31 Hari Menulis

Hari #5: Berkaca


Bagi orang dewasa, berkaca adalah kebiasaan yang dilakukan dengan spontan. Memastikan apakah penampilan hari ini sudah rapih, adakah sisa makanan yang terselip di kawat gigi, ataukah lingkaran mata sudah bertambah lebih besar lagi. Bangun tidur menghadap kaca. Di kamar mandi menyikat gigi dan terpaku ke kaca. Sebelum berpakaian telanjang di depan kaca, setelah berpakaian mematut-matut diri di depan kaca. Di perjalanan melihat spion dan berkaca. Di etalase toko, di ruang tunggu, di dinding lift, di dalam tas. Orang dewasa tidak pernah sadar, ada berpuluh-puluh kaca yang dilihat setiap hari. Ada berpuluh-puluh pantulan diri yang menatap balik. Masalahnya, siapa yang kamu lihat di kaca? Dirimu, atau seseorang yang kau anggap dirimu? Mungkin kau juga tidak pernah benar-benar tahu.

Bagi Vio, berkaca adalah ritual. Bukan kesempatan yang dicuri-curi, bukan waktu luang yang dibagi. Berkaca adalah caranya jujur tanpa suara. Ia butuh menatap matanya sendiri. Lewat dua pasang mata itu ia merekam, lalu memutar ulang peristiwa di kepalanya. Seketika ia dapat menyimpan suatu kejadian yang terlalu cepat, lalu mencernanya lambat-lambat. Begitulah caranya tumbuh. Karenanya dalam usia semuda itu, Vio sudah mengerti arti sebuah refleksi. Ia memahami, menonton bayangan itu kadang menguatkan, kadang menghabisi.

Sebuah kaca besar tergantung di kamar bunda. Ada retakan di pinggirnya. Kata bunda kena hair dryer yang terlempar waktu bunda buru-buru. Vio tahu, bunda tidak bohong. Bunda hanya tidak mengatakan bahwa yang melempar adalah papa. Vio juga tahu lebam di tulang pipi bunda bukan karena terpantuk saat terpeleset di kamar mandi. Vio tahu banyak hal. Yang bunda tidak tahu adalah kamarnya tidak kedap suara. Ada malam-malam panjang yang dihabiskan Vio dengan terjaga, mendengarkan setiap rinci pertengkaran yang terjadi di kamar sebelahnya. Jika berakhir dengan teriakan, papa akan membanting barang. Jika berakhir dengan sunyi, artinya bunda menangis diam-diam.

Vio baru 6 tahun. Tapi caranya berpikir adalah akumulasi dari observasi murni seorang anak kecil yang terlalu banyak melihat. Hari ini Vio berkaca di kamar bunda. Dilihatnya ada retakan lain yang samar. Dirabanya tekstur yang kasar. Cukup, hari ini dia memutuskan untuk melawan. Vio ingin jadi dewasa. Ia ingin tahu rasanya jadi bunda. Diambilnya gincu, sambil berkaca ia membalur bibir pinknya jadi merah.

“Kenapa bunda pake gincu?” Tanya Vio suatu hari.

“Biar cantik, Sayang.” Bunda tersenyum sebentar, lalu membereskan garis lipstik di bibirnya.

Vio tidak besar dengan boneka barbie. Tapi dia yakin, ia bisa mendefinisikan cantik. Menurutnya,  bunda lebih cantik tanpa gincu. Agaknya keyakinannya dan keyakinan bunda berbeda. Karena saat berkaca, bunda sedang menciptakan sosok yang ia inginkan. Di depan saudara dan tetangga, bunda berpura-pura cantik. Dan papa berpura-pura mencintainya. Vio pernah membatin, bunda bukannya takut tidak cantik, bunda cuma takut ditinggal papa. Vio sangat ingin berkata, bunda, justru rasa takutmu itu yang membuat papa pergi. Mungkin tidak saat ini, bisa jadi suatu hari nanti. Namun kata-kata itu ditelannya lagi.

