31 Hari Menulis

Hari #7: Ngopi dengan Tuhan


Tuhan, Dewi baru bangun. Sebelum sikat gigi, secangkir kopi sudah menanti. Aromanya wangi, seperti bau tanah di dataran tinggi. Sepertinya robusta. Kualitas kedua setelah arabica. Bagi lidah awam, semuanya terasa sama saja. Tapi lidah Dewi terlalu tidak biasa untuk mengecap hal-hal yang sama saja. juga terlalu tidak sama untuk berucap kata-kata yang biasa saja. Jadi beginilah rutinitas paginya, berdialog dengan Tuhan, dengan kopi sebagai mediasi.

Masih kedinginan akibat begadang semalaman lalu tertidur tanpa selimut, dia memegangi permukaan cangkir. Menghangatkan diri. Berharap matahari cepat meninggi. Tuhan lihatlah. Antara Kau dan kopi, Dewi lebih rindu kopi.

Seperti sayur tanpa garam, dokter tanpa stetoskop, kapiten tanpa pedang panjang, maka kopi tanpa koran adalah kurang lengkap. Rasanya mengkhianati tradisi sakral. Maka di pojok teras sana, Dewi membolak-balik koran pagi. Ada sebuah kebiasaan lama yang tidak jelas darimana asalnya. Setiap membaca, Dewi selalu memulai dari belakang, kemudian menyelesaikannya di halaman depan. Ia menikmati berjalan mundur. Karena tidak ada orang yang berjalan mundur sambil terburu-buru. Dan ia memang ingin kebersamaannya pagi ini adalah kompilasi terbalik, karena dia cuma diam dan Tuhan yang datang menghampirinya. Tanpa ada kejar-kejaran, tanpa ada insekuritas yang tidak jelas. Dia ingin berjalan pelan-pelan. Diajaknya Tuhan baca koran dari belakang, untuk memunguti kabar-kabar kecil yang mungkin terabaikan saat berjalan maju.

Lihat berita pagi ini. Satu per duanya tentang kerusuhan demo buruh kemarin. Chaos yang terkonseptualisasi. Mereka bilang ingin reformasi lagi. Satu per empatnya tentang bencana. Kata mereka Engkau murka. Kata Dewi mereka buta. Seperempatnya lagi dihiasi wajah pejabat tidak tahu diri. Seperti artis yang hobinya bikin sensasi. Dicetak ribuan kali dan disebarkan di seluruh penjuru negeri. Perihal bagaimana Tuhan sanggup berada dekat-dekat dunia ini, Dewi bertanya-tanya. Pasalnya ia pun kadang ingin lari. Tapi ia malu, belum berapa lama menghuni bumi sudah banyak tingkah.

Ada yang salah. Terlalu banyak kejenuhan. Tuhan pun mungkin butuh inspirasi.

Mungkin ini sebabnya Tuhan menciptakan kopi. Untuk berkontemplasi, agar pahit ditelan sendiri-sendiri. Karena semua masalah dan kecemasan akan tetap bermuara pada keikhlasan, dan pada akhirnya tiap-tiap kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Seperti memilih robusta atau arabica, temperatur sedang atau panas, diaduk memutar atau bolak-balik, murni atau dengan gula. Seperti memilih mau jadi apakah kita. Tuhan, alangkah kasihan orang-orang yang memuntahkan kepahitan kemana-mana. Mungkin mereka tidak pernah tahu caranya minum kopi.

Tuhan. Kau kan tidak pernah tidur. Sini, kita ngopi dulu. Menyesap barang seteguk dua teguk kafein pahit yang wangi di dalam cangkir ini. Barangkali bisa menyuntikkan semangat untuk menghadapi dunia sehari lagi. Sehari lagi dengan penyusunan jati diri. Sehari lagi dengan sikut-sikutan untuk hidup. Sehari lagi tanpa Risto.

Kata orang kehilangan itu sakit. Entah anomali macam apa, tapi kata Dewi kehilangan tidak lebih pekat dari kopi pahit. Selalu ada ampas kental yang tersisa di dasar gelas yang mengingatkan bahwa sesuatu pernah tinggal penuh disana. Kebersamaan adalah selongsong peluru yang melaju, dan kenangan adalah residu. Risto adalah orang yang sangat, sangat baik padanya. Juga pada semua orang yang dikenalnya. Risto adalah cetak biru yang harus diduplikasi agar dunia ini jadi lebih baik lagi. Bersamanya, tak hanya semangat Dewi yang melaju, tapi juga mimpi-mimpinya. Dewi bingung, entah siapa yang iseng membuat istilah orang baik selalu diambil duluan. Tuhan sepertinya mengaminkan.

Dewi selalu berusaha adil pada dirinya sendiri. Namun seperti kalor yang menguap dari permukaan cangkir, keadilan kadang melayang pergi. Atau cuma kita yang kurang bisa memaknai, seperti Dewi yang kurang bisa menyelinap ke sepersekian menit setelah kopi diseduh. Ketika mendingin, rasanya sudah tidak lagi sama. Memang butuh waktu untuk mengubah perasaan. Tapi satu hal, marahnya pada Tuhan ikut mendingin, menggumpal jadi angin.

Dewi tidak sakit. Bagaimana mungkin konsep sakit ada ketika semua yang tersedia hanya hampa. Dalam ruang hampa, gravitasi pun tak ada, apalagi rasa. Cuma ada kosong, dan tidak ada yang pernah benar-benar tahu bagaimana caranya menggambarkan kosong. Sama seperti tidak ada yang pernah benar-benar tahu bagaimana caranya mengisi kosong tanpa meninggalkan ruang kosong yang lebih tidak tertata rapi.

Dewi bersyukur tidak ada ritual bersulang dalam minum kopi. Karena ia sadar kini cangkirnya sendiri. Tuhan telah menyatu dalam teguk terakhir kopi yang ia sesap.

Dewi terpejam.

β€œTuhan kenapa Kau cuma diam dan menonton semua ini terjadi?”

Lalu Tuhan menjawab dari dalam hatinya.

β€œKenapa kau pun melakukan hal yang sama?”

Advertisements
Standard

8 thoughts on “Hari #7: Ngopi dengan Tuhan

  1. rocky says:

    hey shofi, salam kenal dr silent reader πŸ™‚
    tulisan nya keren semua euy, btw ini blog mu yg baru ya?

    • hai rocky. makasih udah mampir. salam kenal juga πŸ™‚
      haha. kok tau? iya nih, minggat dari blogspot aku.
      kalo ada kritik dan saran kasih tau aja yaa.. thanks berat rockyyy…

  2. rocky says:

    haha tau dong, walopun lupa bisa mampir ke blog mu yg lama dari mana dl :p
    btw, tulis ttng sepak bola lagi dong, kalo pas dapet ide, seneng baca crta bola dr prspktif cewek πŸ˜€
    smg jerman bisa sampe final euro y, duet ozil dan (smg) gotze bakal mantep bgt tuh, tp juara nya ttp spanyol dongg!hahahaha

    cheers πŸ™‚

  3. @acha: ntar kalo ke Coklat lagi pesen kopi ya. hehe.

    @rocky: ya ampun postingan jaman kapan itu. emosional banget, dan lugu. haha. jadi malu. cuma update bola pas world cup soalnya :))
    woh! supporter spanyol ternyata! hajar!!! >:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s