31 Hari Menulis

Hari #10: Senja di Toronto


“Apa kabar, Mas?

Hari ini adek dapet surprise dari temen-temen. Kue ulang tahun sama sketsa wajah anak-anak satu gank. Bagus deh Mas, nih adek attach fotonya. Adek jadi pengen foto keluarga kita disketsa juga. Cuma pasti Mas sekarang udah berubah nggak kayak foto di ruang tamu lagi. Gendutan nih ye. 😛

PS: Di rumah sekarang ada kucing baru. Putih lucu. Belum punya nama. Mas Darma aja deh yang kasih nama. Awas ya kalo aneh-aneh!

Love,

Kiara.”

 

Tatapan Darma terpaku, dipandanginya layar tabletnya dengan penuh rasa rindu. Sudah terhitung 2 tahun dia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi di Humber Collage Institute of Technology. Dirapatkannya jaketnya dengan cepat. Di akhir musim dingin seperti ini, sinar matahari memang sudah membuat udara menghangat, tapi angin masih sama kejam dengan ratu di cerita putri salju. Sore hari menjelang malam seperti ini, suhu akan merosot jadi minus. Pantas orang-orang disini tidak terlalu ekspresif, mungkin sudah terbiasa beku.

Di pertengahan Mei seperti ini, hal favorit yang dilakukan Darma adalah duduk di taman High Park di sore hari. Menyaksikan ranting-ranting pohon mulai tumbuh lagi. Di Toronto, ada perayaan cherry blossom festival untuk menyambut kegembiraan musim semi. Konon, pohon-pohon sakura yang berjejeran rapi di sisi jalan itu hanya berkembang seminggu, dan setelahnya mati. Hari ini adalah hari pertama festival tersebut, High Park ramai sekali. Orang-orang berjalan berpasangan, bergerombol, juga sendiri. Darma adalah salah satu yang beruntung mendapatkan spot duduk di tengah taman kota, ia bersender di bawah pohon. Menikmati fasilitas wifi kota dengan leluansa. Ia membaca email dari adiknya, Kiara, dengan hati-hati. Diulangnya lagi berkali-kali, takut ada yang terlewat.  Mendengarkan suara Kiara di kepalanya membuat Darma menahan nafas, andai dia bisa menonton cherry blossom bersamanya saat ini.

Disentuhnya reply button. Banyak hal yang ingin diceritakannya. Lalu ia mulai membalas pesan dari adiknya dari belahan dunia sebelah sana.

Semua pertanyaan standar percakapan di seluruh dunia selalu dimulai dengan apa kabar. Peduli tidak peduli dengan kabar orang yang ditanyakan, apa kabar adalah semacam bunga dalam dupa. Hilang satu rupa, tidak jadilah sesajennya. Karena lelembut terlalu tidak terbiasa dengan bunga enam rupa. Sama seperti manusia dan atribut-atributnya, ada standarisasi yang dibuat untuk bisa dapat cap sopan, idealnya dalam percakapan. Kiara seperti sedang membuat tugas bahasa Indonesia, dimana ‘apa kabar’ selalu dipadu-padankan dengan ‘baik-baik saja’.

Tapi ini Kiara. Dia tentu tidak bertanya untuk mendapatkan nilai. Dia juga bukan sekedar ingin tetap dikenang sebagai remaja yang sopan. Ini Kiara, seorang adik yang benar-benar ingin mengetahui kabarnya. Darma tersentak. Terlalu sibuk dengan kehidupan yang menyita energi dan pikiran, Darma bahkan tidak tahu, apa kabar dirinya disini.

Waktu kecil ada kata-kata bijak yang sering kita dengar. Gapailah cita-cita setinggi langit. Lalu kita berlomba-lomba, berjuang untuk naik lebih tinggi. Mencapai langit. Namun kata bijak punya tanggal kadaluarsa. Atau paling tidak Darma merasa perlu ada amandemen kata-kata mutiara. Karena untuk suatu pencapaian yang luar biasa, ada harga yang harus dibayarnya. Untuk mendapat, dia harus kehilangan.

