31 Hari Menulis

Hari #6: Doppelganger


Tidak memiliki gen keturunan kembar, tidak menaruh minat berlebih terhadap atribut kembar, bahkan belum pernah berkunjung ke menara kembar. Risto tidak pernah mengerti mengapa kembar selalu mengikutinya, dalam bentuk angka. Mulanya jam digital.

24 jam sehari. 18 jam terjaga. Ada 18 jam kembar yang selalu dilihatnya. 05.05, 06.06, 07.07, 08.08, 09.09, dst. Bosan merasa dibuntuti, Risto mengganti jam tangannya menjadi analog. Tetap saja, jam digital ponselnya kemudian ganti memberikan sinyal si kembar. Digantinya wallpaper agar komposisi jam tidak terlalu terlihat dominan, tidak ada pengaruhnya. Akhirnya ia sembunyikan ponselnya di tempat yang tidak terlihat. Konsekuensinya Risto jadi sering diburu orang-orang karena susah dihubungi. Tak cukup dari ponsel, Risto melihat angka kembar dimana-mana. Jam temannya. Jam di menara gedung. Jam di pusat perbelanjaan. Di televisi. Ia mulai ketakutan.

Tak cukup membayangi dalam 18 jam terjaga. 6 jam sisanya pun kini diambil alih oleh si kembar. Dalam tidurnya pun Risto kerap memimpikan angka kembar. Jika teman-temannya memiliki bermacam-macam versi mimpi buruk tentang hantu, kematian, kehilangan, atau kesakitan, Risto cuma punya satu definisi mimpi buruk: si kembar.

“Ada yang rindu padamu.” Kata Dona, kakak sepupunya.

“Orang gila macam apa yang rindu tak kenal waktu, kak?” Risto gelisah.

Dona diam. Tidak punya jawaban.

“Cuma obsesimu itu. Kau tuang jadi kebiasaan. Tak sadar, jadi ritme biologis lah dia.” Kata Norman, mahasiswa psikologi yang di-DO pada tahun kedua karena kebanyakan demo.

“Kau kan tau obsesiku, bro! Jadi koboi. Naik kuda. Diburu adrenalin, bukan angka!” Risto mencibir.

Romi berpikir. Sesaat kemudian mereka membicarakan pacuan kuda.

“Akang teh cuma kurang kerjaan.”

“Ngapain dipikirin.”

“Salah jurusan kau, itu wangsit buat pindah ke kluster eksakta. Tidak diterima lagi kau di humaniora!”

“Itu hantu angka dari eyang Archimedes penasaran, sob.”

Risto makin frustasi. Ia bisa merasa, ada yang harus ia cari.

11.11

Ada api. Terang sekali. Risto bangun dengan sesak. Ditekannya tangan di dada, tempat jantungnya berdegup sangat kencang. AC kamarnya tersetel pada temperature 23 derajat. Aneh, dia bersimbah keringat, kepanasan.

Ini api kedua dalam sehari. Tadi di kantin saat makan siang, Risto jadi tontonan orang-orang karena refleks menumpahkan mangkuk supnya karena mendadak ada api keluar dari dalamnya. ya, api. Dan itu mangkuk sup dengan kuah menggenang sampai bibir mangkuk. Ketika pecah berkeping keping, dan suasana jadi hening, Risto baru sadar api itu menghilang. Secepat ia sadar, jam digital di kantin sedang menunjukkan angka 11.11

Ini apa! Bathinnya.

Pagi menjelang dan Risto terserang demam. Terpaksa ia membatalkan seluruh agenda hari itu, termasuk survey lapangan untuk acara pelantikan klub pecinta alam. Sepertinya bertemu orang banyak bukan pilihan tepat untuknya hari ini. Badannya seperti bukan miliknya. Ada sesuatu yang berbeda. Dewi, pacarnya, datang ke kontrakan untuk mengantarkan sarapan dan obat. Risto hanya menggeleng saat Dewi memaksanya untuk ke dokter. Ia hanya kecapekan, katanya. Dewi mengajak bercanda, ditanggapi dengan datar. Dewi habis kesabaran, pulang. Ada ujian, katanya. Risto kembali mengurung diri di dalam kamar. Ia cuma ketakutan dan tidak ingin terlihat siapapun.

Sayangnya ia dilihat.

Ada anak kecil duduk di pinggiran tempat tidurnya. Menatapnya lekat-lekat. Dan seketika kepingan puzzle di kepalanya utuh sudah.

FUUUUUUUUUUUCK!!!

Risto menabrak pintu kamarnya, keluar. Lari tanpa sandal. Anak kecil itu pernah muncul dulu, sewaktu ia baru masuk SD. Katanya dia adalah kembarannya, katanya dia datang dari dunia sebelah sana. Kemudian mereka berteman. Dia selalu ada, sampai suatu saat Risto melihat air dimana-mana, padahal sebenarnya tidak ada. Kemudian kembarannya itu menghilang, tepat ketika Ayahnya ditemukan terapung di sungai, meninggal setelah hilang saat arung jeram.

Baru setelah agak besar ia mengerti konsep doppelganger. Bayangan nyata dari jiwanya sendiri. Bukan seperti refleksi di cermin, doppelgangernya hidup dan bisa berbicara kepadanya dari dimensi yang berbeda. Saat itu pula ia menerima bahwa menjadi anak indigo bukanlah pilihan. Itu adalah sesuatu yang diberikan dengan konsekuensi yang besar. Anak-anak indigo memiliki kemampuan lebih pada ekstra personal space di otak mereka, dengan gelombang elektris berpendar kuat di sekeliling tubuhnya. Hidupnya delusional. Terkadang ia tumbang sendiri oleh visualisasinya yang menembus ruang dan waktu. Seperti ada yang meniupkan spoiler film ke dalam kepalanya. Entah untuk tujuan apa.

Kadang ia ingin ikhlas, tapi penerimaannya masih terbatas. Apakah gunanya diberi peringatan, tanpa bisa mencegahnya? Adakah manfaatnya dapat merasakan tapi tidak bisa merubah keadaan?

Risto berlari. Kakinya menapaki aspal. Matanya berair.

FUCK! SIALAAAAN!

Ia marah kepada dirinya sendiri. Ia marah karena kehilangan kepekaan. Ia marah karena seharusnya sudah menyadari pertanda apa yang diberikan padanya sejak dihantui jam kembar. Ia marah, dan takut oleh kesadarannya oleh kemungkinan yang akan terjadi. Bahwa seperti dulu, mungkin ia terlambat, lagi.

Satu wajah ada di kepalanya. Vio. Gadis kecil pintar menggemaskan yang tak lain adalah sepupunya. Ada visualisasi lain yang muncul berentet dan berdesak-desak hingga kepala Risto mau pecah. Sampai pada satu titik ia sadar satu hal, ia tidak ditakdirkan untuk mencari, tapi untuk memahami takdir itu sendiri.

Kerubungan masa sudah ramai. Api berkobar dari rumah itu. Ganas, seperti dua mata kembar yang menerorkan panas.

Risto menerobos masuk. Warga terpengarah. Ia tidak pernah kembali lagi.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s