31 Hari Menulis

Hari #8: Ada Cinta yang Usang


Di antara berderet-deret mobil yang diam di parkiran, terdapat cinta yang menunggu. Menghitung waktu sampai ruang kemudi terisi kembali. Kemudian berputar dan melaju kepada pemberhentian selanjutnya. Dua kursi depan sudah terisi oleh orang yang sama sejak lama. Dari mulai dulunya mobil usang yang knalpotnya batuk-batuk setiap pagi, yang akinya tetap ngadat meski rutin diisi. Sampai sekarang mobil baru yang bumpernya mengkilap persis seperti yang ada di televisi. Melaju mengantarkan mereka pada pemberhentian. Di luar mobil ada sinar matahari yang terang. Di dalam mobil yang cemerlang ada cinta yang usang.

Diam selalu diartikan sebagai oposisi dari dinamis. Namun bagi Laras dan Bimo, diam justru merupakan dinamika mereka yang kastanya paling tinggi. Awalnya perjalanan mereka selalu diidentikkan dengan obrolan. Tentang rambu-rambu jalan, tentang pohon, tentang pencakar langit, tentang kue, tentang laundry, tentang Copernicus, tentang apa saja. Laras sangat suka memencet hidung Bimo setiap kali dia tidak mendengarkan perkataanya. Lalu mereka tertawa-tawa sambil memandangi jalan raya, tidak pernah diam. Namun lama kelamaan sepertinya seluruh topik di jagad raya sudah dilahap habis. Jika dibicarakan lagi paling hanya berupa repetisi, seperti siaran ulang pertandingan bola yang ditonton di pagi hari sambil sarapan dan berlari-lari mencari dasi. Hanya sekedar lewat. Syukur-syukur dikomentari.

Lama-lama obrolan jadi semacam template dengan tombol otomatis.

“Hati-hati, Bunda.”

“Makasih, Ayah.”

Mereka berhenti di depan toko kado. Dua puluh tujuh tahun berumah tangga, tujuh tahun sudah toko kado ini berdiri. Kedua pasangan ini memulai semua dari awal. Setiap tetes peluh dipersembahkan demi terbangunnya bangunan harapan ini. Sekarang, satu toko kado berdiri di hadapan mereka. Edelweiss, nama tokonya, karena bunga itu adalah kado pertama yang diberikan oleh Bimo kepada Laras dulu. Bunga yang tak pernah layu, inspirasinya tinggal bertahun-tahun sesudahnya. Mereka bermimpi memiliki sebuah usaha yang dapat membantu orang-orang memberikan hadiah untuk yang mereka sayangi. Memberikan jalan pada harapan, mengakomodir cinta. Indah sekali.

Ada sebuah prinsip dalam law of attraction yang mengatakan, jika kita sangat menginginkan sesuatu, seluruh jagad raya akan berkonspirasi membantu untuk mewujudkan.Yang diinginkan oleh Laras dan Bimo pun akhirnya didapatkan.  Usaha yang semakin berkembang, keadaan finansial yang stabil, putri tunggal bernama Dewi yang kata Bimo memang mirip dewi-dewi di dongeng Yunani, kondisi fisik yang masih tangguh, serta status sosial yang meninggi. Mimpi telah menjelma jadi satu hal konkrit yang dapat dilihat dengan mata, diraba dengan kulit, dan didengar dengan telinga.

Kemudian apa lagi? Laras dan Bimo tersadar pada suatu kenyataan getir, cinta mereka dipertahankan oleh mimpi. Ketika sudah tercapai apa yang jadi tujuan dari awal, mereka limbung. Tidak tahu harus diapakan melangkah ke mana lagi. inilah ternyata yang dimaksud dengan pemberhentian. Mereka terbangun. Cinta mereka ternyata telah usang.

“Ayah kenapa selalu pakai piyama yang itu? Sudah jelek sekali. Kan Bunda belikan banyak piyama baru.” kata Laras suatu hari. Mereka berbaring dengan bantal yang berbeda, menatap titik yang sama, langit-langit kamar yang berpendar oleh pantulan lampion.

“Piyama yang sudah lama Ayah pakai ini rasanya lebih nyaman, lebih pas.”

Kemudian ada jeda diam yang meleburkan. Mungkin mereka jenuh. Mungkin juga pikiran mereka sedang penuh.

“Apakah kita masih saling mencintai?” tanya Laras, pelan sekali.

Bimo meraih tangan Laras. Didekapnya di atas dada. Laras terpejam, mendengarkan detak jantung suaminya sekhidmat upacara hari pahlawan. Dalam gelap sudut matanya menitikkan air mata. Ia bisa memahami tanpa kata-kata. Dielusnya tangan keriput Bimo perlahan, sepenuhnya sayang. Sungguh chemistry itu ternyata masih ada, bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih sakti dari kata-kata. Telepati.

Laras dan Bimo terdiam dan berpegangan tangan. Mereka berkomunikasi dalam hati. Ada cinta, sudah usang. Namun seperti piyama dan semua baju rumah, semakin lama dan pudar warnanya, semakin nyaman dipakai.

Ketika dihadapkan pada siklus berulang, insting manusia akan bekerja keras untuk beradaptasi. Lama kelamaan jadi terbiasa dan alam bawah sadar mengambil alih. Bergerak tanpa berpikir, berhenti tanpa komando, oleng kesana kemari pun kemudian bisa seimbang lagi. Begitu pula dengan mencintai. Ketika memutuskan untuk bersama seumur hidup, Laras dan Bimo mengeliminasi semua pilihan. Mereka mengerti, pada akhirnya yang jadi inti kebersamaan mereka bukan lagi perkara keinginan dan impian. Karena cinta sudah menjelma jadi kebiasaan. Seperti piyama yang usang.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Hari #8: Ada Cinta yang Usang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s