Ia tidak bisa bicara. Ia cuma anak kecil yang harusnya tidak tahu apa-apa. Karena itu Vio sekali lagi menatap kaca. Dioleskannya foundation yang tumpah terlalu banyak di telapak tangannya. Lalu dalam berapa sapuan, wajahnya sudah terbedaki dengan sempurna. Sedikit lagi, ia hampir mirip bunda.

Memang tidak setiap hari, tapi ketika sedih bunda merokok. Vio pernah bertanya kenapa. Dijawabnya, karena ini adalah ritual yang dilakukan orang dewasa. Mulai saat itu Vio makin rajin berkaca. Jika memang rokok adalah penisbian seseorang jadi dewasa, maka dia memilih kaca untuk jadi semacam objek latihannya sebelum sampai ke tahap itu. Setiap kali ia diam sendiri di sana, tidak ada air mata, hanya saja kesedihan memancar dari bayangannya.

Sekarang Vio sudah siap untuk ke tahap itu. Diambilnya rokok dari laci bunda. Sesaat ia bingung harus mulai dari mana. Dibauinya tembakau dengan hidung mengerinyit. Sedikit ragu, ditempelkannya filter rokok di bibirnya. Manis. Lucu sekali, karena dulu ketika Vio bertanya pada bunda apa rasanya merokok, dijawabnya singkat. Pahit!

Baru saat ini Vio paham. Yang dimaksud bunda pahit bukan rasa rokoknya. Tapi rasanya ketika merokok. Saat dimana yang dilakukan orang untuk melegakan sesak yang bercokol sedemikian lama. Seperti mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa, emas dibalas emas, sesak pun harus dibalas dengan sesak. Bunda menyesaki paru-parunya dengan asap. Mungkin itu caranya untuk melapangkan dada.

Klik. Vio menyalakan pemantik api, membakar ujung rokok. Menghisapnya dengan lugu. Lalu batuk hebat, menghambur ke kamar mandi untuk muntah. Ternyata jadi dewasa bukan perkara mudah. Ia baru saja ingin memutuskan untuk menyerah ketika sadar bahwa rokoknya yang dilempar sembarangan tadi melubangi satu dokumen papa. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia ingat retakan kaca yang sudah dua. Mungkin akan jadi tiga. Papa akan murka. Mungkin ia berhasil, mungkin ia akan jadi bunda yang dipukuli papa malam ini.

Tapi Vio belum mau jadi bunda. Vio takut sama papa. Diraihnya pemantik api, jika jejak akan membuatnya terancam maka lebih baik dibinasakan. Kertas dokumen itu dibakarnya sekalian. Biar saja papa menyangka kerjaannya hilang entah dimana. Vio tahu jika jejak ini dibereskannya, papa tidak akan mengetahui apa yang ia lakukan. Vio tahu papa bahkan tidak pernah benar-benar mau tahu apa yang sebenarnya ingin dan tidak ingin ia lakukan. Ya, Vio tahu semua hal kecuali satu, gas bocor dari dapur yang sudah sepagian mengapung ringan, melayang-layang di dalam rumahnya.

Dua pasang mata itu memang tercipta untuk merekam, lalu memutar ulangnya di kepala. Kadang dapat menyimpan kejadian yang sangat cepat, lalu mencernanya lambat-lambat di kemudian hari. Begitu cara Vio belajar. Namun kejadian setelah itu berlangsung terlalu cepat. Diguncang shock menyaksikan api merambat, Vio bahkan tidak dapat merekam apa-apa. Sistem otaknya yang dirancang untuk mengingat, kini dikalahkan oleh sistem kendali untuk menyelamatkan diri. Sayang navigasinya tertinggal, badannya lumpuh, seluruh kesadarannya terperangkap di dalam kaca. Ada tatapan yang membius di sana. Tatapan yang akhirnya histeris oleh air mata, akhirnya ia menangis, untuk pahit yang bercokol di dadanya entah berapa lama.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s