Darma ingin sekali berkata, jangan ke langit. Karena di atasnya masih ada langit lagi, entah ada berapa. Tidak perlu memetik bintang. Bintang yang kau anggap terang ternyata menghanguskan. Pergilah ke bumi. Karena intinya menghangatkan, dan tanah membawamu pulang.

Ditempelkannya permukaan tangan ke tanah. Ia ingin pulang. Jarak antara utara dan khatulistiwa menggerogotinya. Toronto telah mengubahnya menjadi seseorang yang lain. Untuk alasan yang baik dan buruk, ia tumbuh. Dan tumbuh adalah frase yang tidak dapat dibalikkan. Melintas maju dalam satuan waktu. Ditatapnya pohon sakura yang berderet-deret rapi. Tahun 1959 pemerintah Jepang menyumbangkan bibit pohon sakura ke Toronto. Salah satunya ditanam di High Park. Awalnya sepi, kemudian berkembang biak jadi pepohonan ramai yang bunganya indah. Darma menduga induk pohonnya dulu pasti melewati proses panjang, musim yang berulang, dan perjuangan survival untuk sampai ke tahap ini. Pohon itu dulu pasti kesepian.

Darma meggelengkan kepala, tersenyum kecil. Ngilu ulu hatinya menyadari bahwa pohon itu dulu adalah dirinya sekarang. Saat dicabut dari akarnya mungkin pohon itu belum sempat mengucapkan salam perpisahan dengan benar. Sama seperti dia, yang pergi dengan amarah. Yang ingin lari kemana saja, asal bukan di rumah. Karena rumah tidak dekat dengan langit, dan dulu, Darma tidak suka terlalu dekat dengan bumi.

Tersenyum lagi, Darma tumbuh dengan cepat. Toronto mengajarinya untuk jadi pria dewasa. Jika terlanjur tidak berpisah dengan sabar, dia ingin sekali saja mengeja rindu dengan benar.

Kenyataannya, dengan rindu yang bersarang, tidak pernah ada yang baik-baik saja. Darma merasa dadanya berlubang, beku ditembus angin musim dingin akhir. Tidak ada satu orang pun pria di dunia yang dapat berdiri tangguh dengan kondisi tidak utuh. Kadang langkahnya limbung, kadang terjerembab bingung. Tapi itu adalah ujian yang dengan dengan sadar dihadapinya, rintangan yang dengan jumawa diterimanya. Walau terkadang, Darma ingin meringkuk saja. Dipeluk orang-orang yang mencintainya. Berada di sana, meski hanya untuk sekedar menamai kucing.

Satu ranting jatuh. Dipatahkan oleh Darma. Semua orang punya sisi rapuh. Yang membedakan hanya seberapa pintar mereka menutupinya.

Senja sudah mulai habis. Gradasi jingga di langit barat Toronto mulai hilang, berganti biru tua yang kelam. Purnama mulai kelihatan jelas. Supermoon. Bulan sedang berada pada jarak terdekatnya ke bumi. Lingkarannya terlihat lebih besar. Persis rindunya yang tergantung di atas sana.

Darma masih duduk, sibuk mencari formula yang tepat untuk merangkai kata-kata yang berseliweran ramai di benaknya. Kata-kata yang tepat untuk Kiara.

Apa kabar bukan lagi jadi pertanyaan. Dia sudah menjelma jadi retorika. Pelengkap penderita. Kata-kata hiasan. Tidak punya arti, tapi jika hilang akan dicari.

Ia mulai mengetik. Dimulainya dengan satu kalimat pembuka,

“Kabar Mas baik-baik saja…”

Darma mulai merasa, ia lah yang sesungguhnya sedang belajar bahasa Indonesia.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s