31 Hari Menulis

Hari #4: Ke Jalanan Lagi


“Alif punya otak. Di dengkul. Sebelum diamputasi.”

Itu adalah candaan yang biasa diucapkan di kalangan anak-anak jalanan. Dari sekumpulan anak jalanan yang diambil Bang Boyo, ditugaskan mencari uang dengan mengemis, Alif adalah yang paling sering dimarahi. Lo punya otak nggak? Katanya, tiap kali Alif melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.

Sebelum diambil oleh Bang Boyo, Alif dulunya tinggal di sebuah desa kecil yang jaraknya sekitar 60 Km dari pusat kota. Desanya dinyatakan sebagai endemis filariasis tepat ketika kaki Alif sudah membengkak besar sekali. Kata orang desa Alif sering main ke hutan lalu menginjak anak jin. Makanya jin marah dan mengerjai kakinya hingga serupa balonku ada lima. Alif yang akhirnya jadi rajin sholat agar jinnya pergi, akhirnya baru tahu perihal penyakit kaki gajah setelah ada petugas kesehatan yang melakukan survey ke desanya.

“Kalau penyakitnya karena cacing, kenapa namanya kaki gajah?”

Itu pertanyaan yang keluar dari mulut Alif pertama kali diberi tahu. Petugas kesehatan dari pemerintah  cuma menatapnya datar,

“Karena memang jadinya kakimu seperti gajah, Nak.”

Alif tidak puas dengan jawaban itu. Baginya, gajah tidak terlibat konspirasi apapun terhadap pembengkakan kakinya. Gajah cuma kebetulan saja dikaitkan karena sama-sama besar. Padahal dia tidak tahu apa-apa. Dalang di balik semua ini adalah cacing. Lalu seenaknya saja dia tidak dihakimi apa-apa, dia cuma dibiarkan hidup di kelenjar getah beningnya dan bebas tanpa ada yang tahu. Yang dituduh malah jin tidak berdosa. Menurut Alif harusnya nama penyakitnya seharusnya sesuatu yang berbau cacing. Seperti gelembung cacing, kerajaan cacing, misteri cacing raksasa, atau apapun yang bukan gajah.

Mungkin jika di kemudian hari Bang Boyo sering menyebutnya tidak punya otak, ada benarnya juga. Karena ketika disuruh petugas kesehatan berobat di kota untuk kakinya, Alif menolak. Selain takut, dia juga masih sebal dengan petugas kesehatan itu karena jawabannya tidak menarik. Alif juga tidak mau minum obat. Itu sebabnya berapa bulan kemudian ketika ada pemeriksaan lagi, penyakitnya sudah hampir menyerang alat vital sehingga mau tidak mau harus diamputasi. Kasihan sekali.

Alif sudah biasa dikasihani. Kata tetangganya dulu, “Kamu seperti Mbak Rene. Tidak punya orangtua. Tapi dia punya ibu, cuma tidak punya ayah. Kamu tidak punya dua-duanya.”

Tapi tanpa ayah dan ibu pun, Alif baik-baik saja. Ia tinggal di tempat mbah yang memungutnya sejak ditelantarkan dari bayi oleh orangtuanya yang misterius. Namun sejak diamputasi, si mbah tidak sanggup lagi menanggung hidupnya. Lalu Bang Boyo datang, mau diajak kerja di kota, katanya. Ada kerjaan untuk orang pincang. Si mbah percaya, Alif dilepasnya tanpa air mata.

Sejak saat itu kasihan jadi nama belakangnya. Kasihan jadi lauk makannya. Kasihan jadi selingan udara yang dihirupnya. Kasihan jadi penopang hidupnya.

Walau dikasihani orang-orang yang memberikan uang begitu melewatinya yang terpincang-pincang berjalan di lampu merah, Alif kerap kali heran, mengapa orang-orang di jalanan ini tidak pernah mengasihi diri sendiri. Jalan raya adalah neraka, kata mereka. Berpacu dengan waktu, beradu dengan emosi. Mobil memblokir motor dengan angkuh, motor menyenggol pejalan kaki dengan marah, pejalan kaki menendangi mobil dengan tak tahu diri. Inikah orang-orang yang mengaku punya otak? Alif sering melihat, orang yang tidak kenal saling adu otot di jalan. Hampir berkelahi hanya karena adu klakson. Alif pernah menyaksikan, polisi malah dilempari. Alif juga tahu, hampir selalu ada korban tabrak lari di akhir pekan. Alif sering mendengarkan, di setiap pergantian detik antara lampu hijau jadi kuning, kuning jadi merah, dan merah jadi hijau, selalu ada umpatan dan makian. Kadang keras, kadang dibisikkan pelan-pelan. Sama saja seperti Bang Boyo. Dia mengumpat setiap saat. Dan setiap hari dilihatnya Bang Boyo-Bang Boyo lain di jalan raya.

Jadi ketika orang-orang asing ini melemparkan pandangan kasihan saat melihatnya, Alif ingin mereka tahu, sebenarnya ia sedang membalas tatap mereka dengan lebih kasihan lagi. Kasihan saja mereka dengan mudah tertipu, mengiranya belum makan atau kedinginan. Padahal di rumah yang disediakan Bang Boyo, ia dan anak-anak jalanan lainnya selalu dapat makan meski harus rebutan. Memang kadang kedinginan, namun ia lebih kasihan, kepada mereka yang punya otak, tapi hatinya kedinginan.

Jalanan adalah pameran, kalau kata Alif. Bioskop raksasa dimana dia nonton parodi kehidupan di sudutnya, setiap hari.

Seperti hari ini, ketika sebuah Avanza silver berhenti di lampu merah. Seorang anak kecil membuka kaca mobil malu-malu. Mereka bertukar pandang. Anak itu kemudian menjulurkan badan keluar demi penasaran melihat sebelah kaki Alif yang sudah tidak ada. Boneka kuning kecil yang dipeganginya terjatuh di aspal.

“Vio! Hati-hati, sayang.” Laki-laki yang kelihatan seperti ayahnya kemudian menarik anak tersebut ke dalam mobil lagi. Alif tertatih menghampiri. Memungut boneka di jalan dan mengacungkannya lewat kaca mobil yang masih terbuka lebar.

“Pa. Spongebob Vio.” kata anak itu. Sang ayah tersadar. Sambil mengucapkan terimakasih ia mengeluarkan uang duaribuan kepada Alif. Tatapan kasihan yang khas itu tersirat sepersekian detik sebelum kaca mobil ditutup kembali. Lalu lampu berubah jadi hijau, dan mobilpun melaju.

Pikiran Alif terpaku pada boneka kuning kotak tadi. Ia sering sekali melihat temannya, Beno, melamun ke arah penjual balon gas yang sering mangkir di pinggir jalan. Menatapi balon-balon beraneka ragam yang salah satunya adalah si makhluk kuning kotak. Spongebob ternyata namanya. Alif dapat ide. Dikeluarkannya uang hasil ngemis hari ini, dibelikannya satu balon Spongebob. Untuk Beno, yang tidak pernah menatapnya dengan rasa kasihan.

Tapi balon gas cuma bisa tegak sehari, sementara Alif harus tahan dimaki berhari-hari. Bang Boyo murka. Duit yang sedemikian berharga dibelikan mainan yang isinya hanya udara.

“LO PUNYA OTAK GAK WOI?!!!” makinya.

Langsung dijawab beruntun oleh anak-anak jalanan yang lain.

“Alif punya otak.”

“Di dengkul.”

“Sebelum diamputasi.”

Kemudian mereka terkikik dan kabur. Ke jalanan lagi.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s