bukan masalah uang, Dod. Kamu membiarkan dirimu dipilih untuk disini. Aku benar-benar memilih berada disini. Itu bedanya kita. This job push me to the limit. when a man pushed to his limit, he shows his best performance. And I love being in my best performance.”

“A man could also shows his worst performance if pushed to the limit.”

Maybe you just don’t belong here.

Why don’t you think the same?´ What if kita nggak di sini, Ric? What if kita dulu milih jurusan pertanian, kedokteran, hukum, sospol sekalian? What if kita memilih kehidupan normal lain yang nggak seneraka ini?” Dodi semakin tidak sabar membuat Rico berada di pihaknya.

“Saya lebih suka memikirkan what if kita nggak ada disini saat ini, daripada berada di luar sana dan memikirkan what if kita ada disini.”

Ada alasan mengapa karang selalu berdiri sendirian di tengah laut. Disanalah tempatnya. Ditempa gelombang, dilabrak angin, disinari matahari, dininabobokan rembulan. Di laut. Bukan di hutan, di sungai, atau di pekarangan rumah orang. Rico tahu dia adalah karang. Dodi tahu dia bukan karang. Namun mereka berhenti berdebat. Karena kata-kata tidak dapat dianulir. Dan perpecahan oleh kata tidak dapat disinyalir.

Dua gunung ego yang terbentuk oleh seleksi alam memang tidak ditakdirkan untuk bertabrakan. Karenanya setiap gunung ego pasti berdiri sendiri, berjauhan. Baik Rico dan Dodi sama-sama diam dalam keheningan. Tinggal suara mesin mud logger yang tetap menyala dan terjaga. Entah siapa yang sebenarnya robot.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s