31 Hari Menulis

Hari #9: Edelweiss


Sudah lima belas menit dia berdiri di pojok sana, memandangi boneka ulat bulu dan kalung bandul dengan bergantian. Dikelilingi benda-benda aneh dan berwarna-warni sedikit membuatnya merasa insecure. Dia menggaruk lehernya kikuk. Dipendarkannya pandangan ke seisi ruangan. Terkutuklah naluri laki-laki yang tidak bisa mendeteksi barang mana yang menurut perempuan lucu dan mana yang tidak. Terkutuklah siang panas yang membuat otak Gugun memuai, menyesaki tempurung kepala dengan bertalu-talu, sehingga sensori dan memorinya tidak terkoneksi dengan benar. Gugun jadi satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan tentang kurva equilibrium, dengan analisis supply chain networks yang bahkan belum dikuasai gurunya. Namun untuk satu pertanyaan yang dari tadi bersarang di kepala, ia tidak tahu. Mau kasih kado apa ke Kiara?

Toko kado Edelweiss adalah rekomendasi dari salah satu teman dekatnya, Hana. Satu-satunya makhluk hidup di dunia yang memegang rahasia bahwa sudah sejak lama Gugun menyimpan rasa kepada Kiara.

“Samperin Gun.” Hana menyikutnya di kelas sehabis pelajaran olahraga. Saat itu Kiara lewat di depannya sambil minum.

“Gue gak tau mesti mulai dari mana.” Gugun berbisik.

“Gak usah mikir. Udah lo kayak biasa aja, sana. Ajak ngobrol.” Hana mendorongnya.

Gugun maju dengan ragu.

“Ki.”

Kiara menoleh.

“Pinjem catetan geografi.” Kata Gugun. Kiara melemparkan buku yang sedang dipegangnya. Ditangkap Gugun, yang langsung berbalik ke tempat duduknya, menghindari tatapan mata Hana yang berang.

Dan seperti itulah kejadiannya berulang, terus-terusan. Gugun tidak berani mendekati Kiara, Hana gemas sendiri dengan Gugun, Kiara tidak tahu apa-apa. Ritme seperti ini akhirnya berjalan cukup lama. Cuma dari sudut belakang kelas, Gugun berani memperhatikan Kiara dengan leluansa. Itu sebabnya, berada di kelas dalam pelajaran apapun adalah saat-saat yang sangat disenanginya. Jika murid-murid lain gelisah jika bel berbunyi dan pelajaran belum selesai, bagi Gugun itu malah injury time yang indah. Dia memiliki waktu untuk menonton gerak-gerik Kiara yang gelisah. Jika murid-murid lain membenci guru matematika mereka, Gugun malah ingin memberinya lencana malaikat penolong yang super berguna untuk kehidupan umat manusia semacam dirinya. Karena Gugun jadi tahu kebiasaan Kiara yang suka menggigiti kuku jempolnya jika grogi disuruh maju menyelesaikan soal di papan tulis. Kemudian ketika selesai mengerjakan soal, Kiara akan berkeringat dan menguncir rambutnya asal. Gugun suka cara Kiara memutar rambutnya dan mengikatnya tinggi. Suka sekali.

Dan kegiatan menonton orang menguncir rambut itu adalah momen emas yang ditunggu Gugun setiap hari. Sampai pada hari ketika kalender handphonenya menunjukkan tanggal 9 Mei.

“Han, besok Kiara ulang tahun.”

“Terus?”

“Ya terus gue mesti ngapain?”

“Panjat tebing! Ya ampun Gugun Mahendra. Think! Think! Lo gak bakal ngelewatin hari istimewanya Kiara cuma dengan pinjem buku catetan kan? Kasih kado. Tunjukkin bahwa lo ada.”

Maka disinilah dia, berdiri mematung di toko kado. Mempertimbangkan apakah sebaiknya memberikan kuncir rambut sepuluh kotak sekalian, biar Kiara tiap jam bisa menguncir rambutnya, dan dia bisa menontonnya dengan sukacita.

Gugun berjalan mendekati deretan kotak musik. Dibukanya satu yang klasik dan bertingkat, pasti Fur Elise, pikirnya. Dan memang benar, seketika Beethoven  mengalun di udara. Bunyinya pelan dan menghanyutkan. Gugun punya pendapat kuat bahwa Beethoven sedang galau akut saat menciptakannya. Dan galaunya maestro itu diperangkapkan generasi sesudahnya ke dalam ratusan kotak musik di seluruh dunia untuk menciptakan galau dalam frekuensi yang lebih masif. Manusia-manusia macam Gugun, misalnya. Yang sudah hampir setengah jam berputar-putar ruangan untuk menemukan sesuatu yang bisa diberikan kepada Kiara untuk mengingatnya.

Entah karena terlampau sering menyebut namanya di dalam hati, sosok Kiara tiba-tiba terlihat di luar sana. Masih dalam seragam putih abu-abu, musik yang didengar lewat earphonenya membuat kepala Kiara bergoyang-goyang seru. Dia sedang melintasi jalan ketika pandangan mereka bertemu. Sebuah senyum merekah, Kiara melambaikan tangan kepada sosok dalam Edelweiss, menyapanya dan memberikan isyarat halo. Gugun membalas lambaian tangan dengan gugup. Jantungnya berpacu kencang tanpa komando, bahkan sampai Kiara menjauh ke perempatan jalan, hilang dari sudut mata.

Gugun duduk. Diaturnya nafas yang tadi tercekat. Mau sampai kapan, Gun? Ia bisa mendengar ocehan Hana di kepalanya. Segera ditepisnya jauh. Memangnya apa yang salah dengan mengagumi diam-diam? Gugun tersadar. Selama ini dia memang tidak pernah bisa berbicara lepas di depan Kiara. Ketika ada dia, lidahnya kaku, kosakatanya membeku. Seperti ada yang tidak beres ketika ada dalam radius terlalu dekat dengannya. Rasanya Kiara beradiasi. Rasanya Gugun jadi robot. Ia hanya ingin cepat pergi dan menciptakan jarak yang bisa membuatnya berpikir rasional.

Lalu ia sampai pada kesimpulan yang mengerikan. Apa yang ia rasakan saat ini bisa jadi adalah akumulasi dari sakit jiwa. Menyukai seseorang tapi tidak suka berada dekat-dekat dengannya.

Kemudian seperti versi bijak dari sebuah peperangan dengan hati nurani, Gugun mengupgrade kesimpulannya. Mungkin porsinya memang cuma menikmati, menonton Kiara menguncir rambut dari belakang. Mungkin memang jarak yang menjaga perasaan Gugun tetap seperti ini.

Ya. Sekarang dia tau posisinya. Dan apa yang harus dia lakukan.

Gugun melangkah keluar.

“Nggak jadi beli, Dek?” tanya penjaga toko.

“Belum saatnya, Kak.” Katanya mantap. Ada satu pelajaran yang diterimanya di Edelweiss. Gugun sekarang yakin, hal yang harus dia lakukan untuk Kiara adalah, tidak ada. Cukup begini saja.

Advertisements
Standard

One thought on “Hari #9: Edelweiss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s