31 Hari Menulis

Hari #11: Supermoon


Ketika dua partikel bertubrukan, massa dikali kecepatan akan menghasilkan sebuah momentum yang akan memantulkan atau menghentikan mereka. Ada perpindahan yang terjadi. Itu adalah konsekuensi dari interaksi.

Tapi bagaimana ketika benda tersebut malah hancur, salah satu ataupun keduanya? Ada massa yang hilang dan bertaburan kemana-mana. Lagi-lagi itu adalah konsekuensi dari interaksi, tidak hanya benda, tapi juga manusia. Bisa terhenti, terpantul, atau hancur.

Fey menatap langit malam yang pekat. Ditelusurinya dari sudut mata, ursa mayor, bintang biduk penunjuk arah utara. Di lepas pantai seperti ini, langit dan laut jadi satu. Luas dan tak terbatas. Fey berbaring di sauh kecil yang menghadap pantai, dibiarkannya kaki telanjangnya berlumur pasir. Demi menikmati langit malam di pantai tanpa gangguan, dia menyelinap keluar diam-diam saat teman-teman di motel sedang bermain truth or dare. Fey sedang ingin sendiri, bercengkrama dengan langit, pikiran, dan perasaan.

Malam ini adalah titik terdekat bulan ke bumi. Supermoon. Daya tarik bulan membuat laut pasang. Ombak menampar-nampar batu karang, bunyinya mendesis, lalu diulur angin sampai hilang. Ada daya tarik tersendiri mendengarkannya dalam kesenyapan. Dalam senyap alam berpesta. Dalam senyap Fey bernostalgia.

Ada sebuah hukum kelembaman dalam ilmu fisika. Setiap partikel di alam semesta cenderung mempertahankan situasi terakhirnya. Jika diam, ia akan terus diam. Jika bergerak, ia akan terus bergerak. Selama tidak ada gaya lain dari luar yang mempengaruhinya. Ilmuwan menyebutnya, inersia.

Benda-benda di angkasa bergerak dalam orbitnya karena massa dan kecepatannya tetap. Maka ia akan terus dan terus berputar. Mereka sedang membuktikan adanya inersia. Kecuali ketika suatu saat dua benda saling bertubrukan, kekuatan dari luar menyebabkan mereka pecah. Ilmuwan menyebutnya, momentum.

Adalah sebuah inersia Fey berada di sini, memandangi langit dalam waktu yang lama. Ia lembam, terlanjur diam dan malas bergerak. Namun siapa sangka jauh di dalam pikirannya, sedang terjadi tumbukan, momentum yang dahsyat, yang membuat bagian dalam dirinya pecah jadi keping-keping yang berceceran lintas waktu. Fey ada di sini, tapi sesungguhnya pikirannya sedang berkelana, jauh ke luar angkasa sana.

Apa yang salah dari sebuah perpindahan?

Planet berputar, bintang bergerak, meteoroit malah lari. Semua hal yang ada di semesta ini memang ditakdirkan untuk berpindah tempat. Untuk berubah. Bedanya, ada yang akan selalu kembali ke lintasan awalnya seperti para bintang dan planet, ada juga yang harus habis terbakar seperti serpihan meteor. Fey ingin jadi bintang. Namun sepertinya saat ini dia adalah meteoroit. Terlontar dari orbit.

Apa yang dilihatnya di atas sana bisa jadi hanya ilusi. Kelap-kerlip itu butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun cahaya untuk merambat sampai di bumi. Di ruang angkasa yang kedap udara, gelombang yang simpang siur baru akan menemukan jalannya setelah melewati proses panjang karena jarak yang jauh. Apa yang dilihat Fey sebagai cahaya bintang saat ini adalah cahaya ratusan tahun lalu. Bisa jadi ia telah hancur disana, meledak jadi supernova, atau hilang begitu saja ditelan lubang hitam.

Jarak. Alasan mengapa cahaya datang begitu lama. Juga alasan mengapa Fey cuma bisa menatap langit dengan rasa rindu. Seperti pungguk merindukan bulan, Seperti Fey merindukan Ridwan.

Fey akhirnya meneguhkan niatnya untuk menjauh. Seseorang yang sudah ada di hatinya sejak lama pada akhirnya harus jadi seseorang yang membuatnya rapuh. Ia tahu itu sedari dulu, hanya saja penyangkalan selalu menemukan cara. Sampai ketika ia kehabisan alasan, dan dengan pahit menelan kenyataan, mereka tidak akan pernah bisa bersatu. Jarak yang tidak punya jembatan, adalah alasan mengapa dua hati yang dekat akhirnya harus rela dijauhkan sekalian. Fey tidak mau nanti mereka hancur lebur dalam momentum, seperti benda langit yang bertabrakan, hanya karena interaksi yang salah. Meski pun walau enggan diakuinya, interaksi mereka adalah hal yang rasanya paling benar di saat semua hal di dunia ini salah.

Inersia adalah kecenderungan setiap benda fisik untuk menolak perubahan. Ada daya yang menahan dan mempertahankan. Sayangnya saat ini Fey sedang berjuang membalikkan hukum fisika. Juga membalikkan perasaannya dengan logika.

Tidak ada yang salah dari perubahan. Fey membathin.

Tidak ada yang salah juga dari berbaring menonton bintang. Meski itu berarti menonton sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada. Karena orang yang rela menghabiskan ratusan detik mengarungi langit malam sebenarnya adalah orang yang sedang mengubur diri bersama kenangan.

Tidak apa, tidak apa. Fey bergumam menguatkan diri. Cukup kenangan itu diikatnya satu-satu di langit. Bintang terlalu jauh. Sudah saatnya dia membuka mata, pada bulan, yang sudah pasti ada tanpa ilusi cahaya.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Hari #11: Supermoon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s