31 Hari Menulis

Hari #12: Surat dalam Botol Kaca


Matahari. Ah, akhirnya dia ngintip dari horizon timur sana. Fey, sini! Ombaknya mulai meninggi. Nanti kamu keduluan pagi dan harus menunggu lagi sampai esok hari. Aku ingin kamu rasakan pasir dingin yang menyela telapak kakiku hari ini. Bukankah dulu kamu pernah berkata kamu ingin mengubur kakimu di dalam pasir sepanjang hari biar ada kepiting yang mendekat? Karena waktu itu ku katakan bahwa capitan kepiting rasanya sakit dan kau tak percaya. Kau tak pernah percaya kata-kataku, tidak sebelum kau melakukannya sendiri. Tapi pada setiap perkataanku, ada jaminan kau pasti melakukannya. Jadi aku tidak pernah khawatir kau tidak percaya padaku.

Mana kau, Fey? Anginnya menyapu wajahku dengan kadar garam yang kental. Air lautnya agak keruh. Semalam pasti badai kencang. Badai, Fey? Bisa jadi itu konspirasi alam untuk membantuku memahamimu. Lupakan prediksi. SOP wajib untuk mengerti jalan pikiranmu. Kadang kamu tertawa terbahak-bahak sewaktu menonton di bioskop 3 bulan yang lalu. Film komedi yang menurutku tidak lucu. Detik berikutnya kamu bersender di bahuku, diam, dan kemudian perlahan terisak-isak. Ulahmu, Pepsiku kehilangan soda karena sisa durasi film itu ku habiskan untuk merangkulmu erat, membiarkanmu selesai membasahi kemeja baruku dengan air mata. Tebak Fey, aku mati gaya. Otakku panik ingin bertanya kau kenapa. Mungkin alergi sea foodmu kambuh. Lalu aku ingat kita cuma makan siang salad. Mungkin kucingmu meninggal. Tapi kalau iya, adikmu pasti sudah BBM aku dengan histeris. Mungkin teman satu tim proyekmu mulai arogan. Sungguh demi apapun aku rela mengulang lagi mengantri dari awal untuk film laknat tidak lucu yang entah kenapa jadi box office ini, hanya untuk mengetahui siapa tahu ada yang terlewat dari pengamatanku. Mungkin ada yang menyakitimu. Tapi nuraniku bilang untuk diam saja, Fey. Dia cuma menyuruhku untuk mendekapmu erat sambil sesekai mengelus-elus rambutmu. Tanpa bertanya apapun. Itulah yang ku lakukan. Saat kita keluar teater bioskop dan matamu bercahaya kembali, aku tau kamu telah dimengerti.

Bernafas di tepi pantai. Harusnya ini cuma perkara oksidasi rumit di sistem respirasi biologis untuk menghasilkan energi. Lebih rumit lagi, energi itu ada dalam bentuk kehadiranmu, Fey. Karena di setiap bau laut yang mampir ke epitel olfaktorius[1]ku, tidak ada yang diingat otakku selain permainan kata kita 2 bulan lalu.

“Fey, you smell like spring. Everytime you turn around, flowers and heat are everywhere. I can’t help but smiling. You and I belong to somewhere.”

Lalu kamu balas mengerling nakal. “Rhyme?”

Aku mengangguk. Mempersiapkan respon untuk momen romantis selanjutnya.

Kamu menguncir rambutmu ke belakang. “Ngaco. Lo kan belum pernah ke luar negeri. Mana ngerti spring!”

Shoot. Ini dia. Momenku selalu kamu rebut.

“You wanna know how I smell you? You smell like sea. Everytime I’m with you, I feel free.”

Kamu tersenyum. Aku terkesiap. Manis sekali.

“Rhyme?” kataku pelan

Kamu mengangguk.

Sampai mana aku tadi, sudahkah aku berbicara tentang energi? Anggukanmu setara coklat panas. Manis dan kental. Dalam cangkir yang bertengger diam pun ia mampu memanggilmu dari jauh. Untuk mencecap. Untuk menyeruput singkat. Lalu duduk dan menikmati sisa hari dengan sebuah buku di tangan. Betapa hebatnya energi dapat dikonvergensikan menjadi sebuah kedamaian. Lebih hebat lagi betapa setiap pagi aku terbangun dengan merindukan wangi coklat dari bibirmu. Candu macam apa ini! Sebagaimana substansi coklat  menstimulus endorfin, kamu stimulusku, Fey. Pemahamanku tentang sederhananya sebuah kebahagiaan dimulai sejak mengenalmu. Hingga sekarang. Mungkin sampai seterusnya.

Aku mengancingkan jaket lebih erat. Matahari sudah setengah lingkaran. Di bawah kakiku saput rumput laut tersangkut di celah antar jemariku. Sebegitu jauhkah aku tersangkut pada masa lalu, Fey?

“Dokter nggak suka Grey’s Anatomy itu nggak keren!” Sindirmu saat kamu bercerita tentang Seattle Hospital dan aku tidak mengerti. Tentu saja, itu rumah sakit settingan, bodoh! Film serial 8 season itu tentu saja sukses membangun sebuah tempat fiktif yang seperti nyata. Dan kamu percaya. Dengan level intelegensia orang sepertimu, Fey. Aku yakin kamu selalu tau mana yang benar. Tapi kamu selalu  lebih suka membenarkan apa yang kamu percaya.

“Gue percaya gue cinta sama lo, Ridwan! Tapi gue percaya Tuhan gue.” Gumammu, 1 bulan yang lalu.

Shit. Di antara seribu kesamaan mengapa harus ada satu perbedaan.

Satu perbedaan mutlak. Satu perbedaan ini yang jadi alasan mengapa jalur Gaza masih berdesing hingga hari ini. Satu perbedaan yang mengacaukan makna satu itu sendiri.

Matahari memang sudah terbit. Tapi tanpamu.

Ku buka lembaran kertas di saku. Menuliskan beberapa rangkaian kata, lalu memasukkannya dalam botol kaca. Menyumbatnya rapat, biar kedap semua yang ada di dalamnya.

Dear Fey,

Kemarau pertamaku tanpamu.

Jika mendung membuat hari lebih baik, sesekali aku ingin jadi hujan di langit atasmu.

Ikut menangis bersamamu. Walau kau tak tahu.

Sekuat tenanga ku lemparkan ke tengah lautan. Terombang ambing diamuk ombak. Biar ditabrak kapal, dimakan hiu, dijaring nelayan, ditemukan orang. Terserah.


[1] Lapisan sel penerima rangsangan bau

Advertisements
Standard

3 thoughts on “Hari #12: Surat dalam Botol Kaca

  1. hooo.. yg ini manis banget. bittersweet ya tapi. tapi tetep manis 🙂
    terusin dong nulis si Fey ini, terasa kuat aja karakternya kalo dia ada sungguhan. mungkin kayak…

    …aku? hahahaha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s